
Tepat di jam 2 siang, akhirnya Sinta dan Rudy baru saja selesai makan pagi yang di jamak dengan makanan siang.
Sinta menikmati jus jeruknya sampai habis.
"Jadi kamu mau cari bahan tambahan apa di desa ini??" tanya Rudy.
Sinta merespon.
"Hm, tanaman akar maca" jawab Sinta sembari meletakkan kembali gelasnya.
Raut wajah Rudy berubah.
"Akar maca? nama yang cukup aneh"
Sinta tersenyum.
"Apa khasiatnya??" tanya Rudy penasaran.
Sinta berubah ragu.
"Hm, itu.." ucap Sinta tergantung sulit, tak mungkin ia menjawab pertanyaan sang kekasih jika itu adalah obat penambah gairah.
Namun di saat Sinta belum jawab, seorang pelayan laki-laki datang mendekat pada meja keduanya.
"Maaf pak Rudy.."
Rudy merespon dan menoleh.
"Ya?"
"Mobil sudah siap pak"
Rudy mengangguk.
"Baik, terima kasih" sahut Rudy membalas. Lalu tak lama, pelayan itu berlalu, dan Rudy kembali menatap Sinta.
"Kamu mau jalan sekarang?"
Sinta merespon.
"Mobil sudah siap, plus supir juga yang sudah hafal jalan daerah sini, jadi tidak akan tersesat lagi"
Sinta terkekeh kecil.
"Makasih ya mas"
"Kok kamu ketawa?"
"Habis lucu banget inget semalam"
Rudy ikut terkekeh, ia pun mengakui jika semalam adalah malam teraneh yang pernah ia lewati.
"Kalau begitu, Sinta jalan dulu ya mas"
"Heem" sahut Rudy mengangguk.
Sinta beranjak dari duduknya dengan membawa tas bersama. Lalu ia mendekat pada dan mendekat pada Rudy.
Cup.. satu ciuman di kening ia berikan pada pria terbaik yang pernah ia miliki.
"Kabari mas, jika kamu sudah sampai tujuan"
"Oke" seru Sinta sembari berlalu.
***
Rudy masih tinggal sendiri di meja makan setelah Sinta pergi.
Tak lama seorang wanita mandiri datang dengan membawa sebuah map di tanganny.
"Pak"
Rudy merespon.
"Pak Dewa akan tiba 1 jam lagi bersama rombongan"
Delik alis Rudy merespon tak senang.
"Rombongan?? siapa?"
"Saya juga tidak tau pak, tapi dari kabar yang terakhir mereka membawa 2 Mobil Haice bersama dengan 6 tamu yang di bawa pak Dewa.."
"Mengapa pak Dewa tak mengabarkan lebih awal?? apa kita siap?"
Wanita itu sedikit diam.
"Panggil pihak Resort, adakan rapat kecil untuk membahas tamu dadakan ini" perintah Rudy kesal. Dan wanita itu berlalu pergi memenuhi perintah Rudy.
Walau pak Dewa pemegang Resort seperti dirinya, namun tak seharusnya ia membawa tamu sebelum Resort di resmikan.
"Apa dia sengaja menguji aku?" rutu Rudy yang mulai tak nyaman bekerja sama dengan orang tua itu.
Berselang itu, tak lama seorang tua datang menghadap Rudy dengan wajah canggung.
"Permisi, pak Rudy cari saya??"
Rudy merespon dengan menoleh pada sosok paruh baya.
"Ah, iya pak Jawih.." sahut Rudy.
Jantungnya ketar ketir menunggu pertanyaan yang akan di lontarkan sang pemilik Resort.
"Pak, pak Jawih asli orang sini?? sudah berapa lama?" tanya Rudy apa adanya.
Pak Jawih kaget dan langsung merespon manggut-manggut.
"Saya asli desa ini pak, sudah lama dari kecil sampai umur segini masih di sini pak.."
