
Menjelang sore hari.
Setelah Sinta menyelesaikan beberapa urusan tentang perizinan. Karena lelah ia iseng mengirim pesan pada sang kekasih.
"Mas Rudy.." pesan terkirim.
Dan selang beberapa detik centang dua itu berubah biru.
"Ya.."
Sinta tersenyum usil.
"Kangen.." ketik Sinta lincah membalas cepat pesan mas Rudy.
Pesan terkirim. Dan lagi-lagi pesan itu terbaca oleh sang penerimaan.
"Ya, udah sini..Mas di kantor.." balas Rudy yang sangat-sangat singkat jelas dan to the poin.
Sinta terkekeh membaca pesan sang kekasih yang jauuuuuh, dari kesan romantis ala anak muda yang sedang dimabuk cinta.
"Ini..nie.. ketika pacaran di usia lanjut, no neko-neko.. duh mas Rudy ku ini, bikin gemes aja sih.. jadinya aku kayak anak kecil nakal sama kamu mas.." rutu Sinta yang tak bisa berkutik ketika berhadapan pria dewasa ini.
Dengan wajah berbinar, akhirnya Sinta mencari taksi untuk bisa bertemu sang kekasih.
***
Dan kini diruangan, Rudy mendengarkan celotehan panjang kali lebar Delon yang tak berhenti.
Sang wakil Direktur ini super duper marah pada dirinya karena tak mengikut sertakan dirinya dalam pertemuan dengan pak Dewa.
"Lo, ya jadi teman gak ada baiknya sama gue.. lo harusnya kasih kabar kek, atau suruh si Jimmy Ling itu kabari gue?? tega lo Rud" Delon tengah mengeluarkan seluruh emosinya.
Rudy hanya mendengar tanpa membantah ucapan Delon. Ia tak mengubris dan sibuk menyeleksi hasil audisi mitra Mahendra yang kini mulai masuk semi final produk.
"Kalau bukan gue, lo gak bakal tuh ketemu dan kenal pak Dewa.. ck, bisa-bisanya lo lupain gue.. Enak banget lo, bak kacang lupa kulit.." tukas Delon kesal.
"Enak dong.." sahur Rudy santai.
Delon kian meradang, namun ia tak bisa berbuat apa-apa dengan sikap acuh Rudy.
"Tapi kenapa bisa tiba-tiba pak Dewa datang? apa kontrak ini hanya sampai Resort selesai??"
Rudy mengalihkan tatapannya melihat Delon sekilas.
"Nah itu, coba tebak.." perintah Rudy tersenyum usil.
Delon kian gigit jari.
"Ukh, lo kan tau gue benci banget sama tebak-tebakan.. apa sih susahnya jawab.. minimal kosakata gue gak terbuang sia-sia.."
Rudy lagi-lagi hanya tersenyum. Namun konsetrasinya tetap tertuju pada tugas yang sedang ia pegang.
Delon kesal, ia tak bisa masuk pada pemikiran Rudy. Ya, walau Rudy memberikan jabatan sekelas wakil Direktur untuknya, namun tetap tidak ada yang bisa ia mengerti dengan jalan pikir sang Direktur sendiri.
Delon menatap rona wajah Rudy tak biasa. Delon menelik, gestur gerak gerik Rudy yang berbeda.
Dan saat lirikkan mata Rudy tertuju pada benda kecil yang sesekali ia raih bahkan sampai menimbulkan senyum di wajah Rudy. Seketika wajah Delon berubah gusar.
"Kau, sedang membalas pesan siapa??"
Rudy acuh tak menjawab dan kembali meletakkan handphonenya di sisi laptop.
Terlihat jelas jika sekilas wajah Rudy memancarkan hal yang tak bisa.
Namun Delon tak mau menduga-duga. Ia tak ingin memusingkan hal yang tak mungkin terjadi pada Rudy.
"Minggu depan aku akan ke Resort.."
Delon kaget.
"Ada apa??"
Rudy menilik Delon.
"Hanya liburan singkat.."
"Liburan? kau bercandakan?? Resort itu belum selesai bahkan belum terisi interior.."
Rudy lagi-lagi membuat pernyataan gantung yang membuat Delon frustasi.
"Ah, sudahlah.." tepis Delon menyerah.
"Pulang lah.." perintah Rudy.
Namun terlihat Delon enggan beranjak.
"Heh, pulang.." perintah Rudy.
Namun Delon malah berselonjor di sofa itu dengan wajah gambek.
"Kau jangan kejam pada ku, aku ini satu-satunya temanmu setelah Topan pergi.." singgung Delon sengaja.
Deg.. Rudy terdiam.
"Bagaimana pun kau harus berterima kasih padaku, kalau bukan karena aku kau tidak akan bisa waras lagi.."
Rudy menggeleng. Teman satu-satunya apaan? yang ada teman sialan yang membuatnya hampir jadi hantu di hutan belantara..
Tak lama di saat obrolan Direktur dan Wakil Direktur itu tak jua menuju ujung. Tiba-tiba terdengar suara wanita yang sedang berbicara bersama Jimmy di depan ruang Rudy.
Rudy merespon.
Dan tak lama sebuah ketukan berbunyi dari daun pintu ruangan itu.
Tok..tok..
Daun pintu terbuka, sosok yang di tunggu pun tiba.
