
Terlihat di salah satu Cafe ibu kota yang merupakan tempat yang sering di kunjungi oleh Agung. Terlihat ia menunggu kedatangan Sarah yang berjanji akan makan siang bersama.
Agung membalas beberapa pesan masuk dari group di aplikasi whatshapp.
Di saat seorang pelayan pria datang membawa pesanannya. Di saat itu juga Sarah tiba.
"Mas.." sapa Sarah seperti biasa.
Agung merespon dengan menatap sosok yang tersenyum hangat untuk dirinya. Lalu dengan spontan mengeser duduknya dan membiarkan wanita cantik itu untuk duduk di samping dirinya.
"Maaf ya mas, jadi lama nunggu.." ucap Sarah tak enak. Sembari melihat beberapa menu yang telah tersuguhkan.
Sang pelayan pamit ketika menu telah terhidang semua.
Dan Sarah menatap tiap menu dengan wajah heran.
"Banyak banget mas.."
Agung tersenyum simpul.
"Mas gak tau kamu lebih suka yang mana, jadi mas pesan aja semua yang kamu suka" ujar Agung.
Tak lama, jemari Agung memeluk pinggang Sarah dan membuat gadis itu sedikit mendekat dengan dirinya.
"Makan yang banyak agar kamu sehat dan kuat.."
Sarah menoleh dengan tatapan sendu, seolah ada sirat rasa kesedihan di sana.
Agung membalas dengan senyum kecil. Lalu tak lama, ia meraih satu mug sup dan membawanya kehadapan Sarah. Dengan telaten Agung membawa sendok berisi kuah sup dan membawanya pada Sarah.."
"Coba Aaa.." seru Agung meminta agar Sarah membuka mulutnya.
Namun gadis itu hanya diam terpaku. Dua bola Sarah menantap pada tangan yang sudah siap untuk menyuapkan sendok itu kedalam mulutnya.
"Sup.. bukanlah makan kesukaan Sarah.." ucap Sarah pelan, lalu dengan tatapan lembut ia menatap sang kekasih di sampingnya. "Tapi makanan kesukaan Sinta.." ucap Sarag menantap lekat bola mata Agung yang terlihat merespon.
Deg..
Sesaat Agung menyadari dan dengan canggung meletakkan kembali sendok itu pada tempatnya.
Dan suasana hangat tadi seketika berubah kaku.
Sarah tersenyum simpul melihat respon Agung yang seketika berubah murung seiring dengan berpindahnya tangan Agung dari pinggang ramping Sarah
"Maaf.." ucap Agung. Dan ia menghela nafas panjang.
Sarah harus menahan diri.
"Sarah bisa mengerti kok, pikiran mas pasti sedang terbang memikirkan Sinta.."
Agung menantap sinis pada wanita yang berubah tegar.
"Karena yang sebenarnya mas suka itu bukan Sarah.. tapi Sinta.."
"Cukup Sarah!!" potong Agung jenggah. "Kita udah janji gak bahas ini lagi.."
"Tapi gak bisa mas, Sarah tau siapa yang sebenarnya yang ada di hati mas.." sahut Sarah tegas. Lalu dengan tatapan lembut Sarah menatap Agung.
"Sarah yang salah.." ucap Sarah pelan.
Agung menantap sulit pada wanita yang membuatnya ingin memeluk tubuh lemah itu.
"Harusnya Sarah tidak menerima ucapan cinta mas saat itu.."
"Sarah.."
"Sarah merasa bersalah pada Sinta.. dan mungkin karena kondisi yang.." ucap Sarah terpotong, ketika tiba-tiba saja Agung menarik tubuh Sarah kedalam pelukannya.
Sarah terpaku didalam pelukan hangat pria yang begitu tenteram.
"Aku mohon Sarah, jangan menyalahkan dirimu..jika memang ada yang harus di salahkan , maka akulah orangnya.." ucap Agung berat. "Akulah orang yang sudah membuat Sinta tergantung pada diriku, dan aku membuatnya jadi seperti ini.."
Sarah menarik diri dari dalam pelukan Agung.
"Tapi jika mas melihat, Sinta.."
Wajah Agung berubah kesal.
