
Seulas senyum terpancar dari wajah kedua insan yang sudah lama tak bertatapan sedekat ini.
Diva secara spontan mencium kening Doni dengan pelukan yang tak pernah lepas dari dekapannya di tubuh Doni.
"Alhamdulillah kak, akhirnya kamu sadar juga," ucap Diva. "Kak, Diva keluar dulu. Mau ngasih tahu om dan tante kalau Kak Doni udah sadar. Sekalian mau panggil dokter buat periksa kakak. Inget, Kak Doni jangan banyak gerak dulu ya. Diva keluar bentar ya kak."
Doni mengedipkan matanya, mengisyaratkan jika dirinya mengiyakan ucapan Diva. Kepalanya masih terasa berat dan sakit untuk digerakkan.
Beberapa saat Diva keluar ruangan dan langsung memberitahu kabar bahagia ini kepada Andini, Aldo dan yang lainnya. Mickael pun segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Doni.
Tak lama kemudian dokter pun keluar dan memberi kabar jika kondisi Doni sudah berangsur membaik. Satu per satu anggota keluarga masuk ke ruang ICU bergantian.
Malam itu, keluarga Aldo tak hentinya memanjatkan syukur atas kembalinya Doni ke tengah tengah mereka.
"Diva, kamu sedang apa? Kenapa kamu gak masuk?" Aldo menepuk pundak Diva yang tengah sibuk bertukar kabar dengan keluarga di pesan singkat.
"Eh Om Aldo. Iya nanti aja gak papa om. Kan ruangannya gak boleh di penuhi banyak orang. Lagian masih ada tante Andini dan Kak Mickael kan om?"
"Gak papa masuk aja. Itu Mickael dan Christy sudah keluar dari ruangan. Paling mereka juga mau pulang, tadi sudah pamit dengan om dan tante."
"Oh gitu ya om. Iya nanti Diva masuk kedalam om. Ini Diva lagi chatingan sama mama dan papa, ngabarin mereka kalau Kak Doni sudah sadar," jawab Diva.
"Ya sudah kalau gitu. Om kesana dulu ya, mau nemenin kakek, nenek dan tante bita."
"Iya om, silahkan."
Aldo sudah berlalu meninggalkan Diva yang masih duduk dan sibuk menatap ke layar ponselnya.
Tiba tiba mata Diva melirik, ada sebuah sepasang kaki yang tengah berdiri di depannya.
"Kak Mic," lirih Diva pelan.
"Diva, gue sama Christy mau pulang. Kamu mau sekalian kita antar aja?" tawar Mickael.
Diva menggelengkan kepalanya. Rasa rindu pada Doni belum juga terobati, masak iya dia mau pulang begitu saja.
"Gak usah kak. Diva mau nemenin Kak Doni dulu," jawab Diva.
"Yaudah sih sayang. Lagi pula Diva pasti masih mau ketemu Doni dong. Mending kita pulang aja, besok kan kamu juga harus berangkat kerja pagi," sahut Christy sembari memeluk lengan suaminya dengan manja.
"Hmmm. Kalau gitu gue sama Christy pulang ya Div. Dan gue mohon sekali lagi, jangan kasih harapan palsu lagi buat sahabat gue."
"Iya kak."
Mickael dan Christy bergegas pulang. Dan dari kejauhan Diva menatap punggung sepasang suami istri itu, sambil mengingat kembali ucapan Mickael sebelum pergi.
"Loe tenang aja kak. Karna sampai kapanpun gue gak akan pernah kasih harapan palsu itu ke Kak Doni. Selama ini gue cuma bohong tentang perasaan benci itu. Justru semakin gue coba melupakan Kak Doni semakin rasa cinta gue sama dia susah di musnahkan. Sekalipun dengan Rangga," batin Diva.
"Diva," Andini menepuk pundak Diva dari belakang. Refleks, Diva terperanjak kaget sambil membalikkan badannya.
Diva lalu membuang nafasnya setelah melihat seseorang yang sudah membuyarkan lamunannya.
