
Waktu hampir larut malam. Rangga dan Diva telah selesai mengambil segala sesuatu untuk persiapan pernikahan mereka.
Sebelum pulang, Rangga mengajak Diva untuk makan malam di tempat yang sudah ia booking. Dan tempat itu sudah di buat seromantis mungkin.
"Hon, kamu masih mikirin Doni ya?" tanya Rangga sesaat sebelum mereka turun dari mobil.
"Oh enggak kok Hon. Ayo kita turun, biar gak kedalaman banget pulangnya," jawab Diva yang sedang mengalihkan pembicaraan mereka. Diva tidak mau membuat Tangga sakit hati dan tahu jika dia masih sangat mencintai Doni.
"Iya hon."
Setibanya di meja makan, tak ada pembicaraan antara mereka berdua. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu mereka.
Di tengah suasana hening acara makan malam mereka, Rangga menggenggam tangan Diva dan menghentikan kegiatan makan Diva sejenak.
"Ada apa hon?" tanya Diva heran.
"Gak papa. Kamu tahu gak aku bahagia banget. Karna sebentar lagi kita akan menikah."
"Iya sama. Aku juga hon," balas Diva terpaksa.
Mata mereka saling bertatapan. Rangga memberikan senyuman lebar, terlihat jelas raut bahagia di wajahnya. Namun berbeda dengan Diva. Mimik wajahnya terlihat jika ada hal yang mengganjal dalam pikirannya.
"Hon, berdiri sebentar deh," Rangga menarik tangan Diva. Mengamati wajah Diva begitu dekat.
"Iya," jawab Diva singkat.
Entah apa yang ada dalam pikiran Rangga. Ia begitu erat memeluk tubuh Diva lalu mencium keningnya.
"Hon, kamu kenapa?" tanya Diva.
Rangga masih saja diam. Tiba tiba ia mengambil tangan kiri Diva dan melepas cincin di jari manis kirinya.
"Mulai sekarang kamu bukan siapa siapaku lagi," ucap Rangga.
Jeedeeer..
Air mata Diva memenuhi pelupuk matanya. Ada apa dengan Rangga? Apa karna Doni, Rangga marah dan memutuskan pertunangan mereka.
Diva memegang kedua pundak Rangga. Namun mata lelaki dihadapannya masih terpejam. Diva sadar, ini semua karna perbuatannya. Rasanya tidak adil jika ia melepaskan laki laki sebaik Rangga.
"Hon, apa maksudnya. Kamu mau membatalkan rencana pernikahan kita? Aku tahu hon, kamu kecewa tapi aku sudah janji kan aku tidak akan berhubungan lagi dengan Kak Doni. Tolong, kamu mengerti posisiku kemarin. Aku hanya merasa bersalah dengan Kak Doni. Jangan begini dong hon. Aku minta cabut kembali perkataan kamu," ucap Diva.
Netra Rangga mulai terbuka. Ia menangkup wajah Diva, menyatukan kening mereka berdua.
"Div, aku tahu kamu masih cinta sama Doni."
"Enggak hon, aku cintanya sama kamu."
"Bohong," seru Rangga. "Aku tahu kamu masih cinta sama dia kan."
Diva terdiam. Air matanya jatuh semakin deras. Kakinya luruh dan ia jatuh di kursi sambil menundukkan kepalanya.
" Maafin aku Ngga," lirih Diva.
Rangga duduk berjongkok di depan Diva. Tangannya mengelap air yang membasahi pipi mulusnya.
"Tapi aku nggak mau. Kamu lelaki baik Ngga. Gak akan susah buat aku mencintai kamu di pernikahan kita nanti. Dulu mama dan papaku juga sama. Papa menikah sama mama tapi hatinya masih ada di wanita lain. Tapi sekarang kamu lihat kan,pernikahan papa dan mama ku bahagia."
Rangga malah tersenyum, semakin membuat Diva merasa bersalah. Kenapa semua jadi begini. Gara gara dendamnya, ia malah menyakiti banyak perasaan orang yang sayang padanya.
"Hei, kamu bicara apa. Gak ada pernikahan yang bahagia tanpa ada landasan cinta. Buat apa aku menikahi kamu, jika aku hanya memiliki raga kamu bukan hati kamu. Sampai kapanpun, Doni akan selalu membayangi kehidupan rumah tangga kita. Begitu juga dengan Doni. Walaupun dia menikah nantinya, tapi hati dan jiwanya milik kamu. Kalian saling mencintai, dan aku gak mau egois memikirkan kebahagiaanku sendiri dengan menjadi penghalang cinta kalian."
"Tapi Ngga..."
"Sssstt..," Rangga menutup bibir Diva dengan jari telunjuknya.
"Mungkin sekarang aku akan terluka, tapi suatu saat aku akan bahagia ketika aku sudah menemukan seseorang penggantimu yang mencintai aku dan aku cintai. Dan semua akan berakhir indah. Semua ini hanya butuh waktu Diva. Sekarang aku antar kamu ke rumah sakit, Temui Doni. Semangati dia. Dia lebih membutuhkan kamu berada disisinya," ucap Rangga.
Diva kembali memeluk Rangga begitu erat. Rangga memang lelaki baik, dia berhak untuk mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus.
"Makasih Rangga. Makasih."
"Hmmm, aku antar kamu ke rumah sakit sekarang ya. Dan besok aku akan bawa mama dan papaku untuk menemui kamu agar membatalkan rencana pernikahan kita."
"Iya Ngga. Sekali lagi makasih ya Rangga. Ayo segera antar aku ke rumah sakit," ajak Diva.
Ketika kakinya baru mau melangkah, Rangga menarik tangan Diva dan meraih tubuhnya kedalam dekapannya.
"Ijinkan aku memeluk kamu sebentar aja ya Diva," ucap Rangga dengan suara serak, berusaha menahan tangisannya.
"Iya Ngga," balas Diva.
"Boleh gak aku cium kening kamu untuk terakhir kalinya. Sebagai tanda persahabatan kita?"
Diva mengangguk. Saat bibir Rangga mengecup keningnya, mata keduanya sama sama mengeluarkan air.
"Semoga kamu bahagia bersama Doni ya Div."
"Iya Ngga, semoga kamu juga akan segera mendapatkan orang yang lebih baik dari aku," jawab Diva.
Beberapa waktu kemudian, Rangga mengantar Diva ke rumah sakit. Akhirnya, Diva merasa lega.Rangga tidak memikirkan perasaannya sendiri. Ia memilih melepaskan Diva daripada harus menjalani pernikahan tanpa cinta.
Tak lama, mobil mereka tiba di parkiran rumah sakit.
"Makasih ya Ngga," ucap Diva. Tapi, lagi lagi Rangga menarik tangan Diva. Dan membawanya kedalam pelukannya.
"Percayalah Div, Doni akan sembuh," jawab Rangga sembari mengelus elus punggung Diva.
"Makasih Ngga."
"Sekarang turunlah, dan cepat temui dia."
"Iya Ngga," ucap Diva sembari menurunkan kakinya dari mobil Rangga.
Selesai melakukan perpisahan mereka, Diva melambaikan tangannya saat mobil Rangga mulai meninggalkan dirinya.
Diva segera berlari masuk ke dalam rumah sakit. "Kak, Diva datang kak," batin Diva yang sudah tidak sabar untuk segera menemui cinta pertamanya.