Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Tersesat (lagi?) jilid 2



Di sepanjang jalan tiba-tiba suasana berubah mendung seperti akan turun hujan lebat. Kabut yang menutupi daerah pegunungan itu membuat jarak pandang Rudy tidak jelas.


Di tambah lagi hari kian beranjak gelap, namun mobil yang di kemudikan Rudy masih terus berjalan seolah kehilangan arah.


"Masih jauh mas??"


"Kayaknya"


"Tapi ini mau 1 jam setengah mas, apa mas gak salah jalan?" tanya Sinta.


"Mas yakin ini jalannya.. lagian udah ada beberapa spanduk Resort tadi di depan jalan sana, pastilah Resort tidak jauh lagi" jawab Rudy masih santai.


"Tapi ini udah jauh loh mas, apa gak tanya sama penduduk sekitar aja?" saran Sinta.


"Gak usah, mas yakin gak lama lagi kita sampai di Resort"


"Semoga bener jalannya dan gak tersesat" seloroh Sinta menghela nafas.


Rudy yang mendengar malah jadi cekikikan.


"Kita kan gak lagi di hutan, masa iya kita tersesat untuk kedua kali"


"Ya mana tau? soalnya kita gak nemu itu Resortnya dari tadi"


"Tenang aja, pasti gak jauh lagi kok, sabar ya sayang"


Sinta menghela nafas lagi. Lalu masih mengedarkan pandangan pada kesekeliling jalan yang sudah mulai gelap.


Namun perlahan ternyata rintik hujan turun dengan membuat jarak pandang Rudy kian sulit.


"Yah, udah hujan" seru Sinta.


Rudy masih melaju tanpa berkomentar ia mencoba mencari tanda-tanda bangunan Resort yang tak kunjung ketemu tempatnya.


Di saat mobil terus melaju dengan kecepatan rendah, sekilap mata Sinta melihat sosok renta berjalan di bawah hujan rintik-rintik.


"Mas, itu nenek tadi bukan??" tanya Sinta sembari menujuk ke depan sisi kiri jalan.


Rudy berkonsetrasi melihat pada arah tunjuk sang kekasih. Dan sedetik ia terkejut.


"Ah, masa? nenek tadikan lagi makan waktu kita jalan, dan ini udah 1 jam berlalu, gak mungkin nenek itu sudah di sini" sahut Rudy tak percaya.


Roda mobil terus melaju dan melewati nenek tersebut.


Sinta merasa kasihan.


"Mas, berhenti dulu.." pinta Sinta cepat.


"Untuk apa?"


"Berhenti dulu" perintah Sinta memaksa.


Rudy dengan terpaksa menghentikan mobilnya.


Dan tak lama, Sinta tiba-tiba turun dari mobil. Rudy kaget.


"Sinta kamu mau ngapain??" seru Rudy yang bingung.


"Sebentar mas, kasian nenek itu" ujar Sinta yang menutup pintu mobil dan berlari menuju sang nenek renta di bawah rintik hujan.


Rudy tercengang dan hanya geleng-geleng kepala.


"Nenek??" seru Sinta berlari kecil dibawah rintik hujan.


Dan nenek renta itu berhenti dan melihat pada sosok yang tak asing.


"Bagaimana nenek bisa ada di sini?" Sinta bertanya dengan penasaran.


"Nenek mau pulang" jawab nenek renta itu.


"Mau pulang, itu kesana..kerumah nenek" jawab nenek lagi.


Perlahan rintik hujan kian jatuh lebat.


"Nenek saya antar saja ya" tawar Sinta dengan meraih lengan nenek renta itu.


"Jangan, gak papa"


"Tapi ini udah hujan lebat nek, ayo gak papa" ajak Sinta yang memaksa dengan menuntu nenek renta itu menuju mobil yang masih berada di tempatnya.


Rudy melihat dari kacaspion dengan wajah terheran.


Tak lama pintu belakang mobil terbuka. Dan betapa terkejutnya Rudy ketika melihat Sinta kembali dengan membawa nenek renta itu kedalam mobil.


"Mas, kita antar nenek kerumahnya"


"Sinta?? kamu apa-apa?" ujar Rudy protes.


Namun belum sempat mendengar protes dari sang kekasih, Sinta telah menutup pintu untuk nenek yang sudah berada di dalam mobil dan tak lama Sinta membuka pintu mobil untuk ia masuk.


Rudy tercengang melihat Sinta yang nyaris basah kuyup. Hingga Rudy spontan mengambil beberapa tisu untuk menyeka tubuh Sinta seadanya.


"Kamu apa-apa sih?" protes Rudy.


Sinta malah tersenyum.


"Kita antar nenek ini dulu ya mas, kasian pulang di tengah hujan lebat begini" bujuk Sinta.


Rudy sebenarnya tak suka. Apa lagi gara-gara nenek renta ini, aroma mobilnya jadi bau.


"Tapi kan??"


"Ayolah, sekali aja, lagian rumah nenek gak jauh mas, iya kan nek?" Sinta sedikit melepar senyum pada nenek renta yang berada di belakang kursinya.


Nenek renta itu merasa bersalah dan sedikit tertunduk ketika melihat wajah sinis Rudy yang sebenarnya keberatan.


Namun Rudy mengalah, ini ia lakukan untuk sang kekasih yang tampaknya begitu lemah dalam mengiba seseorang yang sudah renta.


"Jadi, dimana rumahnya nek?" tanya Sinta.


Di depan sana belok kanan" jawab sang nenek sungkan.


Sinta tersenyum hangat lalu menoleh pada sang kekasih.


"Kedepan lagi mas, belok kanan" perintah Sinta pada Rudy yang setengah hati.


Dengan wajah kesal Rudy menurut dan mulai melajukan mobilnya kembali.


Mobil pun melaju pelan di tengah hujan yang kian lebat.