
Sedan taksi online Sinta tiba di depan gedung Mahendra. Ia turun dengan wajah tersenyum. Untuk beberapa saat ia mengambil nafas siap.
"Ini memang jalan kamu Sinta.." ucap Sinta lalu mulai melangkahkan kakinya masuk menuju dalam gedung Mahendra.
***
Di ruang Direktur Rudy sedang bersama seorang tamu yang tak biasa. Terlihat pria berparas India itu duduk dengan senang mendengar cerita sang teman.
"Jadi kamu mau mengembangkan minuman herbal ini??"
Rudy mengangguk pelan.
"Ya, dan aku sarankan kau juga harus mencobanya.." ucap Rudy bersemangat.
"Aku pikir kau tidak tertarik pada minuman herbal.."
"Aku hanya ragu, karena kegemaran pasar sangat tidak menentu.. tren konsumen terus berubah-ubah karena para selebgram yang membawa pengaruh pada pengikut mereka.."
Pria keturunan India itu mengangguk.
"Benar, belakangan gaya hidup sehat tengah di gambar gembor kan.. bahkan sekarang jenis minuman dan makanan dari bahan organik tengah naik daun.."
Rudy mengangguk setuju.
"Karena itu Gamal, aku ingin membuat satu perusahaan kecil diluar Mahendra.. entah mengapa aku berkeinginan untuk merintis satu usaha dengan skala kecil.. yaa anggaplah, sebagai investasi cadangan.."Rudy menjelaskan rencana yang sudah ia rancang.
Dan tak beberapa lama terdengar suara pintu terketuk.
Tok.. tok.
Jimmy masuk dengan sopan.
"Maaf pak, mbak Sinta sudah datang.."
Rudy merespon.
"Oke, suruh dia masuk.." perintah Rudy.
Jimmy mengangguk paham, lalu tak lama berlalu dengan keluar dari ruang atasannya.
Dan tak terdengar langkah kaki dari sepatu wanita yang perlahan masuk kedalam ruangan Rudy.
"Selamat pagi mas Rudy.." sapa Sinta tersenyum.
Gamal terpaku.
"Kau yakin?? dia mbak jamunya?" tanya Gamal dengan tatapan tak berkedip.
Rudy yang duduk membelakangi arah masuk ruangannya pun perlahan berbalik. Dan sesaat ikut terkejut dengan sosok yang baru saja menyebutkan namanya.
Perlahan Rudy bangun dari duduknya dan menantap jelas sosok yang terlihat berbeda.
Sinta tersenyum kecil sembari melangkah mendekat.
"Maaf ya, Sinta sedikit telat dari jamnya.."
Rudy tersadar.
"Ah, ya tak papa.. Gamal, perkenalkan, dia gadis jamu yang aku maksud.. Sinta.." ucap Rudy sembari memperkenalkan Sinta pada Gamal yang terlihat mengulurkan tangannya pada Sinta.
Sinta menyambut dengan sungkan.
"Sinta.."
"Gamal.."
Sinta tersenyum lalu jabatan tangan itu terrerai.
Lalu ketiganya duduk di sofa terempuk ruang Direktur.
"Awalnya aku pikir Rudy bercanda, tapi..hmm, aku jadi mengerti keseriusan Rudy setelah melihat "Mbak jamu" yang di maksud.."
Rudy merespon tenang.
"Kau jangan salah mengerti.. Sinta dan aku teman yang cukup unik.."
"Teman unik??" ulang Gamal.
Rudy sedikit tersenyum.
"Ya, aku sempat tersesat di hutan bersama Sinta dan jika saat itu Sinta tidak kembali maka mungkin didepan namaku sudah Almarhum.."
Gamal merespon tak percaya.
"Wah, kau serius? aku pikir cerita tentang kau tersesat hanya bohonga.."
Sinta tersenyum simpul. Rudy menatap Sinta sekilas.
"Oke, cukup sudah soal itu.. sekarang kita akan membicarakan bisnis baru.. tapi kita harus tunggu satu orang lagi yang akan bergabung dengan ide ini.. " ujar Rudy memberi kode misteri pada sosok yang akan ikut bergabung.
Gamal dan Sinta terlihat penasaran.
Tak beberapa lama terdengar pintu kembali terketuk.
Ketiganya merepson pada bunyi ketukan pintu.
Dan ketika pintu di buka, sosok Agung Perdana pun masuk kedalam ruangan Direktur.
"Selamat pagi pak, ma-af.." ucap Agung tergantung ketika tatapanya terpaku pada sosok yang berada diruangan itu. "Sin-ta??" desis Agung yang mematung di tempatnya. Ia cukup terkejut dengan penampilan Sinta yang tak biasa.
Rudy tersenyum licik melihat reaksi Agung.
