My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Penyelamat



Sepulang dari kampusnya, Diva hendak mengambil ponsel didalam tasnya, tapi sayang ponselnya mati. Ia yang tinggal berdiri sendiri di depan kampus,mulai merasa gelisah. Apalagi sekarang sudah pukul sembilan malam. Semua mahasiswa dan mahasiswi sudah pulang. Ditambah rasa traumanya dulu yang hampir menjadi korban pemerkosaan, membuat dirinya semakin was was.


Dan tiba tiba datang sebuah mobil sport berwarna putih merah di depannya. Jantungnya semakin berdetak kencang. Pikiran akan diculik sudah terbesit di otaknya. Mau lari, tapi lari kemana. Entah kenapa kakinya sulit sekali untuk bergerak. Tapi semua ketakutannya sirna, saat melihat laki laki yang ia kenal turun dari mobil itu.


"Div, ayo gue antar pulang," Mickael keluar dari mobil membuat rasa takut Diva sekejap hilang hingga membuatnya spontan memeluk laki laki penyelamat baginya.


"Kak Mickael? Makasih udah jemput Diva kak. Sumpah Diva takut banget. Mau telpon papa tadi handphoneku mati."


"Udah gak usah takut ada gue disini. Kita masuk ke mobil, habis gitu gue antar loe pulang. Pasti om dan tante udah cemas kepikiran loe. Lepas ya Div, nanti kalau ada orang lihat gak enak kan," ujar Mickael sembari melepas pelukannya.


"Eh maaf kak, beneran Diva gak berniat meluk kak Mickael. Maaf banget ya kak."


"Iya gak papa," jawab Mickael.


Saat di mobil, rasa penasaran Diva kembali menyelimuti hatinya sekarang. Bagaimana ceritanya Mickael bisa datang ke kampusnya. Diva masih saja memandangi Mickael yang fokus menyetir disampingnya, namun hatinya masih ragu untuk bertanya.


"Kenapa Div?" tanya Mickael karna sedari tadi ia sadar akan tatapan Diva pada dirinya.


"Gak papa kak. Cuma Diva heran kenapa Kak Mickael tiba tiba datang ke kampus dan jemput aku. Pas banget pas handphoneku mati."


Mickael terdiam dengan mata yang terbelalak. Ia kembali mengingat kenapa dia bisa datang disaat Diva benar benar membutuhkan pertolongan.


Flashback on...


Saat Diva pergi, sekilas Mickael mendengar ucapan terakhirnya.


"Kampus? Berarti Diva ada mata kuliah hari ini. Doni loe bener bener keterlaluan, tega teganya loe suruh Diva berangkat dan pulang sendiri," umpatnya dalam hati.


Hingga tanpa terasa kini sudah pukul delapan malam. Mickael yang sudah selesai dengan pekerjaannya, merapikan semua berkas berkas yang berserakan di meja. Ia menutup laptopnya, mematikan lampu dan beranjak keluar dari ruangan.


Dan ketika melewati ruang kerja Diva, ternyata lampunya masih menyala. Ia pun masuk ke ruang itu untuk mematikan lampu. Namun tanpa sengaja ia melihat kertas putih yang berisi jadwal mata kuliah Diva. Matanya membulat, melihat hari ini Diva pulang hingga malam.


Mickael pun bergegas menghubungi ponsel Diva, namun sayang nomor Diva tidak aktif. Perasaan Mickael seketika menjadi tak tenang. Takut, khawatir, dan panik yang ia rasakan sekarang. Mickael segera mematikan lampu dan bergegas menuju kampus Diva dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Sebaiknya gue telpon om Deva, siapa tahu Diva udah pulang." gumam Mickael.


Mickael segera meraih ponselnya dan menghubungi papanya Diva.


"Halo om, ini Mickael," sapa Mickael.


"Oh iya Mickael ada apa?" tanya Papa Deva.


"Diva apa ada dirumah om. Saya hubungi nomornya gak aktif. Saya mau tanya soal dokumen penting sama dia."


"Oh dia belum pulang itu Mic. Tadi om coba telpon juga nomornya gak aktif. Doni juga sama nomornya gak aktif. Mungkin mereka mampir kemana dulu gitu Mic. Biasanya sehabis pulang kuliah mereka memang mampir cari makan."


"Oh gitu ya om. Yaudah nanti aja kalau Mickael coba hubungi Diva lagi. Makasih ya om, maaf kalau Mickael ganggu waktu om."


"Enggak ganggu Mic. Nanti kalau Diva pulang om sampaikan ke dia untuk segera menghubungi kamu."


"Iya om makasih."


Setelah telpon mati, Mickael semakin melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya. Perasaan kacau semakin menyelimuti dirinya.


"Diva, tunggu Kak Mickael," batin Mickael dalam hati.


Dan saat mobilnya hampir sampai di depan kampus, ia melihat dari kejauhan, Diva sedang berdiri sendiri ditempat yang sepi dengan wajah gusar.


"Untunglah, kamu baik baik aja Div," Mickael membuang nafas lalu menghentikan mobilnya di depan Diva.


Flashback Off..


