My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Kasihan Diva



Jam menunjukkan pukul 12.00, Diva pun langsung merapikan kertas kertas di mejanya dan menutup laptopnya. Setelah semua sudah rapi, ia segera pergi ke ruangan kekasih hatinya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Siapa?"


"Aku kak," jawab Diva.


"Masuk sayang."


Diva masuk dan berlari kecil ke arah Doni. Lalu ia memeluk tubuh Doni dari belakang. Sambil mengeratkan pelukannya, Diva merasa aneh karna mencium parfum wanita di jas yang Doni kenakan.


"Kak, kok bau parfum cewek sih? Tadi pagi Kak Doni gak bohong kan sama aku?" Diva bertanya sambil melepaskan pelukannya dan berdiri sedikit menjauh dari Doni.


"Ya Tuhan aku lupa, tadi aku kan pelukan sama Tanisha. Pasti parfum Tanisha menempel di jas kerjaku," batin Doni sembari memikirkan alasan untuk Diva.


Doni dengan segera bangkit dari kursi kerjanya dan memegang kedua tangan Diva. Walau hatinya gugup, namun Doni tetap berusaha. bersikap tenang.


"Diva, tadi aku gak sengaja bertabrakan sama pekerja di showroom. Dan mungkin parfumnya menempel di jas aku. Jadi aku minta kamu jangan berburuk sangka ya sama aku," ucap Doni dengan kedua tangannya kini beralih menangkup wajah Diva.


"Kak Doni gak bohong kan?"


"Enggak sayang, buat apa aku bohong? Daripada disini nanti kamu malah berpikir buruk soal aku, gimana kalau kita makan siang. Aku tahu kamu kesini pasti mau ngajak aku makan siang kan? Mau kemana? Calon suami kamu ini akan setia mengantar calon istrinya kemana pun," ujar Doni dengan seribu rayuannya.


"Hmmm, gombal. Yaudah kita makan di kantin aja ya kak. Lagi males kemana mana."


"Iya iya, tapi kiss me dulu dong," Doni menekan nekan bibirnya seakan meminta suntikan vitamin dari Diva.


Karna tak kunjung menjawab ataupun bergerak, Doni yang sudah dilanda rindu dan belum mendapat suntikan vitamin pagi ini langsung meraih tubuh Diva. Diciumnya bibir yang sekarang sudah menjadi kebutuhan wajib bagi Doni.


Di luar, tanpa sengaja Mickael melihat tautan bibir yang bersatu antara Diva dan Doni dari balik pintu yang terbuka sedikit. Entah kenapa dadanya begitu sakit dan panas menyaksikan adegan tadi.


Mickael pun segera berbalik arah dan kembali lagi keruangannya. Daripada ia akan terkena serangan jantung karna terlalu lama melihat orang yang dicintai sedang berciuman dengan kekasihnya.


"Gue minta jangan sakiti Diva ya Don," batin Mickael dalam langkahnya.


Sesaat kemudian, setelah selesai melepas rindu Diva mereka berdua pergi ke kantin kantor untuk makan siang bersama.


Di kantin, Doni dan Diva begitu mesra. Bahkan sikap mereka sudah menjadi makanan di kantor. Hampir tidak ada yang tidak tahu akan hubungan mereka.


Namun di sela sela pembicaraannya, ada pesan masuk dari Tanisha di handphone Doni.


"Don, nanti jadi kan?" tulis Tanisha


"Iya jadi," balas Doni.


"Siapa kak?" tanya Diva sambil sekilas melirik ke ponsel Doni.


"Oh tuan Oishi, kamu tahu kan?" jawab Doni asal.


"Iya kak, ada apa?"


Diva hanya diam, sambil terus mengaduk aduk sup di mangkuknya saat ini. Kesal? Pasti. Karna mungkin Doni lupa kalau hari ini Diva ada kuliah sampai malam, dan Doni sudah berjanji untuk menunggu ia di kampus.


"Div, kamu gak papa kan?" tanya Doni yang memang lupa dengan janji sebelumnya pada Diva.


"Gak papa kak, tapi jangan sampai mabuk ya."


"Iya sayang, makasih ya."


"Iya kak sama sama," jawab Diva walau hatinya seakan tak rela bila Doni pergi.


Selesai makan siang, baik Doni dan Diva kembali ke ruangan mereka masing masing. Hingga tanpa terasa kini sudah waktunya mereka semua pulang.


Diva yang sudah selesai dengan pekerjaannya, menuju ke ruangan Doni. Namun sayang, orang yang ia cari sudah tidak ada. Diva pun pergi ke ruang Mickael, siapa tahu calon suaminya itu ada disana.


Tok.. Tok... Tok..


"Kak Mic, boleh Diva masuk?" tanya Diva dari balik pintu.


"Masuk aja Div," jawab Mickael.


Diva berjalan dan kini duduk di depan Mickael. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari orang yang memang sedang ia cari.


"Kak, Kak Doni kemana ya? Aku cari keruangannya gak ada. Mejanya juga udah rapi. Apa kakak tau Kak Doni dimana?" tanya Diva.


"Oh Doni, dia kan ada janji dengan tuan Oishi sore ini. Emang lor gak punya schedule nya Doni?" jawab Mickael dingin, apalagi mengingat kejadian yang ia lihat tadi siang.


"Ya punya sih kak, tapi bukannya diganti nanti malam ya kak? Soalnya pas makan siang tadi, tuan Oishi kirim pesan ke Kak Doni dan katanya pertemuan mereka di ganti malam ini."


Mickael yang semula acuh sambil mengerjakan pekerjaan di laptopnya, jarinya sejenak. Rasanya ia sudah tidak mau menutupi kebohongan Doni, tapi di satu sisi ia tidak mau melihat Diva sedih.


"Kak, kok diem. Memang Kak Doni perginya udah dari tadi ya kak?" tanya Diva kembali.


"E..emm baru aja Diva. Oh iya tadi Doni sempat nyuruh gue buat bilang ke loe. Kalau tuan Oishi mau bahas kerjasamanya sekarang. Dan nanti malem mereka pergi lagi," Mickael terpaksa membohongi Diva lagi.


"Oh gitu ya kak. Yaudah deh kak, Diva pulang dulu ya. Nanti coba Diva telpon Kak Doni deh Kak."


"Mau gue anter Div?"


"Gak usah kak, gak mau lihat Kak Doni salah paham lagi. Udah dulu ya kak, aku buru buru. Soalnya ada jadwal kuliah sore ini. Diva duluan ya kak," pamit Diva.


"Iya Div, loe hati hati ya."


"Iya kak," jawab Diva singkat sambil tersenyum kearah Mickael.


Saat Diva sudah pergi dari ruangannya, Mickael membuang kasar nafasnya, sembari memegangi dadanya.


"Doni.. Doni..loe kenapa jadi kayak gini sih Don. Semakin kesini, gue semakin kasihan lihat Diva. Dia begitu menjaga kepercayaan loe, dan selalu jujur sama loe. Sedangkan dibelakangnya loe malah terus menutupi kebohongan loe dengan membuat kebohongan baru. Apalagi loe juga bawa gue kedalam masalah loe. Semoga aja loe gak menyesal nantinya Don. Karna penyesalan selalu datang terlambat," gumam Mickael sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.