My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Bunga Mawar Putih



Sore ini, pesta pertunangan Diva dan Rangga akan di gelar. Di ruang pribadi, di dalam kantornya. Doni sudah selesai mandi dan bersiap untuk pergi.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk," seru Doni.


Mickael masuk. Matanya terbelalak melihat Doni yang sudah mandi dan berpakaian rapi.


"Don, loe yakin mau datang nanti malam?" tanya Mickael sedikit ragu.


"Yakin Mic. Itu syarat dari Diva supaya gue bisa dapat maaf darinya. Dan gue sendiri yang akan ucapkan selamat buat mereka."


"Tapi Don, acaranya masih jam 7. Lah ini kan masih jam 5. Loe yakin mau berangkat sekarang?"


"Dasar bodoh. Gue mau cari kado buat dia. Udah ya Mic, gue cabut dulu. Sampai ketemu disana."


"Oke Don. Gue yakin loe kuat hadapi ini semua. Dan gue percaya, loe akan segera dapat pengganti Diva. Jauh jauh diatas Diva," ucap Mickael sembari menepuk pundak Doni.


"Thanks bro. Gue cabut dulu ya."


"Iya Don."


****


Setelah membeli bucket bunga mawar putih, Doni bersiap menuju hotel tempat berlangsungnya pertunangan Diva dan Rangga.


Air mata Doni mengalir deras melihat bunga yang berada disampingnya. Malam ini, wanita yang selama ini ia tunggu, selama ini ia cintai akan bertunangan dengan lelaki lain. Entahlah perasaan Doni terasa hampa. Ternyata penantiannya selama 4 tahun belum cukup untuk bisa mengembalikan Diva ke sisinya.


"Diva, Kak Doni datang. Dan Kak Doni akan buktikan ke kamu, kalau Kak Doni menepati janji kakak sama kamu kemarin. Maafin aku ya Diva, sudah menghancurkan hati dan cinta tulus kamu," ucap Doni sembari memandang bunga yang ia taruh di kursi sebelahnya.


Tanpa di sadari Doni, dari arah berlawanan ada truk pengangkut bahan bakar sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


Doni hilang kendali, ia membandingkan setirnya ke kiri dan menabrak pembatas jalan dengan kerasnya.


"Aaaa....," terdengar suara teriakan dari suara Doni begitu keras. Dan,


Duuarrr...


Mobil Doni berguling guling. Begitu juga tubuh Doni, yang terlempar keluar dari mobilnya beserta bucket bunga mawar putih yang kini sudah berubah menjadi mawar merah karna tumpahan darah yang mengalir dari tubuh Doni.


"Diva, maafin aku yang gak bisa datang ke acara kamu. Semoga kamu bahagia ya Div," ucap Doni untuk terakhir kalinya sebelum matanya terpejam.


****


Di hotel Star Five...


Diva begitu cantik dan menawan menggunakan dress berwarna grey. Disampingnya berdiri seorang lelaki tampan yang menggunakan pakaian senada dengan warna gaunnya.


"Selamat ya Diva. Gak nyangka tante, kami malah dapat jodoh lain. Oh iya ini kado dari om dan tante," ucap Cindy.


"Makasih tante, makasih om udah dateng. Kita kan gak tahu ya tante jodoh kita sama siapa. Dan makasih juga buat kadonya."


"Sama sama tante."


Tak lama kemudian, Andini dan Aldo datang. Setelah bersalaman dengan Deva dan Disa, mereka tak lupa mengucapkan selamat pada Diva.


"Diva, kamu cantik sekali sayang. Tante dan Om doakan semoga acara kamu berlangsung lancar sampai ke pernikahan ya. Meskipun kamu tidak jadi menikah dengan Doni, tapi tante akan tetap sayang sama kamu seperti anak tante sendiri," ucap Andini sembari memeluk Diva.


"Makasih tante."


"Selamat ya Diva Rangga. Semoga kalian bahagia selalu," sahut Aldo sembari menjabat tangan Rangga.


"Terima kasih om, tante," jawab Rangga.


Mata Diva terus tertuju ke arah pintu. Baik Mickael maupun Doni belum nampak terlihat batang hidungnya.


Namun di tengah acara, Mickael datang bersama Christy. Tak lupa ia menyalami Diva dan Rangga. Serta mengucapkan selamat atas acara pertunangan mereka.


"Makasih kak. Oh iya Kak Doni belum datang ya? Atau dia emang gak mau datang. Oh iya Diva lupa, dia kan cuma lelaki yang selalu ingkar janji ya. Upss..maaf kak. Diva udah jelek jelekin sahabat kakak," sindir Diva.


Mickael sudah mengepalkan tangannya. Sungguh, mulut Diva sekarang seperti cabe. Pedas sekali.


