
Kini Sinta dan Rudy berada di food court gedung Mahendra.
Terlihat keduanya tengah cekikikan bak dunia milik berdua tanpa peduli mata sekitar yang tengah melirik penuh penasaran dan curiga.
Rudy duduk di sebelah Sinta dengan menantap layar datar milik sang kekasih. Sinta memperlihatkan video lucu yang viral. Dan setiap video lucu itu sukses membuat keduanya tertawa lucu.
Rudy benar-benar ketinggalan zaman, ia tak pernah tau ada aplikasi tiktok. Yang ia pikir twitter, instagram juga Facebook adalah media yang paling terdepan. Itu saja jangan ia gunakan karena merasa tidak butuh. Namun ia salah, ternyata ia sudah tua untuk terlalu update info terkini tentang dunia anak muda.
Rudy bahkan baru kali ini melihat video-video sekonyol itu.
"Anak muda sekarang, asyik dengan hal yang begitu.. kasian nanti bagaimana masa depannya?" decak Rudy yang menilai isi aplikasi itu unfaedah.
Sinta sedikit setuju, namun mungkin mas Rudy tidak tau jika sekali saja viral video di tictok maka bisa masuk pundi-pundi uang bak pelihara tuyul.
Disisi lain terlihat beberapa karyawan yang memiliki penuh rasa kepo luar biasa. Akan tawa sang Direktur Mahendra yang terlihat lepas dan natural
Bagaimana tidak, sudah lama sekali sang Direktur tidak tertawa lepas senatural itu semenjak prahara rumah tangganya hancur.
Di tengah asyiknya melihat video-video lucu tersebut.
Seorang pelayan tiba membawa pesanan makanan milik wanita misterius yang berada di samping sang Direktur.
Sebuah Hotplant sapi lada hitam dan nasi putih, mie ramen dan juga sate taichan tersedia di atas meja.
Pelayanan itu tersenyum lalu berlalu pergi.
"Banyak banget mas.."
Rudy tak menjawab hanya membalas dengan senyum lalu meraih salah satu menu untuk ia berikan pada sang kekasih.
Namun di saat semua menu terhidang, tiba-tiba Rudy meraih satu botol aqua dan membuka lalu diberikan pada Sinta yang hendak mulai makan.
"Minum dulu.." pesan Rudy.
Sinta kaget. Dan reflek menerima dengan kaku.
Wajah Rudy tersenyum simpul lalu ia beralih melihat pada meja makan.
Sinta meneguh minuman itu, ia merasa tersanjung dengan perhatian kecil mas Rudy.
"Sinta, ternyata jamu pemberian kamu tadi jadi perhatian orang penting.."
Sinta menyudahi minumnya lalu di sambut Rudy untuk menutup botol minum tersebut.
"Oya?? kok bisa??"
Rudy menutup botol minum dan meletakkannya di sisi.
"Iya, mas juga kaget.. gak terbayang padahal aroma jamu kamu itu gak terlalu kuat tapi pria tua itu bisa cium aromanya.."
"Ooh, pria itu siapa?"
"Itu.. teman bisnis di Resort.." jelas Rudy gantung.
Sinta mulai makan dengan mendengar cerita mas Rudy.
"Pria ini sudah sangat profesional di dunia property dan terkenal sulit dalam sulit untuk di taklukkan .."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah.. dunia bisnis ini kejam sama kejamnya dengan politik.. karena sedikit saja kamu salah memilih mitra maka kamu akan kehilangan semuanya.." jelas Rudy.
Sinta merespon.
"Tapi mas gak nyangka aja, ternyata dengan jamu malah pak tua itu jadi lebih lunak..padahal mas pernah kirim beberapa hadiah sebagai ungkapan terima kasih atau yaa sebagai teman bisnis.. tapi semua seperti tidak ada artinya.." jelas Rudy setengah curhat.
Sinta mengangguk.
"Mungkin karena pak Tua itu bisa beli semuanya.. jadi hal itu jadi gak berharga.." jawab Sinta spontan.
Rudy terpaku.
"Hm, ucapan kamu ada benarnya juga.."
Sinta mengangguk.
"Kalau gitu, mas pesan jamu bugar untuk di hadiah pada pak tua itu.."
