Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Pembicaraan yang aneh



Didalam sebuah toilet, Sinta berdiri di depan wastafel dengan membuka keran air. Air itu turun dan dengan cepat ia mencuci tangannya yang merasa kotor. Kotor karena telah menyentuh tangan pria yang sudah membuang dirinya.


Dengan wajah kesal, Sinta mencuci tangannya berulang kali seolah ada kotoran yang tertinggal di telapak tangannya.


"Benci!! benci!!" rutu Sinta berulang kali setiap kali ia mengosok tangannya di bawah kucuran air. Ia mengosok kuat hingga menyakiti telapak tangannya.


Hingga percikan air itu menyiprat pada wajahnya sehingga membuat dirinya sadar. Dan berhenti mencuci tangannya dengan nafas yang menderu.


Sinta mengatur nafas sesak yang ia tahan sedari tadi. Luka yang sudah kering itu kembali terbuka. Bahkan rasa perihnya masih sama.


Hingga tanpa sadar ia hampir menjatuhkan air mata yang ingin tumpah sedari tadi.


Namun dengan cepat Sinta menggeleng dan menatap diri di hadapan cermin yang memantulkan wajahnya saat ini.


"Tidak Sinta.. tak ada lagi tangis untuk pria tua itu!!" tutur Sinta meyakinkan dirinya.


Tapi bagaimana pun, ada sisi kerinduan yang terselip cukup kentara didalam hatinya. Sekilas wajah sang ayah kembali muncul saat namanya dipanggil dari mulut pria yang sudah membuangnya. Dan sesaat hal itu membuat Sinta bersedih.


"Ternyata Ayah masih ingat nama ku!!" lirihnya pilu.


Namun ia tertunduk sedih. Mengapa tiba-tiba bertemu lagi?. Ini sungguh tidak pernah Sinta harapkan lagi, setelah dulu mengubur nama ayahnya cukup dalam dan ia akan membenci seumur hidupnya.


Air wastafel terus mengucur tanpa berhenti. Sinta masih mencoba menguasai dirinya.


Untuk beberapa menit Sinta menenangkan diri. Lalu menantap tajam pada cermin.


"Kuat Sinta, tunjukkan jika kau tumbuh bahagia walah tanpa pria tua itu!!" tukas Sinta dengan segenap rasa benci yang menguasai dirinya.


Setelah merasa cukup, Sinta kembali mencuci tangannya dengan santai. Ia mematikan keran air itu. Lalu menarik tisu untuk mengusap tangannya yang basah hingga kering.


Sinta menantap cermin sembari sedikit membenarkan sedikit gerai rambutnya.


Tatapan Sinta berubah lebih tenang setelah menghela nafas panjang.


Lalu dengan yakin keluar dari dalam ruangan itu.


***


Meja makan Rudy dan pak Dewa sedikit menegang. Setelah pak Dewa memberi peringatan yang cukup aneh, Rudy kehilangan rasa simpatiknya pada pak tua ini.


Raut wajah Rudy berubah tak senang. Dan tak lama Sinta kembali dengan wajah tenang.


Ia kembali duduk di samping sang kekasih.


"Maaf mas, lama" ujar Sinta berbisik.


Rudy sedikit menoleh dan merespon wajar.


Pak Dewa kembali terfokus pada sang putri. Namun ia dapat melihat jika wajah sang putri berubah.


Dan seketika suasana meja makan itu hening, satu sama lain saling berperang dalam pikiran masing-masing.


Hingga tiba-tiba pak Dewa membuka pembicaraan.


"Nak Rudy, mungkin sudah saatnya saya menceritakan hal penting pada kamu" ucap pak Dewa.


Deg.. jantung Sinta berdetak dan di saat itu ia mengurungkan niat meneguk air dari gelasnya dengan gelisah.


"Banyak yang bertanya-tanya, mengapa saya membangun Resort di pinggir desa yang tidak populer bahkan terlalu tidak memiliki nilai dalam keuntungan bisnis"


Rudy merespon dengan menantap pak Dewa. Sinta masih bertahan untuk tetap tenang.