Karna pertanyaan Diva, Mickael memutar otaknya. Berusaha mencari alasan agar Diva tidak tahu jika dirinya memang sengaja menjemput Diva saat tahu ponsel Diva tidak aktif.


"Oh itu, tadi aku disuruh Doni. Dia khawatir sama kamu," jawab Mickael spontan.


"Kak Doni? Jadi Kak Doni yang menyuruh kakak jemput aku?"


"Hmmm," jawab Mickael malas.


Mendengar alasan palsu yang ia berikan, terlihat jelas mimik wajah Diva yang bahagia. Dan dengan segera ia mengambil ponsel di dalam tasnya.


"Eh aku lupa kalau handphoneku mati kak. Boleh aku pinjem handphone Kak Mickael sebentar?" tanya Diva.


"Boleh, ini," Mickael lalu memberikan ponselnya pada Diva.


Diva berusaha menelpon Doni, namun sayangnya nomor Doni masih tidak aktif. Diva lalu mengirim pesan untuknya.


Selesai menulis pesan, Diva mengembalikan kembali ponsel Mickael dengan wajah berseri seri.


"Loe kenapa Div kok senyum senyum gitu," tanya Mickael heran.


"Hehehe, gak papa kak."


"Oh iya mau mampir cari makan dulu?"


"Gak usah kak, langsung pulang aja. Aku gak mau bikin Kak Doni marah. Soalnya Kak Doni pernah bilang sama aku, dia paling gak suka kalau aku jalan sama cowok lain. Ya bukannya Diva gak mau nerima tawaran kak Mic, hanya aja Diva gak mau ingkar janji. Lagipula nanti aku bisa makan dirumah," jelas Diva.


Mickael menelan ludahnya, menyimpan rasa kesal yang sangat dalam pada Doni.


"Don, loe lihat sekarang. Wanita yang udah loe bohongi begitu menjaga komitmen kalian. Sedangkan apa yang loe lakukan sekarang. Loe malah pergi berdua dengan Tanisha sampai loe lupa kalau Diva pulang kuliah malam. Kalau aja gue tadi gak nemuin jadwal kuliah Diva. Gue gak tau apa yang terjadi sama Diva sekarang. Doni, kalau emang loe gak bisa jaga Diva biarin gue aja yang jaga dia aja Don," Mickael mengusap wajahnya kasar sambil berbicara dengan hati kecilnya.


Dari samping, Diva menyaksikan kegelisahan di wajah Mickael.


"Kak, loe kenapa? Lagi ada masalah? Cerita aja sama Diva kak," ucap Diva.


Dengan perasaan sedikit ragu, Mickael mulai menceritakan perasaannya.


"Iya Div. Gue lagi suka sama cewek, tapi sayang ceweknya itu udah punya cowok. Tapi begonya si cowok, dia masih berhubungan dengan teman kuliahnya dulu. Tapi cewek yang gue taksir ini gak tahu Div. Enaknya gimana ya?"


"Lah kak Mic tahu dari mana kalau cowoknya ada masih berhubungan sama temen kuliahnya?Kak Mickael kenal sama cowoknya?" pertanyaan Diva malah membuat Mickael mendapat letusan bom bunuh diri.


"Enggak, enggak kenal. Jadi cowoknya itu temennya temen gue Div," bohong Mickael.


"Owalah gitu ya kak. Kalau menurut Diva, Kak Mic bilang aja sama perempuan yang Kak Mic suka itu. Bilang kalau pacarnya itu lagi main api di belakangnya. Biar cewek itu tahu ketulusan hati Kak Mic. Inget kak, memendam perasaan itu gak enak loh. Akan lebih lega kalau diungkapin," jawab Diva.


"Oh gitu ya Div."


"Iyalah kak," jawab Diva.


"Hmmm, Makasih ya Div. Gue jadi sedikit lega bisa curhat sama loe."


"Iya sama sama kak. Tapi emangnya siapa sih kak cewek itu? Bukannya dulu kak Mic kuliah sama kak Doni di luar negeri ya?" Diva melontarkan pertanyaan yang membuat Mickael terpaku.


"Oh.. Oh... Itu. Dia teman SMA ku kok Div," jawab Mickael dengan suara terbata.


"Oh gitu. Ya kalau saran Diva sih yang tadi kak. Karna kalau cewek yang Kak Mic tahu kalau kakak gak kasih tau dia tentang kebohongan si cowok, Diva yakin dia juga akan membenci Kak Mickael."


"Hmmm, iya nanti coba kakak pikir lagi masukan dari kamu. Tapi thanks ya udah mau denger cerita gue Div."


"Iya sama sama kak," jawab Diva dengan senyuman yang membuat jantung Mickael berdegup kencang.


Sekilas Mickael menoleh ke arah Diva. Menatap dirinya penuh harap.


"Andai loe tahu Div, cewek yang gue maksud itu elo. Jujur gue gak mau loe benci gue, tapi di satu sisi gue juga gak mau rusak persahabatan gue sama Doni kalau gue bilang yang sebenarnya sama loe. Kalian berdua sama sama berarti dalam hidup gue," Mickael berbicara dengan dirinya sendiri.