Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Sayangnya mas Rudy



Setelah malam perasaan itu.


Kini hari-hari pasang kekasih Sinta dan Rudy tetap bergulir seperti biasa.


Rudy menikmati tiap hari jalan hidupnya yang mulai berubah semenjak pengakuan perasaan.


Perlahan namun pasti sosok Sinta mulai memenuhi hari-hari Rudy. Bukan hanya sebagai kekasih hati namu juga sebagai partner kerja.


Seperti siang ini. Sinta rela menuju tempat rapat Rudy yang jauh dari kantor. Ia datang dengan membawa beberapa desain yang harus segera di fix kan agar cepat di cetak.


Keduanya berdiri dengan menatap layar handphonen Sinta.


Kedua berdiskusi serius. Tiap saran Rudy selalu menjadi pertimbangan Sinta.


Beberapa jemari lentik Sinta yang kini tidak menguning lagi bermain manja di atas layar datar itu.


"Jadi, jika di buat dengan warna ini gimana mas??"


"Lebih baik warna terang agar lebih menarik.."


Sinta mengangguk. Lalu tak lama, jemari Sinta memindahkan satu desain dan membuka file lain. Ada sebuah desain pabrik yang hampir rampung.


Diskusi kembali terjadi. Hingga ketika pandangan Rudy tidak jelas, ia sedikit memiringkan kepalanya hingga tanpa sadar kepala itu beradu dengan kepala Sinta.


Tuk..


"Aw.."


Rudy menoleh kaget.


"Ah, maaf sayang..." ucap Rudy spontan dengan segera mengusap lembut kening Sinta yang tak sengaja membentur kepalanya.


Seketika wajah Sinta berubah berseri. Dan kedua mata beningnya menantap senang pada Rudy yang masih mengusap kepalanya.


Merasa di tatap Sinta, Rudy tersadar.


"Kenapa kamu natap gitu?"


"Lagi.." senyum Sinta baper.


"Apa?? ini??" tanya Rudy yang masih mengusap kening Sinta.


Sinta menggeleng cepat.


"Itu yang tadi?" Sinta merespon dengan wajah penuh harap.


Kening Rudy tertaut.


"Apa?" tanya Rudy tak mengerti.


"Ikh, dasar pak tua.. itu ucapan sayang tadi..lagi dong!" rengek Sinta manja.


Rudy terpaku.


"Sayang?"


Sinta mengangguk.


Rudy sedikit tak enak melihat situasi tempat yang di lalu lalangi beberapa orang disana.


"Nanti saja, mas telfon oke.."


Wajah berseri Sinta seketika cemberut.


"Yaah, gak seru dong.. gak live" ucap Sinta memanyunkan mulutnya.


Rudy terkekeh.


"Live?"


"Iya dong, mumpung mas di sini dan sinta di sini, ayo dong.. bilang sayang lagi.." bujuk Sinta pantang menyerah.


Rudy melihat sekitar.


"Ehem.. oke, Sa-yang.." ucap Rudy kaku bak kanebo kering.


Sontak Sinta tertawa lucu.


Rudy malah heran dengan tawa gadis jamu ini.


"Kok malah di ketawain??"


"Hahahah.. gak deh mas..ternyata gak cocok kalau di paksa.. jadi kayak om-om gatel.. " tutur Sinta yang masih tertawa.


Rudy tertohok. Yaa, kalau di ingat-ingat benar sih, jika dirinya adalah om-om sedang kan Sinta gadis muda yang lebih cocok jadi keponakannya dari pada kekasih ya. Sinta 26 sedang kan Rudy nyaris 38 tahun, selisih usia 12 tahun benar-benar membuat hubungan ini begitu unik.


"Ck, yang suruh juga kamu kan.. ya sudah mas balik nie mau ada tamu lain lagi.." ujar Rudy balik cemberut.


Sinta masih betah tertawa. Dengan tak kuat untuk berhenti.


Dan Rudy hendak berlalu, namun sadar melihat sang kekasih ngambek. Sinta pun dengan cepat menahan sang kekasih.


"Eh, tunggu mas.." ucap Sinta menahan lengan Rudy.


Rudy berbalik dengan wajah jutek.


"Duuh, jutek aja ganteng.." seloroh puji Sinta agar pria yang membuat hatinya bahagia ini kembali tersenyum.


Rudy menyudutkan senyum sinis.


Sinta tersenyum hangat pada Rudy, lalu tak lama ia meraih sesuatu dari dalam tas totebag nya.


"Ini mas, jamu mas untuk hari ini.." ucap Sinta dengan memberikan satu botol jamu pada sang kekasih.


Rudy menerima. Namun tatapannya sedikit berubah.


"Hm, tapi mengapa jamu ini rasanya berbeda dengan yang biasa mas minum dulu??"


Sinta sedikit kaget.


"Ah, itu.. ehmm, karena ada beberapa komposisi bahan rempah yang khusus Sinta tambahkan untuk mas.."