"Untuk kapan??"
"Besok? bisa??"
Sinta tanpa ragu memberi tanda jempol dengan mata genit.
Rudy mengusap manja pucuk kepala sinta.
Sinta tersenyum dan ternyata Rudy memperhatikan sudut bibir Sinta yang mengoda.
Sinta kembali makan, dan bibir ranum itu kian mengoda ketika sisi lidah gadis jamu itu keluar untuk menyapu sisi bibirnya yang terkena saus.
"Hm, ini enak banget mas.." puji Sinta yang antusias saat menikmati menu mie ramen yang sudah sangat merah akibat saos cabe.
Rudy hanya memandang sang gadis pujaan dalam diam. Namun pikiran nakalnya mulai bergejolak liar.
Sudut bibir Rudy tersinggung senyum misterius. Dan sekilas Sinta menyadarinya.
"Kenapa mas senyum gitu?" tanya Sinta sambil memelankan kunyahan di mulutnya.
Rudy tidak tahan. Ia meraih satu tisu dan seketika mengusap lembut bibir Sinta yang terlihat mereka karena makanan yang pedas.
Sinta jadi malu.
"Aduh, maaf ya mas.." ucap Sinta malu-malu dan mengambil satu tisu untuk mengusap bibirnya.
"Bibir kamu bisa semerah itu?? benar-benar mengoda.." bisik Rudy terang-terangan.
Deg.. Sinta kaget lalu reflek menoleh pada sekitar.
"Duh, mas jangan ngomong tiba-tiba dong.. ini masih di lingkungan kantor mas loh" protes Sinta menginatkan candu yang membuat ia senang dan juga malu.
Rudy tersenyum simpul lalu meraih satu tusuk sate untuk mengalihkan pikiran nakalnya.
Dan tak lama keduanya kembali terlihat dalam. obrolan yang sanga seru. Sehingga sekeliling mereka jadi penasaran.
***
Setelah makan selesai kini Sinta berada di luar gedung Mahendra.
Sinta berjalan bersama Rudy dengan jarak yang normal.
"Sepertinya mau hujan, biar pak Jito antar kamu saja.."
Sinta kaget.
"Ah, gak usah mas.. gak papa.." tolak Sinta panik.
Rudy heran.
"Kenapa?"
"Hm, gak usah.. Sinta masih ada perlu lagi.. jadi baik gojek saja lebih praktis..." jelas Sinta terlihat senatural mungkin dalam menolak.
"Gojek?? kamu gak liat itu awan sudah pekat.. bisa-bisa sampai rumah kamu sudah basah.." Rudy khawatir.
"Gak kok mas tar mas Gojeknya Sinta suruh kebut saja.." sahut Sinta santai.
"Kalau begitu biar mas antar kamu.."
Sinta kaget.
"Loh, gak usah mas..Bener gak usah sinta mau kesatu tempat.."
"Tapi ini mau hujan sayang.." ucap Rudy dengan wajah penuh khawatir pada kekasih hatinya.
Deg..
Lagi-lagi ucapan sayang yang keluar dari bibir mas Rudy sukses membuat Sinta merasa diri di awan-awan.
"Mas bakal telfon pak Jito biar di antar mobil kedepan.." ujar Rudy sembari mengeluarkan handphonenya dan hendak menelfon.
Seketika Sinta sadar dan buru-buru menahan tangan mas Rudy.
"Jangan mas.." pinta Sinta memohon.
Rudy kian merasa khawatir.
"Jangan ya.. mas" Sinta memelas manja.
Rudy menghela nafas.
"Oke kalau gitu pak Jito yang antar kamu.."
"Main gunting kertas saja.." sela Sinta memotong cepat.
"Hah?"
"Ehem, main batu gunting kertas saja.. kalau mas menang berarti Sinta nurut kalau Sinta menang berarti sinta pulang sama gojek.."
Rudy menghela nafas panjang pasrah.
Sinta beralih berdiri di hadapan Rudy.
"Siap?" tanya Sinta bersemangat.
Rudy dengan malas akhirnya memindahkan minuman boba ketangan sebelah kiri dan mulai bersiap walau enggak.
Sinta senang.
