Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Pikiran parno



Dan akhirnya, Sinta dan Rudy berjaga di sepanjang malam. Hingga pada saat hujan berhenti dan pagi pun menjelang.


Mata Sinta sangat berat, ia sudah tak tahan lagi untuk membuka matanya.


"Mas, ngantuk banget.."


"20 menit lagi" jawab Rudy dengan menahan ngantuk yang sama sembari melihat jam.


"Ayo dong, ini udah pagi " rengek Sinta.


Rudy menimbang. Memang benar, celah-celah cahaya sinar pagi telah menyinari dari 15 menit yang lalu.


Namun entah mengapa Rudy tak ingin pergi begitu saja. Ia ingin bertemu dengan kakek itu lagi, sehingga Rudy sengaja menunggu nenek.


"Ya udah, kita keluar aja..kita tunggu nenek"


Sinta mengangguk sembari menahan nguap yang beberapa kali terbuka dari mulutnya.


Dan keduanya pun beranjak pergi meninggalkan kamar itu.


Mereka keluar dengan gelagat yang hati-hati. Rumah itu terasa sunyi. Seolah tak pernah menampakkan suatu rumah yang hangat, akan tetapi lebih terasa aura mencekam.


Namun ketika mereka berada di ruang tengah, terlihat pintu depan tak tertutup.


Tak lama nenek muncul dari sana dengan jalan yang tertatih.


"Kalian sudah bangun" sapa nenek.


Rudy dan Sinta terkesiap, hilang sudah rada kantuk yang sedari tadi merajain.


"Su-sudah nek" sahut Rudy.


Suasana berubah canggung.


"Nek, kita pamit dulu ya, terima kasih sudah beri kami tumpang tidur"


Nenek mengangguk dengan senyum.


"Ya, hati-hati" sahut nenek.


Sinta hendak berjalan, namun Rudy tak bergeming.


"Nek? apa kakek masih tidur?" tanya Rudy memberanikan diri.


Sinta kaget.


"Mas??"


"Kakek ya?? masih tidur"


Wajah Rudy berubah serius.


"Apa tidak bisa dibangunkan?"


"Mas?"Sinta merasa tak enak dan menarik ujung lengan baju Rudy.


"Kakek masih tidur, karena kelelahan" jawab nenek tenang.


Kening Rudy tertaut.


Lalu terlihat sang nenek renta mengeluarkan sesuatu dari samping kain sarung yang ia kenakan. Dan ternyata sebuah kertas yang ia berikan pada Rudy.


"Ambil ini"


Rudy reflek mengambil kertas yang di lipat biasa. Sinta penasaran.


Lalu dengan sebait senyum nenek menatap Rudy.


"Setengah hal buruk itu, sudah kakek serap, tapi.. masih belum semua karena kakek sudah lama tak melakukan hal seperti itu lagi" jelas nenek.


Rudy seketika merespon.


"Jadi kakek??"


"Berhati-hatilah, dan berbuat baiklah agar hal baik bisa menolong kamu" ujar nenek renta dengan bijak.


Rudy menelan saliva. Ia masih sedikit bertanya lebih lanjut, tapi tak mungkin jika bertanya pada nenek. Dan kakek masih tidak bisa di jangkau oleh Rudy.


"Nek, katakan pada kakek, saya akan datang lagi" ujar Rudy dengan mengeluarkan dompet dan menerima lembaran uang merah dan juga kartu namanya.


Nenek dengan cepat menahan.


"Jangan.."


Tangan Rudy tertahan.


"Kami tidak pantas menerima..karena kami menolong dengan tulus agar jalan kakek mudah"


Rudy tak mengerti.


"Tolong doakan saja kakek" pinta nenek.


Sinta tak mengerti ada hal apa yang terjadi antara kakek, nenek dan mas Rudy yang terlihat adahal yang saling berkaitan. Padahal awalnya mas Rudy ketus dan cuek. Kini malah penuh perhatian.