"Umur bapak sekarang berapa?"
Pak Jawih terlihat berpikir.
"Kalau gak salah sekitar 57 atau masuk 58 hati pak"
"Oh, udah 50 han ya"
Pak Jawih manggut-manggut.
"Jadi pak Jawih tau dong, rumah tua disebelah Resort itu?" tanya Rudy apa adanya.
Pak Jawih kaget.
"Rumah kuno peninggalan Belanda itu pak?? yang di lorong sebelah sana?" pak jawih bertanya ulang.
Rudy mengangguk.
"Iya.. bapak tau??"
"Ya, ta-u pak" jawab pak Jawih ragu-ragu.
"Jadi tau disana ada nenek yang tinggal bersama kakek buta??"
Pak Jawih manggut-manggut kaget.
"Kok bapak bisa tau??"
Rudy menghela nafas.
"Saya semalam tersesat pak, dan gak tau malah sampai kerumah tua itu"
Deg.. pak Jawih terlihat kaget.
"Serius pak?"
Rudy mengangguk.
"Tapi, bapak gak kenapa-napa kan?? Kok bisa pak? kan jarang jalur itu di lewati dan memang sedikit berhutan kan?"
Rudy kembali mengangguk.
"Ya, saya gak tau pak, tapi semalam hujan cukup lebat dan saya muter-muter tapi gak ketemu bangunan Resort ini, malah jatuh kerumah nenek itu"
Pak Jawih mendengar dengan baik.
"Tapi kok bapak bisa tau kakek buta itu? apa bapak ketemu sama dukun itu?"
Deg.. Rudy terhenyak.
"Jadi, kakek buta itu memang dukun?"
Pak Jawih mengangguk.
"Dukun jahat pak, dan karena itu dia buta, begitu yang saya tau ceritanya"
Rudy kian penasaran pada sosok kakek buta itu.
"Lalu?"
"Ya, katanya setelah ia menumbalkan temannya hingga mati, ia menikahi istri temannya itu, itu nenek itu dan karena itu juga tiap anak yang mereka lahir selalu mati mendadak"
Rudy syok.
"Jadi?"
"Yaa, mereka sebatang kara pak, karena pernah berbuat jahat jadi itu karma untuk kakek nenek itu.. makanya warga banyak yang gak kasihan sama mereka, wong kerjaan sama setan, bunuh orang, terus selingkuh sampai kawin..kan jahat pak begitu"
Rudy mencerna.
"Tapi.."
"Tapi syukurlah bapak tidak kenapa-napa, lain waktu jangan pernah lewat jalan kesana lagi pak, takut nanti kena kutukan seperti mereka".. nasihat pak Jawih.
Rudy hanya manggut saja.
"Ya sudah, kembali kerja.."
"Baik pak terima kasih" jawab pak Jawih lega dan berlalu meninggalkan sang pemilik Resort.
Namun berbeda dengan Rudy, ia mengeluarkan secara kertas pemberian nenek renta itu.
Ia membaca kembali pesan yang tertulis dengan tulisan yang cukup rapi dan bergaya kuno.
"Carilah satu benda yang berbentuk boneka jerami di salah satu sudut Rumah istana..Jika ingin terlepas dari jeratan ilmu hitam itu carilah seseorang yang memiliki ilmu agama yang tinggi dan minta maaflah pada orang yang terluka hatinya karena keluarga anda.. dan lindungi wanita yang bersama anda, karena ada satu petaka yang akan membuatnya bersimbah darah".
Rudy membaca dengan gelisah. Ia tak ingin percaya tapi entah mengapa ia jadi was-was.
Rudy menatap lama, entah bagaimana ia harus menanggapi isi surat misteri ini.
"Aku harus segera pulang.." ujar Rudy yang kian terusik dengan sangkut paut keluarganya dalam hal ini. Dan sosok yang menjadi saksi kunci adalah ibunya sendiri.