
Sesaat setelah memarkirkan mobilnya, Diva dan Vida berlari menuju bagian informasi. Mereka lalu menuju ruang ICU dimana Doni sedang dirawat sekarang.
"Mama, papa," teriak Diva. Semua mata yang berada disana langsung menoleh ke pusat suara.
"Diva," ucap semuanya.
Mata Deva dan Disa langsung mengarah ke Vida yang berdiri di belakang Diva. Dan Vida hanya bisa tertunduk, karna sudah memberitahu kakaknya soal kecelakaan yang dialami Doni.
"Mah, pah, gimana keadaan Kak Doni? Dia baik baik aja kan? Kenapa papa sama mama merahasiakan ini dari Diva? Kenapa mah, pah?" tanya Diva.
"Maafkan kami nak. Mama dan papa hanya tidak mau merusak moment kebahagian kamu dan Rangga," jawab Disa.
"Terus gimana sama keadaan Kak Doni?"
"Kecelakaan itu membuat Doni harus menjalani operasi untuk menghentikan darah di pembuluh otaknya. Tapi, setelah operasi Doni koma nak," jawab Deva.
Duerr...
Diva terduduk lemas di kursi tunggu. Tangisnya kembali pecah, badannya terasa lemah, dan rasa bersalahnua kembali muncul.
"Ini semua gara gara Diva. Andai aja Diva gak memberi persyaratan itu sama Kak Doni dia tidak akan mengalami hal ini," lirih Diva.
Disa ikut duduk disamping putrinya. Melihat kesedihan putrinya, apalagi Diva yang terus menyalahkan dirinya sendiri membuat hati mamanya terenyuh. Disa membawa Diva kedalam pelukannya.
"Ini bukan salah kamu Diva. Jadi jangan pernah kamu menyalahkan diri kamu ya nak," ucap Disa.
"Iya Diva, ini bukan salah kamu. Om gak mau mendengar kamu menyalahkan diri kamu lagi ya," sahut Aldo.
Diva mendongakkan kepalanya. "Om Aldo, maafin Diva ya om. Tante Andini mana om?" tanya Diva karna dari ia datang, dirinya tak melihat Andini berada disana. Hanya ada para sahabat mama dan papanya, serta Mickael.
"Tante Andini di ruang rawat inap bersama Christy, Tante Dita dan Tante Anez. Dia harus diinfus, karna tekanan darahnya turun."
"Om, apa Diva boleh masuk buat lihat Kak Doni?" ucap Diva.
"Silahkan Diva. Siapa tahu dengan melihat kedatangan kamu, Doni bisa sadar dari komanya," ucap Aldo.
"Makasih om."
Diva bergegas masuk kedalam ruang ICU. Saat hendak masuk, ia melihat Mickael menatap dirinya sinis. Diva sadar, pasti Mickael sangat marah padanya.
Setelah memakai pakaian khusus, Diva segera menuju tempat dimana Doni terbaring. Air matanya mengalir deras. Laki laki yang sudah mengkhianatinya, menyakiti hatinya empat tahun yang lalu dan juga laki laki yang masih tinggal dihatinya kini terbaring lemah dengan banyak selang yang terpasang di tubuhnya.
Diva menutup mulutnya. Bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak melihat monitor detak jantung Doni. Perlahan, Diva melangkah mendekati ranjang Doni.
"Kak, Diva datang," lirih Diva.
Kaki yang semula berdiri tegak kini terasa lemas. Diva memeluk tubuh Doni, mengusap wajahnya yang nampak tertidur pulas.
"Kak Doni ,bangun kak. Bukan ini yang Diva pengen. Kalau Kak Doni sayang sama Diva ,tolong bangun kak," seru Diva.
Sayang, teriakan Diva sia sia. Doni masih diam, sama sekali tak menjawab. Jangankan menjawab ,bergerak saja tidak.
Diva masih saja menangis. Ia menggenggam tangan yang selama ini sangat ia rindukan. Tangan yang pernah menggengam tangannya begitu erat, memeluk tubuhnya, membelai rambutnya dan mengusap air matanya.
"Kak Diva mohon, bangun kak. Diva yakin, Kak Doni pasti bisa sembuh. Ayo dong kak, bangun," ucap Diva sambil menyentuh wajah Doni yang memar dan sesekali mencium tangannya.
Tak sengaja, mata Diva melirik kesamping, melihat tangan kiri Doni. "Cincin ini?" Diva menarik tangan kiri Doni, mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya.
Diva mengambilnya, dan benar cincin yang dipakai Doni adalah cincin yang rencananya akan dipakai saat pernikahan mereka dulu.
"Jadi Kak Doni selalu memakainya?" batin Diva.
Beberapa saat kemudian, Deva masuk menemui putrinya didalam.
"Diva," panggil Deva.
"Pah, Kak Doni pah," Diva memeluk papanya. Menumpahkan rasa sedihnya di dalam dekapan Deva.
"Sudah malam nak, kita pulang ya. Besok kita bisa kesini lagi. Siapa tahu, besok Doni akan sadar Diva," ajak Deva.
"Enggak pah. Diva mau disini nemenin Kak Doni."
"Enggak pah. Pokoknya Diva tetap mau disini jagain Kak Doni. Diva mohon pah, untuk malam ini ijinin Diga di rumah sakit buat jagain Kak Doni," ucap Diva sambil menangkupkan kedua tangannya ke hadapan papanya.