"Batu gunting kertas..!!" seru Sinta bersemangat.
Rudy batu.. Sinta gunting.
"Yah kalah.. " seru Sinta patah.
Rudy berubah senang.
"Eit.. masih belum.."
Kening Rudy tertaut.
"Masih ada dua kali lagi.." seru Sinta bersemangat.
Rudy berwajah malas, dia di tipu gadis jamu ini.
"Siap ya.. bantu gunting kertas!!" seru Sinta bersemangat.
Rudy batu. Sinta batu.
"Lah, malah seri.." ucap Sinta
Rudy tak merespon.
"Oke, ini sekali lagi.. untuk penentuan!!" ujar Sinta bersiap dengan memijit-mijit tangannya.
"Ah, kecil.." seloroh Rudy yang tak mau kalah percaya dirinya akan instingnya yang akan menang dari sang kekasih.
Sinta bersiap, Rudy pun tersenyum.
"Gunting batu kertas!!" keduanya sama-sama saling berujar. Dan tak..
Sinta gunting dan Rudy kertas.
Sinta terkejut.
"Iyeeeh Sinta menang!!" soraknya gembira.
Sedangkan Rudy bengong dengan 5 jarinya yang sukses membuat dirinya kalah.
"Ah, kamu curang.." rutu Rudy yang gemes pada tangannya sendiri.
"Yeyeyeye, mas Rudy kalah" sorak Sinta girang.
Melihat wajah Sinta senang, Rudy juga ikut merasa senang walau kalah.
Namun tanpa Rudy dan Sinta sadari. Dari kejauhan terlihat sorot mata yang tak biasa dari seorang pria yang melihat dengan wajah terkejut, Agung.
Agung yang baru saja keluar dari gedung terlihat tak percaya melihat Sinta kian begitu dekat dengan sang Direktur.
Tak lama lewat dua karyawan wanita yang juga sama-sama baru keluar dari gedung Mahendra.
"Waah, pak Rudy.. sama siapa tuh?" tanya wanita berbaju kemeja salem.
"Eh, masa loh gak tau sih?? itu calon ibu Bella nomor dua.." sahut teman wanita yang berambut di cepol keatas.
"Hah? maksudnya ibu Bella nomor 2??"
Agung tanpa sadar menguping.
"Lah, telat lo.. udah ada gosip itu perempuan kayaknya manfaatin pak Rudy.. buktinya dia masuk mitra Mahendra dengan nota khusus.. beuh, gue yakin tuh perempuan udah tidur sama pak Rudy tuh buktinya pak Rudy bisa segitu baek sama tuh perempuan"
"Ikh, bener tuh??" timpal yang teman yang lain ikut nimbrung.
Agung kesal.
"Hey!! kalau ngomong jangan asal!!" Agung marah dan menatap sinis pada kumpulan karyawan wanita beda bidang itu.
"Eh, ada pak Agung.. sore pak.." sapa seorang wanita berkacamata sungkan.
Agung acuh.
"Kenapa marah pak?? toh buktinya udah di depan mata.." timpal yang lain terlihat bersemangat untuk memanaskan gosip.
Agung sinis.
"Eh iya, pak Agung kan pegang proyek mitra Mahendra masa iya gak tau sih pak gosip nota khusus itu.." sindir wanita gendut.
"Kalian jaga mulut jangan sampai ucapan kalian merusak nama baik orang lain.. khususnya pak Rudy dia yang kasih kalian gaji, jadi sadar diri!!" tukas Agung.
"Iiikh, pak Agung tumben sewot, kenapa?? apa jangan-jangan ada something.." tuding wanita gendut sengit.
Agung menghela kesal. Namun ia tak bisa membuka suara. Ia tak ingin nama Sinta jadi kian buruk di mata karyawan.
"Saya tegaskan kalian hati-hati!! sekali lagi saya dengar kalian membicarakan hal buruk untuk pak Rudy, ingat saya akan buat sangki tegas!!" Agunf memberi peringatan keras pada kumpulan wanita itu.
Dan berlalu pergi menuju mobilnya dengan rada kesal dan marah pada Sinta yang kian dekat dengan Rudy.
"Sinta??" desis Agung marah.