My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Ajaran Papa



Keesokan harinya..


Doni masih terjaga dalam tidurnya. Mungkin karna efek minuman keras, membuat dirinya masih tidur lelah di kamarnya.


Khawatir dengan keadaan putranya, Andini pergi ke dapur membuatkan susu hangat untuk Doni.


Namun saat keluar dari dapur, tanpa sengaja ia bertemu Aldo yang baru saja selesai berolahraga.


"Mah, susu buat siapa?" tanya Aldo.


"Buat Doni," jawab Andini singkat. Ia masih sedikit kesal, mengingat permintaannya untuk bertemu Deva masih dilarang oleh suaminya.


Langkah Andini terhenti, ketika tangan kirinya di tarik oleh Aldo.


"Sayang, kamu marah?" tanya Aldo kembali namun tak ada suara yang keluar dari mulut Istrinya.


"Aku tahu kamu marah. Kemarin aku sudah putuskan kamu boleh menemui Deva. Eh gak taunya kamu udah tidur," jelas Aldo.


"Maksud kamu Al?" Andini mulai menoleh ke arah Aldo. Menanyakan maksud ucapannya barusan.


"Iya aku percaya sama kamu. Hanya kamu yang bisa meyakinkan Deva untuk memaafkan Doni. Jadi aku izinkan kamu bertemu Deva tapi setelah urusan kita di Jerman selesai."


"Makasih Al, makasih. Kamu tenang saja, aku melakukan ini hanya untuk Doni," Andini memeluk Aldo, sebagai dedikasi rasa terima kasihnya.


"Iya aku percaya. Sekarang kamu bangunkan anak itu, bilang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya. Dan untuk urusan kantor hari ini, aku sudah pasrahkan pada Mickael. Sampaikan sama anak itu untuk tidak usah berangkat ke kantor hari ini," titah Aldo.


"Iya sayang. Aku bangunin Doni dulu ya."


"Hmmm."


Sesaat kemudian, Andini menyusul Aldo di teras belakang rumah sambil membawakan secangkir kopi untuk suaminya.


"Pah, minum dulu," ujar Andini.


"Makasih mah. Dimana anak itu?"


"Aku suruh mandi. Al, aku konon jangan bersikap kasar dengan Doni ya. Aku tahu dia salah, tapi tambah rasa tertekannya."


"Sudah tenang saja. Percayakan semuanya sama aku."


Andini melirik tajam ke arah suaminya yang masih sibuk menikmati kopi pemberiannya.


"Gimana aku bisa percaya Al, Doni itu seperti kamu waktu muda dulu. Gak bisa menahan godaan dari wanita. Walaupun aku tahu, hati kalian hanya mencintai satu wanita," batinnya sembari terus mengamati wajah suaminya.


Tak lama, Doni datang menemui papa dan mamanya.


"Pagi mah, pagi pah," sapa Doni.


"Pagi sayang," jawab Andini. Namun tidak dengan Aldo, dia masih sibuk membaca koran tanpa menoleh ke arah putranya.


"Pah, itu Doni sudah datang. Katanya kamu mau bicara," ucap Andini.


"Hmmm."


"Kamu duduk dulu Doni, ada yang papa mau tanyakan sama kamu," titah Aldo sembari menutup koran dan membetulkan posisi duduknya.


Sesuai perintah, Doni menurut. Ia kini sudah duduk diantara papa dan mamanya. Sepertinya seorang terdakwa yang sedang menjalani sidang di depan meja hijau.


"Ada apa pah, mah?" tanya Doni dengan perasaan sedikit was was.


"Gimana hubungan kamu dengan Diva? Kenapa beberapa hari ini papa gak pernah lihat dia kamu bawa kerumah ini?" tanya Aldo langsung to the point.


Deg...


Wajah Doni mulai memucat. Alasan apalagi yang bisa menyelamatkan dirinya untuk saat ini. Padahal tanpa Doni tahu, mama dan papanya sudah lama tahu sejak kejadian Diva memutuskan resign dari kantor dan membatalkan rencana pernikahannya.


"Itu pah. Diva..."


Bruakk..


Aldo memukul meja dengan tangannya begitu keras. Menumpahkan rasa kesalnya pada putranya.


"Mah kamu diam dulu. Jangan bela anak kamu yang sudah bikin malu nama keluarga," teriak Aldo balik.


"Pah..," lirih Doni kembali.


Plaaakk..


Tamparan keras melayang di pipi Doni, membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya.


"ALDO CUKUP!!" teriak Andini sembari mengelap darah di bibir Doni.


