My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Surprise



Beberapa hari berlalu, dan hari ini Doni sudah di perbolehkan untuk pulang.


Diva tentu tidak akan absen menjemput Doni yang akan kembali ke rumah.


Dengan setia Diva membantu mendorong kursi roda Doni. Meski sudah sembuh, namun Doni masih belum di perbolehkan untuk banyak bergerak.


Hari demi hari berganti. Dan kini sudah tepat satu bulan Doni dan Diva kembali resmi menjadi kekasih.


Malam ini, Doni sengaja memberi kejutan untuk kekasih hatinya. Ya, malam ini Doni membawa keluarga besarnya untuk melamar Diva. Kedua orang tua Diva sebenarnya sudah mengetahui rencana kedatangan Doni, namun mereka masih merahasiakannya dari Diva.


"Gimana mah? Masih aman kan?" tanya Deva pelan pada istrinya.


"Aman dong pah. Vida kamu gak keceplosan kan bilang sama kakak kamu?"


"Gak mah, aman pokoknya," jawab Vida sambil mengedipkan sebelah matanya.


Diva terlihat duduk di depan televisi sambil terus memutar mutar ponsel di tangannya. Sudah bisa di tebak, Diva pasti resah karna Doni tak kunjung menghubunginya.


"Kak Doni kemana sih. Bikin bete. Emang pekerjaannya lebih penting ya dari aku," umpat Diva dalam hati.


Vida berjalan menghampiri Diva yang masih gusar di tempat duduknya.


"Dih, loe kenapa kak? Kok resah gitu?" tanya Vida sembari memakan anak ditangannya.


"Gak papa. Lagi bete nunggu kabar dari Kak Doni," sewot Diva.


"Ihh..hati hati loh kak. Loe gak trauma gitu. Dulu Kak Doni kan pernah ngilang gak taunya..."


"VIDA!!!!" teriak Diva sambil menghentakkan sebelah kakinya.


"Hehe, bercanda kali kak."


Diva melirik tajam ke arah Vida. Namun ia baru sadar, ada hal aneh pada diri adiknya itu.


"Eh tunggu tunggu. Kok loe pakai dress gini mau kemana? Pasti loe mau ngedate ya sama cowok loe?" goda Diva.


"Aissh..enggaklah kak. Loe tahu sendiri papa sama mama udah ngultimatum gue buat gak pacaran sampai lulus sekolah."


"Lah terus loe mau kemana? Hayo, jujur sama kakak," selidik Diva.


Vida mulai kelabakan. Apa yang harus dia katakan pada kakaknya. Tidak mungkin ia jujur, jika Doni dan keluarganya akan datang untuk melamar Diva malam ini.


"Vid, ayo bilang. Loe mau kemana?" Diva kembali mengulang pertanyaannya.


Kebetulan nasib baik menimpa Vida. Terdengar suara bel rumah.


"Eh kak, kayaknya ada tamu tuh. Kakak yang bukain ya," ucap Vida.


"Loh kok gue sih Vid. Loe ajalah."


"Gak, loe aja kak. Gue mau ke dapur bantuin mama masak."


"Bibi kemana sih?" tanya Diva kesal.


"Bibi lagi ke warung. Udah bawel banget sih loe kak, buruan bukain pintu sana. Siapa tahu itu tamunya mama apa papa."


Diva mendengus kesal. Terpaksa ia menuruti perintah adiknya.


"Dasar nyebelin loe dek," gerutu Diva.


"Hahaha, sekali kali lah kak. Loe nurut sama gue. Bukan gue terus yang nurut sama loe," Vida berlalu meninggalkan Diva. Dan ia langsung pergi menemui papa dan mamanya, memberitahu bahwa tamu penting sudah datang.


Bunyi bel yang terus menerus di tekan membuat telinga Diva panas. Udah kesel karna sang pacar gak ada kabar, eh kedatangan tamu resek pula,pikirnya.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


"Iya iya bentar," teriak Diva.


