
Dan di sepanjang jalan, Rudy banyak mengetahui sosok Sinta. Banyak cerita menarik yang terukap tentang jamu Sinta.
"Jadi resep jamu ini sebenarnya milik nenek kamu??"
Sinta mengangguk.
"Dan dulu jamu ini di turunkan pada ibu, tapi.." ucap Sinta tergantung.
"Tapi kenapa?"
"Setelah pindah ke kota, ibu tidak lagi menjual jamu dan.." ucap Sinta kembali terhenti seolah ada jeda yang membuat hal itu sedikit berat ia ceritakan.
Rudy menunggu dan melihat raut wajah Sinta ya f tak biasa.
"Apa saat itu terjadi sesuatu pada ibu mu?"
Sinta menghela nafas sembari mengangguk pelan.
"Ayah pergi.."
Rudy sedikit terdiam.
"Titik terendah yang pernah ibu lalu seorang diri dan semenjak itu ibu tak lagi membuat jamu.."
Rudy sedikit mencerna.
"Entah apa yang Ayah pikirkan saat itu, tapi.. Ayah lebih memilih kembali pada keluarganya dan menikah dengan wanita kaya" Sinta tersenyum kecil mengenang masa terburuk dalam hidupnya.
Rudy dapat merasakan sisi sedih Sinta. Lalu perlahan ia menyentuh jemari Sinta dengan penuh sayang.
Sinta menyadarinya dengan mencoba untuk tersenyum seolah ia dapat mengatasi masalah itu.
"Pasti ada alasan yang mungkin cukup berat saat Ayahmu memilih hal itu.. dan mungkin kini ia berada di titik penyesalannya" ujar Rudy bernelangsa seolah cerminan dirinya yang ia lewati.
Sinta menatap lekat, dan untuk beberapa saat ia penasaran akan kehidupan masalalu pria yang sekarang berada di sampingnya ini.
"Apa dulu mas mengalami hal yang seperti itu?"
Deg.. sesaat Rudy tertohok akan pertanyaan tak terduga dari Sinta.
Dengan wajah ragu Rudy mengangguk.
Dan untuk sesaat Rudy sedikit mengenang saat ia memilih Bella yang ia pikir hamil dari benihnya. Hingga ia rela mengorbankan Alia yang sudah 6 tahun menjadi istrinya.
"Pilihan yang fatal, hingga akhirnya semua hancur tak bersisa" jawab Rudy bernada penyesalan yang cukup mendalam.
Sinta menatap raut wajah Rudy.
"Andai?? jika pilihan itu kembali datang.. apa mas akan kembali pada mantan istri mas?? atau??"
"Alia sudah menikah" potong Rudy cepat.
Sinta terpaku.
"Dan saat ini ia memiliki seorang anak dari pria yang dapat memberi kebahagiaan yang ia cari selama ini" timpal Rudy tenang, namun terdengar jika ia mencoba kuat.
Sinta benar-benar tak berkutik. Ucapan Rudy sekilas memperlihatkan sisi terlemah pria yang ia pikir sudah pulih dari luka penyesalan.
Dan entah mengapa, Sinta ingin memeluk Rudy. Pria ini mempunyai sisi yang tak bisa dengan mudah membuatnya pulih.
Namun di luar dugaan seketika Rudy tersenyum simpul.
"Tapi aku berpikir, ini sudah jalannya sehingga takdir menemukan aku dengan kamu yang sangat-sangat.."
Sinta menantai.
"Sangat apa?" pancing Sinta.
"Sangat manja dan mas jadi gratis minum jamu setiap hari" sambung Rudy terkekeh.
"Ikh, mas ini.." balas Sinta gemes dengan seloroh Rudy yang garing.
Namun di luar dugaan Rudy meraih jemari Sinta dan membawanya untuk ia kecup.
Cup.. ucapan yang menyentuh dan di perlakuan bak putri. Membuat Sinta merasa tersanjung. Dan akhirnya Sinta memilih untuk memeluk sisi samping pria yang telah menjadi teman juga partner yang sangat lengkap untuk menjadi pasangan hidupnya.
Rudy yang merasa senang di peluk manja oleh Sinta, hingga akhirnya ia menghadiahi satu kecupan sayang is pucuk kepala Sinta.
"Kau mungkin bukan yang pertama, tapi aku pastikan kau orang terakhir yang pantas aku perjuangkan" lirih batin Rudy yang kian mantap dengan hatinya pada Sinta.
***
Di sepanjang jalan yang mulus. Tak terasa hari sudah menjelang sore yang sedikit mendung.
Merasa lapar Rudy mengajak Sinta untuk singgah di salah satu warung makan sederhana.
Setelah duduk di tempat yang kosong. Rudy memesan satu nasi sop dan ternyata Sinta juga memesan hal yang sama.
"Sop adalah makanan kesukaan Sinta"
"Oya?? mas tau" sahut Rudy antusias.
"Iya, suka sup juga bukan tanpa alasan, karena depresi berat dan sempat.." ucap Sinta tergantung. "Jadi ibu suka masak sup, apa pun sup untuk bisa Sinta makan.."
Mendengar hal itu, sesaat Rudy mengingat cerita Agung yang dulu pernah menjelaskan sisi kelam Sinta remaja.
