
"Bener deh, gak lucu ini bener-bener keterlaluan. Gagal sekali mah oke, tapi dua kali itu gimana??. Intinya yang gagal dua kali itu pasti cowok itu hidung belang" Sinta berkesimpulan setelah selesai acara api unggun itu selesai.
Dan kini Sinta berada di kamar tandanya bersama beberapa peserta camp dan juga Fika yang menjadi teman satu timnya.
Tapi sepertinya Fika sudah tertidur lelap terlebih duluan. Hanya tinggal Sinta yang masih kesal mendengar teman satu timnya ada yang maniak perceraian dan entah mengapa hal itu membuatnya tak bisa tidur.
Sinta yang awalnya berbaring seketika bangun, rasanya ia tak bisa tidur dengan mudah malam ini.
Sekilas ia tenggelam dalam kenangannya sendiri. Wajah sang ayah yang sudah lebih 13 tahun pergi meninggalkan rumah, kini kembali terbayang.
Sinta masih bisa mengingat jelas saat-saat pertengkaran hebat antara ibu dan ayahnya. Cekcok yang hampir terjadi selama 1 tahun, hingga akhirnya Ayah memiliki meninggalkan rumah dan menikahi teman wantianya.
Rasa sakit hati masih membekas jelas, ketika Ayah pergi kasih sayang dari pria itu juga ikut pergi bersamanya. Sinta kehilangan sosok pria yang begitu penting di hidupnya.
"Sinta, maafkan ayah.. maafkan ayah yang tak bisa bersama mu lagi.."
Sinta yang saat itu masih SMP pun tak bisa berkata-kata, air matanya jatuh tak terkira. Hati kecilnya tak rela namun sang ayah tetap pada keputusannya.
Dan 3 tahun berselang, sosok mas Agung yang saat itu baru saja pindah di daerah sinta, yang awalnya hanya tegur sapa sebagai teman bisa tiba-tiba hadir dan menjelma menjadi sosok yang membuat sisi kosong akan figur lelaki yang hangat di kehidupan Sinta.
Mas Agung selalu memberi energi positif pada Sinta dalam melakukan apa pun. Mas Agung seolah mengisi sosok penting itu.
Namun Sinta termenung kian dalam mengingat Mas Agung.
"Apa kurangnya aku?? apa aku tidak menarik di mata Mas Agung??" gumam batin Sinta yang masih tak percaya jika mas Agung lebih Sarah dari pada dirinya yang sudah belasan tahun berada di samping lelaki itu.
Sinta menghela nafas panjangnya. Rasa sesak di hatinya masih belum hilang.
Malam kian larut, dan Sinta tak bisa tidur. Ingin keluar dari tenda namun ia terlalu takut. Suasana diluar tenda pasti sangat berbeda. Karena ini adalah alam terbuka.
Di sisi lain, Rudy mulai merasa tak nyaman, ia mencari kebutuhan yang sudah harus ia konsumsi, Alkohol.
Kepalanya terus mengingat wajah Alia yang terluka dan itu menghantui dirinya.
Rudy mengaruk kepalanya kesal. Ia gelisah ia terus merasa takut untuk memejamkan mata. Namun fisiknya sudah lelah.
"AAaaahh!!" jerit Rudy melepas kekesalannya. Ia merasa uring-uringan.
"Gak, aku gak bisa.. aku harus mencari minuman, apa pun itu..!!" pikir Rudy yang sudah tak bisa mengontrol dirinya lagi. Tubuh dan pikirannya sudah membutuhkan minuman haram itu untuk bisa menenangkan rasa penyesalannya yang terus menghantui di tiap malam Rudy.
Namun saat ia hendak membuka pintu kamarnya. Pedal pintu itu tidak berfungsi.
Jeglek..jeglek.. dua kali ia memaksa pedal pintu itu terbuka, namun nyatanya tidak bisa.
Hingga dengan kesalnya Rudy menendang pintu.
Brak..terdengar bunyi pintu di tendang cukup kuat.
"Sial!! SIAL!!" umpat Rudy menjerit kesal. Karena pintu di kunci dari luar.
Nafasnya memburu, seolah kepalanya akan meledak jika ia tidak menyentuh minuman itu sekarang.
"Ya Tuhan!! aku dibuat mati oleh pikiran ku sendiri!!"
Dan itu sengaja di lakukan ibu Reni, yang sudah membaca dan mengetahui semuanya kecanduan Rudy akan Alkohol di malam hari.