My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Saran Mickael



Hati ini hati pertama Diva masuk ke kantor Doni. Dan pagi itu, Doni menjemput Diva ke rumahnya. Setelah berpamitan, mereka bergegas ke kantor.


Di dalam mobil, Doni dibuat terpesona oleh kecantikan Diva yang natural. Ditambah dengan pakaian kantornya, Diva tidak terlihat seperti gadis berusia 19 tahun. Ia nampak lebih dewasa.


"Div, hari ini kamu beda ya," ujar Doni yang memecahkan keheningan diantara mereka.


"Beda gimana kak? Diva aneh ya pakai baju kayak gini," tanya Diva.


"Enggak kok, malah kelihatan cantik. Oh iya, nanti selama di kantor kalau ada yang mau kamu tanyakan langsung masuk ke ruangan kakak aja ya. Tapi kalau pas kakak gak ada, kamu bisa minta tolong Mickael."


"Siap pak bos," jawab Diva dan membuang Doni mengacak rambut Diva karna gemas.


"KAK DONI!! rambut Diva berantakan lagi kan? Argghh, kakak sih," gerutu Diva.


"Apa sih Diva? Gak papa berantakan, biar gak ada yang ngelirik calon istri kakak yang cantik ini," jawab Doni yang berhasil membuat wajah Diva langsung memerah.


"Oh iya kak, nanti pas jam makan siang Diva ijin ke kampus ya kak. Tadi Diva dapet kabar dari Reyhan kalau pengumumannya keluar hari ini."


"Reyhan? Kamu habis telpon dia?" tanya Doni.


"Enggak kak, kakak jangan salah paham dulu ya. Reyhan cuma kirim pesan buat kasih info ini aja kok."


"Oh, nanti kakak anter kamu aja. Kalau kamu berangkat sendirian, yang ada tuh cunguk deket deket sama kamu lagi. Ya kakak tahu kalian udah sahabatan lama, tapi namanya sahabat laki laki dan perempuan itu pasti salah satu tetep punya perasaan. Dan bener kan kata Vida, Reyhan punya rasa sama kamu," tegas Doni.


"Yaudah sih kak, gak perlu bentak Diva juga. Yang penting kan perasaan Diva buat Kak Doni. Eh tunggu dulu deh, barusan kakak cemburu ya sama Reyhan? Hahahaha, akhirnya Kak Doni jealous juga sama Diva," ucap Diva yang langsung mendapat tatapan dari Doni.


"Siapa juga yang jealous. Udah bisa diem gak, jangan ganggu kakak lagi nyetir."


"Iya iya calon suamiku," jawab Diva yang masih tersenyum geli ke arah Doni.


"Kak Doni, Kak Doni. Kalau malu gini wajahnya tambah ganteng tau. Harusnya yang cemburu itu Diva bukan kakak. Karna Diva yakin diluar sana pasti banyak cewek yang mengincar kakak," batin Diva.


Tak terasa mereka berdua sudah sampai di kantor, dan saat masuk semua karyawan menunduk hormat pada Doni yang berjalan bersama Diva. Banyak karyawan yang memuji ketampanan Doni. Namun karna sifat Doni yang cuek dan kaku, membuat dirinya hanya diam tanpa membalas sapaan dari para karyawannya.


Saat berada di lift, Diva berusaha memberitahu Doni tentang sikapnya namun Doni tak merespon semua ucapan Diva.


"Div, selama di kantor kamu jangan panggil saya kak ya. Biar tidak ada kesenjangan karyawan," ucap Doni dingin.


"Oh iya kak, eh maaf pak," jawab Diva dengan mata berkaca kaca.


Saat pintu lift terbuka, Doni melangkah lebih dulu di depan Diva. Diva hanya memandangi punggung Doni yang berjalan menjauh dengan satu per satu butiran air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Doooor," teriak Mickael dari arah belakang Diva.


"Eh Kak Mic, baru datang juga?" tanya Diva sambil membuang mukanya dan dengan segera menghapus air matanya.


"Iya, eh mata loe kenapa kok merah? Loe habis nangis ya? Jangan bilang Doni yang bikin loe nangis?" tanya Mickael sambil memegangi dagu Diva.