"Owalah Tante Andini. Diva kira siapa," ucap Diva dengan tangan memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
"Ngapain kamu melamun disini. Kamu gak kepingin ketemu Doni?" tanya Andini.
"Lah tante gak pengen kangen kangenan dulu sama Kak Doni? Lagian Kak Doni juga masih butuh banyak istirahat tante."
Andini malah tersenyum mendengar ucapan Diva. Jujur Andini masih ingin menemani Doni didalam. Mana ada seorang ibu yang tidak rindu dengan anaknya yang sudah tidak sadar lama dan hampir saja meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Tapi sayangnya, di dalam ruangan Doni hanya ingin bertemu dengan Diva. Entah apa yang ingin putranya sampaikan pada Diva. Yang jelas, Doni hanya ingin Diva yang berada di sampingnya.
"Tante kok diam?" Diva membuat Andini tersadar dari lamunannya.
"Eh, maaf Diva. Mungkin tante kecapekan. Lebih baik kamu saja ya yang temani Doni ya."
"Beneran tante?"
"Iya sayang, sana masuk," ucap Andini sambil membelai rambut Diva penuh kasih sayang.
"Makasih ya tante. Diva masuk dulu ya," pamit Diva yang dibalas anggukan dan senyuman manis dari wajah Andini.
Setelah Diva masuk kembali ke ruang ICU. Andini duduk lemas di kursi. Perasaannya berkecamuk menjadi satu. Ia hanya ingin menangis tanpa tahu penyebab dia meneteskan air matanya.
Mata Aldo tiba tiba tertuju ke arah sang istri yang sedang duduk sendiri. Perlahan, ia melangkah mendekati Andini.
"Sayang, sejak kapan kamu disini?" tanya Aldo.
Kaget, Andini pun segera menyeka air matanya. Semoga saja suaminya tidak tentang kesedihannya yang dia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang membuat dia ingin menangis seperti ini.
"Andini Putri, lihat mataku. Kenapa kamu menangis?" Aldo menaikkan dagu istrinya. Disitu ia dapat melihat jelas, mata Andini memerah.
Andini masih diam dan tak bergeming. Entah apa yang mendorong dirinya, ingin sekali ia memeluk tubuh suaminya begitu erat.
"Al, aku takut."
"Takut?" Aldo melepaskan pelukan Andini sejenak sambil memegang kedua bahunya. "Takut apa istriku?" ucapnya dengan lembut.
"Apa semua kejadian Doni yang alami selama ini adalah hukum karma yang Tuhan berikan sama aku. Selama pernikahan kita, banyak sekali masalah yang kita hadapi. Dari pernikahan karna perjodohan, Salah paham, aku yang pergi bertahun tahun hingga yang terakhir aku melakukan hal kotor dengan mantan kekasihku sendiri yang tak lain sahabat kamu Al. Banyak yang berpikir kamu yang beruntung mendapatkan aku, padahal justru aku yang beruntung memiliki kamu," pekik Andini.
Aldo menarik nafas panjang dan membuangnya. Lalu dia menarik tubuh Andini masuk kedalam pelukannya. Di belainya rambut panjang istri yang pernah mengkhianati dirinya sambil mendaratkan sebuah kecupan dikening Andini.
"Aku dulu pernah bilang sama kamu, aku akan memberikan kamu satu kesempatan lagi. Dan selama empat tahun lebih aku melihat kamu membuktikannya padaku. Jadi jangan lagi kamu menyalahkan dirimu sendiri tentang apa yang terjadi dengan anak kita. Bukankah sekarang Doni sudah sadar. Apalagi Diva juga akan kembali padanya? Lupakan masa lalu antara aku, kamu dan Deva ya. Sekarang lebih baik kita fokus untuk kesembuhan Doni dan hubungan antara Doni dan Diva. Oke sayang?"
Flashback on...
Pagi pagi Andini pulang dari apartemen Deva. Ia begitu menyesali apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Deva. Kenapa dengan bodohnya ia jatuh ke dalam rayuan Deva. Bahkan ketika SMA dulu ia berpacaran dengan Deva, Deva tak pernah sedikit pun berniat menciumnya apalagi menggaulinya.