"Sinta?? mengapa kamu selalu membawa nama Sinta didalam pembicaraan kita?? oke, dia memang teman baik aku dan kamu, tapi.. aku cuma dan hanya mencintai kamu.." tutur Agung tegas.
Sarah menatap cemas pada Agung yang seketika berubah keras..
"Mas??"
"Mungkin kamu butuh bukti untuk melihat seberapa besar rasa cinta yang aku punya untuk kamu??" tanya Agung dengan tatapan serius.
"Mas??" lirih Sarah yang takut pada hal yang akan dilakukan sang kekasih. Dan jemari Agung memgenggam erat jemari Sarah yang gelisah.
***
Di tempat lain Sinta bersama Rudy duduk salah satu restoran berkelas.
Terlihat Sinta tengah membaca menu dengan tulisan yang sulit untuk di baca.
Glek..Sinta menelan saliva ketika melihat foto-foto makanan pada buku menu.
"Duuh bikin iler aja.." gumam batin Sinta yang jelas sudah merasa lapar yang teramat sangat. Lalu perlahan menurunkan buku menu besar itu. Dan hanya melihat pada sosok Rudy yang berada berhadapan dengan dirinya. Rudy memesan menu makanan dengan santai. Sinta mendengar akses bicara Rudy berbeda.
"Duh fasih bener pak ngomongnya.." cibir Sinta berbisik.
Namun tiba-tiba Rudy menyadari tatapan Sinta.
"Kamu mau pesan apa?"
"Oh, hmm.. sama aja deh.." jawab Sinta menyelesaikan masalah dengan cepat. Yaa percaya saja dengan pilihan mas Rudy yang sudah pasti memesan makanan enak.
Dan urusan memilih menu pun selesai. Berganti dengan hanya saling diam. Rudy sibuk dengan handphonenya.
Sedangkan Sinta, tanpa sadar terus menatap wajah serius Rudy. Tatapannya begitu lekat pada garis wajah pria yang jika dinilai begitu tampan.
"Mas Rudy umurnya berapa sih?"
Rudy merespon dengan wajah kaget. Lalu sedikti tersenyum heran.
"Untuk apa kamu tau??"
"Hmm, 31?? atau 32??" tebak Sinta.
Rudy terkekeh. Lalu dengan santai meletakkan handphonenya dan menatap wajah lucu Sinta.
"Hmmm, mungkin saat kamu masih SD, aku sudah meniti karir.." jawab Rudy santai.
Sinta merepon dengan kaget.
"Waah, tua banget.." seru Sinta dengan menutup mulutnya.
Rudy benar-benar sukses mengerjai Sinta dan terkekeh dengan lepas.
"Bearti usia mas sudah 40 tahun dong.." ujar Sinta yang seketika menghitung ulang.
Rudy tak menjawab hanya wajah tersenyum yang bisa ia perlihatkan.
"Mas gak mau cari penganti lagi??" tanya Sinta yang tiba-tiba.
Senyum Rudy perlahan hilang.
"Mungkin tidak.." jawab Rudy tenang.
"Kenapa? Apa mas masih mencintai mantan istri mas yang dulu.."
Rudy sejenak merenung.
"Hm, mungkin iya, salah satu alasannya itu..tapi aku hanya tidak ingin menjadi orang yang jahat lagi dan.. karena.. aku.." ucap Rudy yang terdengar berat.
"Siapa bilang mas Rudy jahat?? menurut Sinta mas gak jahat kok..cuma kurang bimbingan aja kejalan yang lurus.." ujar Sinta dengan wajah polos.
Rudy merespon dengan kembali terkekeh lucu ketika mendapatkan petuah dari gadis cerewet dihadapannya ini.
"Bimbingan?? kamu pikir aku ini kurang pengalaman apa?? asam garam kehidupan sudah pernah aku coba dan semua sudah aku lalui.. Pria jahat seperti aku memang sudah tidak pantas lagi untuk mendapatkan cinta.."
"Tapi yang Sinta rasa mas tidaklah sejahat itu.."
Dan untuk sesaat Rudy menantap Sinta cukup lekat.
Ia tidak mengerti mengapa wanita ini merasa begitu yakin dengan ucapannya itu.