
Setibanya mobil doni di halaman kampus, diva dengan cepat turun dengan tergesa gesa karna waktu tes akan segera di mulai.
"Kak doain diva ya." ucap diva secepat kilat.
"Semangat ya sayang." teriak doni.
Doni hanya bisa menggelengkan kepalanya. Calon istrinya itu benar benar unik dan lucu Walau terkadang sikap manjanya berlebihan, namun entah kenapa doni malah menyukai sifat diva itu.
"Diva diva, bisa bisanya dia ceroboh. Semoga aja dia gak terlambat sampai ruang tes nanti." gumam doni sambil berjalan masuk kembali ke dalam mobil.
Saat hampir sampai di depan ruang tes nya, tanpa sengaja diva bertabrakan dengan seorang wanita.
"Auu..." Teriak diva dalam posisi jatuhnya.
"Eh maaf, sini biar ibu bantu kamu berdiri."
Ketika membantu diva berdiri, andini terkejut dengan siapa ia bertabrakan.
"Dia bukannya anak deva dan disa. Dan aku tadi sempat melihatnya menemani doni ke makam andara. Apa hubungan doni sama diva begitu dekat ya? Andai saja mereka berjodoh aku pasti sangat bahagia." batin andini.
"Kamu gak papa kan?" tanya ibu andini.
"Iya gak papa kok bu, saya emang salah karna berlari dan gak lihat jalan. Sekali lagi maaf ya bu,karna saya sedang terburu buru karna saya terlambat datang."
"Oh kamu mau ikut tes masuk kuliah kampus ini. Memang kamu tes di ruang berapa?"
"Ruang X bu."
"Loh itu ruang yang akan saya jaga. Yasudah ayo kita jalan bareng aja. Semoga kamu bisa mengerjakan tes nya ya."
"Oh iya bu. Oh iya ibu dosen ya di kampus ini?" tanya diva sambil berjalan seiringan dengan ibu andini.
"Iya, saya dosen baru kok belum ada satu bulan. Oh iya nama kamu siapa?" tanya ibu andini.
"Saya diva bu, ibu sendiri namanya siapa?"
"Andara, ayo masuk dan jangan lupa berdoa ya sebelum mengerjakan tes nya." bohong ibu andini, yang sengaja masih memalsukan identitas nya.
"Iya bu terimakasih." jawab diva sembari berjalan ke tempat duduknya.
Selama mengerjakan tes, andini terus memandangi diva dari jauh. Ia sangat menyukai diva.
"Semoga saja diva bisa menikah dengan doni. Karna gak tau kenapa hatiku mengatakan dia yang pantas menjadi menatuku." batin andini.
Beberapa saat kemudian,bel sudah berbunyi dan semua bergegas mengumpulkan lembaran tes kedepan. Diva pun juga ikut keluar, namun langkahnya terhenti saat ibu andini memanggilnya.
"Diva, bisa ibu bicara dengan kamu sebentar." panggil ibu andini pada diva.
"Oh iya ibu, ada apa ya bu?" tanya diva dengan hati yang mulai dag dig dug.
"Kenapa wajah kamu pucat diva, ibu hanya ingin mengobrol kok. Waktu melihat kamu pertama, ibu langsung sayang sama kamu. Mungkin karna ibu merindukan putra ibu. Kamu berapa saudara diva?" tanya ibu Andini.
"Saya kira ibu mau marah sama saya karna saya menabrak ibu tadi, saya 2 bersaudara bu. Dan saya anak pertama. Memang putra ibu dimana?
"Putra saya? Dia bersekolah keluar negeri, makanya jarang pulang. Kalau begitu saya mau kembali ke ruang dosen ya, kamu hati hati dijalan ya diva. Ibu berharap kamu bisa di terima disini. Dan kita akan lebih sering bertemu."
"Iya iya bu, diva sudah bercita cita buat kuliah disini dari dulu." jawab diva penuh semangat.
"Iya diva, semoga ya." ucap andini sembari menyentuh pipi diva.
Diva dan ibu andini berjalan keluar kelas bersamaan. Dan tepat di depan ruang dosen mereka berpisah. Diva yang sedang berjalan sendirian, mulai menjadi pusat perhatian kakak tingkatnya disana.
"Bro gila bening banget, cantik." ucap yoga seorang mahasiswa tampan tapi playboy dikampus.
"Dari tadi loe bilang semua juga cantik bro. Cantik bagi loe itu belum tentu cantik bagi gue. Udah ayo cabut." jawab kei mahasiswa cuek dan paling tampan di kampus itu.
"Lihat dulu bro, dia lagi jalan ke arah sini. Ayo lihat, ini beda dari yang lain." pinta yoga sambil menarik tas punggung kei.
"Apaan sih, mana mana?" tanya kei.
"Hai boleh kita kenalan? Gue kei anak jurusan kedokteran dan ini temen gue yoga." ucap kei namun tak begitu di hiraukan oleh diva.
"Hmmm, maaf ya kak lain kali aja. Gue lagi buru buru." jawab diva kesal.
