Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Memulai



Di satu ruangan yang bernuansa putih. Suasana hening begitu terasa tanpa ada kebisingan yang berarti.


Namun di satu sofa besar terlihat Delon sedang berselancar di layar handphonenya.


Di satu bad rumah sakit, terlihat Rudy terbaring dengan kaki tergips. Dan sebuah selang infus senantiasa turun perlahan untuk memenuhi kebutuhan air di tubuhnya.


Perlahan kedua mata Rudy terbuka. Ia mencoba untuk sadar dengan memaksakan diri untuk bangun.


Kedua matanya mengerap, menerima pemandangan pertama yang terlihat belum jelas.


Namun perlahan ia pun melihat kesekeliling dengan wajah terheran.


"A-pa aku sudah mati?" tanya batin Rudy pada dirinya sendiri.


Ia pun mencoba membawa kedua tangannya pada kedua mata. Menantap satu persatu tangannya yang ternyata masih utuh dan ada satu selang infus tertancap di sana.


Lalu Rudy seperti kecewa.


"Ternyata aku, masih hidup.." gumam Rudy dengan hela nafas yang panjang.


Mendengar ucapan itu, Delon pun langsung bangun dari rebahannya. Ia berjalan cepat menuju sisi samping tempat tidur Rudy.


"Rudy?" seru Delon penuh kecemasan. "Ah, syukurlah akhirnya kau sadar juga.." ucap Delob penuh lega.


Rudy menantap Delon.


"Kau? mengapa ada di sini??" tanya Rudy yang heran pada sang teman.


Delon cemberut dan seketika kemarahannya memuncak.


"KAU ini!! apa tidak tau betapa hampir gilanya aku ketika tau kau hilang di hutan belantara itu!!" tukas Delon yang seketika berubah marah.


Rudy memalingkan wajahnya seolah acuh tak acuh.


Delon kesal, namun perlahan ia menurunkan sedikit kemarahannya.


"Kau sudah tidak lagi muda, harusnya kau sadar diri, Rudy.." ucap Delon dengan hela nafas pelan. "Kau itu pemimpin 3 perusahaan, jika kau sakit begini bukan hanya kau saja yang rusak, tapi seluruh perusahaan juga ikut berpengaruh.." tukas Delon.


Rudy diam.


"Aku tau kau masih belum bisa melupakan Alia, tapi.. kau tidak bisa terus menyesalinya hingga berpikir untuk mati begitu saja.."


Dan lagi-lagi Rudy diam.


Sehingga Delon pun tak bisa berkata apa pun lagi melihat sikap acuh Rudy yang sepertinya memang sudah tak punya lagi semangat hidup.


"Sudahlah.. mungkin aku tidak mengerti arti kecewa dan penyesalan mu itu seperti apa.. aku menyerah dan aku minta maaf karena ikut campur dalam urusan pribadimu.." tukas Delon.


Rudy menatap nanar pada dinding putih itu.


Delon kembali menghela nafas panjang.


"Aku hampir mengira jika kau sudah sembuh, karena gadis muda itu benar-benar mengatakan hal yang membuat aku percaya bawa kau bisa move on.."


Kening Rudy tertaut.


"Ah, sudahlah.. aku rasa gadis muda itu bisa kecewa jika ia tau jika rasa keinginan mu untuk mati lebih besar maka ia akan merasa sangat sedih, sudah menyelamatkan kamu kemarin.."


Deg.. Rudy terpaku lalu seketika menoleh pada Delon dengan wajah bingung.


"Gadis muda??" ulang Rudy.


"Ya, sinta.. gadis muda yang ikut tersesat bersamamu dan rela kembali dengan niat yang kuat sembari memopong tubuhmu itu untuk sama-sama di selamatkan oleh tim penyelamat.."


Rudy mematung beberapa saat.


"Sinta" ulang Rudy dengan kembali menyusun pazzel ingatannya tentang gadis cerewet yang menjadi teman tersesatnya saat itu.


"Di..dimana dia?" tanya Rudy sembari hendak bangun dari tidurnya.


Delon terkejut.


"Hey, apa yang kau lakukan!!" teriak Delon panik ketika melihat Rudy bersiap untuk turun dari tempat tidur pasien.


