
Keesokan paginya.
Terlihat Rudy tengah bersiap-siap untuk pergi kekantor. Namun pagi ini ada yang begitu berbeda. Tubuhnya terasa lebih ringan.
Sembari mengancingkan bajunya, Rudy mengingat-ingat hal apa yang telah ia lakukan hingga tubuhnya terasa lebih baik dan dapat tidur dengan nyenyak tadi malam.
Hingga kancing terakhir perpasang sempurna, Rudy menatap dirinya di depan cermin dengan pikiran tertuju pada satu orang.
"Apa karena jamu Sinta??" tanya Rudy pada dirinya sendiri.
Rudy menatap diri dengan mengangguk pas, pada penampilannya hari ini.
"Sepertinya aku harus selalu mengkonsumsi jamu itu.." ucap Rudy dan berlalu ia berpindah untuk meraih laci jam tangan dan juga laci dasi sembari memilih warna dasi yang cocok untuk ia kenakan.
Ia memasang dua asessoris penunjang penampilannya itu dengan percaya diri. Sebuah senyum terukir kecil.
Lalu ia kembali berbalik untuk melihat dirinya di depan cermin.
"Oke.." ucapnya dengan merasa puas lalu melirik jam tangan dan melihat jika jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Hari yang cukup padat.. " ujar Rudy yang seketika berlalu pergi meninggalkan ruangan wadrobe untuk memulai harinya dengan agenda kerja yang sudah di susun oleh Jimmy.
***
Dilain tempat, Sinta yang baru saja selesai membuat minuman jamu untuk pak Direktur Mahendra.
Kini terlihat ia sedang pusing memilih pakaian yang sudah ia letakkan di atas tempat tidur.
Kembali kalimat-kalimat menghasut dari Rudy ternginang kembali di dalam benak Sinta.
"Kamu harus tampil beda, buat kesan yang tak bisa Agung lupakan saat melihat kamu.." ucap Rudy saat itu.
Sinta pun menimbang cukup lama di depan dua setelan pakaian yang menurutnya sangat cocok. Namun sekarang Sinta pusing memilih di antara dua pakaian itu.
"Oke, cap-cip-cup..kembang kuncup, yang mana yang di pakai??" Sinta memilih dengan cara sederhana dan termudah menurutnya.
Dan akhirnya jari telunjuk Sinta memilih pada stelan dress yang berwarna crem hitam.
"Hmm, oke deh.. ini saja.." ucap Sinta dengan mengambil dress semi formal itu.
Tak beberapa lama setelah mengenakan dress itu, Sinta melihat dirinya di cermin.
Untuk sesaat ia terpaku.
"Rasa-rasanya udah lama gak pakaian sebagus ini.." ucapnya dengan takjub melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Bagaimana tidak, dress itu sangat pas di kenakan di tubuh Sinta, seolah ukurannya tidak meleset sedikit pun.
Tanpa sadar Sinta tersenyum kecil.
"Pinter juga mas Rudy milihin pakaian perempuan.." ucap Sinta dengan memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk melihat keseluruhan dress yang ia kenakan.
"Yaa, wajarlah, udah pernah dua kali nikah, pasti tau selera wanita.." celetuk Sinta yang akhirnya menyudahi rasa kagumnya.
"Semoga muka gue gak bentol-bentol, nanti kalau sempat aku harus beli kosmetik juga.." ucap Sinta dengan senang sembari mempercepat dandannya.
Ia harus tepat waktu tiba di kantor Mahendra. Entah mengapa ia tak ingin membuat mas Rudy menunggu.
"Eh, kenapa jadi inget mas Rudy terus??" gumam Sinta dalam hari. Lalu memyudahi memakai lipstik berwarna Pink di bibirnya.
"Harusnya kan semua penampilan aku ini untuk membuat mas Agung terpikat??" cibir Sinta dengan meletakkan lipstik di dalam wadahnya kembali.
"Ah-ha aku ini pasti kurang aqua kali yaa?? sampai bisa salah terus.." gumam Sinta dengan mengingat iklan di tv.
Namun untuk sesaat ia menantap dirinya di depan cermin.
"Padahal aku lebih cantik dari pada Sarah.." ucapnya dengan nada dingin. "Jadi aku pasti bisa dapetin hati mas Agung lagi.."
***
Di lain sisi, Agung baru saja mengantar Sarah kerumah sakit.
"Sarah?? lebih baik kamu istirahat dulu.."
"Gak papa kok mas, masuk setengah hari saja.. kasian pasien yang udah daftar.." jawab Sarah sembari hendak bermembuka pintu mobil.
Namun tanpa di duga, tangan Agung menahan lengan sang kekasih.
Sarah menoleh dengan wajah bingung menatap wajah khawatir sang kekasih.
Lalu tanpa di duga Agung menarik tubuh Sarah dan membuat wanita itu jatuh kedalam pelukannya.
Sarah terkejut ketika Agung memeluk tubuh tiba-tiba.
"Jangan paksaan diri, kabari mas jika kamu tidak kuat.."
Sarah mererai pelukan itu, dan hanya senyum simpul yang bisa ia berikan.
"Jangan banyak berpikir hal yang tidak perlu, mas akan selesaikan hal yang membuat kamu tidak nyaman.."
Sarah mengerti ucapan mas Agung, dan tak bisa menjawab apa pun.
"Terimakasih ya mas, selamat bekerja.." ucap Sarah hendak turun.
Namun lagi-lagi tangan Agung menahan, dan dalam sekian detik Sarah merasakan kedua tangan Agung meraih wajahnya dan satu kecupan pagi terjadi.
Dan Sarah hanya bisa menikmati moment yang tak pernah ia bayangkan. Ternyata mas Agung benar-benar pria yang luar biasa untuk dirinya.
***
Di saat yang sama Sinta berada di taksi online dengan semangat dan harapan yang ia bawa untuk dapat menguggah hati Agung.
Sedangkan Rudy yang berada di mobil sport mewahanya terlihat bersemangat memulai hari, dan berharap bisa memulai misi barunya bersama Sinta.