
Selama di dalam mobil, Aldo terus berusaha mengajak bicara Andini namun tak ada satu pun pertanyaannya yang dijawab. Hingga Aldo teringat jika ia belum mengabari Nabilla.
"Din, aku lupa telpon Nabilla. Apa dia ada dirumah ya?" ucap Aldo.
"Hmmm, yaudah buruan telpon dia. Atau emang kamu sengaja gak nelpon dia dan berusaha menghindari pertemuanku sama dia?" tanya Andini sinis.
"Enggak din, beneran aku lupa telpon dia. Lagipula aku udah males berurusan sama dia. Kalau gak karna pengen buktiin kebenarannya sama kamu, aku udah gak sudi kerumah dia."
"Aku gak butuh penjelasan kamu, yang aku butuhkan penjelasan Nabilla. Kalau semua terbukti, kamu gak ada alasan buat menolak gugatan cerai yang aku ajukan ke pengadilan. Dan aku minta jangan persulit semuanya. Kamu gak tau kan gimana perasaanku saat ini, sakit al." ucap Andini.
Aldo memandangi istrinya yang kini berubah dingin padanya. Andini yang dulu begitu lembut dan ramah, sudah berubah. Penyesalan Aldo kian bertambah, ketika melihat Andini berusaha menutupi kesedihannya dengan memandang keluar jendela mobil.
"Andini, maafkan aku. Seharusnya aku gak pernah meragukan perasaan kamu dulu. Kamu memang sudah kembali, tapi aku gak yakin apa perasaanmu akan kembali." batin Aldo.
Tak berapa lama, Aldo sudah tiba di depan rumah Nabilla. Dan karna sudah menerima pesan dari Aldo sebelumnya, Nabilla sudah menunggu dirinya di teras rumahnya.
Aldo bergegas masuk dan Nabilla pun terlihat kaku karna memang dirinya dan Aldo sudah lama tidak berjumpa.
"Hai Al, ternyata kamu masih mengingat alamat rumahku dan menyimpan nomorku. Tumben sekali kamu main kesini, ada apa memangnya?" tanya Nabilla.
"Aku sebenarnya juga gak sudi main kesini, hanya saja ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu." jawab Aldo sambil memanggil Andini.
Nabilla terkejut melihat kehadiran Andini. Sambil membuka kacamata hitamnya, Andini mengulurkan tangannya.
"Apa kabar Nabilla?" tanya Andini.
"Ba... Ba... Baik din. Tapi bukannya kamu sudah me.. " ucap Nabilla namun langsung di potong oleh andini.
"Meninggal? Ya memang semua tahunnya aku sudah meninggal. Tapi sayang aku belum meninggal. Sekarang bukan saatnya kamu bertanya padaku, justru aku kesini ingin mengucapkan selamat karna kamu sudah pernah menikah bukan dengan suamiku? Apalagi kamu sudah menikmati tubuhnya juga. Oh iya gimana rasanya menjadi seorang pelakor, pasti sensasinya.. " kata Andini dengan nada sedikit merendahkan Nabilla.
Tak terima dengan ucapan Andini, Nabilla melemparkan tamparan keras ke pipi Andini.
Plaakkk...
" Cukup din, aku gak pernah berusaha merebut Aldo dari pelukan kamu. Ini semua salah paham,dan asal kamu tahu aku bukan pelakor." teriak Nabilla.
Aldo pun secara spontan membalas tamparan Nabilla.
Plaakkk...
"Jangan pernah kamu menyakiti Andini." tunjuk Aldo tepat ke depan mata Nabilla.
"Ayo kita pulang din, gak usah berurusan lagi dengan dia. Kesalahan kalau kita datang kesini." ucap Aldo sembari menarik tangan Andini.
Namun Andini menghempaskan tangan Aldo dengan cepat.
"Enggak, aku masih pengen dengar penjelasan Nabilla." ucap Andini pelan sembari berjalan kembali ke arah Nabilla.
"Tolong jelaskan semuanya Nabilla. Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Kalau memang kamu tidak berniat merebut Aldo, kenapa malam itu kamu bercinta dengan suamiku. Bahkan permainan kalian berdua seakan menikmati semuanya. Dan apa benar yang di bilang Aldo, jika kamu pernah membohongi dirinya tentang kehamilan kamu?" tanya Andini dengan air mata yang mulai berjatuhan.