"Enggak kok kak. Udah ya kak Diva mau ke ruangan Diva dulu. Bye kak," pamit Diva datang berusaha menghindari pertanyaan Mickael.


"Kenapa gue jadi baper an gini sih. Kan emang bener kata Kak Doni. Kalau gue terlihat dekat sama dia, nanti karyawan lain iri. Kan memang Kak Doni gak mau semua karyawan tahu hubungan gue sama dia. Ya wajar dong kalau Kak Doni bilang tadi. Ini semua gara gara PMS sih, jadi gue cengeng gini kan," gumam Divs sambil menyalakan komputernya.


Mickael lalu masuk ke dalam ruangan Doni dan bermaksud untuk menanyakan apa yang terjadi pada Diva. Tanpa mengetuk pintu, Mickael pun langsung masuk ke ruangan Doni.


"Bro, Diva kenapa?" tanya Mickael yang membuat Doni menoleh ke arah dirinya.


""Bisa ketuk pintu gak sih loe. Kebiasaan asal main masuk aja," gertak Doni.


"Eh maaf pak bos, gue lupa. Habis gue kepo banget kenapa Diva nangis. Loe lagi berantem sama dia?"


"Diva nangis? Kenapa? Gue sama dia baik baik aja tuh. Nanti pas jam makan siang, gue malah mau nemenin dia ke kampusnya. Elo salah lihat kali," ucap Doni sambil sibuk mengetik pesan di ponselnya.


"Iya kali ya, mungkin gue salah lihat. Oh iya terus loe lagi ngapain kok cengar cengir gak jelas gitu. Kayak happy banget. Lagi chatingan sama siapa, hayo?"


"Oh ini, gue lupa ya belum cerita sama loe."


"Cerita apa emang?" tanya Mickael.


"Tanisha. Dia tadi malem chat gue, dia bilang dua minggu lagi mau main ke Indonesia."


Mendengar ucapan Doni, secara spontan Mickael berdiri dari kursinya dan menatap tajam ke arah Doni.


"Don, loe udah gila ya. Ngapain loe masih hubungan sama Tanisha. Inget Don, dia itu tunangannya Justin. Dan elo juga udah punya Diva," teriak Mickael.


"So what? Gue sama dia kan cuma berteman, jadi letak salahnya dimana? Toh Tanisha juga udah putus dari Justin."


"Apa dia udah putus? Bukannya mereka baru aja tunangan?" tanya Mickael.


"Ya makanya, dia mau cerita sama gue besok kalau pas udah sampai Indonesia."


"Terus Diva tahu soal ini?"


"Ya enggak, gue belum cerita sama dia soal Tanisha. Dan gue kira dia juga gak perlu tahu. Kan emang gue sama Tanisha gak ada apa apa. Loe tenang aja kali, gue udah gak punya perasaan sama Tanisha. Jadi loe jangan sampai keceplosan bilang sama Diva ya. Awas loe," ancam Doni.


"Tapi bro, apa gak lebih baik loe cerita sama Diva. Lagipula gue gak yakin loe udah 100% lupain Tanisha. Jadi saran gue, mending loe gak usah berhubungan deh sama Tanisha. Gue yakin dia pasti mau deketin loe karna dia kan udah putus sama Justin."


"Hahahaha, mana mungkin Tanisha suka sama gue. Dari dulu cinta gue aja di tolak dia. Udah mending loe lanjutin kerjaan loe. Gue juga mau lanjutin kerja gue," ucap Doni sambil membuka laptopnya.


"Iya, tapi gue gak tanggung jawab ya kalau ada apa apa nantinya. Gue balik ke ruangan gue dulu ya," pamit Mickael.


"Hmmm," jawab Doni singkat.


Diva yang hendak ke ruangan Doni, tanpa sengaja mendengar sedikit pembicaraan antara Doni dan Mickael.


"Siapa Tanisha? Sejak kapan Kak Doni punya temen perempuan. Atau mungkin bukan temen kali ya, mungkin itu cewek yang lagi di deketin Kak Mickael. Iya paling gue salah denger. Mana mungkin Kak Doni punya temen cewek. Orangnya aja kaku, cuek dan dingin gitu sama semua orang. Iya, gue pasti salah denger." Diva berkata dalam hatinya.