
Diva mulai mengeluh pada doni karna kakinya yang mulai terasa sakit setelah jauh berjalan. Ia kemudian meminta doni untuk berhenti sejenak.
"Kak, kaki diva sakit. Berhenti bentar ya kak, capek banget nih." teriak diva.
Doni yang sudah berjalan lebih dulu terpaksa kembali ke belakang.
"Div, ayo bentar lagi sampai kok. Ini udah malem loh,pasti semua lagi nyariin kita." ucap doni lalu menarik tangan diva. .
"Tapi kak, lihat deh kaki diva udah merah. Diva gak bohong kakak, kaki diva sakit banget nih. Istirahat bentar ya kak, 10 menit aja." pinta diva dengan memasang wajah memelas.
Doni yang sudah malas berdebat dengan diva dan juga jauh dalam hatinya ia juga tak tega pada diva, akhirnya menggendong diva ala bridal style nya.
"Kak, turunin diva kak. Malu nanti kalau diihat orang." teriak diva.
"Salah sendiri bantah terus ucapan kakak. Mending kamu diem gak usah teriak. Pegangan leher kakak aja,biar nanti gak jatuh." ucap doni.
Diva melingkarkan tangannya ke leher doni, sambil terus memandang wajah tampan doni.
"Sumpah moment seperti ini adalah moment terindah dalam hidup gue. Wajah kak doni kalau dilihat dari deket 1000 kali lipat lebih ganteng. Ya ampun kak doni, diva pengen deh segera di pinang sama kakak. Biar diva bisa terus lihat kakak kayak gini." batin diva.
"Udah puas belum ngeliatin kakak? Tapi jangan di liatin aja. Dicium juga boleh kok."
Blush...
Wajah diva memerah mendengar ucapan doni. Ia pun berusaha memalingkan wajahnya. Dan tanpa terasa mereka hampir sampai di depan villa.
"Bentar lagi sampai, jalan ya. Kakak capek gendong kamu, ternyata kamu berat juga ya." ucap doni dengan nafas ngos-ngosan sembari menurunkan diva.
"Salah sendiri kakak gendong diva. Orang diva gak minta di gendong juga. Tadi kan diva minta istirahat bentar, tau tau kakak gendong diva. Ya kalau kakak capek jangan salahin badan diva dong." gerutu diva.
Doni kini menarik tangan diva yang sudah berjalan selangkah di depannya. Dan saat diva membalikkan badannya,doni menarik pinggang diva dan..
Cupp..
Bibir doni sudah menempel di bibir diva. Diva hanya bisa diam sambil menbulatkan kedua bola matanya.
"OMG, kak doni cium gue? Ini nyata kan apa gue lagi halu ya." batin diva yang masih sedikit shock dengan perlakuan doni.
Tiba tiba dari belakang ada yang menepuk punggung doni hingga akhirnya doni memundurkan badannya.
"Darimana kalian? Dari tadi papa sama yang lain nyariin." ucap papa aldo.
"Papa..."ucap doni sambil kembalikan badannya.
"Om aldo." lirih diva.
Diva dan doni sama sama tercengang dengan kehadiran papa aldo hingga mereka tak bisa berkata kata karna mereka khawatir adegan ciuman mereka diketahui papa aldo.
"Doni, papa ini lagi nanya kok gak dijawab. Kalian darimana?" tanya papa aldo.
"Oh tadi kak doni sama diva habis jalan jalan om, eh pas mau pulang kak doni lupa jalan. Makanya kita kesasar. Iya kan kak?" bohong diva.
"Iya pah, doni kan udah lama gak kesini. Niatnya ngajak diva jalan jalan malahan lupa jalan." imbuh doni.
"Oh, yaudah kalian buruan masuk. Ajak diva makan di meja makan. Papa mau nemuin semuanya di taman belakang. Kalian ini bikin papa dan yang lain khawatir aja." ucap papa aldo sembari menepuk pundak doni.
"Oh iya pah. Tapi pah tunggu." panggil doni dan membuat papa aldo kembali menghampiri dirinya.
"Ada apa lagi doni."
"Tadi papa lihat doni dan diva lagi..."ucap doni terputus hingga membuat papa aldo tersenyum.
"Gak usah di pikir, papa juga pernah muda kok. Asal jangan kebablasan aja ya." ucap papa aldo sambil berjalan meninggalkan mereka.
Diva dari belakang memukul punggung doni, setelah kepergian papa aldo.
Plllaakk..
"Oh itu ciuman pertama kamu ya. Bagus dong. Untungnya kakak cium kamu, sebelum kamu dicium orang lain." jawab doni dengan senyum liciknya lalu pergi meninggalkan diva.
Diva berlari berusaha mengejar doni. Sambil berteriak diva terus menanyakan pada doni siapa ciuman pertama doni, namun doni enggan untuk menjawab dan berpura-pura tidak mendengar celotehan diva.
