Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Seleksi lewat admin × Seleksi langsung Direktur



Didalam ruangan berbeda, Agung duduk di meja kebesarannya yang tertulis Brand Manajer.


Raut wajahnya terlihat tak tenang. Ada rasa gelisah yang tak ia mengerti setelah melihat Sinta untuk pertama kalinya memiliki hal yang ia sama sekali tidak tau.


Wajah sang Direktur perusahaan terbayang jelas ketika Rudy Mahendra menahan lengan Sinta.


Tak bisa di mengerti oleh Agung, bagaimana bisa Sinta mengenal pria itu. Padahal selama ini Agung cukup tau siapa saja teman yang berada di sekeliling Sinta.


"Bagaimana bisa? dan kenapa harus pak Rudy?" gumam batin Agung yang tak habis pikir.


Namun di saat Agung tenggelam dalam pikirannya, seseorang mengetuk pintu dan masuk dengan membuyarkan lamunan Agung.


Tok.. tok..


"Mas Agung.. bisa ke aula gak? tim sedang kumpul.."


Agung mengangguk.


"Oh, oke.. sebentar, aku akan kesana.."


"Oke baik di tunggu mas.." ujar wanita berhijab itu dan berlalu begitu saja dari ruangan Agung.


Dan seketika Agung menghela nafas panjang seolah membuang pikiran piciknya tentang Sinta.


Ia meraup wajahnya untuk mencoba tenang dan mencoba kembali fokus.


Agung bangun sembari mengecek layar handphonenya dan ternyata terdapat pesan dari Sarah. Namun ia tak menemukan pesan lain yang mungkin saja memerlukan bantuannya saat ini. Tapi nihil tak ada nama pesan atas nama Sinta disana.


Dan Agung menyeringai tidak percaya. Lalu ia menutup layar handphonenya itu untuk ia simpan kembali kedalam saku celananya.


"Sudahlah, mungkin ini lebih baik setidaknya dia tidak banyak bergantung pada ku lagi.. " guman batin Agung seolah menepis semua kecemasannya atas diri sang teman, Sinta.


Dan akhirnya Agung meninggalkan meja kerjanya untuk bertemu tim kerja program mitra Mahendra di ruang aula.


***


Diwaktu yang bersamaan, terlihat Sinta masih duduk di ruang besar Direktur Mahendra.


Ia meneguk habis gelas ke 2 yang di berikan sekertaris Jimmy.


"Glek..glek.." air putih itu turun dengan nyaris bersih dari gelas kedalam keronkongan Sinta yang dirasa begitu kering.


Rudy hanya tersenyum melihat tingkah Sinta yang masih terlihat syok. Lalu Rudy kembali membubuhkan tandatangannya di dokumen terakhir.


Gelas kedua pun kosong, dan Sinta mencoba mengatur nafasnya, lalu menoleh menatap sosok pria yang sedang fokus pada tugasnya.


"Ya Tuhan.. jadi orang yang sudah aku selamatkan adalah seorang Direktur penting!!" gumam batin Sinta yang masih tak percaya.


Namun lagi-lagi ia tak bisa tenang, tubuhnya masih saja grogi ketika melihat kembali sosok Direktur Mahendra.


Sinta menelan salivanya. Dan disaat itu juga Rudy menantapnya kembali.


"Apa sudah tenang??"


Dengan kaku Sinta langsung menangguk, walau kenyataan Rudy tau Sinta masih syok.


Pada akhirnya Rudy bangun dari kursi kebesarannya lalu berjalan menuju sofa tempat sang tamu berada.


Dengan senyum khasnya, Rudy duduk dengan santai menatap Sinta.


"Jadi gimana? apa masih berencana merebut cinta mu itu?" tanya Rudy.


Sinta menelan salivanya.


"Apa bisa?"


Rudy menhela sembari tersenyum simpul.


"Mulailah, kamu akan tau hasilnya.. berhasil atau tidak?? aku pikir kamu akan puas karena pernah memperjuangkannya.."


Sinta kembali menimbang dengan hati dan pikirannya yang sedang di uji.


Sinta melirik Rudy.


"Jika aku mulai, maka harus dari mana??"


Rudy langsung senang dan sebuah jentik jarinya berbunyi.


Stak...


"Itu pertanyaan yang aku tunggu.." seru Rudy dengan senyum berjuta misteri yang terkembang senang.


Sesaat jantung Sinta berdebar, seolah ada ruang hampa yang membuat ia terhipnotis dengan sosok di depannya ini.


"Ya Tuhan, maafkan Sinta.." lirihnya berdoa semoga pilihannya ini adalah benar.


***


Setelah tenang, obrolan ringan pun bergulir antara Sinta dan Rudy.


Terlihat kini pembahasan mereka jauh dari ekspektasi dengan terlihat jajaran botol jamu Sinta yang berada di atas meja.


"Ini jamu segar bugar, ini jamu khusus wanita yang dapat mengharmoniskan kembali rumah tangga. ." jelas Sinta langsung pada sang pemilik perusahaan.