Sinta masuk dengan wajah tersenyum pada sang kekasih yang terlihat duduk di kursi kebesarannya.
"Mas Rudy.." panggil Sinta manja sembari berlari kecil.
Rudy yang tadi serius di meja kerja seketika berubah hangat dan langsung menyambut wanita itu dengan antusias.
"Apa tadi terlalu.. ?" tanya Rudy terpotong kaget, ketika kedua lengan Sinta menyusup langsung kepinggang Rudy dengan manja memeluk tubuh Rudy.
Di lain sisi, ada sorot mata Delon yang mematung melihat kemesraan sang Direktur dengan wanita idaman lain yang tidak jelas kelihatan wajahnya.
Tangan Delon secara spontan menutup mulutnya karena terlalu syok.
Tak lama sebuah lirikan tajam mematikan dikirim Rudy untuk membuat Delon bungkam.
Delon seketika paham dan memberi kode jempol tanda aman dan langsung menarik gerakan resleting dari sisi mulutnya yang intinya ia tutup mulut.
"Mas.. kita minum yuk.. Sinta mau melayang lagi" pinta Sinta manja.
Mendengarkan hal itu kedua bola mata Delon terbelalak tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Apa?? apa tadi ucap wanita itu Melayang?? Me-la-yang??" dua bola mata Delon menatap Rudy dengan isyarat penuh tanda tanya besar.
Rudy membalas dengan isyarat sengit, jika itu tidak seperti yang di bayangkan Delon.
Delon pura-pura paham walau rasanya ia ingin sekali melihat siapa wanita yang berhasil masuk kedalam kehidupan kelam sang teman.
Rudy perintah kode pada Delon untuk keluar diam-diam.
Delon enggan.
Namun tatapan mematikan Delon membuat si tukang kepo itu perlahan pergi.
Delon keluar dengan senyap sehingga Sinta tak menyadarinya.
Hingga beberapa saat karena tak kunjung mendengarkan jawaban sang kekasih, akhirnya Sinta menegadahkan wajahnya menatap sang kekasih spesialnya.
"Mas, kok gak jawab sih.. boleh gak??" tanya Sinta berharap pria ini akan membawa dirinya tempat istimewa itu.
Dan Rudy hanya tertunduk membalas tatapan Sinta yang terlihat lelah.
Rudy mengusap wajah Sinta dan untuk beberapa menit ia begitu bersyukur bertemu dengan gadis jamu yang membuat sisi kosongnya terisi.
"Mas??" panggil Sinta manja.
Rudy hanya tersenyum simpul tak menjawab.
"Boleh ya, ketempat itu lagi.." pinta Sinta.
Rudy tetap diam tak menjawab.
"Mas??" panggil Sinta sedikit memaksa dengan wajah cemberut gemes.
Dan melihat hal itu, sukses membuat Rudy bergejolak. Hingga tanpa banyak bicara Rudy langsung mengecup bibir Sinta.
Sinta terkesiap.
Tubuh Sinta hampir lemah menerima ciuman spontan nan tiba-tiba itu.
Namun Rudy mampu menahan punggung Sinta dan memeluknya dengan intim. Dengan terus bermanja di bibir Sinta yang membuat hasratnua naik.
"Ranum dan manis, semanis ini gadis perawan??" gejolak batin Rudy yang kian ketagihan mengecup bibir Sinta.
Sinta pun kini mulai mengimbangi ciuman basah itu.
Hingga tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan milik Sinta.
Kruurururrkk..
****..
Ciuman itu terhenti dan seketika wajah Sinta berubah merah malu.
"Kamu bisa selapar itu?" decak Rudy yang terkekeh.
"Ikh, jahat banget sih..tadinya mikir biar bisa makan bareng loh.. " tukas Sinta yang kepalang malu namun kesal juga.
Rudy kian tertawa melihat wajah malu Sinta.
Sinta mendorong tubuh Rudy. Namun tiba-tiba Rudy malah kian mengunci tubuh Sinta di pelukannya.
"Kamu di larang pergi, sebelum kenyang.."
"Hah??"
Rudy tersenyum usil. lalu mengecup sekilas kening Sinta.
Cup..
"Ayo mas temenin kamu makan dan mas bakal kasih kabar yang pasti kamu gak percaya.."
"Apa??" tanya Sinta.
"Ada deh..yuk kamu harus makan dulu, masa mas sudah sekaya ini kamu masih lapar.. mau taruk dimana muka mas.." tukas Rudy.
Lalu dengan cepat tangan Rudy mengandeng tangan Sinta dan menarik gadis jamu itu untuk ikut dengan dirinya.
Namun tiba-tiba langkah Sinta berhenti dan itu membuat Rudy ikut terhenti heran.
Rudy menoleh.
"Kenapa?"
Sinta berwajah malu.
"Hmm, boleh lagi gak??"
Kening Rudy tertaut.
Lalu satu jari telunjuk Sinta jatuh pada bibir Rudy.
Rudy malah makin gemes dengan tingkat Sinta yang membuatnya bak masuk puber kedua.
"Pasti.. pasti akan mas kasih lebih.."
Sinta berubah senang dan akhirnya kedua sejoli itu pergi meninggalkan ruang kerja Direktur Mahendra.
Dan ketika Sinta dan Rudy meninggalkan ruangan.
Sebuah telfon tak terduga pun masuk dalam handphone Rudy, Ibu.