Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Tak mampu menghapus



FlashBack Sinta


Di tengah rintik hujan sore itu. Sinta yang masih berusia belia, duduk gelisah. Ketika mendengar pertengkaran pertama kali kedua orangtuanya.


Terdengar sayup-sayup suara tangis sang ibu yang menyayat hati.


"Mas!! aku gak butuh uang itu!! aku gak mau!!" terdengar suara ibu yang jelas-jelas menolak dan marah.


"Aku lakukan ini bukan tanpa alasan Sarufa!! aku sampai sejauh ini hanya untuk kesehatan kamu!! kamu harus segera operasi jantung.."


Sinta duduk dengan cemas ketika terdengar suara pintu kamar orang tuanya akhirnya terbuka.


Kraaak..


"Mas.. Sarufa mohon, jangan pergi mas!!" seru ibu dengan suara yang parau.


Sinta merespon cepat dengan bangun dari duduknya sedari tadi.


Dan betapa kagetnya ia ketika melihat sang ayah telah keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper.


"Ayah!!"


Ibu terlihat menahan di sisi lengan ayah yang lain.


Wajah sang ayah cukup terkaget.


Sinta tak menunggu lama, ia pun berlari kecil menuju sang ayah yang terlihat hendak pergi.


"Ayah!! ayah mau kemana??" Sinta bertanya dengan segenap rasa cemas yang luar biasa.


Wajah Ayah saat itu terlihat merasa bersalah.


"Ayah??"


Ayah terlihat meletakkan koper miliknya dan ibu pun melepaskan tangannya.


Ayah tersenyum bias.


"Maaf Sinta.. tapi ayah harus kembali.."


"Kembali?? kemana? di sini rumah kita, ibu ada di sini??" tutur Sinta membujuk.


Ayah menggeleng.


"Ayah tau, tapi ini untuk kebaikan kamu dan ibu.." ucap Pak Dewa dengan berat.


Raut wajah Sinta berubah sedih.


"Gak yah?? Sinta gak butuh yang lain selain ayah.." bujuk Sinta. " Jangan pergi yah!!" isak Sinta yang akhirnya tumpah.


Pak Dewa tertunduk sedih.


Sinta menguncang lengan sang ayah.


"Ayah!! jangan pergi yah!!"


"Mas??" seru ibu yang juga memohon pada sang suami. "Pikirkan lagi, aku gak butuh pengobatan apa pun!! kami lebih butuh kamu di sini"


Pak Dewa menatap sedih pada sang istri yang terlihat pucat.


"Ayah, tolong jangan pergi yah!! tolong yah!!" pinta Sinta terisak.


Namun tampaknya keputusan pak Dewa saat itu sudah bulat. Dan ia dengan sedikit berat menepis kasar tangan sang putri.


Srekkk..


Tangan Sinta terlepas secara kasar. Dan wajah Sinta berubah terkejut pada sikap ayah yang cukup kasar.


"Kamu boleh membenci ayah, tapi ayah tidak punya pilihan lain.. semua ayah lalukan demi kalian berdua!!" ucap pak Dewa yang kemudian kembali meraih koper miliknya.


Lalu dengan membulatkan tekat ia berlalu meninggalkan anak dan istrinya.


Ibu tak mampu menahan, tubuhnya saat itu lemah hingga terduduk dilantai.


"AYAH!!" seru Sinta tak terima dan hendak mengejar sang Ayah. "Ayah!! Ayah!!" panggil Sinta berulang kali pada pria yang terlihat tak bergeming dengan suara panggil sang putri.


"SINTA BERHENTI!!" perintah ibu dengan nada tinggi.


Sinta berhenti dengan wajah yang kalut di antar kebimbangan. Sosok sang ayah kian menjauh.


"Biarkan ayah mu pergi!!" ucap Ibu dengan wajah kekecewaan yang mendalam.


"Tapi bu!!" Sinta protes.


"BIARKAN AYAH MU PERGI!!" pekik Ibu cukup keras pada sang putri tercinta. "Dia sudah membuang kita!!" ucap ibu tajam.


Sinta mematung di tempatnya dengan wajah tak percaya.


Dan sedetik kemudian ibu jatuh pingsan dengan satu tangan memegang dadanya.


Sinta memekik panik.


"IBUUUU!!" Sinta berlari ketakutan melihat ibunya terkulai lemas.


Dan tak lama sang nenek pun muncul dari arah luar dengan terkaget yang luar biasa melihat sang anak terkulai pingsan dan cucu yang sedang menangis frustasi.


FlashBack off


Kini Sinta merenung dengan menantap luar jendela kamar yang menyuguhkan pemandangan desa pagi hari.


Sekilas kenangan yang tak akan bisa Sinta lupakan. Begitu membekas ketika sosok pria yang begitu penting dalam hidupnya memilih pergi.


