Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
13



Akhirnya Rudy pun berada di tengah-tengah tim Ungu.


Selama 1 hari kegiatan sosok Rudy terlihat lebih unggul. Sikap ke pimpinannya begitu kentara untuk mengatur strategi dalam memenangkan pertandingan antar tim. Namun karena dari semua anggota hanya Sinta yang melakukannya setengah hati.


Rasa puas para anggota tim Ungu pada Rudy pun bertambah. Namun tidak untuk Sinta. Ia masih terlihat acuh tak acuh.


"Oke, kegiatan kita hari ini selesai.." kata Koko melalui pengeras suara.


Dan hal itu pun mendapat tepuk tangan dari para peserta yang merasa lelah.


"Terima kasih untuk semangat teman-teman yang sudah berusaha sejauh ini.. gimana? masih mau bersedih??"


"TIDAAAAK!!" sahut serempak para anggota yang kian terlihat lebih baik.


Koko terlihat tertawa puas. Ya, karena semua peserta seolah kembali mendapat semangat baru.


"Apa masih mau balikan sama mantan??" tanya Koko sengaja mengusik.


"ENGGAK!!" sahut serempak para anggota. " Gak janji Ko!!" sahut barisan lain yang terlihat menjawab berbeda.


"Naaah, jika mantan adalah sampah, maka yang balikan sama mantan itu pemulung.." seloroh Koko yang sontak jadi bahan candaan antar peserta. Sehingga terjadi sorak riuh yang terdengar seru.


"Cieee yang mau jadi pemulung, monggo di persilahkan.." sesumbar peserta lain yang bersorak.


Hingga terjadi canda tawa yang begitu semarak.


Sinta pun ikut tertawa lucu.


Begitu pula dengan Rudy yang ikut tersenyum simpul, sejujurnya ia memertawakan dirinya sendiri karena mendengar ucapan itu. Yaa, bagaimana tidak ia bahkan benar-benar menjadi pemulung yang handal saat mengejar kembali cinta sang mantan istri hingga menyeretnya ke dalam penjara penyesalan.


Dan perlahan ia pun pergi begitu saja dari perkumpulan itu.


Tanpa sengaja Sinta melihat Rudy pergi.


***


Malam harinya setelah para peserta kembali ke tenda masing-masing dan bergantian membersihkan diri.


Sinta baru saja selesai mandi dan itu membuatnya segar.


Fika terlihat sudah rebahan dengan wajah lelah.


"Seru ya hari ini.."


"He-em.."


"Tapi.." ucap Fika tergantung dengan melihat pada sinta yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kamu kenapa kesal sama mas Rudy??"


Sinta terhenti.


"Ah, enggak.."


"Bener??"


"He-em.. biasa aja kok" elak Sinta. " Kenapa??"


"Hm, enggak sih, aneh aja kok kamu paling keliatan gak sukanya sama mas Rudy.. apa kalian ada masalah??"


Sinta terkekeh garing.


"Masalah apa?? ya gak adalah, kenal juga enggak, tau beliau juga pas di tim.." sahut Sinta tanpa beban. "Cuma.."


Fika menanti.


"Oh iya, bener tuh.." sahut Fika tersadar. " Apa aku kuat yaa??"


"Kenapa??"


"Ah, enggak.." ucap Fika tersenyum bias. " Udah lama yaa gak liat handphone.."


Sinta mengangguk.


"Iya-ya.. kira-kira, ada gak yang kangen sama kita?? atau mungkin??" ucapan Sinta tergantung dengan wajah bernelangsa jauh mengingat Mas Agung dan juga dr. Sarah. "Atau mungkin tanpa kabar kita, mereka baik-baik saja.." sambung Sinta seketika merasa hampa.


***


Di ruang lain, tepatnya kamar Rudy, terlihat ia sedang duduk di tempat tidur sederhana.


Kepalanya mulai tidak enak. Bisikan-bisikan halus untuk mencari minuman itu kembali muncul.


Rudy mencoba untuk memijit kepalanya. Padahal ia sudah berusaha, namun tampaknya memang tidak mudah.


Kembali teringat ucap Ibu Reni.


"Jika anda tidak berhenti dari sekarang, maka alkohol akan jadi teman setia anda.. dan tidak mungkin tidak hal itu akan kian memperburuk kesehatan anda.."


Rudy saat itu menantap ibu Reni dengan tatapan kejam.


"Maaf jika anda tidak nyaman, jika saya kunci didalam hari.. karena saya tidak mau mengambil risiko jika sewaktu-waktu anda kehilangan kendali.. dan saya selalu mengawasi anda, karena anda prioritas di sini.."


Dan saat ini Rudy menghela nafas panjang. Sungguh ia benar-benar tersiksa tanpa alkohol, namun ucapan ibu Reni ada benarnya dan itu membuatnya sangat membenci diri ya sendiri yang kini punya kebiasaan buruk itu.


Di samping itu, Rudy kian kesal karena selama di sini ia tak bisa menggunakan handphonenya. Semua di sita bahkan untuk uang saja ia tidak punya. Benar-benar membuat geram.


"Butuh berapa lama lagi aku disini??" kesal Rudy bertanya seorang diri.


***


Di lain tempat, terlihat mengendari mobil sedannya bersama Sarah. Dan tak sengaja melewati jalan rumah Sinta.


Agung dapat melihat jika rumah itu terlihat sepi. Sudah beberapa hari ia tak bertemu temannya itu. Bahkan tiap pesanan atau telfon tak pernah di jawab oleh Sinta.


Sarah dapat melihat jika pria di sampingnya itu melihat dengan tatapan tak biasa pada rumah yang telah mereka lewati.


"Mas??"


"Hm?"


"Mas, lagi mikirin Sinta?"


Agung menoleh sekilas pada wanita di sampingnya ini.


"Iya, lebih tepatnya heran.. kemana dia pergi??"


"Mas khawatir??" tanya Sarah dengan nada yang tak biasa.


Agung tak menjawab. Dan Sarah merasa suasana kian tak biasa.


"Mungkin Sinta pergi karena marah..dengan hubungan kita.." ucap Sarah terdengar berat.


Dan seketika laju mobil sedan itu pun terhenti di pinggir badan jalan.


Terlihat jika Agung cukup terkejut lalu menantap Sarah lekat.


"Maksud kamu??"