Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Menimbang



3 Hari kemudian. Di satu malam dirumah Sinta.


Sinta menerima sebuah formulir dari ibu tentang program Mitra Mahendra yang mas Agung berikan saat Sinta tidak ada.


"Kamu jadi ikut program ini??" tanya Ibu pada sang anak.


Sinta menimbang lama. Ia membaca formulir itu.


"Kamu kan dari dulu ingin ikut program ini.." timpal ibu.


Sinta berpikir.


"Ia sih bu, awalnya sih gitu..tapi.."


Ibu duduk disamping Sinta dengan wajah sendu.


"Ikut saja, mana tau itu jalan rejeki kamu dan jamu yang selama ini kamu produksi..jadi bisa lebih terkenal.." ujar ibu.


Ucapan ibu memang ada benarnya, tapi dalam kondisi saat ini ia rasa itu akan berat. Bagaimana tidak, ia bisa saja sering ketemu dengan mas Agung dan itu menjadi cobaan terbesar Sinta.


Sinta menghela nafas lalu menutup berkas formulir itu.


Ibu ikut memperhatikan sikap Sinta.


"Sinta..ibu tau.. kamu berat karena pasti ada nak Agung diaana.. tapi kenapa harus sampai kamu mengorbankan keinginan kamu untuk membuat usaha kamu terkenal?" ucap Ibu mencoba membuka pikiran Sinta.


"Memang tidak ada yang mudah, tapi ibu percaya kamu pasti bisa melewati masalah ini..dan jadikan ini sebagai semangat kamu agar bisa meraih kesuksesan.."


Sinta hanya diam mendengar.


"Memang berdamai dengan hati itu susah, apa lagi sudah terlanjur cinta.. tapi, jika kamu bisa keluar dari hal ini dan ikhlas maka kamu akan mendapat ganti yang ibu yakin pasti akan sangat baik untuk diri kamu.." ucap Ibu penuh petuah.


Dan malam harinya setelah mendengar nasihat panjang ibu. Kini Sinta berada dikamar sembari mencatat beberapa pesanan pelanggan jamu yang sudah sangat rindu akan jamu hangat Mbak Sinta.


Namun sesaat ia menoleh pada map formulir mitra Mahendra.


Ia kembali berpikir.


"Mitra Mahendra" batin Sinta membaca map formulir itu sembari menimbang ucapan ibu.


***


Keesokan paginya, di satu apartemen mewah.


Rudy yang telah pulih kakinya, kini tengah bersiap-siap untuk memulai harinya.


Ia mempersiapkan diri untuk memulai segala aktivitas kantor.


Rudy menatap cermin di depannya. Terlihat pantulan diri yang tengah mengenakan dasi. Namun ketika akan menyimpulkan tali dasi tersebut, tiba-tiba saja ia melepaskannya begitu saja.


Lalu Rudy menantap dengan wajah berbeda.


"Benar, ini kesempatan ku untuk berubah.." ucap Rudy seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Tak lama, sebuah pesan masuk. Rudy membaca sekilas pesan tersebut dan ternyata dari rekan bisnis yang sudah memiliki jadwal pertemuan.


Namun sebelum Rudy beranjak pergi, tiba-tiba saja handphonenya kembali bergetar. Dan ternyata ada sebuah telfon masuk dari adik kandungnya, yaitu Rara.


Rudy pun mau tak mau mengangkat telfon tersebut.


"Hallo?? mas Rudy??" seru Rara yang sudah sangat senang akhirnya telfon pada kakak tertuannya di angkat.


"Hm, ada apa??" tanya Rudy dingin.


"Ikh, mas Rudy kemana saja?? kenapa tidak menggankat telfon Rara??"


Rudy diam.


"Mas?? kok diam sih?? jawab dong.. kemana selama ini?? ibu.. ibu selalu tanya kabar mas, dan tanya kapan mas pulang kerumah??"


Rudy tak menjawab.


"Mas?? masih marah sama ibu??"


"Ra.. kamu telfon ada apa?" potong Rudy seolah ia tak ingin membahas apa pun tentang ibunya yang kini tinggal dirumah besar Mahendra.


Mendengar sikap tegas sang kakak tertua, Rara pun menyerah.


"Iya, mas.. sebenarnya ada hal penting yang harus Rara tanya sama mas Rudy.."


Kening Rudy tertaut.


"Hal penting apa?" tanya Rudy bernada serius.


"Rara mau ngomong langsung sama mas, nanti Rara akan kekantor mas aja..gimana?" tanya Rara.


Rudy melihat jam tangannya sekilas.


"Siang.. kamu bisa kekantor mas.."


"Oke, siang Rara akan kekantor mas Rudy.."


"Hm, ya sudah, mas tunggu"


Dan komunikasi dua saudara itu pun terputus.


Rudy pun kembali untuk bergegas pergi meninggalkan apartemennya begitu saja.


***


Dan di lain tempat, pada akhirnya Sinta pun dengan mantap mengikuti program mitra Mahendra.


"Buk, Sinta pergi dulu yaa.."


"Iya, hati-hati.." sahut ibu dengan memperhatikan beberapa bawaan Sinta. "Ibu berdoa semoga niat kamu mudah.."


"Amiin.." sahut Sinta lalu meriah tangan sang ibu untuk salam hikmad dan kemudian berlalu pergi menuju kantor perusahaan makanan Mahendra.