Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Rudy tak percaya



Sinta baru saja menutup dari sang kekasih. Wajahnya tersenyum berseri membayangkan sang kekasih akan menjemput dirinya.


Tak lama seorang gadis muda mengetuk ruangan Sinta.


Tok..tok..


Lamunan Sinta buyar.


"Ya, Mina?? ada apa?"


"Hm, anu kak Sinta, kita mau izin.. apa susah boleh pulang?" tanya Mina polos. Gadis yang baru saja tamat SMK itu terlihat ragu.


Sinta merespon dengan melihat jam tangan miliknya.


"Oh, sudah.. silahkan.. ini memang sudah jadwal pulang kok.." sahut Sinta ramah dan langsung memberi izin.


Mina dan seorang temannya begitu senang.


"Makasih kak, kalau begitu kami izin pamit pulang.."


"Ya..hati-hati di jalan.." sahut Sinta dengan berjalan menuju pintu ruangan kantor kecil miliknya.


Dan ternyata 3 pekerja lain sudah menunggu di luar ruangan.


"Yok, pulang..kak Sinta sudah izinin.." ajak mina pada teman-teman yang lain.


Dan mereka menyambut dengan senang, sosok Sinta begitu di hormati oleh anak buahnya.


Satu persatu pun pergi meninggalkan ruko "Rajamu" milik Sinta.


Senyum Sinta terkembang, akhirnya ia berada di titik terang perjalanan bakulan jamu yang kini mulai menampakkan awal yang bagus.


Ketika gerombolan pekerja Sinta pergi, tinggallah ia dan seorang pak tua yang menjadi penjaga toko


"Nak Sinta mau pulang?" sapa pak Wirno.


Sinta kaget dengan berbalik.


"Ah, belum pak..masih ada sedikit yang mau di rapiin.." sahut Sinta pada seorang pria tua yang terlihat ramah.


"Oh, begitu baik..nanti saya balik lagi..ini mau turun hujan jadi mau pindahi jemuran dulu dirumah.."


"Oh, silahkan pak.. nanti kunci ruko Sinta antar saja kerumah bapak.."


"Eh, jangan nak Sinta gak papa, atau bapak tunggu saja.."


"Jangan pak, sudah pulang saja dulu, nanti jemuran dirumah bapak bisa basah kalau gak segera di angkat..karena udah mulai gerimis.." tutur Sinta menegaskan.


"Tapi.."


"Santai saja pak, toh anak-anak kerja juga sudah pada pulang.. saya mungkin masih agak lama di sini karena mau tunggu mas Rudy.." kata Sinta.


"Oh, pak Rudy mau kesini.."


"Iya pak.." sahut Sinta.


"Baik kalau begitu saya izin dulu ya nak Sinta, untuk balik kerumah setelah itu saya kesini lagi.."


"Iya pak, gak papa.."


Pria tua itu pun berlalu dengan langkah kakinuang tergesa. Jarak rumahnya tidak lah begitu jauh dari ruko Sinta.


Sinta sengaja mempekerjakan pak Dadang yang kalau dinilai sudah tidak bisa lagi untuk menjaga rukonya. Namun pria tua itu sedang membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobati sang anak yang kecelakaan beberapa bulan yang lalu dan mengalami patah kaki.


Setelah semua pergi, Sinta pun kembali masuk dalam ruko. Sembari menunggu sang kekasih yang mungkin saja terjebak macet.


***


Dan ternyata Sinta harus menunggu lebih lama lebih dari 1 jam. Di saat yang bersamaan pun hujan turun dengan menambah rasa menunggu itu jadi lebih lama.


Sinta memandang layar labtop dan sedari tadi ia membuat satu Web khusus untuk produk jamunya agar lebih mudah di pasarkan.


Disaat Sinta sedang fokus, tiba-tiba ia di kejutan dengan surat ketukan pintu ruangan yang tak terlalu tertutup.


Tok..tok..


Sinta menoleh spontan pada suara ketukan pintu.


Dan hal yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah sosok sang kekasih yang ternyata sudah berada di sana.


"Maaf, apa bisa saya bertemu dengan mbak Sinta penjual jamu?" tanya Rudy bergurau.


Sinta reflek terkekeh lucu mendengar candaan garing sang duda.


"Ya, dengan saya sendiri.. ada yang bisa saya bantu??" sahut Sinta dengan menyambut candaan sang kekasih.


