
Di satu ruang klinik kecil yang sederhana. Kini terlihat Rudy duduk di atas bad pasien dengan posisi duduk.
Seorang wanita muda mengamati bekas merah yang terlihat jelas melebar di atas dada hingga ke perut Rudy.
"Kita obati dengan salep bakar.. kulit anda sepertinya benar-benar meradang.."
Rudy hanya bisa pasrah dengan wajah yang terlihat jelas menahan perih.
"Sebentar saya lihat salepnya dulu.." ucap wanita muda itu yang kemudian berlalu pergi untuk menuju lemari obat-obatannya.
Sinta yang berada di sana tak berani mendekat pada korbannya.
"Masih perih nak Rudy.."
"Hmm, ya.. rasanya masih terbakar.." jawab Rudy dengan tertunduk dan melihat pada tubuhnya yang memerah.
Sinta yang mendengar ucapan sang korban merasa bersalah dan kasihan.
"Maaf mas.." ucap Sinta ragu-ragu di belakang Ibu Reni.
Ibu Reni berbalik dan di saat bersamaan wajah Rudy terangkat untuk menatap sang pelaku yang sudah membuat paginya menjadi sial.
"Aku tidak terima.. ini luka cukup pedih"
Sinta merenggut dengan wajah sulit untuk di jelaskan.
"Tapi saya gak sengaja mas, bener.."
Rudy menghela nafas.
"Jadi karena kamu tidak sengaja saya harus memakluminya?? saya ada di sini karena kecerobohan kamu? saya yang menderita di sini!!" balas Rudy ketus tak terima permintaan maaf Sinta.
Sinta tertohok tak berkutik.
"Duh, galak amat.. kalau cuma segitu 2 hari juga sembuh.. lebay deh!!" risau hati Sinta yang sepertinya bertemu dengan korban yang sulit menerima kata-kata maaf.
Tak lama wanita muda itu kembali dengan membawa peralatan medis. Ia meletakkan peralatan medis itu di samping Rudy. Dan wajahnya terlihat tenang menatap luka bakar Rudy yang masih kentara.
"Saya bersihin dulu yaa.. maaf mungkin akan sedikit perih.." ucap wanita muda itu dengan memakai sarung tangannya.
Pengobatan pun berlangsung, Rudy terlihat menahan perih tiap olesan kapas putih menyentuh kulit merah di tubuhnya.
Sinta menunggu dengan gelisah.
Selang beberapa menit, akhirnya wanita muda yang terlihat terampil menyelesaikan tugasnya.
"Untuk sementara ini akan meredakan iritasi pada kulit.. dan sepertinya anda harus minum obat untuk menahan nyeri panasnya.."
Plak.. Rudy menepis.
"Tidak usah" potong Rudy yang seketika turun dari bad pasien. Ia meraih kaos yang masih lembab lalu segera mengenakan kembali.
Namun ibu Reni menahan.
Rudy seketika menantap sinis pada ibu Reni.
"Apa anda orang tua saya??"
Ibu Reni bungkam dengan raut wajah tak enak. Lalu ia seolah memberi kode pada siapapun yang ada di sana untuk meninggalkan ia dan pasien Rudy.
Sinta yang tak paham, malah di bantu oleh wanita muda yang menariknya keluar bersama.
"Ke-kenapa keluar??"
"Ssst.. ikut saja.." tarik wanita itu pada lengan Sinta.
Dan keduanya kini berada diluar.
Terlihat wajah wanita muda itu kesal.
"Kasian ibu Reni, dapat pasien sakit jiwa begitu lagi.." rutu wanita muda itu cemberut.
Sinta kaget.
"Pa-pasien sakit jiwa?? maksudnya?? mas tadi itu orang gila??"
Wantia muda itu tersadar.
"Ah, bukan.. bukan gitu maksudnya.. maaf aku tadi salah ngomong.. Mas itu gak gila kok.. cuma, mmh yaa agak sedikit perlu terapi jiwanya.."
"Oh" sahut Sinta sulit mengerti tapi berpura-pura saja paham.
"Eh, kamu??"
"Oh, saya peserta gagal move on, Sinta."
Wajah wanita muda itu langsung berubah ramah.
"Saya Yessy, dokter di klinik ini.." balas Yessy dengan wajah yang ramah.
Keduanya saling senyum.
Namun tak lama, terdengar langkah kaki yang berjalan keluar dari dalam klinik.
Dan ternyata Rudy melewati kedua wanita itu.
Sinta melihat pria itu lewat begitu saja dengan raut wajah yang berbeda.
"Ckckck..sayang sekali, usia boleh lebih dewasa tapi kelakuan gak ada attitude sedikit pun.." ujar Yessy miris dan menyayangkan pria yang kini hanya dapat melihat punggungnya.
Sinta hanya mendengar tanpa berkomentar. Namun ia sedikit merasa lega sih, yaa setidaknya pria itu tidak lagi membahas tentang tragedi tumpah jamu itu lagi.
"Eh..tapi.. tapi jadinya kan aku tidak bisa minum jamu pagi ini!!" rutu batin Sinta yang seketika kesal mengingat minuman jamu berharganya tak sempat ia minum.