Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Di hutan horor × di hutan baper



"Heh, sssstt.." seru Rudy yang tiba-tiba memberi kode diam pada Sinta yang sedang merancau karena pikirannya kemana-mana.


"Apa sih mas??" tapih Sinta yang kesal dengan wajah menoleh pada Rudy sinis.


Namun Rudy terlihat waspada dengan wajah serius.


"Apa sih mas?"


Namun tangan Rudy langsung membekap mulut Sinta.


Sinta terbelalak kaget. Dan Rudy kian mendengar suara krasak-krusuk mendekat dengan curiga.


"Manjat.." ucap Rudy berbisik.


Kening Sinta tertaut bingung.


"Manjat?? apa lagi nie?" gumam batin Sinta sembari tangannya menepis tangan Rudy yang masih membekap mulutnya.


Plak..


"Apa sih mas?? jangan aneh-aneh deh.." protes Sinta.


Rudy jadi kesal lalu ia bangun dengan cepat melihat kesekeliling dan akhirnya berjalan beberapa langkah melewati Sinta untuk menuju satu pohon.


Sinta kian bingung.


"Mas Rudy??" panggil Sinta yang cemas berpikir apa pria ini sedang di goda hantu penjaga pohon.


"Cepat kemarin, sepertinya ada binatang liar yang kemari" perintah Rudy pada Sinta yang masih bengong.


"Apa? binatang liar??" sahut Sinta kembali syok. Lalu dengan cepat mengambil langkah seribu menuju Rudy.


Wajah sinta begitu takut.


"Yang bener mas??"


"Iya, makanya aku suruh kamu diam.. tapi aku gak tau itu binatang buas atau tidak?? karena itu kita harus manjat pohon untuk berjaga.."


Jeng..jeng..jeng.. Sinta tak bisa berpikir lagi.


"Ya Tuhan.." lirih Sinta yang tak bisa berkata-kata apa-apa mendengar penjelasan Rudy bak pertarungan hidup di alam terbuka.


Terlihat Rudy siap memanjat. Namun Sinta menahan dengan cepat rompi yang masih Rudy pakai.


"Sinta dulu.." rengek Sinta memelas.


"Gak bisa, kamu cari pohon lain.."


"Ikh pelit banget sih.." rutu Sinta tak peduli dan akhirnya memotong Rudy untuk lebih dahulu mulai memanjat.


Rudy tak menahan, ia tak bisa berpikir lagi di tengah hutan belantara yang entah ada berapa hewan buas yang sedang kelaparan mencari makan dimalam hari.


Namun, sang mbak jamu memang bukan kodratnya piawai memanjat, sehingga ia baru naik sepersekian inci pada pinggang pohon.


"Cepat.. hewan itu bakal kesini.." perintah Rudy kesal.


"Hh.. hmm.. i-ni ju-ga.. lagi u-sa-ha mas.." ucap Sinta mencoba cari pegangan untuk memanjat.


Dan benar saja, tiba-tiba seekor babi hutan muncul dengan taring yang mengerikan.


Sinta mematung di pohon dan Rudy tak bergerak. Saliva keduanya tertahan takut di pangkal lidah. Radar kecemasan pun terlihat jelas pada wajah Sinta yang siap berteriak. Namun lagi-lagi Rudy memberi kode untuk diam.


Hewan itu terlihat menanatap Rudy dengan jarak dua meter jika di hitung secara kasar.


"Mas.." lirih Sinta yang takut namun juga tak juga tak bisa bergerak di pohon yang belum selesai ia panjat.


Mata Rudy berjaga-jaga sembari melihat dengan cepat pada kayu bakar di api unggun yang kiranya bisa menjadi senjata untuk sementara walau nyatanya ia tak yakin jika itu akan membantu. Karena ia tau hewan liar jauh lebih kuat.


"Kamu diam disitu, jangan bergerak.." ujar Rudy memberi perintah.


Perlahan kaki rudy berjalan dan di saat itu pula babi hutan itu menyerang.


"Mas Rudyyyy!!" seru Sinta spontan panik.


Namun Rudy berhasil menghindari dan mendapatkan target tepat sasaran ia meraih kayu bakar dan mulai menakut-nakuti babi hutan yang terlihat tidak cukup besar namun memiliki taring berbahaya.


Sinta gemetar di pohon.


Babi hutan kembali menyerang dan Rudy bersiap memukul. Dan pukulan itu tepat mengenai wajah babi hutan.


PLAK....kuatnya pukulan itu sehingga kayu itu pun patah.


Babi hutan semakin bringas dan Rudy menjadi mangsa sang babi hutan. Wajah Rudy berubah panik karena di saat itu ia juga kehilangan senjatanya dan telah membuat babi hutan kian marah. Sedetik kemudian babi hutan langaung menyerang Rudy sehingga ia memilih lari secepatnya.


"Mas Rudy!!" teriak Sinta yang kembali histeris. Dan Rudy hilang di kegelapan hutan.


Tangan dan kaki Sinta seketika lemas. Dan hal itu membuat ia jatuh dari pohon.


Duk..


Tinggallah ia sendiri di hutan belantara dengan api unggun yang masih menyala.


Tiba-tiba airmatanya jatuh begitu saja. Ia spontan menangis dengan hati luar biasa takut. Tidak ada lagi teman, kini ia sebatang kara di dalam hutan gelap ini.


Ia juga jadi menangis mas Rudy yang walau cuma orang asing tapi beberapa jam yang lalu pria itu sudah baik menjaganya.


Untuk beberapa saat Sinta menangis dengan hati tersayat.


Hingga tak beberapa lama terdengar suara langkah kaki.


Tangis Sinta terhenti dengan wajah takut. Namun betapa kagetnya dia ketika melihat sosok yang kini berada di hadapannya.


"Heh..!! aku suruh kamu itu manjat.. kenapa malah di bawah!!" tukas Rudy ketus dengan nafas memburu sembari berjalan pelan memuju tempat duduk Sinta.


"Mas Ru-dy" seru Sinta terkejut.


"Binatang liar bisa saja kembali..ji-ka.." ucap Rudy tergantung ketika tiba-tiba Sinta beranjak dari duduknya lalu dengan spontan berlari dan langsung memeluk tubuh Rudy.


Greeepp..


Rudy mematung di tempat. Dan Sinta sukses menangis histeris.


"Huwaaaahh.. mas Rudy.. Sinta pikir mas Rudy u-dah dimakan babiii.." tangis Sinta pecah tanpa bisa berkata. Ia lega teman tersesatnya masih hidup dan kembali.


Namun berbeda dengan Rudy, ia merasa jika wanita ini benar-benar aneh. Dan Rudy tak bisa berbuat apa-apa selain menjadi pantung selama Sinta menangis di dadanya.