
Keesokan paginya.
Dirumah Sinta, ia bangun lebih pagi demi merebus rempah-rempah jamu untuk sang kekasih. Karena ia berharap mas Rudy tidak putus minum jamu walau sedang bepergian.
Ibu yang baru saja kembali dari pasar melihat aktivitas sang putri yang terlihat sibuk.
"Sinta??"
"Eh, ibu, udah pulang?"
"Kamu sibuk banget, ada pesanan siapa?"
"Bukan pesanan bu, tapi jamu buat mas Rudy" jawab Sinta apa adanya.
"Untuk nak Rudy? sebanyak ini?"
Sinta tersenyum kecil.
"Gak semua sih bu, itu sebagai untuk teman mas Rudy yang kebetulan suka jamu juga"
Ibu menantap ke 10 botol jamu itu.
"Oia, bu, Sinta pergi beberapa hari ya, ikut mas Rudy ke desa Xxx"
Ibu terkaget.
"Kemana?"
"Desa Xxx" jawab Sinta kaget melihat respon ibu yang cukup terkejut.
"Untuk apa kamu kesana?
"Kebetulan di sana ada satu rempah yang sedang Sinta butuhkan untuk membuat jamu bu, lagian di sana bisa ketemuan sama petani rempah langsung jadi mungkin saja bisa menjadi penyuplay bahan baku, yang kalau kita beli di kota susah dan sudah terlalu mahal" jelas Sinta apa adanya.
"Tapi kenapa harus dengan nak Rudy? ibu gak mau kamu pergi berdua gitu dengan laki-laki" ujar Ibu setengah tak setuju.
Sinta cukup terkejut mendengar ucapan ibu yang protes.
"Kenapa ibu marah?"
"Jelas ibu marah, kamu itu masih gadis, gak baik kamu terlalu dekat dengan pria itu" jelas ibu cemas.
Sinta menghela nafas, ia mencoba untuk tengan dengan penolakan ibu.
"Ibu, mas Rudy pria yang baik" ucap Sinta pelan seolah mencoba membuat ibu mengerti. "Mas Rudy bahkan.." ucapan Sinta terpotong dengan selaan ibu yang tetap pada pendirinnya.
"Sinta, kamu boleh patah hati karena Agung, tapi tidak serta merta kamu melampiaskan rasa sakit hati kamu yang mudah jatuh hati dengan kebaikan nak Rudy"
"Ibu, Sinta tidak seperti itu" sela Sinta membela diri. "Tunggu setelah Sinta kembali dari Desa Xxx, ada satu kabar baik yang akan membuat ibu mengerti bahwa mas Rudy tidaklah seburuk yang ibu pikirkan"
Sinta menantap lekat wajah khawatir ibu.
"Sinta mohon, ibu mengerti dan Sinta berjanji akan menjaga diri"
Ibu menghela nafas. Sinta menatap lekat hingga akhirnya memeluk tubuh sang ibu dengan penuh sayang.
"Sinta tau ibu cemas, tapi percayalah, Sinta bisa jaga diri" ucap Sinta pelan. "Dan percayalah nanti ada satu kabar baik yang akan segera datang dan akan membuat ibu bahagia" Sinta mererai pelukannya dan menantap wajah ibu yang masih terlihat awet di usianya yang sudah berkembang 5.
Ibu menantap sang putri penuh kasih. Gadis kecil ini memang tidak bisa di atur dengan mudah. Prinsipnya yang teguh sangat mirip dengan sang ayah yang sudah lama pergi meninggalkan keluarga ini.
"Ibu pegang ucapan kamu untuk percaya jika kamu bisa menjaga diri" balas ibu lembut.
Sinta tersenyum penuh arti.
"Sinta janji bu" sahut Sinta lembut. lalu kembali memeluk tubuh sang ibu.
"Nanti ibu tidak akan secemas ini lagi, ketika mas Rudy menjadi suami Sinta, maka mas Rudy yang akan menjaga Sinta dan membimbing Sinta dalam hidup ini. Dan ibu pasti akan kaget ketika tau siapa sosok menantu ibu yang benar-benar luar biasa baik" gumam batin Sinta yang masih merahasiakan sosok pria yang kemarin baru saja melamar dirinya.