"Din, lebih baik kamu pergi dulu. Doni sudah kelewatan. Dia sudah meniduri wanita yang busuk seperti Tanisha. Apa kurang Diva Don? Kenapa kamu bisa tergoda oleh anak wanita ular itu?" Aldo kembali melayangkan tangannya keatas, bersiap memberi satu tamparan lagi ke arah putranya.


Sayangnya, Andini berdiri di depan Doni. Menjadi tembok pembatas, membuat Aldo menghempaskan tangannya.


"Cukup Al. Kamu lupa apa yang sudah membuat aku pergi selama ini? Jangan berteriak maling, jika kamu juga jadi malingnya. Jangan buat aku bicara disini Al," Andini mengingatkan kembali kesalahan Aldo di masa lampau.


"Asshhh...," Aldo membalikkan tubuhnya kembali duduk di kursinya tadi.


Saat suaminya sudah terlihat tenang, Andini membalikkan tubuhnya, menghadap wajah Doni sembari mengusap darah di bibir Doni.


"Doni, kamu gak papa sayang?" tanya Andini.


"Gak papa mah. Doni emang pantes dapetin ini semua. Doni udah membuat Diva pergi mah. Doni laki laki bodoh. Harusnya Doni bisa mengontrol diri saat itu. Kalau mama juga mau nampar Doni, Doni terima mah."


"Enggak sayang. Semua orang pasti punya salah. Mama memang kesal dan marah sama kamu, tapi mama gak mau bahas itu lagi. Sekarang kita bicarakan baik baik semuanya. Karna ada sesuatu yang ingin kami sampaikan sama kamu."


"Apa mah?"


"Duduk saja dulu, jangan banyak tanya dan bicara," sahut Aldo.


"Baik pah, mah," jawab Doni.


Ketika mereka sudah duduk dengan tenang, Aldo mulai menceritakan tentang siapa Ririn pada Doni. Dengan setia Doni mendengarkan cerita papanya, meski dirinya juga masih bingung apa siapa itu Ririn.


Hingga akhirnya mata Doni melotot, saat Aldo sudah mengakhiri ceritanya.


"Jadi Tanisha itu..," Doni kesal, ternyata dia hanya dijadikan pancingan mama tiru Tanisha untuk mendapatkan papanya.


"Iya Doni, Tanisha itu putri tiri Ririn. Papa dana mama masih belum yakin apa mereka bekerja sama atau tidak. Yang jelas, Tanisha sendiri juga korban dari rencana gila Ririn. Sampai ia memutuskan rencana pertunangannya dengan Justin," jelas Andini.


"Brengsek kalian, akan aku buat keluarga kalian menderita," Doni menggertakan sederet giginya sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Makanya sekarang kamu siap siap, besok kita berangkat ke Jerman. Kita harus segera tahu semua kebenarannya. Apa iya Ririn meminta bantuan Tanisha. Atau benar jika Tanisha sendiri juga korban dari mama tirinya. Besok Mickael juga ikut bersama kita, karna dia juga mengajak Justin dan Christy untuk bertemu dengan Tanisha. Biar semuanya jelas," ujar Aldo.


"Ok pah, mah. Doni siap siap."


Baru saja bangkit dari kursinya, Andini menanyakan hal yang membuat langkah Doni terhenti.


"Kalau Tanisha hamil gimana Don?"


Doni terdiam, sorot matanya nampak sayu. Berharap ketakutan mamanya itu tidak akan terjadi.


"Gak akan mah, karna Doni mengeluarkan cairan itu di luar. Jadi Tanisha gak mungkin hamil," tegas Doni.


"Semoga saja, karna kalau sampai Tanisha hamil,mama.."


"Kamu harus menikahinya," sahut Aldo yang membuat mata Andini dan Doni membulat.


"Apa kamu bilang Al? Coba bilang sekali lagi," teriak Andini.


"Ya Doni harus menikahinya. Apa kamu mau punya anak yang tidak bertanggung jawab. Harga diri seorang lelaki ada di tanggung jawabnya. Jadilah lelaki yang berani berbuat berani bertanggung jawab Don," ucap Aldo tegas.


Meski berat, Doni selalu ingat ajaran papanya itu.


"Baik, jika Tanisha hamil Doni akan bertanggung jawab," jawab Doni sembari pergi meninggalkan papa dan mamanya.


Perlahan air matanya jatuh. Dulu memang dirinya begitu ingin menikahi Tanisha. Tapi rasa itu berubah, hanya Diva wanita satu satunya yang ingin ia nikahi. Walaupun keyakinan Tanisha akan hamil semula tak ada, namun kini keyakinan itu sedikit demi sedikit musnah.


"Diva, kalau pun aku menikah dengan Tanisha nantinya. Percayalah, hanya kamu yang kakak cinta," ucap Doni dalama hati.