
Sepulang dari supermarket, diva mengajak doni ke galabo rumahnya. Dan kebetulan disana ada gitar kesayangannya. Diva pun berusaha mengajak doni untuk bernyanyi bersama dirinya.
"Kak, main gitar yuk?" ajak diva sambil memberikan gitar pada doni.
"Enggak ah div, kakak lagi gak mood main. Emang loe bisa main gitar?" tanya doni.
"Bisa dong kak. Yaudah deh diva aja yang main, tapi kalau suara diva jelek jangan diejek ya."
"Gak ngejek paling cuma ngakak." jawab doni, lalu mendapat cubitan dari diva.
"Auu,sakit diva."
"Makanya, jangan suka ngejek diva kak. Lihat aja diva buat kak doni terpesona denger suara diva." ucap diva yang kemudian mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi.
Kulihat senyum manis,
Ada cinta yang kurasa, menyapa hati ini.
Tak ingin ku menunggu,
Jadikanlah aku oh cinta, kekasih pilihan dihatimu.
Ku percaya dirimu satu cintaku.
Tuhan tolong aku, katakan padanya.
Aku cinta dia, bukan salah jodoh.
Dia untuk aku, bukan yang lainnya.
Satu yang kurasa, pasti bukan salah jodoh.
Bila cinta t'lah bicara.
Tak kan ragu hati ini mendekat kepadamu.
Tak ingin ku menunggu.
Jadikanlah aku oh cinta, kekasih pilihan dihatimu.
Kupercaya dirimu satu cintaku.
Tuhan tolong aku, katakan padanya.
Aku cinta dia, bukan salah jodoh.
Dia untuk aku, bukan yang lainnya.
Satu yang kurasa, pasti bukan salah jodoh.
Cinta,janganlah cepat berlalu.
Disini temani hari-hariku.
Berdua, jalani kisah bersama.
Doni tak mengedipkan matanya yang tertuju pada diva. Ia tak menyangka jika suara diva sangat indah.
Plllokk.. Plllokk.. Pllokk...
Suara tepuk tak tangan doni
"Loe belajar dimana div? Keren loh. Kenapa gak jadi penyanyi aja sih." ucap doni sambil mengacak rambut diva.
"Bagus ya kak, yah emang diva ini multitalenta ya. Udah cantik, pinter masak, jago main musik lagi. Kakak suka gak?" tanya diva.
"Maksud kamu apa sih? Kakak gak ngerti." ucap doni bingung.
"Yah kakak suka gak model cewek kayak diva. Ehem ehem.." ucap diva dengan puppy eyesnya.
"Loe ngaco div, kakak itu sukanya sama cewek yang feminim dan lembut. Kalau modelnya kayak loe gini, bukan selera kakak."jawab doni yang membuat wajah diva menjadi sedih.
"Oh gitu ya kak. Yaudah deh, ayo masuk aja kak kedalam. Gabung sama yang lain." jawab diva sambil beranjak dari kursinya.
Namun saat hendak pergi, tangannya langsung ditarik oleh doni. Doni pun lalu berdiri menyebelahi diva, dan membisiki diva.
"Jangan ngambek ya, nanti cantiknya hilang."bisik doni.
"Kenapa sakit hati, kan kakak gak bilang apa-apa." jawab doni.
"Emang ya kak doni tuh gak peka jadi cowok. Udahlah capek diva jelasinnya, paling kak doni juga gak ngerti." ucap diva.
Doni berusaha menghibur diva yang sedang marah pada dirinya. Ia pun berniat mengajak diva untuk menemani dirinya membeli pakaian kantornya.
"Div, tunggu kakak."
"Apalagi sih kak doni ku." diva berkata sambil menggetakkan giginya.
"Marah melulu sih, besok mau gak nemenin kakak belanja ke mall."
"What?? Kak doni ngajak gue jalan? Hore,besok bisa berduaan deh sama kak doni. Tapi gue jangan kelihatan seneng, ntar kak doni ngira gue gampang dirayu. Ayo diva, loe harus stay cool." batin diva.
Setelah diam cukup lama, doni kembali menanyakan jawaban atas pertanyaannya pada diva.
"Gimana div, mau nggak?" tanya doni kembali.
"Gimana ya kak? Diva pikir pikir dulu deh." diva berpura-pura bersikap biasa di depan doni.
"Oh gitu ya, yaudah deh. Kalau gak bisa gak papa kok, kak doni ajak temen kakak yang tadi ketemu di supermarket aja." jawab doni yang hendak mengeluarkan ponselnya.