"Kalau begitu saya akan datang lagi..saya Rudy, saya pemilik Resort Sadewa" ujar Rudy. "Tolong katakan itu pada kakek" pesan Rudy bersangguh-sungguh.


Nenek hanya menatap bisa pada Rudy dan Sinta.


Dan pada akhirnya mobil Rudy dapat hidup kembali sampai semua kembali normal. Dan yang membuat Rudy kaget adalah Rumah kuno ini ternyata berdekatan dengan Resort yang dari semalam mereka cari.


"Jadi, itu Resortnya?" tunjuk Sinta pada tembok pembatas yang terdapat sebuah bangunan megah.


"Iya, kok bisa gak kelihatan ya semalam?" tanya Rudy tak percaya melihat bangunan Resortnya ternyata sangat dekat dengan rumah nenek.


***


Setiba di Resort keduanya pun langsung di sambut oleh beberapa staf yang menjadi pekerja di Resort.


Namun sambutan meriah dari para Staf terabaikan dengan permintaan Rudy yang sudah tidak tahan lagi menahan kantuknya yang luar biasa.


"Ceremonialnya nanti saja, saya butuh tidur..dimana kamar?" tanya Rudy tanpa basa-basi.


Beberapa staf kaget lalu dengan cepat menjalankan perintah untuk memberi kamar yang sudah di persiapkan unutk sang pemilik.


Seorang pelayan pun bertugas untuk memberi pelayan ternyaman untuk Rudy. Rudy tak mengubris, yang ia butuhkan saat ini kasur yabf empuk untuk tidur.


Dan setelah melewati beberapa taman kecil yang dibuat sangat cantik. Akhirnya Rudy tiba di kamarnya.


"Silahkan pak, ini kamar anda" ujar sang pelayan memberi pelayanan.


"Ya, ya terima kasih" jawab Rudy yang berlalu dengan mencari kasur.


Namun di saat yang bersamaan Sinta juga menerobos masuk. Ia berlari kecil mencari kamar mandi untuk panggilan alam.


Setelah buang air kecil Sinta kembali bak Zombi yang sangat mengantuk. Melihat kasur yang cukup luas, Sinta pun langsung merebahka diri dia atas kasur empuk itu.


Merasa ada goncangan, Rudy membuka mata sekilas. Dan mendapatkan seseorang tidur di kasurnya.


"Hey, ini kasur ku!" protes Rudy yang tak sadar pada sang kekasih yang sudah terpejam.


"Hey!" protes Rudy yang tak sadar karena terlalu ngantuk.


"Berisik!!" balas Sinta yang juga kesal tidurnya terganggu.


Pada akhirnya keduanya tertidur dengan lelap. Waktu terus beranjak naik mengikuti sinar pagi yang hampir tegak.


Hela nafas keduanya terdengar tenang dan begitu pulas tertidur tanpa gangguan.


Dan entah siapa yang memulai, dari posisi awal yang saling menjauh, seiring waktu keduanya malah berubah posisi saling mendekat dan berakhir dengan peluk.


Rudy memeluk tubuh Sinta yang tertidur pulas di dadanya.


Satu tangan Rudy menjadi alasan kepala Sinta. Bahkan satu kaki Sinta memeluk tubuh Rudy bak guling.


***


Diluar kamar, terjadi berita heboh ketika melihat sang Direktur datang dengan seorang wanita dan bahkan kini mereka disatu kamar yang sama.


"Aku yakin, pak Rudy belum menikah lagi?".


"Mungkin itu calonnya?"


"Waah, baru calon udah sampai di bawa kekamar??"


***


Dan pada akhirnya tidur Rudy yang lelah harus berakhir dengan suara perut sang kekasih yang terdengar keroncongan.


Kkururukkrk..


Rudy terjaga. Begitu juga Sinta yang terpaksa bangun karena lapar.