"Kak doni,ciuman pertama kakak siapa?" tanya diva.
"Kakak, kok gak jawab sih. Pasti kakak dah sering ciuman kan, hayo?? " selidik diva.
" Udah ayo gak usah ngomong terus. Emang mulut kamu gak capek apa ngomong terus. Mending kamu temenin kakak makan, kamu sendiri juga belum makan kan?" ucap doni sambil merangkul diva.
"Iya, tapi jawab dulu dong kak." kesal diva sambil melepas tangan doni dari pundaknya.
Doni menghentikan langkahnya dan menatap diva dengan tajam. Sembari memegang pundak diva, doni menarik nafas panjangnya.
"Div, lihat mata kakak. Apa pentingnya kamu tahu dengan siapa ciuman pertama kakak. Yang terpenting kan sekarang pacar kakak itu kamu dan kita udah berkomitmen kan untuk membawa hubungan ini ke arah yang serius. Jadi jangan pernah bawa masa lalu kita ke hubungan kita. Kamu ngerti kan maksud kakak?" ucap doni serius.
"Iya kak, maafin diva ya kak. Diva janji gak akan tanya tanya lagi." jawab diva.
"Makasih diva, kakak tahu kamu itu perempuan pengertian dan baik. Kamu sama mama kakak itu punya sifat yang sama. Sama sama baik dan cantik. Dan mulai besok kalau kamu ke kantor atau ke kampus kakak yang jemput. Karna kakak trauma dengan kejadian tadi. Kakak gak mau kamu mengalami hal kayak tadi lagi."
"Iya kak, makasih ya kak. Diva sayang banget sama kak doni." ucap diva sembari memeluk doni.
"Iya diva, adik tersayang."ucal doni yang seketika membuat diva melepaskan pelukannya.
Sambil melirik doni, diva memasang wajah penuh kesal. Dengan bibirnya yang di menyongkan, doni kembali memberikan sebuah ciuman pada diva.
Cupp..
"Udah jangan marah terus, cantiknya ntar luntur loh." ucap doni sambil mengacak rambut diva.
"Kak doni, main cium aja sih. Kesel diva." ucap diva sambil mengelap bibirnya.
"Ya ampun bekas bibir kakak sampai di lap ya, jahatnya." ucap doni dengan puppy eyesnya.
"Bodo." jawab diva singkat.
"Sayang, kamu kenapa sih marah marah terus sama pacar sendiri?" ucap doni sambil mengelus pipi halus diva.
"Kak doni tadi manggil diva apa?" tanya diva penuh penekanan.
"Sayang, mulai sekarang kakak akan panggil kamu sayang. Mau kan?" tanya doni sambil terus menatap diva.
"Mau kak,mau banget. Akhirnya kak doni panggil diva sayang. Ini gak mimpi kan kak, atau diva gak lagi halu kan?"
"Enggak sayang. Sekarang kita makan dulu ya, kakak gak mau lihat kamu sakit. Inget lusa kamu harus tes masuk kuliah."
"Iya kak doni sayang. Ayo, tapi diva ke dapur dulu ya, mau hangatin makanannya."
"Iya yank, aku tunggu di meja makan ya." ucap doni.
Keromantisan mereka sedari tadi ternyata di lihat oleh keluarganya. Papa aldo dan papa deva pun saling berangkulan dan bahagia melihat doni dan diva sekarang.
"Dev, gak nyangka ya ternyata sebentar lagi kita akan besanan." ucap papa aldo.
"Iya al, dari dulu aku berharap doni bisa menjadi suami diva. Dan ternyata Allah mau mendengarkan doaku. Andai aja andini masih ada, pasti dia juga akan bahagia ya al." ucap papa deva.
"Iya dev, tapi apa kamu tahu jujur aku masih belum percaya kalau andini itu meninggal. Entah kenapa aku merasa janggal dengan kematian andini. Aku merasa jika andini itu masih hidup."
"Sudahlah al, sudah 20 tahun juga. Bukankah kita semua yang melihat sendiri dari awal andini meninggal hingga kita mengantar ke tempat peristirahatannya. Kalau saran aku mending kamu ikhlaskan kepergian andini, dan carilah pendamping pengganti andini."
"Gak dev, sampai kapanpun aku gak mau menggantikan posisi andini dengan siapa pun." jawab papa aldo.
"Cinta kamu sama andini ternyata besar juga ya al. Mungkin jika aku ada di posisi kamu sekarang, aku sudah gak sanggup hidup dan membesarkan doni. Tapi janji kamu sama andini dan doni kamu tepati semua. Andini memang layak bersama kamu, bukan aku. Tapi sayangnya, Tuhan lebih sayang dia dan mengambil dia lebih cepat. Andai umur andini lebih panjang, aku yakin semua pasti iri dengan keluarga kalian, begitu juga aku." batin papa deva.