Saat doni hendak menelpon mikael, dengan cepat diva mangambil ponsel dari tangan doni.
"Jangan kak, diva bisa kok. Bisa banget malah." jawab diva dengan penuh semangat.
"Hahahaha, gitu bilangnya pakai mikir mikir segala. Dasar anak kecil, harus diancem dulu baru deh ngaku." ucap doni sambil mengacak rambut diva.
"Kak doni mah, rambut diva berantakan kan. Eh tapi besok temenin diva daftar kuliah dulu ya kak. Mau kan? "
" Iya boleh, besok mau dijemput jam berapa?"
"Hmmm, jam 9 aja ya kak."
"Oke deh,tapi kamu harus udah siap loh ya." kata doni sembari menyentil hidung diva.
"Siap kak." jawab diva.
Doni kemudian merangkul diva. Kemudian mereka menyusul orang tua dan keluarga mereka yang berada di ruang tengah.
Papa aldo dan papa deva hanya tersenyum melihat keakraban doni dan diva. Bahkan kakek atmaja dan nenek rara berharap jika doni dan diva bisa segera bersatu.
"Wuiihh, kak diva sama kak doni udah dateng. Kok happy banget sih? Jadian ya?" tanya vida yang membuat doni langsung melepaskan tangannya yang melingkar di leher diva.
"Hei bocil, bisa gak loe itu jangan asal bicara." gertak diva pada vida.
"Yah nenek lampir taringnya mulai keluar deh, hii takut. Mending deket mama aja deh, daripada dimakan nih nenek nenek." ucap vida yang membuat diva memelototkan matanya.
Nenek rara pun berusaha melerai diva dan vida yang dari tadi seperti anjing dan kucing. Nenek yang sangat berharap diva menjadi pasangan doni, kembali berusaha menjodohkan doni dengan diva.
"Doni, nenek pengen deh kamu menikah sama diva. Nenek udah pengen punya cicit." ucap nenek.
"Iya doni, kakek juga sependapat sama nenek. Kakek setuju banget kalau kamu sama diva. Mumpung kita lagi kumpul, sekalian aja melamar diva." sambung kakek.
Doni hanya membuang nafasnya. Rasanya ia ingin menolak dengan cepat, namun ia masih menjaga perasaan orang tua diva.
"Kek, nek, udah berapa kali doni bilang doni pengen fokus sama perusahaan dulu. Kalau emang diva jodoh doni, gak usah di jodoh-jodohin pun pasti akan berjodoh sendiri."
"Ya terserah kamu deh cucu." jawab kakek pasrah.
"Iya om tante, biarkan diva dan doni berjalan seperti air mengalir. Kalau memang mereka jodoh, gak akan kemana kok." sahut papa deva.
"Iya dev bener, cuma aja diva kan cantik dan pintar, pasti banyak yang naksir nih. Ya semoga aja pas doni sadar cinta sama diva, sebelum divanya disamber orang." ucap papa aldo sambil melirik ke arah doni.
Merasa terpojok, doni mengambil gelas minuman untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"Papa, nenek sama kakek apa-apaan sih. Ngomongnya tambah gak jelas. Kalau gini gue kan gak enak sama om deva sama tante disa juga. Apalagi nanti diva mikir gue bakal bisa buka hati buat dia. Arrghh, sekali aja deh diajak kumpul kesini. Bisa bisa gue beneran dijodohin sama diva. Masak iya istri gue masih kecil kayak dia." batin doni sambil melirik ke arah diva.
Tanpa sengaja diva melihat doni sedang menatap dirinya. Dalam hatinya diva yakin jika saat ini doni pun juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
"Kak doni, bilang aja kali suka sama gue. Tinggal bilang aja, gak usah gengsi segala. Buktinya tadi gue digandeng pas di supermarket, terus gue dirangkul di depan keluarganya, besok juga diajak jalan, sekarang malah curi curi pandang. Kak doni kak doni, diva itu emang cantik gak usah ngeliatin diva segitunya dong." kata diva dalam hatinya yang bahagia.
Sebelum pulang, doni meminta ijin pada mama disa dan papa deva untuk mengajak diva menemani dirinya berbelanja. Dan ia pun langsung mendapatkan ijin dari kedua orang tua diva.
"Andini, walau dulu kita gak bisa bersatu tapi melihat putramu dan putriku, aku berharap mereka bisa menjadi sepasang kekasih bahkan sepasang teman hidup selamanya. Karna dengan begitu, aku pun bisa menyayangi doni seperti putra kandungku sendiri." batin papa deva yang melihat doni dan diva sedang asyik bercanda.