"Dan sejak itu, sup malah jadi makanan favorit"
Rudy tersenyum.
"Kalau begitu nanti, kamu sering-sering masak sup buat mas ya??" pintu Rudy berseloroh.
"Hm? yakin?"
"Heem, apa lagi sup bubur kamu yang waktu itu juga sangat enak, rasanya jadi cepat sembuh.." ujar Rudy apa adanya.
Sinta tersipu malu.
"Yakin karena supbubur jadi sembuh?" pancing Sinta sengaja.
Rudy terkekeh.
Keduanya saling tersenyum malu. Dan tak lama sang abang penjual menghilangkan sup hangat keduanya.
Makan dengan syahdu di temani orang terkasih sangat membuat hari Rudy banyak berarti.
Sinta yang mampu menghidupkan kembali gairah hidupnya, membuat Rudy ingin selalu bersama Sinta.
Obrolan pun tak melulu tentang perasaan, keduanya sering membicarakan hal-hal yang menarik lainnya. Terlebih Sinta jauh lebih uodate tentang berita yang memang kalau menurut Rury tidak begitu berarti. Namun jadi hal penting karena Sinta yang membawa berita itu.
Disela-sela menikmati sup hangat itu. Sinta melihat sekitarnya.
"Mas? berapa lama lagi sampai Resort?"
Rudy yang sedang mengunyah pun melirik jam tangannya sambil mengira.
"Hmm, mungkin 1 jam lagi..kalau gak salah"
"1 jam lagi? kalau gak salah?" ulang Sinta bingung.
"Iya, karena letak Resort agak masuk kedalam..biasa sih gitu pas pergi sama pak Jito" jawab Rudy jujur.
"Oh, jadi mas sering ke Resort?"
"Enggak"
"Hah? enggak?" sahut Sinta kaget.
"Yaaa, dua kali lah, dengan kamu jadi 3" jawab Rudy enteng.
Seketika Sinta terselip rasa was-was.
"Semoga gak tersesat" hela Sinta.
Namun tak lama, lewat seorang nenek-nenek yang terlihat tua renta menegadahkan tangannya.
"Di beli nak?" ucapnya pelan.
Sinta menoleh kaget.
"Eh, enggak nek, makasih.."
"Beli nak, tolong saya laper"
Sinta tersentuh.
"Belum makan nek??"
Nenek itu menggelengkan kepala.
"Ya udah makan, saya bayar" kata Sinta cepat.
"Bener boleh??"
"Iya, dari pada saya kasih uang nanti takutnya nenek gak cukup.. jadi makan ya" ujar Sinta tulus. Lalu ia melambaikan tangan pada seorang pelayan laki-laki. "Mas-mas, tolong 1 porsi lagi ya buat nenek ini" tunjuk Sinta pada nenek perminta.
"Sinta??" seru Rudy menahan.
Sinta menoleh dengan senyum.
"Gak papa ya mas, soalnya jadi teringat nenek sendiri, kasian lapar" ujar Sitna apa adanya. Lalu ia bangun dan menuntun nenek tersebut untuk duduk di meja berbeda dengan dirinya. "Ayo nek, sini" ajak Sinta tanpa ragu.
Rudy melihat hal itu.
Nenek itu duduk dengan tak nyaman.
"Nanti bisa kotor nak tempat duduknya, biar bungkus saja, saya makan dirumah sama kakek"
Sinta kian tersentuh.
"Kakek dirumah juga belum makan?"
Nenek menggeleng.
"Ya udah pesan dua nek, gak papa..sekarang nenek makan dulu, nanti yang bungkus makan lagi dirumah.." pesan Sinta tulus.
"Ma-makasih ya nak" sahut sang nenek haru.
Setelah nenek duduk makan, Sinta kembali pada mejannya.
"Kamu jangan begitu? kalian aja dia bohong, kan banyak yang seperti itu" ujar Rudy picik.
"Ah, enggak..kalau iya, yaa itu urusan sama Tuhan saja, yang penting sinta tulus" jawab Sinta apa adanya.
Rudy tak berkutik, wanita di depannya ini sedikit mirip dengan sosok sang mantan istri yang selalu berpikir positif tentang orang.
Rudy menghela nafas.
"Ya sudah, kamu sudah siap makan? atau mau tambah lagi?" tanya Rudy.
Sinta menggeleng.
"Cukup mas, udah kenyang" sahut Sinta dengan mengelus perut rata.
"Ya udah mas mau bayar dulu"
"Eh jangan mas, biar sinta saja, soalnya mau sekalian bungkus untuk nenek tadi.."
Rudy menahan Sinta.
"Udah gak masalah, biar mas saja " ujar Rudy yang berlalu pergi menuju gerobak jual.
Sinta menghela nafas lega dan sekilas ia melihat nenek tadi makan dengan lahap. Tanpa sadar ia jadi merindukan sang nenek yang sudah Almarhum.
Tak lama Rudy kembali dengan melipat dompet dan hendak ia simpan kembali.
"Ayo kita jalan, cuaca jadi agak mendung, mungkin bakal hujan" ujar Rudy.
"Oke mas" sahut Sinta sembari meriah tasnya untuk ia kenakan di pundak. Dan berlalu pergi meninggalkan sang nenek tadi yang sedang menikmati makannya dengan lahap.