
"Pilihan yang tepat Sinta, kamu berhasil membuat dia cemburu.." ujar Rudy.
Pintu lift tertutup dan perlahan kian naik keatas dan Sinta masih tak mengerti ucapan mas Rudy.
Perlahan Rudy melepaskan tangan Sinta yang terasa canggung.
"Kamu suka pria itu kan??" tanya Rudy dengan menatap wajah Sinta yang masih bingung.
Bibir Sinta terkatup ragu.
"Aku akan jadi mentor kamu, untuk merebut pria itu dari teman yang sudah mengkhianati kamu.."
Deg..Sinta mematung mendengar ucapan mas Rudy.
"Mentor?? untuk merebut mas Agung?? maksudnya??" ulang Sinta hampir tak paham.
Rudy tersenyum licik.
"Kamu pasti tidak akan percaya, jika mungkin saja sebenarnya Agung juga menyukai kamu.. hanya saja dia tidak mau mengakuinya.." tukas Rudy.
Sinta syok mendengar penjelasan mas Rudy.
"Mas Agung suka Sinta??"
Rudy tersenyum simpul sembari menyilankan tangannya di dada.
"Aku bisa melihat dari reaksi wajahnya tadi, pasti dia sangat terkejut melihat kamu di dekat pria lain, contohnya seperti aku ini.." timpal Rudy membuka petunjuk.
Sinta kian berpikir.
"Ta-pi..Mas Agung akan menikah dengan Sarah dan mas Agung terlihat sangat mencintai Sarah.."
Rudy tertawa renyah mendengar ucapan Sinta yang terlalu pesimis.
"Dia tak menyadari siapa yang benar-benar ia cintai.. mas rasa ia mencoba untuk memungkiri hatinya sendiri.. dan itu adalah awal dari penyesalan yang panjang jika dia masih seperti itu.." tutur Rudy seolah bijak.
Kening Sinta tertaut tak mengerti.
"Bagaimana mas tau??" tanya Sinta menatap Rudy yang seolah bias.
Rudy tersenyum perih.
"Karena aku sudah merasakannya.." ucap Rudy terdengar sedih. "Kehilangan orang yang benar-benar aku cintai adalah penyesalan yang sangat menyakitkan dan tak bisa aku maafkan sampai saat ini.." kenang Rudy begitu dalam.
Dan Sinta dapat melihat jelas sisi kesepian pria yang terlihat begitu sempurna di hadapannya ini.
Namun beberapa detik kemudian Rudy mengubah raut wajah sedihnya dengan percaya diri di hadapan Sinta.
"Jadi kamu harus merebutnya?? gimana?? kamu mau??" tawar Rudy lagi pada Sinta yang masih mencoba paham.
Untuk beberapa saat Sinta berpikir dalam ragu.
Hingga tak beberapa lama suara lift tiba dilantai 12 pun berbunyi.
Ting..
"Bagaimana jika tidak berhasil?"
Rudy menyambut pertanyaan Sinta dengan senyum senang.
"Hasil tidak bisa di tebak, jika kamu tidak pernah mau memulai dan mencobanya.. itu motto bisnis yang aku pengang.." sahur Rudy santai.
Dan pintu lift pun perlahan terbuka sempurna.
Terlihat Rudy hendak turun dari lift.
"Si-sinta mau?" ucap Sinta yang tiba-tiba menahan langkah Rudy. "Sinta mau merebut mas Agung.."
Rudy menahan langkahnya dan kembali menantap Sinta yang masih berdiri di tempatnya.
"Pilihan yang bagus.. ikut aku" ajak Rudy dengan keluar lebih dahulu dari dalam lift
Wajah Sinta kian tak tenang namun pada akhirnya ia mengikuti langkah Rudy yang telah keluar dari dalam lift.
Saat langkah Sinta mengikuti Rudy, terlihat beberapa karyawan menyapa Rudy dengan sopan.
"Pagi pak Rudy.." beberapa sapaan para karyawan yang memberi hormat.
Sekilas Sinta tampak heran dengan sapaan pagi yang ia rasa terlalu berlebihan jika Rudy hanya karyawan biasa.
Rudy terus berjalan dengan membawa botol minuman jamu milik Sinta.
Sinta hanya mengekor bak anak ayam ngikutin induknya.
Hingga tak lama langkah Rudy masuk pada satu ruangan yang berbeda. Dan seorang pria bangun dari duduknya.
"Selamat pagi pak.." sapa pria itu.
"Jimmy, keruangan ku sekarang.." perintah Rudy santai sembari membuka pintu ruangannya.
Dan tak terduga pria yang bernama Jimmy itu menahan langkah Sinta.
"Maaf mbak, anda siapa? mengapa mengikuti Direktur?" seru Jimmy menghadang Sinta.
Sinta berhenti kaget.
"Hah?? direktur?? Si-siapa??" tanya Sinta terbatah.
Rudy yang mendengar segera berbalik. Dan ia hanya mengulas senyum terbaik pada Sinta yang menatapanya dengan wajah bingung.
"Kan tadi aku sudah bilang, kalau di sini adalah kantor ku.." ujar Rudy santai sembari masuk keruangan dan meninggalkan Sinta disana.
Sontak mulut Sinta terbuka syok, hingga rasa-rasanya darah Sinta turun dengan drastis.
"Pak Rudy Mahendra adalah pemilik perusahaan ini.." Jimmy memperjelas ucapan Rudy yang telah berlalu masuk kedalam.
"Yaa Tuhaan, aku sedang bertemu dengan siapa sebenarnya ini??" rutu batin Sinta yang seakan di bawa Rolling couster sejak bertemu kembali dengan teman tersesatnya di hutan.