Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Wanita jahat



"Mas akan tunjukkan seberapa jahatnya Sarah pada kamu.." timpal Agung serius dan dengan cepat menyambar lengan Sinta.


Dan lagi-lagi Sinta terpaksa mengikuti langkah mas Agung yang akan membawanya entah kemana.


***


Di sisi lain, kini Rudy tinggal sendiri diruangan miliknya setelah Gamal akhirnya pergi.


Pikirannya terusik oleh ucapan Gamal. Ia menatap kosong pada luar jendela ruangannya.


"Dia yang kau anggap teman, malah tanpa kau sadari berhasil masuk dan mengusik hatimu.." ucapan Gamal terus ternginag.


"Apa aku semudah itu, melupakan perasaan pada Alia??" tanya Rudy pada dirinya sendiri.


Dan entah mengapa wajah Sinta tadi kembali terbayang, saat gadis jamu itu terlihat kesakitan berjalan mengikuti langkah Agung keluar dari ruangannya.


Di tengah lamunnya, terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunnya.


Tok.. tok.. dan tak lama Jimmy masuk. Dan berjalan menuju meja kerja Direktur Mahendra lali meletakkan sebuah dokumen baru.


Rudy berbalik untuk melihat.


"Dokumen terakhir.. sebelum rapat dengan AFD 1 jam lagi" ucap Jimmy.


Rudy tak menjawab, lalu perlahan sekertarisnya itu pergi.


Dan Rudy kembali termenung tenggelam dalam pikirannya.


"Apa dia sudah mengatakan perasaannya??" gumam batin Rudy yang menerka-nerka hal yang terjadi antara gadis jamu dan bawahannya.


***


Dan kini Sinta berdiri di satu lorong rumah sakit yang sangat familiar bagi dirinya.


"Untuk apa mas bawa Sinta kemari?? mas ingin menujukkan jika Sarah lebih pantas dari pada Sinta?? begitu?"


Agung berbalik dengan menatap wajah Sinta yang kesal.


"Kamar ini adalah kamar perawatan Sarah.."


Sinta merespon bingung.


"Perawatan?? untuk apa?? bukankah dia sendiri seorang dokter??" jawab Sinta masih ketus dan bertambah kesal.


"Kapan terakhir kali kamu makan bersama Sarah?? kapan kamu melihat Sarah ceria? dan sehat??"


Sinta merespon acuh.


"Kamu pasti tidak akan menyadarinya, karena Sarah sangatlah rapi dalam menyimpan rahasianya.."


Sinta menyeringai licik.


"Rapi, sangat rapi sampai Sinta gak sadar ternyata berteman dengan seorang berhati busuk seperti Sarah.." balas Sinta tak peduli dengan ucapan yang ia tujukan pada Sarah.


Namun wajah Agung berubah serius.


"6 tahun yang lalu.." potong Agung. "Mas menyadari sesuatu.. perasaan yang berbeda di antara kalian berdua.."


Sinta mendengar dengan wajah menyimpan sakit.


"Butuh 3 tahun hingga mas menyadari.." ucap mas Agung berat. "Wanita yang mas cintai bukanlah kamu.. tapi Sarah"


Deg.. Sinta menelan saliva yang seakan pil terpahit.


"Tak mudah untuk meyakinkan Sarah yang telah memiliki rahasia dengan kamu, tapi saat mas tau jika Sarah tengah menderita satu penyakit yang cukup serius.."


"Di saat itu juga mas tidak ingin tergoyahkan lagi.." ucap Agung berat. "Mas tak ingin kehilangan Sarah.. dan kesempatan untuk bisa bersama wanita yang mas cintai"


Untuk sesaat Sinta merasakan hampa udara di sekelilingnya.


Agung menghela nafas beratnya.


Nyuuuutt.. perasaan Sinta yang perih mendengar ucapan orang yang ia cintai.


Perlahan Agung mendekat pada Sinta. Ia menantap teduh wajah kecewa gadis jamu itu.