"Mas Agung??" lirih Sinta yang ikut terkejut dengan sosok pria yang ia sukai kini berada di ruangan ini.
***
Dan saat ini ruang Direktur terasa atmosfer yang berbeda.
Terlihat tatapan Agung lekat menatap Sinta. Raut wajahnya berubah dengan sangat kentar.
Sinta terlihat gelisah karena tatapan tak bisa pria yang ia puja sejak dulu.
Rudy melihat jelas tatapan Agung pada Sinta. Namun ia mencoba untuk profesional untuk sesaat.
Perlahan pembahasan tentang jamu mbak Sinta pun bergulir.
Dan Agung kembali terkejut ketika mengetahui jika ternyata Sinta telah mengingat kontrak kerja dengan Direktur Mahendra. Hal itu kian membuat Agung menatap tajam Sinta dengan berjuta tanya yang mungkin akan meledak.
"Aku berpikir membuat perusahaan kecil diluar Mahendra dan mengembangkan jamu produk Sinta ini dengan berbeda.." ujar Rudy.
Dan tak lama Jimmy yang tiba-tiba berada di sana memberikan beberapa kertas di hadapan ke 3 tamu penting Direktur.
Agung, Gamal dan Sinta membaca dengan seksama.
Sinta terlihat tak percaya akan susunan rencana yang menurutnya sudah sangat keren, bahkan rasa-rasanya ia tak pernah membayangkan perencanaan jamunya akan sebagus ini.
"Jadi jamunya akan di ubah dalam bentuk serbuk?"
Rudy menangguk.
"Untuk nilai efisien, ya.. jamu akan kita olah menjadi serbuk, sehingga konsumen bisa dengan mudah membawa produk jamu kemana pun, dan dapat menikmati minuman itu kapan pun.." jawab Rudy.
Setelah mendapat penjelasan Rudy, Sinta kembali membaca isi perencanaan yang terlampir begitu rapi dan sangat matang.
"Dan aku ingin, beberapa komposisi bahan di pasok oleh Gamal.. kamu bertanggung jawab untuk masalah bahan terbaik.." perintah Rudy.
"Dan untuk Agung, kamu harus mempersiapkan beberapa rancangan kemasan yang menarik untuk dua produk jamu ini.." perintah kedua Rudy pada sang bawahan.
"Maaf pak.." potong Agung terlihat tenang.
Sinta menoleh pada Agung, begitu pula dengan Rudy.
"Saya rasa, jika ingin membuat minum jamu.. itu tidak semudah yang pak Rudy bayangkan.." jelas Agung dengan tatapan serius.
Rudy merespon dengan sedikit bersandar pada sofa.
"Maksud kamu??"
"Jamu Sinta sudah terkenal dengan khasiat yang sudah di pelajari lebih dahulu.. mengapa jamu Sinta di buat dari rebusan, karena kasiat pada air rempah itu telah menjadi ekstrak bahan jamu.. sehingga efek yang di dapat juga lebih cepat di rasa.." jelas Agung.
Sinta menatap Agung begitu lekat. Ia tidak menyangka jika mas Agung mengetahui hal itu.
Lalu tak lama Agung menatap Sinta tajam.
"Dan saya menilai, jika teman saya Sinta ini tidak sadar dia sudah membuat keputusan yang gegabah.." ucap Agung menatap lekat Sinta.
Sinta terpojok.
Rudy melihat kegelisahan Agung dengan sangat jelas. Dan ia merasa senang.
Agung kembali menatap sang atasan dengan wajah dingin.
"Jadi, maaf pak.. saya tidak bisa ikut dalam perencanaan bisnis baru ini.." ucap Agung sembari meletakkan kembali kertas rencana di atas meja. Dan ia pun bangun dari duduknya.
Sinta melihat tindakan penolakan Agung.
"Mas Agung?? kenapa gitu? mas gak liat ini jalan terbaik untuk jamu Sinta.. ini.." ucap Sinta terpotong ketika tiba-tiba jemari Agung meraih lengan Sinta.
"Ayo, kita keluar.." perintah Agung dengan tatapan marah pada Sinta.
Sinta tersentak dan bangun dengan paksa karena tarikan tangan Agung yang kuat.
"Mas Agung.." protes Sinta.
Namun Agung tidak peduli.
"Maaf pak, kami Permisi.. " ucap Agung dengan menarik Sinta.
Namun tanpa di sangka Rudy bergerak dengan cepat dan menahan lengan Sinta yang satu lagi.
Dan Sinta pun tertahan.
Agung berbalik melihat pada hal yang tak biasa. Ternyata sang Direktur menahan lengan Sinta di sisi lain.
"Mau kamu bawa kemana Sinta??" tanya Rudy menatap tajam pada Agung.
Seketika Sinta berada di antara dua pria yang sama-sama menarik kedua belah tangannya dengan sangat kuat.