Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Aku ini kenapa sih??



Setelah makan dengan sangat kenyang, akhirnya Rudy dan Sinta berpisah.


Mobil mewah itu berhenti di teras depan gedung Mahendra.


Rudy bersiap turun untuk kembali melanjutkan tugas kantor yang tertunda.


Sinta hanya melihat pria berkarisma itu turun begitu saja.


"Sampai ketemu lusa.." ucap Rudy sedikit tertunduk untuk melihat Sinta yang masih berada di dalam mobil.


"Iya mas, sekali lagi terima kasih ya mas untuk hari teraneh ini.."


Rudy hanya tersenyum biasa lalu tak lama pintu pun ia tutup begitu saja.


Tak beberapa lama roda mobil mewah itu melaju pelan meninggalkan halaman kantor.


Rudy masih di sana untuk melihat mobilnya pergi.


Sekilas ia sedikit tersenyum lucu jika mengingat kelakuan Sinta hari ini yang ia kerjai.


Seiring mobil mewah itu menjauh, Rudy berbalik badan untuk menuju dalam gedung.


Sesekali terdengar sapaan hormat para pekerja yang mengenali sosok sang pemilik gedung.


Rudy berjalan santai menuju lift. Dan tak sengaja ia bertemu dengan Agung yang ternyata sedang menunggu lift.


Rudy bersikap biasa. Begitu pula dengan Agung yang terlihat sungkan.


"Selamat siang pak.." sapa Agung.


"Oh, pak Agung.. kebetulan sekali.."


Agung mengangguk sungkan.


"Bagaimana dengan program kita??" tanya Rudy berbasa basi pada Brand Manajer Agung.


"Sejauh ini, para pengikut begitu antusias dan proses seleksi juga sangat lancar.."


"Syukurlah.." jawab Rudy seadanya.


Rudy hanya mengangguk biasa.


Namun tak beberapa lama, terdengar suara lain yang terkejut dengan sosok Rudy.


"Rudy?" seru Delon seolah melepas lega. "Kau ternyata ada di sini??" tanya Delon cepat tanpa melihat sekitar.


Rudy tak menjawab dengan sekilas melihat pada Agung yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Kau ini belakang susah sekali untuk di temui, seperti orang sedang jatuh cinta saja??" ceplos Delon asal.


Namun dari pertanyaan itu ternyataan tak terduga itu nyatanya mengusik Agung yang berada disana.


Rudy pun memanfaatkan pertanyaan tak terduga dari Delon.


"Memang kenapa? apa aku tidak boleh jatuh cinta lagi?" jawab Rudy yang sengaja memercikkan api kompor untuk Agung yang terlihat tenang.


"Kau?? kau serius?" tanya Delon syok.


Rudy hanya membalas senyum tanpa menjawab.


"Kau masih belum kapok dengan bercerai dua kali.." timpal Delon menyindir Rudy.


Dan di saat bersamaan pintu lift pun terbuka.


Rudy langsung masuk lebih dahulu dan tak lama di ikuti oleh Delon masuk kedalam lift.


Namun ketika Delon hendak menekan tombol lift. Terlihat Agung masih berdiri di luar.


"Tunggu!!" tahan Rudy pada Delon. "Pak Agung?? apa tidak ikut naik??" tanya Rudy sengaja.


Agung merespon.


"Ah, tidak pak.. saya baru ingat ada sesuatu yang tertinggal di mobil.." ujar Agung beralasan dengan berpura-pura merapat saku celananya.


"Oh, oke.." jawab Rudy ramah lalu Delon menekan tombol.


Tak lama pintu lift itu pun perlahan tertutup.


Namun terlihat jika Agung menatap tajam pada sang pimpinan. Hingga saat pintu lift hampir tertutup sempurna tatapan keduanya bertemu, hingga Rudy pun membalas dengan senyum misterius.


Dan Agung seketika gelisah.


"Semoga tidak dengan Sinta.." ucap Agung yang entah mengapa membuatnya kesal ketika mendengar ucapan sang pimpinan yang belum jelas kebenaran atau itu hanya guyonan semata.


***


Di sisi lain, dirumah Sinta.


Ibu di buat tak bisa berkata-kata ketika melihat penampilan Sinta yang sangat berubah.


Sinta tersenyum senang dengan ekspresi kaget sang ibu. Ternyata perawatan 30 juta itu tak sia-sia.


"Kamu operasi plastik??" tanya ibu dengan menyentuh wajah sang putri yang terlihat sedikti tirus.


"Ikh, ibu.. mana ada operasi plastik langsung cantik.."


"Terus itu gimana ceritanya digu kamu jadi rincian begitu pipi juga jadi tirus?? kamu kedukun susuk??"


Sinta hanya tertawa mendengar ucapan sang ibu.


"iiih, amit-amit deh bu, Sinta pakek susuk, itu tuh perawatan tadi.."


"Hah?? sejak kapan kamu tau tentang perawatan?? biasa juga males banget dandan.."


Sinta terkekeh mendengar ocehan ibu yang memang benar.


Sinta menarik tangan ibu dan membawa wanita paruh baya itu untuk duduk di kursi tamu sederhana.


"Gini bu.." ucap Sinta tertahan ragu. Namun melihat wajah ibu yang sepertinya sangat penasaran membuat Sinta tak tega.


Kening ibu tertaut.


