
"Mau kamu bawa kemana Sinta??" Rudy menatap Agung tajam.
Sinta kini berada diantara dua pria yang tiba-tiba berubah.
Sinta gelisah ketika merasakan kedua tangan pria itu mengenggam tangan begitu kuat.
"Mas Agung?? mas Rudy?? udah??" ucap Sinta bergantian pada dua pria yang terlihat akan melakukan hal terburuk jika tidak di tengahi.
"Pak, sepertinya anda tidak mengenal cukup baik teman saya Sinta, jadi.. mohon untuk tidak masuk terlalu jauh.. dan saya akan membawa teman saya Sinta.."
Rudy tersenyum dingin.
"Teman?? aku juga teman sinta, bahkan kami sudah cukup mengenal satu sama lain mungkin lebih baik dari kamu.." balas Rudy.
Agung mencoba tenang.
"Tapi tidak ada yang mengerti dia selain saya.. belasan tahun saya menjadi teman Sinta.. jadi saya mohon bapak jangan menghalangi saya untuk membawa teman saya Sinta.."
Sinta menatap gelisah.
"Benarkah? apa bisa aku percaya? jika kau tak akan membuatnya menangis?"
Deg.. Sinta menelan salivanya dengan menatap mas Rudy.
Agung menantap sekilas pada Sinta dan kembali menantap sang Direktur Mahendra.
"Maksud pak Rudy?"
Perlahan Rudy melepaskan tangannya dari lengan Sinta dan menatap wajah gadis jamu itu sekilas. Lalu wajahnya berubah tenang.
"Kau pasti tau apa maksud ku, karena kau teman yang belasan tahun bersama Sinta.." ucap Rudy menantap Agung kembali dengan wajah penuh misteri dari ucapannya. "Baiklah, aku tidak menahan lagi.. silahkan berunding, tapi.. Sinta tak aku izinkan mundur.."
Dan tak beberapa lama Agung langsung menarik tangan Sinta untuk meninggalkan ruang Direktur Rudy.
Rudy menantap dua teman berlawanan jenis itu pergi dan menghilang dibalik pintu yang kini tertutup kembali.
"Kau tidak seperti biasanya?" tutur Gamal.
Rudy merespon dengan wajah tenang lalu berbalik dengan wajah tersenyum simpul.
"Sinta adalah teman baik untuk ku.." sahut Rudy dengan duduk kembali di sofa.
Gamal menantap serius pada teman kerjanya itu.
"Kau yakin?? jika Sinta hanya sekedar teman bagi mu??" Gamal mempertanyakan keyakinan pada ucapan yang baru saja Rudy ucapkan.
Rudy menatap Gamal.
"Kau tau, agak sulit membedakan pertemanan antara pria dan wanita..dan itu bagai api dalam sekam.." ucap Gamal serius. "Dia yang kau anggap teman, malah tanpa kau sadari berhasil masuk dan mengusik hatimu.."
Rudy terdiam dan hanya menyeringai kecil mendengar lulusan ucapan Gamal yang ia rasa tidaklah benar. Namun sesaat ia menatap tangan yang beberapa saat yang lalu menahan lengan Sinta, dan ia mengepalkan tangannya dengan rasa kosong.
***
Di sisi lain.
Agung menarik Sinta dengan kasar. Ia menarik Sinta untuk mengikuti langkahnya udah keluar dari gedung Mahendra.
"Mas Agung!! pelan dong.." protes Sinta yang kewalahan mengikuti langkah kaki pria yang membawanya dengan cepat. Kaki Sinta yang mengenakan sepatu hak tinggi di paksa berjalan cepat sesuai arah langkah Agung.
Beberapa karyawan melihat hal teraneh itu. Wajah Agung yang tak ramah seperti biasanya membuat beberapa yang mengenal sosok sang Brand Manajer pun merasa aneh.
Langkah Agung kian membawa ketempat yang sedikit sepi.
"Mas Agung!!" protes Sinta yang akhirnya tak tahan hingga menyentakkan tangannya hingga terlepas dari jemari Agung yang sedari tadi mengenggam kuat.
Sinta mengatur nafas dengan terenggah dan kian merasakan kakinya yang sakit pada ujung kaki didalam sepatu mahal itu.
"Apa yang sedang kamu pikir, SINTA?? apa kamu sudah GILA?? dan apa ini semua? penampilan macam apa ini? " cecar Agung bertanya dengan nada marah pada Sinta yang masih menguasai dirinya.
Sinta menantap wajah kemarahan mas Agung.
"Apa maksud dari semua ini?? ini seperti bukan kamu??" tukas Agung menatap wajah Sinta dengan penuh tanda tanya besar.
Sinta menarik nafas panjang mencoba untuk tenang. Dan menantap pria yang sangat ia cintai ini.
"Maksud??" ulang Sinta dengan penekanan. "Maksudnya gak lain adalah untuk menyadarkan mas.. bahwa Sinta juga bisa seperti Sarah dan.."
Kening Agung tertaut bingung.
Dan batas perasaan Sinta pun habis.
"Sinta suka sama mas.." ucap Sinta tanpa ragu.
Deg.. Agung mematung di tempatnya.
Dan Sinta melihat jelas reaksi cukup terkejut Agung.
"Sinta menyukai mas.. itu yang harusnya mas tau.." Sinta mengulang perkataan itu dengan wajah sedih.
"Sinta.." ucap Agung tergantung.
"Sarah tau hal itu, Sarah tau jika Sinta sudah lama menyimpan perasaan ini untuk mas.. tapi ternyata.." ucap Sinta tergantung sulit. "Tapi ternyata dia sudah merebut mas dari Sinta.." akhirnya Sinta menumpahkan semua isi hatinya selama ini.
"Sinta kamu salah.. aku dan..Sarah.. "
"Mengapa Sinta yang salah?? dimana kesalahan Sinta, mas??" tandas Sinta yang marah dengan air mata yang akhirnya jatuh. "Ah, apa karena kesalahan Sinta yang terlambat mengakui perasaan ini dari pada Sarah yang mengkhianati Sinta dan merebut mas Agung??"
Agung menantap Sinta dengan wajah tak senang.
"SINTA!!" hardik Agung untuk pertama kalinya menyebutkan nama Sinta dengan nada tinggi.
Sinta terkesiap. Dan tatapannya pun terluka.
"Kau sudah keterlaluan.."
"Apa?? Sinta keterlaluan??? apa mas gak salah?? mas..harusnya mas peka?? Sinta yang lebih dahulu mencintai mas.. sinta yang.." ucap Sinta tergantung ketika tiba-tiba terdengar suara dering handphone Agung berbunyi.
Agung menahan Sinta, lalu dengan cepat mengambil handphonenya. Dan kedua tatapannya terkejut.
"Hallo??"
Tak beberapa lama raut wajah Agung pun berubah cemas.
"Apa?" Wajah Agung berubah gusar. "Baik, Agung akan kesana segera.." ucap Agung cepat lalu komunikasi itu pun terputus.
Lalu dengan cepat ia menatap Sinta.
"Ikut mas.." ucap Agung pada Sinta yang masih bersedih.
"Mau kemana?" tanya Sinta yang keberatan.
"Kamu akan tau..dan kamu bisa melihat sendiri kenyataan yang kamu tuduhkan pada Sarah.."
Kening Sinta tertaut bingung mendengar ucapan serius mas Agung.
"Mas akan tunjukkan seberapa jahatnya Sarah pada kamu.." timpal Agung serius dan dengan cepat menyambar lengan Sinta dan kembali menarik temannya itu pergi.