Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Moment tak terduga



Pertemuan yang sangat mengejutkan untuk keduanya.


Dan kini Rudy dan Sinta akhirnya duduk di Coffee shop.


Beberapa karyawan melihat hal teraneh itu. Bahkan mereka sangat terkejut melihat sang pemilik perusahaan kini duduk bersama seorang wanita.


Tak lama sebuah kopi hangat tiba di meja Rudy untuk Sinta. Sang pelayan memberi dengan sangat sopan.


"Selamat mencoba.." ujar sang pelayan ramah dengan sesekali mencuri pandang pada wajah wanita yang kini duduk bersama pemilik perusahaan Mahendra dan tak lama ia pun berlalu pergi.


"Minumlah.." ujar Rudy.


Sinta merasa sungkan.


"Oh, iya mas.. makasih.." sahut Sinta dengan ragu-ragu meraih cangkir kopi creme miliknya. Dan menyerutnya dengan pelan.


Rudy pun ikut menyerut kopi esspreso miliknya.


"Ah, ini enak banget rasa kopinya.."


"Syukurlah kamu suka.."


Sinta meletakkan cangkir kopi itu kembali di tempatnya.


"Bagaimana mas bisa ada disini?? dan kaki mas Rudy gimana?? apa kondisi mas sudah baikan??" cecar Sinta bertanya.


Rudy mengantungkan cup kertas esspresonya dengan senyum kecil.


"Ternyata kamu masih cerewet juga yaa, gak di hutan gak disini.." sindir Rudy.


Sinta hanya membalas manyun dengan senyum tipis.


Rudy melihat sekilas pada kelilingnya.


"Kebetulan disini adalah kantor ku.." jawab Rudy


"Oh.." sahut Sinta mengangguk.


"Dan soal kaki, kamu bisa lihat sendiri kan.. ini sudah baikan..dan kondisi ku sekarang sudah jauh lebih baik untuk mulai bekerja lagi.." sambung Rudy menjawab pertanyaan Sinta.


"Syukurlah.. Sinta jadi lega.." sahut Sinta lega.


Rudy menantap lekat.


"Tapi, kenapa kamu saat itu kembali dan menyelamatkan aku??" tanya Rudy.


Sinta yang tadinya lega seketika jadi bingung mendapatkan pertanyaan tak terduga dari pria yang sudah susah payah ia selamatkan saat di hutan.


Sejenak Sinta diam berpikir. Dan kembali mengingat saat-saat mengerikan di hutan itu bersama mas Rudy.


"Sinta gak mungkin tinggalin mas.." jawab Sinta yang apa adanya.


Deg..


Sekilas Sinta tertunduk dengan raut wajah sendu


"Karena kita kan teman.. teman dadakan yang sudah melewati suka duka di hutan belantara bersama.. dan rasa-rasanya Sinta memang gak akan tega buat tinggalin mas sendiri..dan mati sendiri" jawab Sinta jujur.


Rudy terpaku mendengar jawaban Sinta.


Lalu tak lama wajah Sinta berubah berseri dengan menantap Rudy yang masih mendengarkan ucapannya.


"Lagi pula setelah Sinta bersama mas saat itu.. Sinta bisa simpulkan bahwa mas adalah orang baik, buktinya selama kita didalam hutan, mas selalu ada di depan buat menjaga Sinta.. dan bahkan bisa di andalkan" jawab Sinta apa adanya.


Untuk sesaat jawaban Sinta membuat Rudy sedikit miris


Lalu ia sedikit tersenyum sedih.


"Jangan mudah menyimpulkan seseorang.." tukas Rudy sembari kembali mengoyangkan cup kertas esspreso miliknya. "Semua terjadi karena rasa kemanusiaan.. dan semua terjadi begitu saja karena situasi" sangkal Rudy yang merasa jika ia bukanlah orang yang baik seperti ucapan Sinta.


Sinta hanya tersenyum bias dan ada rasa nyess yang membuat hati Sinta pilu.


"Ucapan mas, rasa-rasanya jadi mirip seseorang.."


Rudy menatap Sinta yang seketika berubah murung.


"Apa Sinta orang yang terlalu baper ya?? sampai tidak bisa membedakan tiap kesan baik yang di berikan orang lain.."


Rudy mendengar tanpa mengerti.


Dan tak lama, Sinta mengubah wajahnya untuk di paksa ceria.