Ceklek...


Kedua bola mata Diva membulat. Melihat kekasihnya datang bersama beberapa anggota keluarga sambil membawa beberapa bingkisan di tangan mereka.


"Kak Doni, tante Andini, om Aldo, kakek, nenek, tante Bita," ucap Diva kaget.


"Surprise sayangku," kata Doni.


Diva yang tak mengetahui kedatangan Doni dan keluarganya yang tiba tiba hanya berpakaian santai. Kaos putih dan celana pendek.


Diva melihat dirinya sendiri. Dan betapa malunya dia ketika kedatangan keluarga pacarnya dan dia malah berpakaian tidak sopan. Jika yang datang itu hanya Doni, Diva tidak masalah. Karna biasanya dia juga memakai pakaian santai ketika Doni apel ke rumahnya. Tapi ini! Oh no... Keluarga besar Doni yang datang. Dan dia malah berpakaian tidak sopan.


"Kak Doni kok gak bilang mau kesini sama keluarga kakak sih?" bisik Diva.


"Namanya juga kejutan sayang. Kamu gak pengen ngajak aku sama keluargaku buat masuk kerumah kamu?"


"Eh iya iya. Maaf tante, om, kek, nek, Diva lupa. Mari silahkan masuk semuanya," ucap Diva.


Belum sempat Diva mengajak tamu dadakannya masuk, orangtua dan adiknya sudah datang menghampiri mereka.


"Eh tamunya udah datang. Mari silahkan masuk," Deva menyambut Doni beserta keluarganya. Sedangkan Diva hanya diam terpaku. Berarti orang tua dan adiknya tahu jika Doni dan keluarganya akan datang kesini.


Diva memasang wajah kecut. Melihat kekesalan Diva, Doni dan Vida pun tos karna semua rencananya berjalan mulus. Diva semakin kesal dengan tingkah adik dan pacarnya. Rupanya dia sedang di kerjain mereka semua.


"Eh iya mah. Semuanya Diva pamit ke kamar dulu ya."


"Iya Diva," semuanya menjawab kompak.


"Dandan yang cantik yang sayang," Doni kembali meledek kekasihnya. Bibir Diva semakin mengerucut mendengar perkataan Doni.


Di dalam kamar, Diva bingung sendiri memilih pakaian yang akan di kenakan. Hingga tanpa dia sadari, semuanya sedang menunggu dirinya di bawah.


Tok.. Tok.. Tok..


"Kak Diva udah belum? Udah di tungguin loh," seru Vida.


"Iya iya dek, bentar lagi ya."


"Hmmm, jangan lama lama loh kak. Keburu tamunya pulang."


"Iya bawel. Udah sana, bilang bentar lagi gue turun."


"Oke kak."


Di depan cermin Diva kembali ingat bingkisan yang di bawa Doni dan keluarganya. Bukankah sekarang bukan tanggal ulang tahunnya, tapi kenapa ada bingkisan di tangan mereka.


Meski bertanya tanya, Diva melupakan begitu saja. Tak mau jika Doni dan keluarganya sungguhan akan pulang karna terlalu lama menunggunya.


Diva mulai menuruni anak tangga. Jantungnya berdegup sangat kencang. Rasa nerveous, takut, malu, senang, berkecamuk menjadi satu di hatinya.


Kini semuanya sudah berkumpul di ruang tengah. Tak ada pembicaraan serius asalnya, hingga Doni mengambil sesuatu di balik kemejanya.


"Om, tante, Doni kesini berniat ingin melamar Diva untuk menjadi istri Doni. Apakah om dan tante akan merestui niat baik Doni pada putri om dan tante?" Kali ini Doni berkata dengan bibir bergetar. Entah mengapa rasa gugup tiba tiba mendera dirinya.