Dan sekilas Sinta yang tertidur memeluk dada Rudy pun mendengar detak jantung pria itu.


"Lapar!" ujar Rudy parau khas bangun tidur. Sinta terkesiap dan segera bangun dengan wajah terkejut.


Dan kedua matanya melebar kaget ketika ia melihat dirinya tidur bersama Rudy.


"Aaaaaah.." Sinta menjerit.


Rudy terkesiap kaget.


"Kenapa Sinta?? ada apa?"


Sinta membeku.


"Ki-kita??" tunjuknya pada Rudy dan dirinya dengan penampilan yang berantakan dengan selimut menutupi tubuh keduanya.


Rudy menghela nafas.


"Apa sih?"


"Kita? gak.." ucap Sinta tergantung dengan degup jantung cepat.


Kening Rudy tertaut.


"Kita apa??"


"Kita gak ML kan mas!!" seru Sinta.


Rudy melogos tak percaya. Lalu tak lama ia malah tertawa dan kembali tidur.


"Hahaha, ML?? kamu ini ya mikir kemana?? coba liat kamu sendiri berantakan begitu, apa mungkin mas berbuat begitu!!" seloroh Rudy.


Melihat Rudy tertawa Sinta pun melihat pada dirinya sendiri. Dan berakhir dengan malu sendiri..


Sinta menarik selimut dan menutupi wajahnya. Sedangkan Rudy masih betah di kasur dengan tawa yang renyah. Ya bagaimana pun Sinta takut, karena ia sudah berjanji dengan ibu untuk menjaga diri .


Suara perut Sinta kembali terdengar.


Kkururukkrk..


Rudy kembali terkekeh.


"Duh, kalau sampai ada yang dengan suara perut kamu selapar itu, mereka pasti berpikir kamu mas siksa karena tak diberi makan padahal punya pabrik makanan" goda Rudy yang membuka selimut Sinta dan mendapatkan wajah sang kekasih yang malu.


Rudy tersenyum usil dengan mencubit hidung Sinta.


"Ayo bangun gadis jamu, kamu mau mas mandiri apa mandi sendiri?" tawar Rudy sengaja mengejai Sinta.


Sinta melotot dan langsung terbang.


"Mandi sendiri!!" jawab Sinta sembari turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa.


Lalu merapikan tempat tidur seadanya dengan canggung.


Rudy dengan setengah rebahan dan menopang kepalanya menatap Sinta dengan mengoda.


"Yakin?? gak mau disini aja sama mas??" goda Rudy.


Sinta tersenyum ketar ketir.


"Ma-makasih mas" jawab Sinta mencoba untuk mundur dan kemudian ia berlari terburu keluar dari kamar Rudy.


Rudy sukses terkekeh melihat tingkah sang kekasih yang membuatnya bahagia.


Namun di saat ruangan itu sunyi kembali. Rudy pun bangun dari rebahannya dan duduk dengan wajah serius.


Ucapan semalam dari kakek masih bisa ia ingat jelah.


"Setengah tubuh anda sudah di penuhi ilmu hitam"


"Sihir hitam itu sepertinya dituju untuk merusak rumah tangga anda, menahan keturunan anda dan membuat siapa pun wanita yang menjadi istri anda akan berakhir dengan perpisahan"


"Saya tidak tau, tapi ini terkait dengan kedua orang tua anda"


Rudy mencerna ucapan kakek, ia bersumpah akan mencari dalang yang menbuat hidupnya hancur.


Namun satu hal yang sangat Rudy syukuri, ternyata ia bukanlah pria mandul.


"Ja-jadi saya sebenarnya tidak mandul?" tanya Rudy dengan perasaan ketar-ketir.


Dan anggukan Kakek saat jelas menjawab pertanyaannya yang selama ini menjadi trauma yang cukup mendalam.


Rudy bangun dari kasur ia berjalan menuju tempat mandi sembari otaknya merencanakan sesuatu.