Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Duh, gak tahan!!



Di tengah hujan yang kian lebat dan gelap karena sudah malam. Membuat Sinta yang tadi basah kedinginan.


Ia sedikit mengigil.


"Sinta? kamu kedinginan?" tanya Rudy khawatir dengan mengecilkan volume ac mobil.


"Iya, mas dikit..tapi gak papa" sela Sinta cepat.


Rudy merasa kasihan, namun jaket yang ia miliki ada di bagasi belakang.


Nenek renta itu tiba-tiba bersuara.


"Anak berdua ini, suami istri ya?"


Rudy kaget begitu juga dengan Sinta.


Sinta terkekeh kecil.


"Bukan nek, kita belum nikah" sahut Sinta apa adanya.


"Oh"


"Anak muda sekarang mengapa menikah terlalu telat ya?"


Sinta melirik Rudy.


"Nenek dulu menikah di umur 14 tahun"


Sinta berdecak.


"14 tahun? kecil banget" seru Sinta.


Nenek tersenyum hangat.


"Di jodohkan orang tua" sahut nenek.


"Oh, terus nenek sampai sekarang hidup bersama suami nenek?"


Nenek itu sedikit terdiam dengan hela nafas pelan.


"Bukan, suami nenek dulu sudah meninggal"


Sinta merespon kaget.


"Ya ampun, maaf ya nek"


"Gak papa, sudah jalannya seperti ini"


Sinta diam, Rudy terus fokus pada jalan.


"Dan tanpa sadar nenek malah menikah lagi dengan dukun yang sudah membuat suami nenek meninggal"


Deg..


Sinta dan Rudy saling tatap, keduanya merasa merinding bersamaan.


Lalu nenek terkekeh tertawa. Dan suasana mobil berubah mencenkam.


"Tapi pada akhirnya nenek sayang sama kakek yang sekarang" timpal sang nenek.


Sinta menghela nafas, begitu juga dengan Rudy yang menelan saliva getar-getir nya mendengar cerita nenek.


Suasana di mobil seketika hening, keduanya bergelut dengan pikiran gelisah masing-masing.


"Tolong, belok kanan ya nak" ujar nenek lembut.


"Oh, iya nek" sahut Rudy yang seketika menurut.


Setelah berbalok, tampak dari jauh sebuah rumah dengan cahaya lampu remang.


Mobil kian masuk dan berakhir di depan pagar reyot. Dan ternyata hujan pun berhenti.


"Ini nie, sudah sampai" ujar Rudy.


Si nenek manggut-manggut.


"Terimakasih ya nak, mau masuk dulu" tawar nenek berramah tamah.


"Hm, makasih nek, kita masih harus jalan lagi" jawab Sinta menolak sopan.


"Oh, begitu"


Nenek hendak beranjak turun.


Dan Sinta tak tinggal diam, ia segera turun untuk membantu sang nenek renta itu.


Rudy khawatir dan akhirnya ikut turun untuk melihat.


"Hati-hati ya nek" ujar Sinta dengan membantu nenek tersebut turun dan ternyata ia membawa bungkusan yang Sinta yakini jika itu adalah nasi untuk sang kakek.


Nenek renta berjalan memuju rumahnya yang terlihat merupakan bangunan tua dan tidak terawat.


Rudy melihat hal yang sama dengan pikiran yang menurutnya terlalu aneh.


"Sinta, ayo kita pergi" ajak Rudy menyadarkan sang kekasih.


"Ah, iya mas" sahut Sinta yang kembali membuk pintu mobil.


Rudy masuk begitu juga dengan Sinta yang akhirnya menutup pintu mobil kembali.


"Rumahnya tua banget ya mas"


Namun di saat itu, Rudy tiba-tiba tidak bisa menggerakkan mobil.


Berkali-kali Rudy berusaha mengubah gusi mobil, namun mobil tak merespon.


"Kenapa mas?" tanya Sinta yang melihat Rudy.


"Gak tau nie kenapa?? mobil nya gak respon"


"Hah?"


"Iya, padahal metic, kok gak mau ya?" ujar Rudy bingung.


"Coba di matiin dulu mas, kali aja ngaruh karena sedari tadi jalan terus"


"Lah, ini kan mobil mahal, masa jalan sejauh itu udah kalah" sahut Rudy kesal.


"Ya, siapa tau mas, lagian ini sedan, gak cocok di bawa jalan ke gunung begini"


"Justru karena itu, mobil mahal kudu bisa di bawa kemana aja, rugi dong spek yang di koar-koar " balas Rudy dengan sombong.


Sinta malah menggeleng mendengar jawaban sang kekasih.


Namun setelah beberapa menit, nyatanya mobil tetap tidak merespon.


"Duh kenapa ya?"


"Bensin mungkin??"


"Baru setengah " sahut Rudy cepat.


Dan ia mulai kesal hingga akhirnya memutuskan untuk mengecek mesin mobil.


Rudy turun di tengah rintik hujan.


Sinta hanya bisa menunggu.


Namun setelah mengotak atik, tak ada mesin yang rusak atau semacamnya. Lalu tak ia mengeluarkan handphone untuk menelfon seseorang. Tapi diluar dugaan sinyal malah hilang.


Dengan kesal Rudy kembali kedalam mobil.


"Mas, gimana?? udah belum?"


Rudy masuk dengan wajah kesal dan ia berkali-kali mengutak- atik handphonen yang juga tiba-tiba berulah.


"Mas??"


"Iya APA?" sahut Rudy kesal.


Sinta kaget mendapat respon yang cukup ketus


"Kenapa sih mas, kok jadi kesal sama Sinta?" jawab Sinta marah.


Rudy tersadar.


"Ya maaf Sinta sayang, habis ini, hp mas tiba-tiba pakek hilang sinyal segala"


"Hilang sinyal??" timpal Sinta kaget. Lalu ia mengecek handphonenya sendiri. Dan benar simbol sinyal hilang.


Dan ia menghela nafas gelisah.


"Ya ampun, Sinta jadi gak bisa hubungi ibu" ucap Sinta.


Dan keduanya pun bimbang di dalam mobil yang tak bisa bergerak.


"Gimana ini mas?" seru Sinta gelisah.


Rudy menghela nafas.


"Kita di sini saja"


Sinta menoleh.


"Dimobil?"


Rudy mengangguk sembari meletakkan handphonenya pada dasbor.


"Duuh" decak Sinta kian tak tenang.


"Kenapa?"


Sinta mengerut.


"Kenapa??" tanya Rudy lagi sembari menoleh serius pada Sinta.


Wajah Sinta gelisah tak menentu.


"Sinta gak tahan mas"


"Hah?? gak tahan? apa?" tanya Rudy yang tiba-tiba gelisah.


"Aduuh gak tahan pokoknya mas" ujar Sinta gelisah sembari melihat kekanan dan kekiri.


"Sinta?"


"Duuh, gak tahan mas, mau pipisss!!" seru Sinta dengan membuka pintu dan berlari menuju rumah tua sang nenek.


Tinggallah Rudy yang terpelongo melihat sang kekasih berlari terbirit-birit menuju rumah tua itu.