Rudy mengamati sembari membaca lembaran-lembaran kertas yang baru saja di berikan Sinta.


"Jamu khusus wanita?? dan dapat mengharmoniskan rumah tangga??" ulang Rudy


"Bagaimana bisa jamu membuat keharmonisan rumah tangga?? kamu sudah pernah riset??" tanya Rudy.


Sinta mengangguk.


"Iya pernah.."


"Hasilnya??"


"Semua pelanggan puas dan rumah tangga mereka kembali hangat seperti waktu pertama kali menikah.."


Sontak Rudy tertawa kekeh mendengar penjelasan Sinta yang cukup percaya diri.


"Hahahaha.. bagaimana mungkin hanya dengan minum jamu lalu rumah tangga bisa seperti pertama kali menikah?? apa?? apa semua akan percaya?? dokter saja yang sudah sekolah keluar negri sekali pun tidak bisa melakukan hal seperti itu" timpal Rudy yang mulai menguji keberanian Sinta.


Raut wajah Sinta berubah serius, ada hal yang harus di luruskannya pada sosok yang terlihat tak mengerti arti penjelasannya.


"Bukankah sebuah pernikahan harus di rawat?? selain cinta, bukankah hubungan suami istri juga paling penting??" ujar Sinta tenang.


Rudy sedikit tertahan.


"Tapi mengapa saat merawat sebuah pernikahan itu, wanitalah yang harus di tuntut untuk bisa menjaganya agar selalu dapat menyenangkan pasangan.."


Rudy menatap Sinta lekat.


"Wanita selalu di tuntut selalu sempurna, baik fisik yang mungkin tidak sama seperti saat ia masih gadis.. ada bayi yang harus ia lahirkan, ada rasa lelah yang harus ia tahan untuk merawat buah cinta yang dapat membuatnya untuh sehingga fisiknya terkuras.. tapi, mengapa pria tidak pernah mengerti??"


Rudy menelan salivannya.


"Para lelaki selalu menuntut lebih.. pada pasangannya agar selalu bisa melayani dengan hasrat liar yang mungkin sudah tidak sama lagi ketika awal pernikahan.."


Sinta menghela nafas pelan.


"Tanpa di sadari, dinginnya hubungan ranjang, banyak wanita yang menangis karena diam-diam para suami mengimpikan wanita lain yang mungkin sangat pintar dalam urusan ranjang.. dan tidak sedikit rumah tangga berakhir karena hal itu" ucap Sinta dalam.


Rudy sedikit tertunduk, ada ucapan Sinta yang mengusik batinnya.


Tak lama wajah sendu Sinta berubah sedikit tenang.


"Jadi karena itulah, jamu khusus wanita ini di ciptakan.. dan semua kembali pada niat agar hubungan suami istri yang dingin bisa hangat dan sebuah pernikahan terselamatkan.."


Rudy menyeringai miris dengan terbayang wajah sang mantan istri, Alia.


"Harusnya kamu datang lebih awal.." ujar Rudy lirih.


"Hah??" gumam Sinta bingung.


Rudy menyeringai kecil.


"Baiklah, produk jamu kamu aku terima..kita akan uji kelayakannya"


Sinta kaget bukan kepalang.


"Hah? Apa??"


"Jimmy!!" panggil Rudy.


Tak lama Jimmy masuk kedalam ruangan yang pintunya tidak terlalu di tutup.


"Ya.. saya di sini.." sahut Jimmy sigap.


Rudy setengah berbalik.


"Tolong beri nota khusus pada produk yang di bawa Sinta.. ikut kan dalam mitra Mahendra yang sudah di seleksi.."


Sinta kian terperangah.


"No-nota khusus??" ulang Sinta terbatah.


Rudy berbalik dan menantap Sinta dengan senyum.


"Aku tertarik pada jamu kamu, semoga jamu kamu bisa menyelamatkan banyak wanita yang memiliki suami brengsek seperti aku ini.." tukas Rudy santai.


Sinta memantung.


"Oopss.. maaf mas Rudy.." Sinta jadi merasa bersalah karena penjelasannya tadi dan mengingat jika mas Rudy adalah duda yang sudah dua kali gagal dalam pernikahannya.


Rudy terkekeh garing.


"Sudahlah.. bagaimana pun welcome Sinta..sekarang kamu bagian mitra Mahendra.." ujar Rudy sembari mengeluarkan tangannya.


Sinta terpaku pada tangan yang terulur.


Tak terbayangkan oleh sinta jika jalannya akan semudah ini.


Dengan perasaan campur aduk Sinta langsung menyambut tangan Rudy dengan wajah berbinar-binar.


"Makasih pak..makasih pak Rudy.."


Rudy terkekeh lucu.


"Hahaha, jangan panggil pak, tetap mas saja.. " pinta Rudy.


Sinta mengangguk cepat mengiyakan permintaan sang Direktur perusahaan.


Dan keduanya saling melempar senyum terbaik dimoment itu.