My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
STM



Vida yang ingin mengerjai kakaknya, langsung menyerobot duduk di kursi depan. Sedangkan diva, mau tidak mau duduk di belakang untuk menjaga image di depan doni.


"Kak doni, vida duduk samping kakak ya?" ujar vida yang seketika membuat diva semakin kesal.


"Terserah kamu vid, div loe duduk belakang gak papa kan?"


"Gak papa kak, kan namanya kakak harus ngalah sama adiknya." jawab diva dengan nada penuh penekanan sambil melirik ke arah adiknya.


Vida hanya menjulurkan lidahnya, ia merasa bahagia sudah bisa membuat diva kesal. Dan selama di mobil, vida selalu saja mengajak doni bicara hingga diva tidak mempunyai celah untuk mengobrol bersama doni.


Tiba tiba ponsel diva berbunyi, dan saat melihat ke layar ponselnya, ternyata reyhan sahabatnya yang menelpon dirinya.


"Halo rey, ada apa? "


" Hey div, gak papa sih gue lagi gabut aja,makanya gue telpon loe. Gue ganggu gak? "


"Enggak sih, cuma gue lagi pergi sama vida sama kak doni, anak temen bokap gue."


"Oh yaudah deh, nanti gue telpon lagi aja ya."


"Iya, yaudah ntar kalau mau telpon chat gue dulu aja."


"Oke div, bye."


"Bye, han."


Doni yang dari tadi mengobrol bersama vida, melihat ke spion dan ia pun mendengar sedikit pembicaraan antara diva dan reyhan.


"Telpon dari siapa div? Cowok loe ya." tanya doni yang penasaran dengan seseorang di telpon tadi.


"Oh dia ya kak, dia reyhan sahabat aku dari SMP, bahkan sampai SMA juga." jawab diva.


"Iya kak, sampe STM juga." sahut vida sambil asyik bermain ponselnya.


"STM gimana? Dia sekolah di STM gitu ya?" tanya doni yang bingung dengan maksud vida.


"Bukan kak doni, STM itu sahabat tapi mengharap. Kak diva aja yang gak peka." jawab vida dan langsung mendapat jeweran dari diva.


"Suka ngawur deh kalau bicara. Rasain sekarang, enak gak." kata diva sambil terus menarik telinga vida.


"Auuu, Kakak sakit. Kak doni tolong vida dong kak."


Doni menepikan mobilnya, dan berusaha melerai pertikaian antara diva dan vida.


"Div, udah dong. Kasian vida. Nanti telinganya dia sakit loh. Udah ya." ucap doni.


"Iya kak, tapi biar kapok nih bocil. Suka ngaco kalau ngomong. Emang bener bener minta di pecat jadi adik." kata diva sambil terus menjewer telinga vida.


"Huuuaaa,, kak doni lihat deh kak diva judes banget kan." teriak vida yang berpura pura menangis.


"Div, udah lepas ya. Lihat vida udah kesakitan, udah nangis juga. Kasian udah ya." kata doni sambil memegang tangan diva.


Hati diva langsung meleleh dengan sikap doni padanya. Ia pun langsung melepas tangannya dari telinga vida. Dan tangan doni masih menggenggam tangan diva lalu mata mereka pun saling bertatapan.


"Kak doni, idolaku. Bahagia banget gue bisa menatap mata kak doni sedekat ini." batin diva yang masih terus menatap wajah doni.


"Diva, gadis kecil ini kini sudah besar. Cantik, manis, lembut dan matanya ini seperti mata mama yang sedang menatap gue." batin doni.


"Ehem.. Ehem" suara deheman dari vida membuat diva dan doni tersadar.


"Ciyee, yang pegangan. Inget kalian bawa anak kecil disini."ucap vida kembali.


Doni pun merasa malu, dengan cepat ia melepaskan tangan diva dari tangannya.


"Eh yaudah ayo kakak lanjutin nyetirnya ya." kata doni lalu menjalankan mobilnya kembali.


Mata mereka kembali bertemu saat doni memandangi diva dari spion, dan diva sendiri juga melihat ke arah doni dari spion.


*****


Akhirnya mereka tiba di supermarket. Namun vida berjalan lebih dulu di depan dan membiarkan doni dan diva berjalan berdua.


"Kak div, vida mau cari coklat dulu ya. Kak doni jadi nraktir vida kan?"


"Gak usah kak, mending kakak nemenin kak diva aja, kak diva suka hilang sendiri. Dia suka lupa jalan pulang. Jadi kakak gandeng kak diva ya, biar gak hilang."bisik vida.


"Masak sih vid."


"Iya, masak vida bohong sama kakak. Yaudah vida duluan ya kak." pamit vida sambil melambaikan tangan ke arah diva dan doni.