"Oh iya, semoga loe bisa keterima disini ya. Biar pas ospek kita ketemu." jawab kei sambil menyingkir dari hadapan diva.
"Iya kak, makasih." jawab diva.
Diva kemudian melanjutkan kembali jalannya, sedangkan kei masih melihat punggung diva yang semakin jauh meninggalkan dirinya.
"Woi bro, kenapa? Cantik banget ya? Tapi sayang kayaknya dia gak respon loe deh kei." ucap yoga sembari tertawa.
"Diem loe, gue akui gue suka sama dia. Dia beda sama cewek cewek di kampus ini."
"Wuihh temen gue kayaknya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nih. Akhirnya loe bisa buka hati juga setelah putus dari nadia. Jangan kelamaan jadi jones bro, gue aja udah gonta ganti berkali-kali, loe masih aja belum bisa move on dari nadia. Tapi kalau loe sampai jadi sama cewek tadi, gue acungin loe dua jempol deh. Dia 100x lipat lebih cantik dari nadia. Tapi kalau loe ditolak bilang ke gue ya, biar gue yang pepet dia. Hahahaha." jawab yoga yang langsung mendapat lirikan dari kei.
"Berani loe sama gue? Udah ayo ke studio, kita harus latihan. Jangan lupa telpon yang lain."
"Iya iya bro, santai aja. Bukannya loe bilang selera gue sama loe beda. Oke, tapi gue nebeng mobil loe ya."
"Hmmm, yaudah ayo." ajak kei sambil menarik lengan yoga.
Saat tiba disamping mobil doni, diva mengetuk jendela mobil doni.
Tok...tok...tok...
"Kak doni." panggil diva.
"Udah selesai div, yaudah ayo masuk." ucap doni.
Selama di mobil diva menceritakan pertemuannya dengan dosen yang cantik dan baik hati. Doni yang biasanya tidak terlalu tertarik dengan cerita diva, kali ini dia mendengarkan semua cerita diva.
"Aneh ya, baru sekali ketemu dia udah akrab sama kamu." ucap doni setelah mendengar cerita diva.
"Iya sih kak, tapi serius deh bu andara itu baik banget. Dan sepertinya diva pernah lihat dia deh kak tapi diva lupa dimana."
"Ya mungkin kamu pernah lihat dimana gitu. Mungkin di mall, atau ditempat lain. Oh terus tes kamu gimana? Dan ada yang lirik lirik kamu gak dikampus." tanya doni.
"Tes nya kecil kak, diva bisa jawab semuanya dong. Kan calon istri kak doni ini emang pinter udah gitu cantik lagi. Iya kan kak?" goda diva dengan puppy eyesnya.
"Apaan sih loe diva. Jangan kepedean dulu, kalau gak keterima baru deh nanti nangis nangis."
"Ya ampun kak doni, jahat banget doanya. Kan emang kenyataan kak, kalau diva gak cantik gak mungkin dong tadi ada yang ngajak kenalan diva." ucap diva namun dengan cepat menutup mulutnya.
"Opps, diva diva. Pasti kak doni jadi mikir aneh aneh kan. Loe lupa pesen dia buat gak berhubungan sama cowok manapun. Tuh kan bener, kak doni langsung minggirin mobilnya." batin diva sambil memejamkan matanya.
Semua pikiran diva ternyata benar, setelah menepikan mobilnya doni memanggil diva dengan nada dinginnya.
"Diva, cerita sama kakak. Siapa yang ngajak kenalan kamu. Apa kamu lupa kakak pernah bilang apa." ucap doni dengan mata yang lurus ke depan.
Diva pun mulai membuka matanya. "Diva juga gak tau sih kak, tapi dia bilang namanya kei dan yoga anak jurusan kedokteran." jawab diva pelan.
"Oh jadi kamu tadi ladeni dia ya."
"Enggak kok kak, diva gak ladeni dia. Dia mengenalkan dirinya sendiri kok, tapi diva gak gubris dia. Kak doni cemburu ya?" tanya diva sembari tersenyum genit.
"Mikir apa sih kamu, udah mending kita buruan ke kantor. Mikael udah nunggu kita di kantor, papa juga on the way jalan. Jadi jangan sampai kita telat."
"Iya iya kak, gak perlu gertak juga kali. Apa susahnya sih bilang cemburu. Gengsi banget." lirih diva pelan, namun terdengar oleh doni.
"Kamu bilang apa barusan, ayo ulang lagi."
"Enggak kok kak doni sayang. Udah buruan jalan katanya takut terlambat."
Tanpa menjawab doni kembali melajukan mobilnya. Namun tanpa diva tahu, doni sesekali tersenyum memandangi wajah diva.
"Hahahaha, kakak seneng lihat wajah kamu ngambek gitu,lucu banget. Mungkin bener kata kamu diva, kakak mulai cemburu jika kakak dengar kamu di dekati cowok lain. Tapi kakak masih takut kalau kita gak berjodoh dan kakak akan merasa kehilangan untuk kedua kalinya." batin doni.