"Baik din, tapi aku minta kamu masuk ke dalam akan aku jelaskan semuanya." ajak Nabilla.
Kini Nabilla, Andini dan Aldo sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Nabilla. Disana Nabilla mulai menjawab semua pertanyaan Andini.
"Kamu mau tanya mulai dari yang mana din?" tanya Nabilla santai.
"Soal ciuman itu sepertinya aku tidak perlu menanyakannya. Hanya yang membuat aku pergi selama ini karna aku melihat video kalian sedang bercinta yang diambil vita karna permintaanku. Apa benar kata Aldo jika kalian saat itu mabuk berat? Dan apa benar sebenarnya cindy juga ikut, hanya saja tiba tiba ia pergi karna ada acara mendadak?" tanya Andini.
"Iya benar, saat itu Cindy ikut bersamaku ke kantor Aldo. Hanya saja saat sampai disana tiba tiba Cindy tidak ikut masuk karna dia sedang ada kencan bersama reva,pacarnya. Dan disana ia memberiku wine. Mungkin karena aku dan Aldo minum terlalu banyak akhirnya kami mabuk dan terjadilah malam itu din. Tapi jujur din aku merasa aneh dengan wine itu."
"Aneh apa maksudmu?" tanya Andini.
Belum sempat Andini menjawab, Aldo tiba tiba menyahut pembicaraan mereka ."Iya aku juga Nabilla. Saat itu aku seakan melihat kamu seperti Andini."
"Sudah cukup. Jadi maksud kalian semua ulah Cindy? Untungnya apa Cindy melakukan semua itu? Terus kenapa kalian baru curiga sekarang, hah?" teriak Andini yang mulai bangkit dari kursinya.
"Andini tunggu. Aku juga baru sadar sekarang. Selama ini aku gak kepikiran soal itu." ucap Aldo.
"Stop Al. Tadi kamu bilang kamu dijebak Nabilla. Dan sekarang di depan Nabilla kamu mau bilang jika kamu di jebak Cindy. Apa susahnya sih Al kamu jujur sama aku." jawab Andini sambil melepaskan tangan Aldo.
"Aku mau pulang sendiri. Dan besok aku akan kirimkan surat gugatan cerainya." pamit Andini.
Namun saat Andini hendak keluar dari rumah Nabilla, Nabilla berusaha mengejar dan menghentikan langkah Andini.
"Din tunggu." ucap Nabilla sambil menarik tangan Andini.
"Apalagi Nabilla?" jawab Andini berusaha melepaskan tangan Nabilla.
"Bisa kita bicara di kamarku. Aku mau jelasin semua ke kamu."
"Buat apa?" tolak Andini.
"Please ya din?" mohon Nabilla.
"Oke, tapi sebentar aja."
"Iya." jawab Nabilla sambil berjalan seiring dengan Andini ke kamarnya.
Sebelum mengajak Andini pergi ke kamarnya, Nabilla pamit pada Aldo untuk tetap menunggu mereka di ruang tamu. Dan tak lama setelah masuk ke kamar, Nabilla mulai menceritakan semuanua pada Andini.
" Din, kamu salah jika kamu mengira Aldo berpaling dari kamu. Kamu beruntung din, karna kamu memiliki pasangan yang setia dan tulus mencintai kamu. Aldo gak pernah selingkuh di belakang kamu. Aku yakin Cindy pasti memasukkan sesuatu dalam wine itu. Awalnya aku mengira jika Aldo memang mengambil kesempatan saat aku mabuk, tapi kamu dengar kan ucapan dia tadi. Dia merasakan hal yang sama seperti aku setelah meminum wine itu. Dan aku baru tahu hari ini., karna sebelumnya Aldo gak pernah cerita sama aku. Tapi lebih baik kamu tanyakan langsung ke Cindy aja." ucap Nabilla.
"Hahahaha, terus kenapa kamu mengaku kalau kamu hamil dengan Aldo?bukankah itu tandanya kamu berharap menggantikan posisiku sebagai istrinya setelah kamu pikir aku sudah meninggal." jawab Andini.