Deva menarik nafas panjangnya. Melihat putrinya yang sedang mencoba mendapatkan ijin darinya. Matanya terlihat sayu, rasanya tak tega jika dia menolak keinginan Diva.
"Baiklah, hanya untuk malam ini. Ingat Diva, kamu sudah memiliki tunangan. Jadi papa minta, jangan buat Rangga kecewa dengan sikap kamu," pesan papa.
"Iya pah, makasih. Aku janji pah, hanya malam ini aku menginap disini."
"Yasudah papa,mama dan Vida pulang dulu. Kalau ada perkembangan dari Doni kabari kami ya. Dan besok pagi, papa akan suruh sopir buat jemput kamu."
"Iya pah. Papa hati hati ya. Tolong pamitin ke mama ya pah."
"Iya nak. Papa pulang dulu," ucap Deva sambil mencium kening Diva lalu berlalu meninggalkannya di dalam ruangan.
Deva keluar dari ruangan lalu mengajak istri dan putri bungsunya pulang. Tak lama setelah kepulangan Deva, Aldo pergi untuk menemui Andini. Hanya tinggal Mickael yang berada disana. Ia segera masuk, menyusul Diva didalam. Karna ada hal yang ingin ia sampaikan pada Diva.
"Diva," Mickael memanggil Diva. Mendengar namanya dipanggil seseorang, Diva menoleh ke belakang dan melihat Mickael sudah berdiri membelakangi dirinya.
"Kak Mic," jawab Diva.
"Bisa ikut gue keluar?"
"Ada apa kak? Loe pasti mau marahin gue kan? Atau loe mau mengusir gue dari sini? Gue mohon kak, hue cuma mau nemenin Kak Doni malam ini aja," rengek Diva.
"Bukan, ada yang ingin gue kasih lihat sama loe."
"Apa kak?" tanya Diva penasaran.
"Makanya loe ikut gue keluar," titah Mickael.
"Iya kak."
Sebelum pergi, Diva mencium tangan Doni sambil mengelus pipinya. "Kak, Diva keluar bentar ya," pamit Diva.
Mickael memalingkan wajahnya. Masih teringat jelas ,cacian yang Diva ucapkan di panggung pertunangannya tadi saat dia menghina Doni.
"Apa perlu harus ada kejadian ini dulu Div ,buat bikin loe percaya kalau Doni itu cinta sama loe," batinnya.
Mickael keluar terlebih dulu, dan tak lama Diva menyusul dirinya.
"Ada apa kak?" tanya Diva.
Mickael mengambil kotak merah yang ditemukan disaku jas Doni saat kecelakaan dan memberikannya pada Diva.
Diva membukannya, matanya membulat melihat isi kotak itu. Sebuah kalung berlian yang sangat cantik dan indah.
"Ini apa kak?"
"Itu kado dari Doni. Loe bisa baca kan ada tulisan happy engagement. Kota itu di temuin didalam saku jas Doni. Tadi gue udah bilang kan, Doni pasti datang dan dia lagi cari kado buat loe. Gue gak bohong kan Div. Sayangnya dia mengalami kecelakaan saat menuju ke hotel. Disini loe bisa lihat, Doni sunguh sungguh ingin mendapatkan maaf dari loe dan membuktikan cintanya sama loe. Jadi jangan pernah loe bilang Doni penipu lagi. Dia gak seperti itu," ucap Mickael.
Mata Diva kembali berkaca kaca. Gak perlu diberitahu Mickael, Diva tahu jika Doni kecelakaan saat menuju ke hotel dimana acara pertunangannya berlangsung.
"Loe gak usah nangis. Nasi udah jadi bubur. Loe udah punya kekasih di saat loe kasih harapan palsu sama Doni selama empat tahun ini. Percuma Div, jadi lebih baik loe simpen aja air mata loe itu," ucap Mickael.
"Kak Mick, gue nyesel kak. Maafin gue."
"Loe harusnya bukan minta maaf ke gue ,tapi ke Doni. Ya semoga aja loe masih dikasih kesempatan sama Tuhan buat minta maaf sama Doni."
"Kak gue mohon, jangan bilang kayak gitu."
"Gue bicara fakta Div. Bukannya loe lulusan fakultas kedokteran? Jadi loe tahu dong berapa kemungkinan untuk Doni sembuh. Oh iya satu lagi, ini tadi bucket bunga di temuin didalam pelukan Doni. Mawar putih, bunga kesukaan loe. Sayang ,udah jadi bunga mawar merah, itu ada darah Doni disana. Siapa tahu dengan lihat ini bikin loe puas karna dendam loe sudah terbalaskan. Gue permisi Div, jujur gue males lihat loe ada disini. Sebaiknya gue temuin tante Andini dan om Aldo, daripada gue harus lohat wanita pendendam di depan mata gue," Mickael berlalu. Meninggalkan Diva sendirian di depan ruang ICU.
"Kak Mic," seru Diva. Mickael tak bergeming, ia terus melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Diva yang terus memanggil namanya.
Tangis Diva kembali pecah. Melihat dua barang yang ada ditangannya semakin memperdalam rasa penyesalannya.
Diva kembali masuk kedalam ruangan. Ia berlari lalu jatuh dalam pelukan Doni yang masih terbaring belum sadarkan diri di ranjangnya.
"Kak Doni, maafin Diva kak. Jangan tinggalin Diva, Diva masih sayang dan cinta sama kakak. Buka mata kakak. Lihat Diva disini kak. Diva mohon, bangun kak. Bangun buat Diva," ujar Diva sambil berusaha membangunkan Doni dari komanya.