"Maksudnya??"


Sinta sedikit ragu.


"Permasalahan mas berbeda, jadi Sinta mencoba membuat jamu khusus untuk apa yang mas derita.." jawab Sinta dengan mencoba menggunakan bahasa yang tidak menyinggung perasaan sang kekasih.


Rudy merespon kaget.


"Kamu??"


"Tidak ada salahnya mencoba.. tidak ada niat lain, hanya berharap mas selalu sehat.."


Rudy menantap bias.


Sinta merasa tak enak dan ia tau jika ia sudah lancang jika membuat jamu khusus itu tanpa pernah bertanya dulu pada mas Rudy.


Rudy menantap botol jamu di tangannya, Entah apa yang sedang terlintas di pikirannya Rudy.


Namun tak lama ia tersenyum simpul. Lalu menantap wajah Sinta yang harap-harap cemas. Dan satu tangan membelai pucuk kepala Sijta dengan sayang.


"Terima kasih ya.." ucap Rudy tulus.


Deg.. untuk beberapa saat Sinta terkesima pada wajah Rudy dan entah mengapa Sinta merindukan kecupan basah pria itu.


"Ya sudah, kalau begitu mas masuk dulu, jika ada waktu kabari mas, sore kita ketemu.." ujar Rudy berpesan.


Sinta yang terkesima pun tersadar.


"Ah, ya.. oke mas.." ucap Sinta malu-malu.


Rudy menyentuh kening Sinta. Lalu ia pun berlalu pergi.


Dan kini sinta hanya bisa menantap punggung pria yang begitu sempurna dimatanya.


"Duuh, mas ku itu.. bikin nagih aja bibirnya.. ah, kapan bisa ciuman lagi yaa? jadi kepengen.." gumam batin Sinta yang masih terus menatap sosok Rudy yang akhirnya hilang di dalam lift.


***


Waktu pun berlalu, kini Rudy kedatangan tamu yang sangat susah di jumpai.


"Apa kabar pak Dewa.." Rudy mengulurkan tangannya pada pria yang terlihat seusia almarhum sang ayah.


Pria senior itu terlihat menyambut dengan baik


Pria tua itu datang dengan wajah yang terlihat tenang. Kedatangan kali ini hanya sebagai basa basi atas kerja sama keduanya dalam pembangunan Resort yang hampir rampung dalam beberapa minggu ini.


Obrolan yang ringan dan terkesan hanya untuk basa basi menghormati jalinan kerja sama.


Hingga saat hendak menikmati jamuan, Rudy dengan santai membuka botol minuman yang di berikan sang kasih.


Namun sesaat aroma jamu yang keluar dari botol minuman Rudy. Mengundang rasa penasaran pak Dewa.


"Hmm, ini seperti bau jamu.."


Rudy yang baru saja hendak meneguk minuman itu sedikit menunda.


"Ah, iya benar pak Dewa.. ini adalah jamu.. bagaimana bapak tau?"


Pak Dewa sedikit tertegun.


"Jadi benar itu bau jamu??"


"Iya pak, ini minuman jamu.."


"Setingkat nak Rudy, minum jamu??"


Rudy tersenyum kecil.


"Untuk kesehatan, dan lagi pula saya di buatan khusus oleh yang jual.."


"Waah, terdengar seperti ada hubungan spesial.." celetuk pak Dewa berseloroh sembari menikmati teh hijau miliknya.


Rudy hanya tersenyum kecil. Lalu ia meneguk habis minuman cinta milik sang kekasih.


Tak lama setelah berbincang lama. Akhirnya pertemuan itu pun berakhir.


Pak Dewa sedikit berubah.


"Jadi bagaimana jika minggu depan kita meninjau Resort bersama.." ajak pak Dewa.


Rudy menyambut antusias.


"Ide yang bagus pak, saya setuju.."


"Ya sebelum di buka ada baiknya kita melihat sendiri hasil agar lebih puas.." ujar pak Dewa.


Rudy mengangguk setuju.


"Tapi.. kalau boleh saya titip pesan jamu seperti milik pak Rudy.."


Rudy terkejut.


"Jamu?? pak Dewa mau minum jamu??"


Pak Dewa tersenyum simpul.


"Ya, karena aromanya mengingatkan saya pada masalalu.." jawab pak Dewa bernelangsa.


Rudy memperhatikan sorot mata pak Dewa. Namun dengan cepat wajah pak Dewa berubah tenang.


"Baik, kalau begitu sampai ketemu lagi nak Rudy.." pamit pak Dewa berlalu bersama dua orang kepercayaannya.


Rudy merespon bias.


Dan kepergian pak Dewa membuat Rudy nilai. Jika sosok pria paruh baya ini tidak lah seperti pengusaha pada umumnya.


Namun apa pun itu, yang lebih mengangetkan jamu Sinta sukses menarik perhatian pria tua itu.


"Jamu kamu memang beda sayang.." senyum Rudy berbangga pada kekasih hatinya.