Sadar suaminya tersulut emosi, Christy menarik lengan Mickael untuk segera turun dari panggung.


"Loe tenang aja Doni pasti datang. Dia lagi cari hadiah buat loe dan tunangan loe," ucap Mickael sebelum ia pergi dari atas panggung.


Tak terasa acara sudah hampir selesai. Perasaan Mickael mulai tak tenang. Apa iya Doni mengingkari janjinya pada Diva. Tapi kenapa? Bukankah tadi ia sudah bersiap dan pulang terlebih dulu dari kantor. Mickael dan Christy pun memilih untuk menunggu Doni di luar ballroom.


Tak hanya Mickael, orang tua Doni tak kalah cemas. Karna tadi saat Aldo menelpon Doni, ia sedang perjalanan menuju hotel ini. Namun hingga acara hampir selesai Doni tak jua datang.


"Sayang, coba kamu telpon Doni sekali lagi," titah Andini.


"Iya sayang," jawab Aldo berjalan sedikit menjauh dari gerombolan para sahabatnya.


"Ada apa Din? Apa terjadi sesuatu sama Doni?" tanya Dita dan Anez.


"Gak tahu, itu Aldo lagi coba hubungi Doni," jawab Andini.


"Ya mungkin Doni berat buat lihat Diva bersanding dengan laki laki lain Din. Ya loe harus maklum. Gak gampang buat Doni lupain Diva gitu aja. Apalagi yang gue denger, fia udah nungguin Diva empat tahun ini kan?" tanya Beni yang diangguki oleh Andini.


Di jarak yang sedikit jauh, tubuh Aldo terasa lemas. Mendengar kenyataan jika mobil Doni mengalami kecelakaan tunggal dan kondisinua parah. Aldo tak kuasa menahan tangisnya. Tak menyangka nasib buruk akan menimpa putranya.


"Baik pak, saya dan istri saya akan segera kesanaah. Di rumah sakit Nusantara Indah kan pak? Tolong sampaikan ke pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan terbaik mereka yang terpenting selamatkan putra saya pak. Sebentar lagi saya sampai ke rumah sakit," ucap Aldo dari balik telpon.


Dengan langkah lemas, Aldo berjalan menemui istrinya yang sedang berkumpul bersama sahabat mereka.


"Gimana Al? Doni jadi datang?" tanya Andini.


"Sayang kamu harus kuat. Kamu gak boleh lemah ya," jawab Aldo yang kini malah membuat istrinya penasaran.


"Ada apa Al? Apa terjadi hal buruk pada Dono. Cepat jawab Aldo!!" teriak Andini.


Sambil memegang kedua pundak istrinya, Aldo menatap sayu wajah istrinya.


"Doni kecelakaan. Dan kondisinya kritis. Sekarang pihak rumah sakit sedang mengoperasi bagian kepala Doni yang terus mengeluarkan darah. Kita harus segera kesana sayang."


"APA?" Andini memegangi kepalanya. "Doni," ucap Andini lirih dan setelah itu dirinya jatuh tak sadarkan diri ke dalam pelukan suaminya.


"Andini bangun sayang. Andini," teriak Aldo sambil menepuk nepuk pipi istrinya.


"Al, cepat bawa Andini ke mobil. Dan kalian cepat ke rumah sakit. Biar nanti aku yang pamit kan kalian sama Deva dan Disa," ucap Beni.


"Thanks Ben."


"Sehabis acara selesai kita semua akan menyusul kalian ke rumah sakit Al," sahut Anez.


"Iya Nez."


Semua mata para tamu undangan melihat ke arah Aldo yang sedang menggendong tubuh Andini. Bukan hanya para tamu, Deva dan Disa pun juga melihat kejadian tadi dan langsung menghampiri para sahabatnya.


"Tolong rahasiakan kecelakaan Doni dari Diva ya," ucap Diva pada para sahabatnya.


"Iya Dis, kita akan diam," jawab mereka semua kompak.


Diva yang sedang berkumpul dengan keluarga Rangga terus menunggu kedatangan orang yang sudah berjanji untuk datang.


"Dasar cowok penipu. Diva udah yakin dari awal kalau Kak Doni gak akan datang. Kak Doni hanya bisa janji dan janji. Sekarang aku tambah yakin kak, kalau keputusanku memilih Rangga sebagai suamiku nantinya adalah keputusan yang tepat," batin Diva.


"Honey, kenapa kamu ngeliatin aku seperti ini? Apa kamu bahagia dengan pertunangan kita ini?" tanya Rangga.


"Bahagia banget hon. Terima kasih selama ini kamu selalu ada disisiku saat aku terpuruk dulu. Dan terima kasih buat cinta kamu yang tulus sama aku hon," jawab Diva sehingga membuat Rangga langsung mengecup kening Diva sebagai ungkapan tanda sayang Rangga pada Diva.