
Keesokan paginya, Sinta menerima undangan yang di berikan ibu pada dirinya.
"Semalam, Sarah kasih ibu undangan dia.. 3 minggu lagi ternyata Agung dan Sarah menikah.."
Sinta hanya duduk diam di meja makan tanpa merespon.
"Kasian ya Sarah, ternyata kanker payudara yang sudah menjalar.." lirih ibu jadi sedih.
Namun tidak dengan Sinta, sudah sepagi ini mas Rudy tidak membalas pesannya. Padahal hari ini ada hal penting yang harus di diskusikan dengan mas Rudy. Tapi sejak jam 11 malam tadi dia bertanya hingga saat ini Duda itu tak kunjung membalas pesannya.
"Kamu sudah maafin Sarah??" ibu menantap Sinta.
Sinta menantap ibu lalu ingatan tadi malam akan permintaan Sarah pun kembali terbayang.
Dan Sinta memilih diam.
"Maafkan saja dia.." pinta ibu.
Sinta hanya memasang wajah bias dan ia yakin jika saja ibu tau apa yang terjadi tadi malam, mungkin ibu juga tidak akan meminta hal itu di pagi ini.
"Ehm, udah ya bu, Sinta mau berangkat dulu.. gak enak kalau terlambat.." elak Sinta yang tak ingin membahas persoalan dengan Sarah. Cukup dirinya saja yang menelan sakit hati dengan sikap sang teman.
"Eh, kamu kok buru-buru.. sarapannya juga gak habis.."
Sinta tersenyum simpul.
"Iya, bu lagi gak selera.. Sinta jalan ya bu.." ujar Sinta berlalu.
***
Setiba di kantor Mahendra. Sinta masih tetap menghubungi nomor mas Rudy yang masih tak mendapat jawaban.
"Ck, kemana ya mas Rudy? gak biasanya gak ada kabar gini??" celetuk Sinta dengan tiba-tiba merasakan kandung kemihnya penuh dan ingin buang air kecil.
"Duh, mana kebelet begini..ukh, kekamar mandi dulu lah.. biar aman.." gumam batin Sinta yang membalikkan langkah kakinya yang berawal menuju pintu lift, namun berubah haluan menuju ruang toilet.
Tak sengaja ia berpas-pasan dengan petugas kebersihan yang bertanggung jawab pada ruang kamar toilet itu.
Sinta menuntaskan hajatnya dengan lega. Dan rasanya memang sungguh lega. Ia menyiram bersih dan bersiap untuk merapikan pakai sebelum keluar toilet.
Namun tanpa di duga terdengar suara wanita berbicara cekikikan.
"Eh, lo tumben telat.. biasa juga on time??"
"Ooh, jelas dong, untuk 2 sampai 3 hari ini gue bisa bebas, pak Rudy gak masuk.." jawab wanita yang bersuara nyaring.
Sinta yang hendak keluar tiba-tiba berhenti saat hendak membuka pintu.
"Hah? kenapa?" sahut sang teman kaget.
"Ah, ck..lo sih baru masuk 1 tahun, jadi gak tau pak Rudy gak bisa keluar itunya, pasti sakit lah.."
Sinta kian menguping dengan hikmat.
"Aah, lo pura-pura bego yaa??" sindir si teman.
"Ya elah, apa sih??"
"Lah, **** beb..**** si pak Rudy kagak keluar-keluar.. jadi pak Rudy pastilah demam karena syahwatnya gak bisa disalurkan.."
Deg.. Sinta kaget.
"Ah, yang bener lo??"
"Ikh, lo sih, gak update.. udah lama kali, hampir 2 tahun berita itu sempat jadi bahan gosip satu kantor, gara-gara mantan istri nomor dua pak Rudy koar-koar aib itu di lobby dulu, duh gue masih inget tuh, si Bella ngamuk waktu mau di cerei sama pak Rudy yang kayaraya.." cerita si wanita itu lepas.
Sontak Sinta yang mendengarkan hal itu syok dan ia menutup mulutnya.
"Gue rasa sih karma.." timpal wanita berusaha nyaring itu dengan nada santai.
"Karma??" ulang sang teman yang sedikit tulalit.
"Iya karma, gimana gak?? gak ada angin gak ada ujan, tiba-tiba terdengar kabar pak Rudy gugat cerai istri pertama gara-gara si Bella yang dulunya itu tim asisten mr Jimmy hamil anak pak Rudy, eh ternyata bohong, gak taunya itu benih orang sengaja dia tanam demi ngaku-ngaku benih pak Rudy.. gila kan?"
"Tapi kalau ibu Alia, gue bilang nie yaa duuh malaikat tak bersayap.. bu Alia wiih baiknya baik banget...sumpah gue gak pernah nemu Nyonya kaya sebaik ibu Alia.. dulu pernah kan, pak Rudy Ultah, eh sekantor di pesanin makan Pizza dan sushi tiap tahun berturut-turut, belom lagi tiap karyawan perempuan yang baru siap melahirkan pasti dapat bingkisan, udah cantik berhati malaikat mau ngerawat bapak pak Rudy yang sakit pikuk sampai wafat.. perempuan mana yang suka rela ngerawat bapak mertua, jangankan mertua, orangtua sendiri saja belum tentu"
"Hhmmm" sang teman hanya merespon gumam.
"Jadi??"
"Ya, gitu banyak yang menduga pak Rudy mandul karena karma sama istri pertama dia.. dan buktinya beneran sudah dua kali nikah, tapi gak punya anak terus.. anak bu Bella juga ternyata dari benih orang lain.. ikh, gila kalau inget kisahnya kayak di tv ikan terbang deh.. eh gak taunya kisah bos sendiri.."
"Kasian yaa??" sahut sang teman terdengar prihatin.
"Kalau gue mah gak kasian sama laki begitu, bener-bener keterlaluan kalau lo kasihan sama laki macem pak Rudy yang udah jelas salah..lo karena belum liat baiknya istri pertama pak Rudy sih makanya bisa bilang begitu.."
Sesaat ruang itu terasa hampa udara bagi sinta. Akhirnya Sinta tau apa yang menjadi penyebab mas Rudy gagal menikah sampai dua kali.
"Eh, udah yuk balik, biasa bos gak masuk.. mr Jimmy tetap masuk.. tuh doi gila kerja banget dah, padahal yang kaya kan pak Rudy ya kenapa dia mau mati-matian buat pak Rudy coba??" tutur wanita bersuara garing terheran-heran pada sosok terkeren yang menjadi tangan kanan mas Rudy.
Sinta masih diam di tempatnya tanpa beranjak. Tapi dua orang wanita tadi sudah berlalu pergi dan ruang toilet itu seketika sepi.
Jadi, rasa penyesalan mas Rudy ternyata bukan sekedar penyesalan biasa.. ternyata ada kisah yang sungguh luar biasa di balik senyum hangat pria yang membuat Sinta kini bangkit dari keterpukan.
Pikiran Sinta terbang entah kemana mengingat sisi kelam seorang Rudy Mahendra.
Namun entah mengapa, Sinta ingin melihat sosok pria berkarisma itu hari ini.
Lalu dengan cepat ia mengambil handphone dan mengetik satu pesan di layanan wa. Dan pesan itu tertuju pada mr.Jimmy.