"27 tahun yang lalu, saya yang tersesat di hutan bertemu dengan seorang gadis desa.. dan saya jatuh cinta pada gadis itu.." kisah pak Dewa mengenang.


Sinta mendengar.


"Bahkan sampai dengan saat ini namanya masih tersimpan di hati.. "Safura" ucap pak Dewa.


Sinta bereaksi ketika mendengar nama sang ibu di sebut dengan mengenggam kuat gelas di tangannya.


Pak Dewa melihat respon Sinta.


"Tapi saya berdosa.. saya berbuat salah dan saya kehilangan semuanya.." tutur pak Dewa bernada menyesal.


Sinta mengeratkan mulutnya dengan rasa muak.


"Sa-ya menyesal.." tutur pak Dewa.


Rudy dan pak Dewa cukup terkaget mendengar ucapan Sinta yang sedikit keras.


Lalu Sinta menahan diri.


Namun sesaat Sinta sedikit tersenyum lucu seolah menertawakan moment kenangan sang ayah yang hanya omong kosong. "Bukankah aib seperti itu harus anda kubur hingga mati?" tukas Sinta tajam.


Pak Dewa tertegun.


Rudy yang mendengar menoleh pada Sinta yang merasa jika ucapan Sinta sangat tidak sopan pada pria tua ini.


"Dan kehilangan semuanya, itu adalah karma untuk anda" tukas Sinta sinis.


Rudy merespon.


"Sinta??" seru Rudy menahan Sinta. Namun Sinta tak bergeming.


Pak Dewa menerima tatapan sinis sang putri dengan wajah sendu. Ia tau putrinya pantas mengatakan hal itu.


Pak Dewa mengangguk pelang dengan senyum perih.


"Kamu benar Sinta, ini adalah karma yang harus saya terima" sahut pak Dewa tak menampik.


Rudy merasa heran dengan jawaban pak Dewa, ini sungguh aneh.


***


Moment makan malam itu pun selesai dengan akhir yang cukup tidak menyenangkan.


Pak Dewa masih menantap wajah Sinta dingin yang berdiri di samping Rudy Mahendra.


"Saya akan pulang besok" ujar pak Dewa sengaja.


"Benarkah? kami pun berpikir akan kembali besok, tapi mungkin sore hari"


Pak Dewa mengangguk.


"Kalau begitu, jika tidak keberatan kalian berdua saya undang untuk makan malam besok di rumah saya" undang pak Dewa.


"Jamuan makan malam?" ulang Rudy.


Pak Dewa tersenyum tipis.


"Ya, saya undang kalian khusus, karena saya ingin.."


"Maaf.." potong Sinta tanpa di duga. "Sinta tidak bisa.."


Rudy menoleh pada sang kekasih.


"Sinta rasa sudah cukup bertemu dengan Tuan Dewa untuk kali ini saja.." ucap Sinta dengan terselip peringatan di ucapan tegasnya.


Rudy merespon ucapan Sinta yang terlalu ketus.


"Sinta.."


Pak Dewa tersenyum simpul, dan mencoba memaklumi penolakan sang putri yang terlihat masih tidak ramah.


"Ah, begitu.. sungguh saya berharap kita bisa bertemu di lain waktu selama saya masih hidup.." jawab pak Dewa dengan penyelipkan pesan untuk sang putri.


Namun Sinta acuh.


"Ayo mas" ajak Sinta sengaja mengacuhkan ucapan sang ayah yang menurutnya tak penting.


Rudy merespon.


"Ah, baiklah.. kalau begitu kami izin pamit..selamat malam pak Dewa.." ujar Rudy.


Pak Dewa mengangguk pelang. Dan keduanya berlalu dari hadapan pak Dewa yang masih menantap punggung sang putri yang akhirnya kembali ia temukan setelah sekian lama.


"Sinta, ayah tau kamu pasti rindu ayah.." gumam batin pak Dewa.


Tak lama pak Dewa meraih handphonenya dari dalam saku. Ia menelfon seseorang dengan wajah yang berubah serius.


"Cari tau, kehidupan Rudy Mahendra!!" perintah pak Dewa dingin.