Tampak wajah Sinta mengenang dengan luka mendalam. Ia masih bisa merasakan sakit hati yang cukup perih.


"Padahal, sudah lama.. tapi kenapa masih terasa sakit?" lirih Sinta sembari menghela nafas berat.


Dan karena hal itu semalaman Sinta tak dapat tidur. Pikirkan berkecambuk setelah pertemuan dengan sang ayah yang sudah cukup lama menghilang.


Sejenak ia memejamkan mata untuk membuang ingatan lama itu.


Namun di saat ia mencoba untuk melupakan. Tiba-tiba terdengar suara bel pintu kamarnya.


Ting..


Sinta merespon kaget sembari menoleh kebelakang melihat pada arah pintu.


Ting..


Kembali bunyi bel itu memanggil.


Perlahan Sinta beranjak dari duduknya di tepi jendela kamar menuju pintu


Tiing..


Tak lama langkah Sinta tiba di depan pintu dan lali meraih pedal pintu untuk membuka.


Kraakk..


Pintu terbuka dan seiring itu sosok sang kekasih hati nyata berada di sana dengan senyum terkembang hangat.


"Mas Rudy??"


Rudy tersenyum. Namun tak lama wajah Rudy berubah kaget melihat sosok sang kekasih berwajah sedikit pucat.


Dan tanpa terduga Rudy mendekat dengan wajah khawatir.


"Sinta? apa kamu sakit?" tanya Rudy sembari menyentuh kening Sinta dan memeriksa suhu tubuh gadis jamu itu.


Sinta terpaku dengan wajah datar menantap wajah cemas Rudy.


"Kamu sakit sayang??" tanya Rudy kembali.


Namun Sinta hanya menggeleng pelan.


Rudy menghela nafas.


"Apa yang terjadi?? kamu bahkan sepertinya tidak menganti baju??" cecar Rudy cemas dengan melihat pakaian sang kekasih masih sama dengan semalam yang dikenakan semalam.


Namun seketika wajah Sinta berubah sendu.


"Jawab Sinta.." Sinta membuka suara.


Fokus Rudy pun teralihkan dengan suara Sinta yang terdengar parau.


"Jika mas mencintai Sinta seperti ini? apa nanti mas juga akan tetap seperti ini??"


Kening Rudy tertaut.


"Jika rasa cinta sudah hilang apa mas juga akan membuang Sinta??"


Deg..


"Apa maksud kamu?"


"Jawab saja?" pinta Sinta mendesak.


Rudy bingung. Namun wajah Sinta menunggu jawaban. Lalu dengan terpaksa Rudy menjawab.


"Mas tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan kamu, tapi mas bukan orang yang pantas untuk menjawab hal yang seharusnya menjadi pertanyaan diri mas sendiri.." ujar Rudy menatap Sinta.


Kini Sinta yang bingung.


"Maksud mas??"


Rudy menghela nafas sembari menyentuh wajah Sinta dengan penuh sayang.


"Mas yang merasa takut, jika sewaktu-waktu cinta kamu yang berubah.. jika kamu sudah sampai di titik rasa jenuh hidup bersama mas.." Rudy sedikit mengantung ucapannya.


Tatapan Sinta berubah.


"Kau punya segalanya, kau cantik, kau pintar dan kau sempurna.. sedang kan mas, mas hanya pria yang memiliki banyak dosa dan kekurangan yang bahkan mas akui jika mas mungkin nanti yang harus merelakan jika suatu saat rasa cinta kamu berubah.."


Sinta terenyuh.


"Hal yang mas takutkan, jika nanti ada seorang pria yang datang dan dia dapat memerikan rasa utuh dan bahagia yang jauh lebih baik dari pada mas.." ucap Rudy berat.


Raut wajah Sinta berubah. Dan tanpa pikir panjang ia langsung memeluk erat tubuh Rudy.


"Gak.. Sinta gak akan berubah.. selamanya cinta ini untuk mas..hanya mas yang Sinta cintai.."


Rudy terpaku. Dan ia dapat merasakan peluka Sinta yang begitu erat seolah takut kehilangan.


Perlahan Rudy membalas pelukan Sinta.


"Kamu jangan bersedih, jika itu benar terjadi, mas akan coba untuk menerima.." ucap Rudy perih. Ia tau jika kehidupan bisa saja berubah. Dia sadar jika gadis yang sedang memeluknya erat bisa saja meninggalkannya karena kekurangan yang ia miliki.


Sinta mererai dan menegadahkan wajahnya dengan butiran air mata yang jatuh.


"Kita harus tua bersama..hm?? janji??"


Rudy tersenyum tipis. Lalu ia menjatuhkan satu kecupan sayang di kening Sinta.


Cup..


"Biarkan waktu yang akan buktikan dengan doa yang terbaik" bisik batin Rudy.