"Waah, saya cukup terkejut, ternyata mbak jamu ini masih sangat muda.."


Mendengar ucapan itu lagi-lagi Sinta terkekeh lucu namun juga geli dengan gombalan Rudy.


"Ehmm, memangnya bapak berpikir usia mbak jamu berapa??" tanya Sinta.


Langkah Rudy kian tertuju kemeja kerja Sinta. Dan tak lama langkahnya berhenti di sana dengan tatapan mereka yang saling bertemu.


"Entah lah?? saya berpikir usianya 60 tahun atau lebih.." jawab Rudy santai.


Sontak Sinta tertawa lepas. Ucapan Rudy yang polos membuatnya tak tahan untuk tidak tertawa.


Dan akhirnya Rudy juga ikut tersenyum kecil.


"Waah, tua bener mas.. masa iya mbak jamu setua itu.." sahut Sinta.


Rudy sedikit mengidik bahunya.


"Ya mau gimana lagi, yang sering mas lihat mbak-mbak jamu itu orangnya sudah tua-tua.. cuma kamu ini mbak jamu nyasar yang paling muda" jawab Rudy apa adanya lalu ia beralih melihat pada helai rambut Sinta yang berada di kening untuk ia sampingkan.


Sinta jadi malu-malu. Namun tak lama ia bangun dari duduknya ketika melihat lebih dekat jika Rudy terlihat sedikit basah pada kepala dan pundak ya.


Lalu memutar dari meja agar bisa lebih jelas melihat sang kekasih.


"Mas terobos hujan??" tanya Sinta sembari menyeka sedikit baju Rudy.


Rudy tak menjawab hanya terukir senyum di wajahnya.


"Kamu tinggal sendiri?"


"Heem, karena Web belum siap dan bisa sambil tungguin mas.."


Rudy menghela.


"Kenapa gak kabari?? kamu sendiri di ruko?? paling gak kita bisa ketemu di luar.."


Sinta hanya senyum.


"Gak masalah.. " jawab Sinta spontan.


Rudy menantap lekat bola mata bening Sinta yang menantapnya dengan tulus.


Terlintas ucapan Agung tentang sosok Sinta. Sehingga dengan nalurinya, Rudy seketika memeluk tubuh Sinta.


Sinta terkesiap.


Namun perlahan ia membalas pelukan sang kekasih dengan sepenuh hati. Parfum Rudy begitu harus dan membuat Sinta kian candu.


"Kamu ini kan perempuan, harusnya ada rasa takut jika sendirian begini.." ucap Rudy.


Sinta tak menjawab, ia masih memeluk Rudy dengan rasa rindu.


Rudy mengusap kepala Sinta. Lalu tak lama mererai pelukannya.


Kini Rudy dapat menantap Sinta lebih dekat.


Tatapan Sinta berubah sendu.


"Ayo kita jalan.. mumpung hujan sudah agak reda" ajak Rudy.


"Oke, tapi.. sebentar mas.. Sinta beresin laptop dulu.. "


Rudy mengangguk dan melepaskan jemarinya dari pinggang Sinta.


Sinta bergegas dengan cekatan membereskan meja kerjanya.


Rudy memperhatikan. Ada sisi yang membuat Rudy mengutuk ucapan Agung.


"Aku pastikan kau akan menyesal Agung.. tidak akan kau temukan semandiri Sinta.. dan aku pastikan kau akan menelan semua ucapan burukmu itu pada Sinta" guman batin Rudy bersumpah.


"Mas, tau gak?" tanya Sinta sembari melipat tali carger laptop.


"Apa?"


"Mbak Rara katanya sudah ketemu dengan model yang mengoda suaminya.."


Kening Rudy tertaut.


"Loh?? kok kamu tau??"


Sinta melepar senyum kecil lalu kembali fokus pada laptop yang sedang ia masukkan kedalam tasnya.


"Mas kaget kan??" seru Sinta menikmati wajah terheran Rudy.


Setelah selesai menarik resleting tas laptop Sinta sedikit menarik nafas dan menantap Rudy.


"Mas pasti bakal lebih kaget lagi kalau tau, mbak Rara sekarang lebih sering curhat sama Sinta.. kita jadi deket.."


Rudy tercengang.


Ia kaget bukan kepalang, satu hal yang sangat aneh jika rara bisa dekat dengan orang baru. Apa lagi sampai curhat masalah rumah tangganya.