
Pagi harinya Sinta bangun dengan badan yang tidak enak karena tidak tidur semalaman.
Dan rasa-rasanya ia membutuhkan minuman yang dapat menyegarkan tubuh.
Sehingga sebelum teman-teman kemahnya bangun. Sinta bangun lebih awal untuk menuju dapur camp tersebut.
Sinta membuka resleting tenda, dan keluar dengan aman.
Diluar ternyata masih agak gelap. Namun terlihat cahaya sunrise yang akan menampakkan dirinya beberapa menit kedepan.
"Uuuh..dingin banget.." ucap Sinta dengan mengusap jemarinya agar hangat. Udara pagi di pegunungan memang beda, dinginnya kayak pengen ada yang meluk #eh.. hehehe..
Sinta melangkah dengan celengak celenguk untuk mencari adakah yang sudah terjaga sepagi ini selain dirinya.
Namun seperti belum ada tanda-tanda kehidupan dari tenda perkemahan yang masih tertutup rapat. Langkahnya terus berjalan menuju gedung utama.
Sinta masuk pada ruangan yang sedikit besar, ia cuma mengingat sekilas arah tata denah gedung serbaguna itu.
Namun ketika beberapa langkah Sinta kian masuk, tak sengaja ia bertemu dengan ibu Reni yang terlihat sudah segar.
"Selamat pagi??" sapa ibu Reni yang membuat Sinta terkejut.
"Eh, ibu.. selamat pagi juga bu Reni.."
Ibu Reni mendekat pada Sinta.
"Pagi sekali, apa ada yang di cari??" tanya ibu Reni ramah.
"Hm, itu.. saya mau kedapur apa boleh??"
Wajah ibu Reni sedikit terheran.
"Dapur?"
"Iya, karena saya mau buat minuman hangat.."
"Oooh" seru ibu Reni seketika paham. "Bisa kok, ayo, ikut ibu.."
Sinta merasa lega. Lalu dengan sungkan mengikuti langkah wanita paruh baya itu.
***
Kehangatan ibu Reni terasa begitu nyaman bagi Sinta.
"Jadi, kamu di tikung temen?" tanya ibu Reni dengan membantu Sinta untuk mencuci beberapa bahan rebusan yang telah di kupas.
"Mmm, iya bu.. teman dekat, yang rasa-rasanya tidak mungkin melakukan hal seperti itu.." jawab Sinta dengan nada yang sedikit berat. Ia pun menaruh panci berukuran sedang untuk di taruh di atas kompor dan menyalakan api kompor.
Tak lama, ibu Reni kembali dengan senyum dan bahan rebusan yang siap di masukkan kedalam panci di atas kompor.
"Sini bu, biar Sinta aja" pinta Sinta yang seketika membantu ibu Reni.
Ibu Reni menahan dengan santun.
"Gak papa, ibu juga jadi mau tau gimana proses buat jamu segernya.. jadi sewaktu-waktu ibu bisa buat sendiri.."
Sinta mengangguk lalu sedikit mundur untuk memberi ruang pada ibu Reni yang hendak memasukkan bahan jamu segar itu.
Setelah semua bahan masuk, perlahan rebusan di aduk rata. Lalu tak lama ibu Reni membiarkan proses pemanasan itu terjadi. Lalu ia kembali menantap Sinta yang masih berdiri di sampingnya.
"Kekecewaan sering kali datang dari orang-orang yang sangat dekat di kehidupan kita"
Sinta menantap ibu Reni.
"Orang Tua, teman, kekasih atau pasangan hidup kita sendiri.. dan bahkan tidak pernah kita bayangkan bawah mereka bisa dengan tega menyakiti hati kita yang sudah sangat besar rasa percaya juga sayang.."
Sinta terpaku.
"Jangan bersedih.. jika orang yang paling dekat dekat dengan kamu mulai menunjukkan sisi yang sebenarnya, mungkin saja itu jawaban dari doa kamu yang meminta pada Allah untuk di jauhkan dari orang-orang yang buruk.."
Deg..Sinta tertegun, ucapan ibu Reni membuka pikirannya.
"Allah selalu punya cara untuk menunjukkan apa yang terbaik untuk kita walau terlalu sakit.."timoal ibu Reni.
"Kamu kuat.." ucap Ibu Reni seolah memberi sugesti untuk menguatkan Sinta yang sedikit merasa sesak di dadanya.
Dan obrolan pagi itu membuat Sinta sedikit melupakan sakit hatinya.
Setelah rebusan rempah-rempah itu siap, Sinta pun hendak kembali ke tenda kemahnya.
***
Sinta kembali dengan membawa dua mug hangat rebusan rempah itu untuk ia berikan pada Fika.
Namun karena terlalu fokus pada saat membawa mug cangkir di tangannya itu. Tanpa disadari ia malah menabrak.
Bruuk.. brasss.. mug itu pun menumpahkan air panasnya di tubuh pria yang Sinta tabrak.
"Akh" Sinta mengerjap kaget dengan mug yang ikut lepas dari tangannya.
"Ukh..!!" erang Rudy yang seketika bereaksi dengan rasa panas di bajunya yang kini sukses membakar kulit di dada dan perut ya.
Sinta seketika panik.
"Ya TUHAN!!"
Rudy yang kepanasan langsung membuju kaos yang ia kenakan dengan kesal.
"SIAL!!" rutunya marah.
Sinta mengerjap takut ketika mendengar suara kemarahan Rudy yang berada dihadapannya.
"Kamu apa gak punya mata??" tanya Rudy marah pada Sinta yang sudah terlihat takut.
"A, ma-maaf mas.. maaf" seru Sinta yang panik dan serbasalah dengan niat hendak membantu, namun ia tidak tau harus bagaimana dengan tubuh pria yang kini telah bertelanjang dada di hadapannya.
Mau di sentuh terlarang gak di sentuh juga mubazir #eh..
Wajah kesakitan Rudy masih menahan pedih di kulit tubuhnya yang terasa panas dan terlihat mulai memerah.
"Ada apa Sinta??" tiba-tiba ibu Reni datang dari dalam dapur dengan beberapa asistennya yang ikut mendengar keributan itu.
"Ibuk.." seru Sinta dengan wajah takut.
Namun terlihat ibu Reni dan para asistennya tercenggang melihat situasi keduanya dengan melihat Rudy telah bertelanjang dada di hadapan Sinta yang berwajah takut.
"Kalian ke-kenapa??" tanya ibu Reni yang datang di tengah-tengah mereka.
"Nak Rudy?"
"Sinta salah bu, Sinta gak sengaja nabrak mas ini dan.." ucapan Sinta tergantung tanpa bisa menjelaskan. Namun dari sorot mata Sinta yang kacau terlihat jika situasi ini begitu bahaya.
"Jadi nak Rudy ketumpahan air jamu panas kamu??" tanya ibu Reni mencoba memperjelas situasi keduanya.
Sinta mengangguk tak berani menjawab.
"Ya Tuhan, ayo nak Rudy ke ruangan klinik, kita obati dulu .."
Rudy langsung di boyong ibu Reni bersama asistennya keruang klinik.
Sedangkan Sinta masih terpaku di tempatnya melihat korban jamunya kini di bawa ke tempat pengobatan.
"Mampus gue, iikkh, ceroboh banget sih lo Sin.. masa bisa gak keliatan mas itu jalan!!" kesal Sinta pada dirinya sendiri karena telah menjatuhkan satu korban yang tak ia sangka.