Kejadian ini membuat Andini menyesal dan merasa bersalah pada Aldo apalagi Disa. Andini duduk di bawah shower yang mengalir membasahi tubuhnya sambil menangis. Tubuhnya sudah kotor. Kenapa bisa dia tidur dengan lelaki yang bukan suaminya.
Seminggu berlalu. Dan semenjak kejadian itu, Andini lebih banyak diam dan murung. Kebetulan Andini berdiri di balkon rumahnya sambil terus meratapi kebodohannya tempo hari.
Tanpa disadari, Aldo berdiri dibelakangnya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Sayang, kamu ada masalah? Tolong cerita denganku. Aku lihat beberapa hari ini kamu menangis dan lebih banyak diam. Ada apa sayang?" ucap Aldo.
Andini memejamkan matanya. Apa iya dia harus jujur dengan dosa dosanya pada Aldo sekarang?
Andini mulai membalikkan badannya, menghadap Aldo yang sudah berdiri di depannya. "Al, aku mau bikin pengakuan dosa," ucapnya lirih.
Aldo mengerutkan dahinya. "Pengakuan dosa? Maksudnya?"
Dengan suara terbata, Andini mulai menceritakan malam panjang yang sudah ia lewatkan bersama Deva.
Tangan Aldo mengepal. Nafasnya pun mulai tersengal-sengal. Rasanya detak jantungnya seketika berhenti mendengar apa yang keluar dari mulut istrinya.
"Al, maafin aku. Aku tahu aku salah, tolong maafin aku Al," rengek Andini.
"Maaf? Gampang banget kamu bilang maaf?"gertak Aldo.
Andini masih diam seribu bahasa. Ia hanya visa menangis. Toh semua juga sudah kejadian. Entah apa keputusan suaminya nanti akan ia terima bersama dengan konsekuensinya.
"Andini lihat aku? Dimana istriku yang selalu bisa menjaga kehormatannya? Dimana Andini yang aku kenal tidak pernah tega menyakiti hati orang lain? Dimana dia sekarang?" teriak Aldo. Sungguh Aldo masih tak percaya, Andini tega mengkhianati dirinya. Ditambah dia lebih tega menyakiti hati Disa.
Menangis dan menangis, Andini hanya bisa terus meneteskan air matanya. Mau di hina pun akan ia terima karna baginya dia memang sudah terhina oleh kelakuan Deva.
"Aku minta maaf Al. Aku hanya minta kasih aku kesempatan untuk berusaha lebih baik lagi. Tapi jika kamu memang sudah merasa jijik dengan aku. Aku siap jika kita bercerai. Kamu memang lebih pantas dapat wanita yang jauh lebih baik dariku," sebuah kalimat terlontar dari mulut Andini sambil berlalu melewati Aldo.
Tiba tiba, tangan kekar Aldo mengunci tubuhnya. Kepalanya juga ia sandarkan di bahu Andini.
"Aku kasih kamu satu kesempatan lagi. Dan jangan buat aku sakit hati untuk yang kedua kalinya. Aku sangat mencintai kamu Andini. Jadi jangan pernah kamu lakukan hal yang membuat aku hancur nantinya," lirih Aldo.
Tes...
Airmata keduanya sama sama menetes. Andini tak menyangka, Aldo begitu mencintai dirinya bahkan ia mau memaafkan segala kesalahan yang sudah ia perbuat.
"Iya Al, aku janji. Akan aku coba hapus nama Deva dari hatiku dan menggantinya dengan nama kamu."
"Makasih sayang. Aku akan buat kamu mencintaiku lebih dari kamu mencintai Deva. Dan semua cinta masa lalu kamu akan kita kubur bersama dengan masa depan kita dengan anak, menantu dan cucu kita kelak. Anggap semua masalah yang terjadi pada rumah tangga kita, adalah batu batu kerikil yang mencoba menghancurkan segala yang sudah kita bangun. Dan kalau kita bisa melewati ini, kita akan lebih bahagia dari sebelumnya sayang."