Diva merasa curiga dengan apa yang di bisikan adiknya pada doni, dan diva pun berusaha bertanya pada doni apa yang sudah dikatakan vida. Namun doni hanya tersenyum ke arah diva. Ia kemudian teringat pesan dari vida, dan doni pun menggandeng tangan diva.


"Ayo jalan, katanya mau cari camilan." tanya doni.


Diva hanya diam sambil melihat tangannya yang sudah di genggam oleh doni. Belum sempat ia bertanya pada doni, doni sudah menjawabnya terlebih dulu.


"Gue sengaja gandeng loe, biar loe gak hilang. Kata vida loe suka lupa jalan pulang. Makanya biar aman gue gandeng." ucap doni.


Dalam hatinya diva sangat kesal karna ucapan vida. Gara gara adiknya itu, doni kini menganggap dirinya orang pelupa, namun di sisi lain hatinya sangat bahagia melihat perhatian dari doni.


"Mimpi apa gue semalem, udah bisa natap kak doni pas di mobil, eh sekarang malah jalan berdua sambil di gandeng lagi. Arrrggggh,,, rasanya pengen lama lama disini." batin diva sambil senyum senyum sendiri.


Selama jalan berdua, mereka sama sama diam. Namun disaat itu tanpa sengaja mereka bertemu mikael.


"Loh pak bos, sama siapa nih, mesra banget." goda mikael sambil tersenyum ke arah diva.


"Elo, ngapain loe disini?" tanya doni.


"Yah pak bos jangan gerogi gitu dong. Gue kesini ya belanjalah, masak iya mau main biliard. Cewek loe cantik juga ya,sampe sampe gak mau lepas tuh tangan." kata mikael membuat doni seketika melepas genggaman tangannya.


"Sialan loe mik, oh iya mik kenalin dia diva. Dia yang akan jadi sekretaris gue besok."


"Dan div, kenalin dia mikael. Dia juga akan kerja bareng kita. Dia jadi konsultan dan asisten gue." ucap doni.


Diva dan mikael saling berjabat tangan. Dan mikael pun di buat kagum oleh kecantikan diva.


"Doni ini b**o apa buta ya. Dikasih calon istri cantik gini malah gak mau. Ibarat kata dikasih citra kirana malah milihnya ely segigi. Ampun deh,dibanding tanisha masih cantik diva lah. Dasar doni bodoh, bener kata om doni dia emang butuh konsultan kayak gue." batin mikael.


Diva berusaha melepas tangan mikael, namun mikael masih menggenggam tangan diva sambil terus menatap diva. Doni yang melihat diva merasa tidak nyaman langsung memukul tangan mikael.


Plaakk..


"Lepas oi." ucap doni.


"Eh maaf, habis diva cantik banget. Jadi kagum gue sama dia." jawab mikael yang langsung mendapat lirikan tajam dari doni.


"Awas loe jangan macem macem sama adik gue. Jangan loe pikir adik gue sama kayak deretan mantan loe ya."


"Hahahaha, ampun pak bos. Kan gue cuma muji diva, kok pak bos yang sewot sih. By the way, diva udah punya pacar belum?" tanya mikael.


"Gak usah tanya tanya, udah gue mau lanjutin belanja dulu. Jangan lupa besok loe kerumah gue, dan kita belajar bareng sama bokap gue."


"Oke pak bos, siap 86." jawab mikael.


Doni pun mengajak diva pergi dari hadapan mikael. Dan ia melihat diva masih senyum senyum sendiri.


"Div, loe kenapa?" tanya doni yang menghentikan langkahnya sejenak.


"Gak papa sih kak, kak mikael orangnya lucu ya. Emang dia bisa kak jadi konsultan kakak?"


"Loe suka ya sama mikael? Mending jangan deh, dia itu playboy tingkat dewa. Jadi loe jangan deket deket deh sama mikael. Ntar kena rabiesnya dia." jawab doni.


"Terus diva boleh deketnya sama siapa kak?"


"Ya sama siapa aja boleh, asal jangan sama mikael."


"Kalau diva pengen deketnya sama kak doni boleh gak?" tanya diva yang membuat doni terdiam.


Doni tidak bisa menjawab pertanyaan diva. Hingga akhirnya ia melihat ke arah diva.


"Boleh, tapi hanya sebatas adik dan kakak ya gak lebih." kata doni.


Mendengar jawaban doni, hati diva rasanya sakit. Matanya pun sudah berkaca-kaca. Namun ia langsung menghapus air mata yang berada di ujung matanya.


"Gue gak boleh nyerah, gue harus berjuang buat dapetin hati kak doni. Dan gue harus berusaha menjadikan mimpi gue jadi kenyataan buat jadi kekasih kak doni. Ayo diva loe pasti bisa bikin kak doni cinta sama loe." kata diva dalam hatinya.