Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
2 kali??



Dan akhirnya, ibu Reni tersenyum hangat menyambut pasien spesialnya.


"Selamat bergabung.." ucap Ibu Reni dengan wajah senang menyambut kehadiran Rudy yang akhirnya memilih untuk tinggal.


Rudy hanya menantap biasa.


"Apa kamar anda nyaman? apa anda ingin bergabung di kamar kemah untuk berbaur dengan peserta yang lain??"


"Saya, saya cocok di kamar sekarang.." jawab Rudy tenaga.


Ibu Reni mengangguk.


"Baiklah.. kalau begitu teman saya Ali akan bersama anda memberi arahan.."


"Tidak usah.." tolak Rudy.


Ibu Reni jeda.


"Perlakuan saya seperti peserta yang lain.. saya akan ikuti setiap kegiatan sama dengan yang lain"


Mendengar hal itu, ibu Reni tersenyum.


"Oh, baiklah.. saya hanya takut anda tidak nyaman jika bergabung dengan peserta lain yang mungkin.."


"Tidak apa-apa.." potong Rudy menegaskan bahwa ia yakin dengan pilihannya. "Jadi kapan kegiatan berikutnya.."


Ibu Reni melihat pada jam tangannya.


"Hmm, mungkin sore, karena saat ini peserta sedang di beri pengarahan yang sebentar lagi akan selesai.."


Rudy mengangguk.


"Baiklah.."


***


Dan akhirnya, Rudy keluar dari ruang ibu Reni. Ia melihat suasana camp yang berbeda. Pemandangan alam begitu kental, udara sejuk juga masih terasa walau sudah hampir jam 11.


Rudy melihat kesekeliling pemandangan yang begitu tenteram nyaris tanpa kebisingan juga polusi udara.


Rudy menarik nafas panjang mencoba untuk menghirup udara segar.


Namun sayup-sayup terdengar suara dari pengeras suara yang mengusik Rudy.


Dan hal itu membuat Rudy penasaran karena terdengar kalimat yang cukup berkesan.


***


Di tempat lain, terdengar pemateri yang memberi banyak kata-kata berkesan.


"Sedepresi apapun kamu, serumit apapun masalahmu, kalian dapat menyerahkan semua urusan pada yang Kuasa"


Semua peserta mencerna dengan hikmat.


Sinta tenggelam dalam pikirannya.


"Dan proses sembuh terbaik adalah dengan mendekatkan diri kembali pada sang pemilik hidup"


"RencanaNya, takdirNya semua telah tertulis digaris tangan kita.. hanya saja, kita masih punya kesempatan untuk mengubah jika kita mau berdoa agar semua itu dapat berubah menjadi lebih baik.."


"Seburuk apa pun kesalahan yang sudah kita perbuat, bahkan sejahat apapun perbuatan kita, namun Tuhan selalu membuka pintu maafnya"


"Mungkin kesalahan kita tak bisa dimaafkan oleh manusia, tapi Allah selalu punya tempat khusus tiap umatnya yang mengakui kesalahan dan memohon ampun padaNya.. "


"Jadi mari, perbaiki diri kita, perbaiki sisi religius kita dengan sang maha pencipta, rentangkan tangan pada langit dan tundukkan pandang dengan rasa serendah-rendahnya untuk berdoa, meminta pada yang Kuasa yang tak pernah tidur.. untuk mendengar tiap doa walau rasa-rasanya teramat sulit untuk kita mulai.."


Hening tak ada satu patah kata pun yang membantah.


Dan terlihat diluar ruangan itu Rudy berdiri dengan mendengarkan kata-kata luar biasa itu. Ia seolah tertampar kuat, karena sisi imannya sebagai umat sangat tipis.


Ia merenungi kembali dirinya, dan semua yang di ucapakan mentor tersebut adalah jawaban dari rasa penyesalan yang tak pernah bisa ia sudahi.


Bahwa selama ini ia lupa akan Tuhan, lupa akan sang pencipta karena kesombongan yang begitu kuat menutupi hatinya.


Semua peserta satu persatu keluar dari ruang itu. Begitu juga dengan Dela dan Sinta.


"Aku jadi lapar.." ujar Dela.


"Aku juga.." sahut Sinta sembari bangun dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi.


Namun pada saat langkah Sinta dan Dela menuju keluar tanpa sengaja pundak Sinta berpas-pasan dengan seorang pria yang malah berjalan untuk masuk kedalam ruangan.


Brak..senggolan tak sengaja itu sedikit membuat Sinta kaget.


"Ah, maaf.." ucap Sinta spontan.


Namun pria yang di tabrakan malah tak mengubris, ia malah berlalu pergi menuju mentor yang masih berada didalam ruangan itu. Sinta pun hanya mengerut kesal.


"Kamu gak papa Sin??"


"Ah, enggak.. yuk.."


***


Malam harinya, setelah melewati beberapa rangkaian materi panjang penenang jiwa.


Kini para peserta di ajak untuk menikmati suasana malam dengan acara kumpul sembari duduk mengitari api unggun yang di buat 4 titik.


Para peserta pun di buat menjadi 3 kelompok sehingga Sinta dan Dela terpisah. Namun Fika malah menjadi satu kelompok dengan Sinta.


Kelompok sinta terdiri dari 6 wanita dan 4 pria. Dan tak di sangka pria yang tadi siang kini berada satu kelompok dengan Sinta.


Terjadi obrolan basabasi sebagai anggota kelompok dengan saling memperkenalkan diri.


"Saya Fika, 25 tahun saya berada di sini karena.." ucap Fika tertahan mengambil jeda. "Karena saya di tinggal nikah oleh mantan kekasih saya.." terang Fika dengan nada berat.


Dan setelah Fika, kini Sinta pun mendapat giliran.


"Saya Sinta, 25 tahun.. saya berada di sini, karena dikhianati teman dekat dan tak bisa mengapai orang yang saya cintai.."


Beberapa mengangguk.


Dan perkenalan itu pun terus bergulir. Hingga tiba pada peserta terakhir.


"Saya Rudy.." ucap Rudy singkat padat dan kaku.


Semua menunggu penjelasan Rudy, namun ia tak melanjutkan ucapannya. Hingga seorang pria di anggota itu memaksa.


"Kenapa mas Rudy bisa ada di sini?"


Rudy sedikti tak nyaman.


"Hm, saya gagal.."


"Gagal kenapa??" tanya yang lain yang tiba-tiba jadi penasaran.


Rudy mulai sedikit membenarkan duduknya.


"Saya dua kali gagal dalam pernikahan.." jawab Rudy yang tak bisa mengelak.


Sontak jawaban Rudy pun membuat para anggota mematung tak percaya.


"Du-dua kali cerai??" tanya Fika yang paling kaget.


Rudy mengangguk.


Sinta cuma bisa geleng-geleng kepala.


"Dua kali itu sih bukan gagal?? tapi udah ketagihan!! pasti nie cowok gatel, gak puas sama satu perempuan!!" rutu batin Sinta yang geram mendengar tentang perceraian yang sudah pasti pihak wanita yang menjadi korban.


Dan entah mengapa Sinta jadi tidak suka melihat sosok Rudy ada di kelompok itu.


"Kenapa camp move on bisa nerima peserta begini sih??" rutu Sinta yang tak habis pikir kenapa ada pria dengan catatan percerai bisa ada di camp yang lebih cocok untuk anak-anak muda.