"Lah, memang kamu punya uang kan??"


Sinta menghela nafas.


"Iya sih, tapi ini nominalnya lebih banyak lagi.."


"Lebih banyak??" ulang ibu bingung.


"Ibu coba tebak aja deh, kira-kira berapa saldo yang ada di rekeningnya Sinta.."


"10 juta??"


Sinta menggeleng.


"500 juta bu.." jawab Sinta jelas.


Ibu mematung terdiam, pikirannya terbang dan mengingat sosok tadi pagi seorang pria berdasi menjemput putrinya. Dan seketika pikiran buruk pun terlintas di pikirannya.


"500 juta, sekarang kita kaya bu.." ulang Sinta senang.


Namun di luar dugaan, Ibu malah berwajah sedih dan langsung memukul pundak Sinta.


Plak..


Sinta terkesiap dengan wajah kaget.


"Kamu? kamu jadi pelacur sekarang??" tanya ibu dengan wajah kecewa.


Sinta kaget bukan kepalang.


"Buk!! ya ampun mana mungkin sinta jadi pelacur bu.. enggak bukan.." elak Sinta yang seketika takut.


"Jadi apa? gimana kamu dapat uang 500 juta dalam 1 hari?? kamu pikir ibu bisa kamu bodohi " cecar ibu hampir menangis.


"Ya ampun buk, enggak Sinta berani bersumpah Sinta gak bakalan bekerja haram seperti itu buk.." jawab Sinta yang tak habis pikir dengan tuduhan sang ibu.


"Lalu gimana caranya kamu bisa dapat uang 500 juta itu?? kamu jangan bohong Sinta??"


Sinta tak bisa menjawab, lalu dengan cepat membuka tas dan menarik satu amplop yang ia berikan pada sang ibu.


"Ibu baca ini deh.. dan sinta bersumpah Sinta masih perawan dan belum terjamah laki-laki mana pun bu, lagi pula Sinta gak akan pernah melakukan tindakan serendah itu!!" seru Sinta membela diri.


Ibu meriah amplop itu dan membukanya dengan kasar.


Ia membaca cepat isi.


"Tadi pagi itu pak Rudy, Direktur Mahendra yang datang langsung memberikan tawaran kerja sama dengan perusahaan Mahendra.." jelas Sinta.


Terlihat ibu terus membaca.


"Mas Rudy tertarik dan mengikat jamu Sinta dengan perusahaan Mahendra.. tiap jamu bernilai 250 juta bu, dan ada dua jamu yang akan masuk pabrik jadi karena itu.."


Seketika ibu menantap Sinta dengan kedua mata berkaca-kaca.


Sinta terpaku.


"I-ini beneran??" tanya ibu yang akhirnya tau kebenarannya.


Sinta mengangguk pelan.


"Iya, mas Rudy sendiri yang ingin jamu Sinta masuk dalam naungan perusahaan Mahendra.."


Sonta ibu terduduk lemas dan akhirnya menangis kuat. Ia tidak pernah mengira jika pada akhirnya usaha jamu sederhana sang putri kini menemukan jalannya.


Seketika Sinta memeluk tubuh ibu yang menangis tersedu-sedu.


"Sekarang ibu gak perlu jualan kue pagi lagi.. dan sekarang Sinta bisa bawa ibu berobat jantung lagi.." bisik Sinta yang akhirnya ikut menangis haru.


***


Setelah tangis harus berlalu.


Kini Sinta berada dikamarnya dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur lajang.


Ia menantap langit-langit kamar, sesaat ia melamun mengingat semua rencana yang telah di susun oleh mas Rudy.


"Ini model pakaian yang harus kamu pakai, kasual dan feminim.." ujar Rudy dengan memperlihatkan jajaran paperbag yang telah berjajar di bagasi mobil mewahnya.


Sinta melihat kedalam salah satu paperbag yang berjumlah 5 buah itu.


Ia melihat ada rok span yang mungkin ukurannya tidak bisa menutupi pahanya menyeluruh.


"Sependek ini??"


"Aku ingin kamu tampil beda dari biasanya, beri kesan yang membuat Agung terpesona.." jelas Rudy dengan wajah tenang.


Kening Sinta tertaut ragu ketika mendengar penjelasan Rudy. Ia tak yakin bisa seberani itu mengenakan rok span yang pasti akan memperlihatkan kedua kakinya dengan jelas.


Lalu dengan cepat Sinta meletakkan kembali rok span itu pada paperbagnya. Namun tiba-tiba Rudy memberikan sepasang sepatu berhak yang sangat cantik ketangan Sinta.


Dan Sinta menyambut dengan kaget pada sepatu yang kini berada di tangannya.


"Pakai ini, dan mas yakin pasti Agung tidak bisa melupakan kamu.." ucap Rudy saat itu dan tanpa sadar Sinta terkesan.


Dan kini Sinta memejamkan matanya.


"Kok, aku jadi ragu yaa.." ucap Sinta gelisah dengan mata yang ia paksa terpejam.


Dan sekilas bayangan Agung terlintas dibenaknya. Namun tanpa di sadari wajah mas Rudy yang teduh kembali terbayang jelas mengantikan sosok mas Agung.


Sinta menghela nafas dengan kedua mata terbuka.


"Ck, Aku ini kenapa sih?? harusnya inget mas Agung.. buka mas Rudy!!"