Mulai hari itu, Andini berjanji dengan dirinya sendiri untuk menghapus nama Deva yang selalu membayangi rumah tangganya selama ini. Karna ia tak mau membuang sebuah berlian hanya demi mempertahankan emas dihatinya.
Flashback Off...
Mengingat masa itu, tangis Andini kembali membasahi pipinya. Namun ucapan Aldo barusan, seketika menyejukkan hatinya. Bagaimana tidak? Aldo selalu menjadi suami yang baik, setia, pekerja keras dan mencintainya dengan tulus. Tapi apa balasannya, ia malah pernah melakukan hal terlarang dengan Deva, mantan kekasih, sekaligus bekas selingkuhannya yang sebentar lagi akan menjadi papa mertua untuk putranya.
"Makasih Al. Maaf jika aku selama ini belum menjadi istri yang baik buat kamu," tangis Andini.
"Huuusst," Aldo menempelkan jarinya di bibir Andini.
"Semua sudah berlalu sayang. Dan kamu harus percaya, semua akan berakhir indah."
"Iya Al. Aku percaya," jawab Andini.
"Tapi apa boleh aku bertanya satu hal sama kamu?"
Andini melepaskan sebentar tubuhnya dari pelukan Aldo. "Tanya apa?" hardiknya.
"Apa arti aku di hati kamu?"
Pertanyaan yang menyayat hati. Andini diam cukup lama dengan mata yang mulai mengembun memenuhi seluruh kelopak matanya.
Tangan Andini menangkup wajah suaminya sambil memberikan tatapan sayu ke mata Aldo.
"Kamu ingin tahu arti kamu di hatiku sekarang Al?"
Aldo mengangguk sambil memejamkan matanya. Ia tahu betul, dia tidak akan pernah menggantikan posisi Deva di hati Andini. Hanya saja, ia berharap setidaknya ia punya tempat di hati orang yang amat ia cinta.
Cup..
Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Aldo. Mata Aldo yang tertutup menjadi terbuka lebar. Bahkan seluruh keluarga melihat keromantisan mereka dari jarak jauh.
"Sayang, kenapa kamu cium aku disini?" tanya Aldo yang sedikit tak percaya dengan aksi nekat istrinya.
Andini malah tersenyum geli melihat wajah Aldo yang sudah merah merona.
"Kamu itu sangat berarti buat aku Al. Bahkan sekarang aku sudah bangun dari tidur panjangku. Kebahagiaanku itu hanya ada di tangan kamu. Jika saja saat itu kamu melepas aku, mungkin sekarang aku sudah kehilangan kebahagianku seumur hidup. Jadi kamu sudah tahu maksudku sayang. Posisi Deva di hatiku sudah tergantikan oleh kamu. Itu karna buah kesabaran kamu yang menanti aku sampai aku bisa mencintai kamu sepenuh hati. Terima kasih ya suamiku," ucap Andini.
Terharu mendengar ucapan istrinya, Aldo kembali membawa tubuh Andini ke dalam pelukannya.
"Akhirnya sayang, aku bisa memiliki kamu bukan hanya raga kamu tapi hati kamu pun juga sudah aku miliki. Aku sayang sekali sama kamu Andini, sayang sekali," ucap Aldo.
"Iya Al, aku juga sayang sama kamu," jawab Andini sembari membalas pelukan hangat dari suaminya.
"Terima kasih Tuhan. Akhirnya Andini bisa mencintai aku sepenuh hatinya. Diawali aku memang sakit mendengar pengakuan dosa dari Andini yang sudah bersetubuh di ranjang dengan sahabatku sendiri. Tapi aku sadar, aku juga pernah melakukan itu dengan Nabilla. Jadi tak ada alasan aku untuk menghukum istriku apalagi meninggalkan dia. Karna semua yang terjadi juga berawal dari kesalahanku, kecemburuanku dan keegoisanku," gumam Aldo dalam hati.