***
Sinta berpakaian kasual kaos putih di padu padankan dengan rok bunga dengan rambut terkuncir di belakang.
Riasan yang tipis membuat Sinta cantik natural. Ibu memandang wajah sang anak dengan hati terharu. Betapa Sinta tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti dirinya dulu di kala masih muda.
"Bu, Sinta izin pergi ya" ucap Sinta berpamitan pada sang ibu ketika mobil jemput mewah telah berdiri di depan rumahnya.
Ibu melepas dengan berat, bagaimana tidak saat mobil mewah itu berdiri di depan rumah. Tiba-tiba para tetangga yang kepo berkumpul untuk melihat mobil orang kaya yang sering bertengger di rumah mbak Jamu Sinta.
"Kenapa kamu di jemput sih? ibukan susah bilang"
Sinta sedikit tak enak.
"Iya bu, maaf.. Sinta udah mau jalan sendiri tadi naik taksi tapi, mas Rudy larang dan kirim mobil buat menjemput"
Ibu hanya bisa menghela nafas berat.
"Maksud mas Rudy baik kok, bu" timpal Sinta yang tanpa sadar membela sang kekasih hati.
"Ibu harap, ini terakhir kalinya kamu di antar jemput dengan mobil mewah.. ibu tidak mau gosip buruk tentang kamu" tegas ibu memberi peringatan pada sang putri. "Gunakan uang kamu untuk membeli motor atau mobil jika cukup"
Sinta menggangguk. Kali ini ia tak bisa membantah, ucapan ibu cukup tegas.
"Ya sudah kamu pergi, ingat hati-hati dan jaga diri, kamu harus menjaga kesucian kamu" ibu memberi peringatan keras pada sang putri.
"Iya" sahut Sinta tak membantah. Lalu perlahan keduanya keluar dari teras rumah. Dan seorang pria patuh baya menyambut Sinta dengan mengambil alih tas bawaan Sinta.
"Sinta pergi ya bu" pamit Sinta untuk kedua kali.
Dan ibu melepas dengan berat.
Sinta pun berlalu masuk kedalam mobil sport mewah.
***
"Tuh liat, benerkan, si Sinta sekarang udah sering naik mobil mewah" celetuk salah satu ibu rumpi.
"Iya, sering banget kadang pulangnya malem lagi, kayak tadi malam itu, dia pulang kalau gak salah sudah jam 11 malam" timpal ibu rumpi lain memperkeruh.
"Ikh, Sinta pasti udah kecantol sama mas-mas kaya"
"Kok bisa ya, apa karena dia sakit hati sama dr. Sarah kali ya, kan gak lama lagi Agung dan dr. Sarah nikah.."
"Iya bisa jadi"
"Iya, aku juga gak nyangka kalau si Agung nikah sama dr. Sarah padahal yaa, kalau di liat-liat si Sinta ini udah lama suka sama mas Agung, kok jadi nikah sama dr. Sarah ya??"
"Di tikung kali?"
"Jahat banget kalau iya" sambung yang lain.
"Tapi masa iya Sinta sakit hati terus jadi ngegaet mas-mas kaya, coba pikir lagi deh, di tambah lagi tiba-tiba Sinta tak jualan jamu"
"Mungkin dia mau cepat kaya, biar bisa balas dendam"
"Ah, masa mbak Sinta segitunya, padahal baik banget yaa, ibunya juga bersahaja gitu.." timpal ibu rumpi yang membela.
"Ya, mana tau, kan sering tuh kita denger ya, cara terbaik membalas sakit hati yaa dengan cara begitu, harus jauh dari ekspektasi biar terkesan wow.. apa lagi mbak Sinta udah tambah cantik modis lagi"
"Pasti itu uang kasih sayang dari mas-mas kaya yang udah pakai mbak Sinta" cibir ibu rumpi yang kian julid.
Ibu Sinta masuk kedalam rumah tanpa menyapa para ibu-ibu rumpi yang mulai mengusili kehidupan sang putri.