Mulut Diva menganga dengan mata tak berkedip. Ini seperti mimpi. Impian kecilnya untuk menjadi istri Doni kini akan menjadi nyata.


Semua mata langsung tertuju pada Diva. Namun gadis itu masih melamun, dan masih tak percaya dengan lamaran Doni yang tak direncanakan.


"Diva, gimana? Kamu terima gak lamaran putra om?" tanya Aldo.


"Iya Diva gimana?" sahut Deva.


"Emm.. Gimana ya..."


"Udah deh kak, gak usah sok pura pura nolak kayak di sinetron. Kalau iya tinggal bilang iya aja gak usah pakai muter kemana mana," celoteh Vida.


Diva mengumpat kesal pada adiknya dan menatap Vida tajam. Tapi jaim dong, masak di depan keluarga calon suami dia berdebat dengan Vida.


Diva hanya bisa membuang nafas kasarnya. Dan matanya kini tertuju pada benda bulat yang ada di dalam kotak merah di depan matanya.


"Will you marry me, Diva?" tanya Doni sekali lagi.


Tanpa berpikir dua kali, Diva melebarkan senyumannya. "Yes, I will brother," jawabnya yang langsung di sambut pelukan oleh Doni.


Doni memakaikan cincin ke jari manis Diva, begitu juga sebaliknya. Setelah selesai, kedua keluarga ini mulai menentukan tanggal pernikahan anak mereka.


"Enaknya kapan nih pernikahan kalian akan digelar?" tanya Andini.


"Diva ngikut aja tante."


"Minggu depan pah, mah," sahut Doni.


"APA KAK? MINGGU DEPAN?" Diva melebarkan nada bicaranya. Ia pikir kekasihnya sudah gak waras. Nikah kan butuh persiapan. Bagaimana semua bisa disiapkan dalam waktu seminggu?


"Baiklah minggu depan kalian akan menikah," sambung Deva.


Sekarang bukan hanya Doni flying dianggap gak waras oleh Diva tapi papa dan mamanya juga. Kok bisa mereka mengiyakan keinginan Doni.


"Tapi mah, pah, kita kan belum siap semuanya. Kita kan harus daftar ke KUA dulu. Belum lagi undangan, catering, gedung, wedding organizer,dan masih banyak lagi," protes Diva.


Semua hanya tersenyum mendengar perkataan Diva. Lagi lagi, Diva mendapat Surprise dari keluarganya dan keluarga calon suaminya.


Tanpa ia tahu, ternyata mereka sudah mempersiapkan jauh jauh hari tanpa sepengetahuan dirinya.


"Semua sudah siap sayang. Tinggal kamu mempersiapkan stamina kamu untuk acara minggu depan," ujar Disa.


"Apa mah? Kok Diva gak tahu?"


"Iya sayang. Semua sudah di persiapkan mamaku dan mama kamu. Dan untuk pendaftaran di KUA juga udah di daftarin papa kamu. Jadi kita tinggal nikah aja," jawab Doni.


Mau marah tapi Diva juga bahagia. Kejutan demi kejutan ia dapatkan. Buliran bening mulai menggenangi kedua kelopak matanya.


"Eh kok nangis," Doni menyeka air mata Diva.


"Diva bahagia kak. Akhirnya sebentar lagi kita akan bersatu dan menikah," lirih Diva.


"Iya sayang, selamanya kita akan bersama. Dan bukan hanya kamu yang bahagia tapi aku juga."


"Cie cie, yang mau nikah. Mau dong dilamar kayak Kak Diva," goda Vida.


Gara gara ucapannya, kini ia mendapat lirik tajam dari orang tua dan kakaknya.


"Hehe, bercanda mah, pah, kak. Peace," Tangan Vida membentuk huruf V dengan sedikit senyuman licik dibibirnya. Suasana pun kembali ramai dan gelak tawa memenuhi isi ruangan, karna tingkah konyol anak bungsu dari keluarga Devano ini.