"Selama ini, mengapa mas begitu peduli dan sangat perhatian pada kamu, semua karena mas merasa kamu butuh seorang pria yang bisa menjaga kamu layaknya seorang kakak pada adiknya.."


Jleb..Sinta cukup kecewa. Ternyata selama ini perhatian mas Agung juga kebaikannya tak lebih hanya perasaan simpati. Bukan perasaan yang layaknya lawan jenis.


"Bukankah itu alasan yang cukup klasik? " tutur Sinta menahan sesak di dadanya.


Namun tak lama terdengar pintu kamar Lily terbuka. Dan betapa kagetnya Agung ketika melihat sosok Sarah keluar dengan wajah sedikit pucat.


Dan begitu pula dengan Sarah yang cukup terkejut dengan sosok sang teman Sinta, kini berada di depan kamar perawatannya.


"Sinta??" seru Sarah ingin mendekat dengan wajah bersalah.


Sinta menantap dengan tatapan dingin pada sosok Sarah yang terlihat sedikit pucat dengan tiang infus di sampingnya.


"Cukup..!!" ucap Sinta dengan nada dingin. Tatapan kemarahannya terpancar jelas di wajah Sinta.


"Cukup untuk tidak merasa iba denganku, Sarah.. aku cukup sadar diri sekarang jika ternyata aku telah salah mempercayai orang seperti kamu.."


"Sinta!! Sarah tak pernah mengkhianati kamu!! mas yang mencintai Sarah, mas yang meminta Sarah untuk menerima cinta mas" bela Agung dengan cepat mendekat pada Sarah yang terlihat rapuh.


Dan untuk kesekian kalinya hati Sinta tersakiti ketika mendengar ucapan mas Agung.


"Sinta, aku.. aku benar-benar.."


"Kau berhasil Sarah.." ucap Sinta dengan titik air mata pedih. "Kau berhasil membuat aku seperti wanita jahat .. Dan kau berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan.." sindir Sinta dengan wajah tersakiti.


"Sinta.." ucap Sarah yang merasa iba dan tiba-tiba tubuhnya merasa lemas.


Agung merespon dengan terkejut dan menahan tubuh Sarah yang hampir terjatuh lemah.


"Sarah!!" seru Agung penuh kecemasan.


Dan Sinta tak sanggup melihat hal yang menyakitkan itu lagi. Perlahan Sinta berbalik untuk pergi meninggalkan sejoli yang terlihat serasi itu.


***


Waktu berlalu begitu saja. Di saat hari berubah gelap. Akhirnya Rudy keluar dari kantor dengan tak begitu bersemangat.


Dan saat ia berjalan menuju parkir mobil mewah yang telah siap menunggunya.


Tiba-tiba saja terdengar suara rintik hujan yang turun tanpa di duga.


Langkah Rudy terhenti dan ia melihat pada luar yang gelap dengan suara hujan yang turun.


Dan entah mengapa pikirannya seketika teringat akan sosok Sinta.


Hingga pada akhirnya Rudy mengeluarkan handphonenya dan langsung menekan nomor telepon gadis jamu itu.


Nada sambung itu tak kunjung terjawab dari sang pemilik nomor. Hingga pada saat nada sambung terakhir. Akhirnya Rudy dapat dapat mendengar suara Sinta.


"Hallo??" sapa Rudy sedikit gelisah.


Dan tak terdengar suara Sinta menjawab.


Untuk beberapa saat Rudy menunggu suara Sinta dengan tak tenang.


"Kamu, baik-baik saja?" tanya Rudy.


"Hm" jawab Sinta singkat dengan terdengar getar suara yang tak biasa..


Deg..


Mendengar jawaban Sinta yang begitu berat, seketika Rudy khawatir dan cemas.


"Kau dimana?? aku akan kesana.." ucap Rudy dengan rasa cemas yang tak bisa ia jelaskan . Dan dengan langkah cepat menuju mobil mewahnya untuk segera menemukan gadis jamu itu dimana pun ia berada.