Lalu saat Rudy hendak memerintahkan saraf kakinya untuk turun di saat itulah ia baru sadar jika kakinya terlalu berat. Dan Rudy pun terkejut ketika melihat kakinya di gips.


"Kakimu hanya cedera ringan, namun kata dokter tidak ada yang perlu dikhawatirkan..hanya perlu istirahat saja"


"Aku harus bertemu dengan wanita itu.. dimana dia?"


"Aku tidak tau, karena saat kalian di temukan dia dibawa oleh para petugas tim camp.. dan kamu khusus aku jemput dengan ambulan sampai kerumah sakit ini"


Rudy menghela nafas. Lalu perlahan merebahkan dirinya lagi keatas tempat tidur.


Delon hanya melihat.


"Kau pulang saja.. aku ingin sendiri" usir Rudy.


Delon tak menjawab, ia pun berbalik. Namun belum beberapa langkah ia pergi Rudy kembali bersuara.


"Kapan rapat kerja dengan Dewanta??"


Delon berhenti.


"3 hari lagi.." jawab Delon.


"Hm, aku akan masuk kantor di tanggal itu.."


Mendengarkan hal itu, Delon tersenyum kecil. Laku perlahan ia berlalu pergi meninggalkan kamar pasien Rudy.


Kini Rudy seorang diri di kamar pasien itu. Dan pikirannya terbang mengingat kejadian saat berada di hutan belantara itu.


"Sinta.." ucapnya pelan.


***


Di lain tempat.


Sinta kini sudah kembali kerumahnya, setelah tadi siang di antar oleh tim Koko dan ibu Reni sebagai rasa tanggungjawabnya mereka pada kejadian yang menimpa peserta tim move on. Dan betapa kagetnya Sinta ketika hal yang selama ini ia hindari justru datang di saat yang tidak tepat.


"Kenapa kamu seceroboh itu Sinta?? apa kamu tidak bisa sedikit pun tidak membuat ibu mu khawatir!!" tuding mas Agung yang marah besar pada Sinta.


Sinta terdiam ketika menerima kemarahan pria yang sangat ia cintai diam-diam itu.


"Kamu tau?? kamu tau gak gimana ibu kamu panik ketika menerima berita jika kamu hilang di hutan dan belum kembali!!" cecar Agung dengan kemarahan yang tak bisa ia tahan.


Agung menantap Sinta tajam, namun tidak dengan tatapan Sinta yang terluka.


Dan dr. Sarah menahan lengan sang kekasih dengan penuh lembut.


"Udah mas.. yang penting Sinta udah kembali dan bersyukurya dia enggak kenapa-napa.." ucap Sarah lembut mencoba mendinginkan hati sang calon suami.


Namun tampaknya Agung masih sangat kesal pada Sinta.


"Mas minta lain kali, apa pun kegiatan kamu, coba.. coba pikir ratusan kali sebelum mengambil keputusan, pikir dan jangan asal ikut-ikutan untuk kegiatan yang unfaedah seperti itu!! GAK GUNA!!" tuding Agung kian tajam lalu berbalik badan dan hendak meninggalkan rumah Sinta.


Dada Sinta seketika sesak. Ucapan Agung benar-benar sudah membuatnya sakit luar dalam.


"Mas??" panggil Sinta menahan langkah Agung yang ingin menarik Sarah bersama.


Agung berhenti. Sarah pun menatap Sinta.


"Apa mas menyukai Sinta??"


Deg.. wajah Sarah seketika berubah panik.


Agung berbalik dengan wajah yang berubah.


"Apa maksud kamu??" tanya Agung terheran.


Sinta tersenyum tipis.


"Jika ada seorang pria mencemasi seorang wanita dengan cara yang tidak wajar, bukankah itu rasa khawatirnya karena ia menyukai wanita itu?? benarkah??" tanya Sinta blak-blakan.


Sarah menelan salivanya mendengar ucapan Sinta yang gamblang.


Agung menyeringai kecil.


"Mas pikir, kamu harus istirahat!! sepertinya pengaruh camp itu masih buruk untuk kamu!!" tukas Agung mengelak lalu menarik Sarah bersama dan pergi begitu saja.


Sinta melihat punggung mas Agung yang terlihat jelas jika pria itu sedang berusaha membohongi dirinya sendiri.