"Oia mas, mas Rudy kerja di bagian apa?? apa mas satu kerja dengan mas Agung??" tanya Sinta yang tanpa sadar keceplosan.


Kening Rudy mengankap satu nama yang pernah ia dengar saat di hutan.


"Agung??" ulang Rudy.


Sinta jadi kelabakan.


Lalu wajah Rudy berubah usil.


"Jadi pria yang kamu ceritakan di hutan itu, bekerja di sini??"


***


Setelah di traktir kopi pagi, akhirnya Rudy dan Sinta berjalan bersama menuju lift.


Dan terlihat keduanya terlibat obrolan serius yang membuat Rudy terkejut.


"Jadi, kamu kesini untuk ikut ajang Mitra Mahendra??"


Sinta mengangguk pelan.


"Iya.."


Rudy merasa benar-benar kaget.


"Memangnya kamu punya produk apa??"


"Jamu.." jawab Sinta cepat.


Rudy terbengong.


"Jamu??" ulang Rudy.


Sinta sudah dapat memperkirakan reaksi teraneh setiap orang yang mendengar jenis dagangannya ini.


"Iya jamu, jamu sehat.." timpal Sinta sembari menurunkantas ranselnya dan membuka resleting tasnya itu.


Rudy memperhatikan.


Dan tak lama, sebuah botol minuman yang telah diberi stiker, Sinta berikan di hadapan Rudy.


"Ini mas.. Jamu segar bugar.."


Rudy hanya melihat tanpa bergeming.


"Jangan lihat kemasannya yang gak menarik, tapi mas bisa rasain khasiatnya yang luar biasa" jelas Sinta yang dengan santai menarik tangan Rudy untuk menerima pemberiannya itu.


Rudy menerima lalu membaca stiker pada botol minuman itu.


"Jamu bugar mbak Sinta??" baca Rudy.


Sinta tersenyum.


"Makasih ya mas kopi paginya.. dan Sinta senang akhirnya mas bisa selamat.." ucap Sinta tulus.


Untuk sesaat Rudy terpaku.


Lalu dengan senyum simpul Sinta kembali memakai tas ranselnya dan menantap Rudy dengan dua bola mata bening.


"Selamat bekerja mas, semoga mas kembali bersemangat untuk menemukan hal baru dan.." ucapan Sinta terjeda dengan tatapan sendu pada Rudy.


"Sinta sampai saat ini masih yakin jika mas adalah orang baik yang pantas untuk di beri kesempatan.."


Deg.. ucap Sinta yang seketika membuat kesan mendalam bagi diri Rudy.


Sinta tersenyum tulus dan hal itu membuat hati Rudy gelisah.


"Sinta pamit ya mas.. sampai ketemu lagi mas Rudy.." pamit Sinta tersenyum manis. Tak lama Sinta berbalik dan pergi menuju pintu lift.


Dan Rudy masih terpaku di tempatnya dengan memperhatikan punggung Sinta yang kian berlalu.


Namun tak beberapa lama tanpa Rudy sadari, kakinya melangkah seolah mengikuti langkah wanita yang hampir menuju pintu lift.


Sinta yang hampir menyentuh tombol lift seketika kaget ketika sebuah tangan menyambar lengannya.


Sinta kaget dan reflek menoleh pada tangan pria yang menahan lengannya.


"Mas Rudy?" seru Sinta kaget.


"Jangan pergi.." ucap Rudy dengan wajah sungguh.


Kening Sinta tertaut bingung.


"Hah??" desis Sinta tak mengerti.


"Jangan pergi dan jadilah teman baik ku.." pinta Rudy sungguh.


Untuk beberapa saat Sinta tak paham.


Namun di saat yang bersamaan seorang pria keluar dari pintu lift yang lain dan tanpa sengaja melihat sang atasan perusahaannya berada di sana dengan raut wajah berbeda bersama seorang wanita yang membelakanginya.


"Pak Rudy??" seru Agung menyapa.


Rudy tersadar dan Sinta pun terkaget ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


Sinta pun berbalik untuk memastikan dan terkaget ketika melihat mas Agung kini berada beberapa langkah di belakangnya.


"Mas Agung??" seru Sinta.


Agung terpaku ketika melihat Sinta di sana. Dan hal yang membuatnya lebih bingung lagi mengapa tangan atasannya menahan lengan sang teman, Sinta.


Deg..Dan wajah Agung berubah gusar di detik itu juga.