"Iya, aku akui aku salah. Saat itu aku bingung din, karna aku sedang hamil. Aku mengandung anak dari hubungan terlarangku dengan mantan kekasihku saat kuliah. Tapi dia gak mau bertanggung jawab,ditambah tunanganku membatalkan pernikahannya denganku. Dan aku saat itu bingung, aku gak mau kalau anak itu lahir tanpa ayah dan membuat aib keluargaku. Makanya aku bohong sama Aldo, dan aku memutuskan menikah siri karna Aldo gak mau membuat doni kecewa. Apalagi baru sebulan kematian kamu. Dan selama itu Aldo selalu menangis dan merasa bersalah pada kamu. Cintanya begitu besar sama kamu dini. Walau kami sudah menikah, dia sama sekali gak pernah menyentuhku. Bahkan dia gak pernah pulang ke apartemenku. Hingga tak lama setelah pernikahan kami, tiba tiba saja saat aku bangun tidur, aku kepleset di kamar mandi dan aku pun kehilangan bayiku. Dan saat Aldo tahu, dia langsung menggugat cerai aku. Dengan cepat aku menandatangani semua, karna memang aku gak pernah punya perasaan sama aldo. Ini semua bukan salah dia din, dia melakukannya bersama aku itu dalam keadaan gak sadar." ucap Nabilla.
Andini hanya diam. Pikirannya saat ini masih bingung. Ia ragu dengan semua penjelasan Nabilla, tapi dalam hati kecilnya ia merasa memang ada yang janggal.
"Apa benar kata Nabilla. Tapi tetap saja Aldo pernah melakukannya dengan wanita lain. Sedangkan aku benar benar menjaga kehormatanku sebagai seorang Istri. Ya Allah, keputusan apa yang harus aku ambil. Jadi semua ini ulah siapa? Apa benar kecurigaan mereka, jika semua perbuatan Cindy. Tapi buat apa dia melakukan ini?" gumam Andini yang sedang berperang dengan batinnya sendiri.
Nabilla membuyarkan lamunan Andini.
"Din, kamu kenapa? Kamu masih ragu ya sama Aldo. Mungkin sebaiknya kita tanyakan semua sama Cindy. Selama ini aku dan Aldo gak pernah curiga sama dia. Tapi memang dulu beberapa kali Cindy pernah tanya sama aku, soal perasaanku sama Aldo. Tapi aku selalu berkata pada Cindy kalau aku dan Aldo hanya sebatas sahabat'." ucap Nabilla.
"Cindy tanya gitu?" tanya Andini memastikan ucapan Nabilla.
"Iya. Tapi aku gak pernah gubris ucapan cindy sih. Terus gimana sih ceritanya kamu bisa hidup lagi. Bukannya yang udah dikubur itu kamu kan?" tanya Nabilla.
"Lain kali aku ceritain. Mending sekarang kita temui Aldo, kasihan dia udah nunggu kita lama."
"Iya din, aku minta maaf ya buat kesalahanku di masa lalu. Sumpah din, aku gak pernah punya perasaan sama Aldo. Dan aku juga udah berusaha jelasin semua sama dia. Tapi dia selalu anggep aku menjebak dia. Padahal buka aku din." ucap Nabilla.
"Untuk saat ini aku belum bisa memaafkan kamu Nabilla karna aku juga meragukan ucapan kamu. Dan untuk memastikan ucapan kamu, aku akan menemui cindy secepatnya. Disini aku akan tahu semua cerita versi kalian. Aku pamit pulang, terimakasih buat waktunya." ucap Andini sambil berjalan keluar kamar Nabilla.
Sesampainya di ruang tamu, tanpa sadar Andini menarik tangan Aldo dan mengajaknya untuk pergi.
"Ayo al kita pergi."
"Iya din, kamu sudah selesai bicara dengan Nabilla?"
"Hmmm, sudah. Dan aku minta kamu antar aku ke rumah Cindy sekarang." ucap Andini dan membuat Aldo sedikit kaget karna tangan Andini yang sudah melingkar di lengannya.