Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Mendadak curhat



"Kita ini memang tidak saling kenal satu sama lain, tapi ini darurat.. kita ini teman yang sama-sama menuju kematian.. disini.. di hutan belantara itu.." tukas Sinta marah.


Rudy menghela nafasnya. Sakit pada kakinya kian terasan berdenyut akibat keseleo.


"Aku berpikir, aku akan hidup panjang dengan terus di selimut oleh penyesalan.." ucap Rudy tenang. "Apa ini karma yang harus aku terima?? mati di sini, di hutan belantara.."


Sinta tak menjawab ia hanya mendengar dengan hati masih kesal.


"Keinginan terakhir ku cuma satu.. aku ingin meminta maaf langsung pada Alia.."


Sinta menoleh ketika mendengar nama itu lagi.


"Apa Alia itu.. istri pertamanya mas Rudy??" tanya sinta.


Rudy mengangguk.


"Wanita yang baik, yang dengan sengaja aku sakiti hatinya dan bahkan aku tega menceraikan dengan cara yang sangat menyakitkan.."


Sinta terdiam.


Rudy menghela nafas penyesalan.


"Dan sekarang aku menyesal.. pada semua perbuatan jahat yang menyakitkan itu.." lirih Rudy dengan terus menantap api unggun.


Sinta menghela nafas mendengar cerita penyesalan Rudy. Ia jadi terbayang sosok sang ayah, apakah beliau pernah penyesal telah meninggalkan Sinta dan ibu.


Sekilas ia juga mengingat Mas Agung. Pria itu, harusnya bisa menjadi sandaran yang bisa membuatnya kuat. Tapi, ia malah memilih Sarah.


"Apa pria memang tidak seberperasaan itu??" tanya Sinta.


Rudy diam.


"Sudah jelas-jelas rasanya perasaan yang selama ini Sinta tunjukkan pada mas Agung.. tapi kenapa?? kenapa Sarah yang harus jadi pilihan hati mas Agung??"


Rudy menoleh.


"Kau patah hati??"


Sinta mengangguk.


"Patah hati walau belum sempat mengatakannya.."


Rudy menyeringai kecil. Seolah menertawakan perasaan yang terlalu remeh itu.


Rudy menggeleng sembari membenarkan posisi duduknya untuk ikut bersandar.


"Kalau hanya itu, hm..aku rasa bukanlah hal yang terlalu berat..kamu bisa juga mendapatkannya kembali dengan cara yang berbeda.." sahut Rudy tenang dengan wajah lelah dan menahan sakit pada kakinya.


Kening Sinta tertaut bingung.


"Maksudnya??"


Rudy kembali menyeringai licik, namun tubuhnya sudah terlanjur lelah dan suhu di hutan kian naik menjadi lebih dingin.


"Ah.. sudahlah.. simpan energi yang tersisa.." ucap Rudy dengan perlahan memutup kedua matanya menuju alam tidur entah alam bawah sadar yang mulai tipis. "semoga saja aku atau kamu masih di beri kesempatan untuk hidup, atau mungkin kita bisa bertahan sampai besok.. tapi jika tidak.. kita akan mati bersama disini.."


Sinta menelan salivanya, seolah itu menjadi kalimat terakhir.


Ia melihat perlahan kedua mata Rudy tertutup. Ada kecemasan yang tak bisa ia jelaskan, tapi ia berharap semoga pria di hadapannya ini tidak mati begitu juga dengan dirinya.


"Terimakasih, Sinta.." ucap Rudy di tengah keheningan hutan yang kian mencenkam.


Sinta terpaku.


"Dan maaf karena menolong aku, kamu jadi berada disini.." ucap Rudy perlahan hilang dan berganti dengan hela nafas pelan.


Sinta diam dan hanya menerima kenyataan bahwa mungkin saja ini garis tangan hidupnya. Dan perlahan hawa dingin menyerang Sinta. Rasa kantuk tiba-tiba membuat Sinta ingin tertidur. Perlahan kedua mata Sinta tertutup dan ia pun tertidur di samping Rudy yang telah lebih dahulu terdiam membisu.


***


Di sisi lain, panitia camp move on berada di situasi yang sangat menegangkan.


Koko selaku penanggung jawab kegiatan acara air soft gun ini, kini sedang bersama tima sar. Ia memberikan peta permainan.


Disana juga ada Jodi yang menjadi saksi terakhir melihat dua orang timnya yang kini di nyatakan hilang.


Ibu Reni terlihat gundah, hatinya cemas. Apalagi ini hal yang baru pertama kali terjadi selama kegiatan camp move berdiri.


Tangannya tertaut cemas, ada rasa kekhawatiran dan juga tanggung jawab yang besar selaku ketua yayasan camp move on.


Dan tak beberapa lama, handphonenya berdering kembali. Ibu Reni langsung mengangkat telfon tersebut dengan wajah kecemasan.


"Hallo, pak Delon.. saya ibu Reni.. ada sedikit kabar buruk yang harus saya beri tau tentang teman anda.. Rudy Mahendra.." ucap Ibu Reni dengan mempersiapkan diri untuk menerima segala kemungkinan terburuk dari kabar yang akan ia sampaikan pada orang penting yang menjadi donatur utama camp tersebut.