Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Zona teraneh



"Selamat malam.." sapa Rudy pada kumpulan yang terlihat tak ramah pada kehadirannya.


Sinta mengembangkan senyum ramah dengan mencoba menyesuaikan dirinya pada lingkungan yang berbeda.


"Maafkan saya karena sedikit terlambat.." sela Rudy berbasa-basi.


Dan satu pria tua yang berbalik dengan wajah hangat menyambut.


"Tidak.. a-pa.." sahut pak Dewa tergantung dengan raut wajah yang seketika berubah terkejut. Ketika melihat wajah gadis yang tak asing di ingatannya.


"Sinta.." ucap pak Dewa spontan yang membuat sang pemilik nama berubah fokus pada orang yang menyerukan nama.


Deg..


Kedua mata Sinta menemukan pria paruh baya yang telah lama hilang kini berada tepat di hadapannya. Segenap gestur tubuhnya merespon terkejut dengan tak percaya.


Rudy terkejut. Begitu pula dengan para kumpulan di sana.


"Sinta??" ulang pak Dewa dengan menyakini jika sosok di gadis di hadapannya adalah anak perempuan yang ia tinggalkan dulu.


"Apa kalian saling mengenal?" tanya Rudy penasaran.


Namun entah bagaimana mana caranya Sinta mengontrol dirinya.


"Tidak.." potong Sinta dengan menyimpan kegelisahan ketika melihat sosok pria itu kian ingin menempatkan segala rasa rindu dan keterkejutannya.


Deg..Langkah pak Dewa sedikit tertahan tepat di hadapan Sinta dan Rudy.


"Benarkah?? pak Dewa?? apa anda??"


"Jadi ini ya mas, pak De-wa ?" sela Sinta merubah suasana seolah ia memang tidak pernah mengenal pria tua yang melihatnya dengan sejuta rindu.


Pak Dewa tertahan. Rudy pun bingung.


"Benar, ini adalah pak Dewa yang sangat mengangumi jamu buatan kamu" jelas Rudy.


Dengan raut wajah terpaksa, Sinta memberi senyum dinginnya lalu tak lama ia mengulurkan tangan dengan sopan pada pria yang memberi trauma terdalam dalam hidupnya.


"Si-nta.. senang bisa bertemu dengan anda "Tuan De-wa" ucap Sinta dengan nada sopan dan memperlihatkan status pada sosok yang kini adalah orang kaya.


Deg.. pak Dewa kian tak bisa berkata ketika ucapan sang putri yang terdengar dingin dan tatapan yang asing.


Sakit.. itu yang pak Dewa terima, namun melihat hal itu, Pak Dewa pun mengurungkan niatnya. Lalu dengan perasaan campur aduk, ia pun menyambut uluran tangan sang putri yang dulu ia lepaskan.


"Senang bisa bertemu kembali.." sahut pak Dewa dengan nada suara yang lembut.


***


Pertemuan mengejutkan itu pun kini berlanjut hingga di meja makan.


Dan sialnya, Rudy membawa Sinta di satu meja yang sama dengan pria tua itu.


Sinta terlihat diam dengan wajah bias. Sinta tak banyak berbicara dan hanya mengharapkan jika ia bisa pergi dari sini malam ini juga.


Rudy berbicara dengan pak Dewa dengan obrolan santai. Namun pak Dewa masih saja tak fokus karena ia masih tak bisa menutupi rasa terkejut dan rindu pada putrinya yang dulu sangatlah manja kini sudah menjelma menjadi gadis cantik yang memiliki kemiripan dengan mantan istrinya dulu.


Rudy tersenyum simpul di sela ia mengunyah.


"Kami bertemu di tempat yang sangat-sangat unik.." jawab Rudy sopan dan menyudahi aktivitas makannya lalu meraih gelas air putih.


Sinta diam dan menghindari tatapan pak Dewa yang sedari tadi tertuju pada dirinya.


"Tempat unik?" ulang pak Dewa penasaran.


Rudy menoleh pada Sinta sekilas lalu ia menyentuh jemari sang kekasih dengan lembut sehingga Sinta kembali fokus dalam pembicaraan.


"Saya bertemu dengan Sinta benar-benar suatu keberuntungan, karena berkat Sinta, saya mendapatkan kesempatan ke dua untuk menjalani hidup lebih baik.." tutur Rudy penuh arti dengan mengusap lembut punggung jemari Sinta.


Sinta hanya membalas sekilas senyum pada Rudy.


Pak Dewa dapat melihat jelas jika sosok Rudy begitu dalam mencintai putrinya. Namun jauh di dalam hatinya pak Dewa bersedih, ia begitu tak lama meninggalkan sosok sang putri yang ternyata tubuh menjadi wanita yang sempurna.


"Dan mungkin dalam waktu dekat, kami akan menikah" ujar Rudy.


Mendengar hal itu pak Dewa sangat terkejut, ia tak menyangka jika putrinya akan menikah. Sehingga ia tak sengaja menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang.


Ting..


Rudy menantap hal itu. Begitu pula dengan Sinta. Terlihat jemari pak Dewa bergetar.


"Ah, ma-af.. saya sudah tua jadi.."


"Akan saya minta yang lain pada pelayan.." ujar Rudy sembari melambaikan tangan pada pelayan.


Pak Dewa menantap lama Sinta. Namun Sinta membuang muka dan ia sedikit berkemas.


"Mas, maaf ya Sinta permisi sebentar.." pamit Sinta yang tak bisa lagi menahan dirinya.


Rudy kaget namun hanya mengangguk sekilas. Dan Sinta pun beranjak pergi begitu saja dari meja makan itu.


Dan pak Dewa gelisah ketika melihat sosok sang putri pergi.


"Apa kamu benar-benar mencintai Sinta??" Pak Dewa bertanya dengan nada seolah ia adalah orang tua gadis jamu itu.


Rudy menoleh dengan perasaan heran ketika mendengar pertanyaan pak tua yang ia pikir tidak akan penasaran kehidupan pribadi rekan kerjanya.


"Maksud anda??" tanya Rudy bernada waspada.


Raut wajah pak Dewa berubah. Ada sisi yang tak bisa di jelaskan yang menbuat Rudy merasa tak nyaman dengan pertanyaan pria tua ini.


"Jika sekali saja kau menbuatnya menangis, maka aku tidak akan tinggal diam, Rudy Mahendra?" ujar pak Dewa memberi peringatan tatapan tajam pada Rudy.


Jegeeer..


Suasana pun berubah tegang.


Rudy terjebak di zona yang sangat aneh, rasa waspadanya pun bertambah.


"Apa maksud pak Tua ini? apa dia ingin merebut Sinta dari ku??" tanya batin Rudy yang marah.