Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Cerita Mistis



Dan akhirnya Rudy dan Sinta berada di rumah besar tua yang sangat-sangat buruk.


"Sinta kamu berani banget"


"Kebelet mas, udah lupa sama rasa takut" jawab Sinta merapakan diri pada sang kekasih.


"Gimana sudah?" tanya nenek renta pada kedua pasangan sejoli ini.


"Eh, u-udah nek" sahut Sinta agak terbatah.


Nenek renta tersenyum di balik wajah yang sudah sangat keriput dan juga kehilangan gigi depannya.


"Sendiri nek? kakek mana?"


"Sudah tidur, katanya kenyang.. alhamdulillah akhirnya dia bisa makan sup kesukaannya lagi"


Sinta kaku.


"Oh, syukurlah"


"Terima kasih ya nak, karena sudah berbaik hati"


Sinta tersenyum kecil.


"Sama-sama nek, bersyukur nenek dan kakek bisa makan sup"


"Iya"


"Kalau begitu kami permisi ya nek" ujar Rudy.


"Iya, kami permisi ya nek, terima kasih" timpal Sinta.


"Kalian di sini saja" tahan nenek.


"Ah, gak usah nek, makasih kita harus jalan lagi" jawab Sinta.


"Hujan akan turun dengan lebat sebaiknya besok saja jika mau pergi lagi "


"Gak usah nek, gak papa" potong Rudy.


Nenek menghela nafas.


Keduanya berbalik untuk pergi.


"Mobilnya gak gerak, jadi disini saja dulu ya"


Deg.. Keduanya saling pandang dengan kaget. Keduanya menatap tak percaya juga aneh, bagaimana nenek itu tau jika mesin mobil mati? padahal satu patah pun tidak ada yang menceritakan mobil gak bergerak.


"Sudah disini saja dulu, walau rumah ini buruk tapi cukup hangat sampai hujan reda besok"


"Ta-pi, kami harus segera tiba di.."


"Tolong jangan di tolak, hanya ini yang bisa nenek berikan sebagai ucapan terima kasih karena sup hangat yang kamu beri" ujar nenek renta itu dengan membalikkan badan untuk berlalu masuk kesalah satu kamar yang memiliki pintu besar.


Rudy dan Sinta saling berpandangan dengan wajah bimbang.


"Gimana mas??"


Namun sebelum sempat Rudy menjawab, hujan pun turun dengan lebatnya.


Rudy pun tak bisa berkutik.


"Ya sudah, kita tunggu sampai hujan reda" jawab Rudy pasrah.


***


Dan ternyata Sinta dan Rudy di berikan kamar tamu yang sudah sangat jaman dengan bau yang sangat menyengat oleh nenek renta yang bermaksud untuk memberi kenyamanan pada sang tamu.


"Maaf, jika kamarnya tidak nyaman, tapi hanya ini kamar yang masih agak layak" ujar nenek renta dengan membuka lemari tua lalu mengambil 1 selimut yang terlihat cukup lusuh.


"Pakai ini, agar tidak dingin" kata nenek dengan menaruh selimut itu di atas sofa gaya klasik. "Tidurlah, mungkin hujan akan kian lebat, dan semoga besok pagi sudah reda" ujar sang nenek pada Rudy dan Sinta.


Keduanya hanya manut saja.


Dan sang nenek renta berlalu pergi dengan menutup pintu kamar itu.


Keduanya hanya menantap nanar.


"Mas"


"Hm?"


"Serem!!" ujar Sinta yang seketika menoleh pada Rudy yang masih berdiri dengan tenang.


Rudy berdecak.


"Lah, kamu ini, baru sekarang bilang seram, dari tadi kemana saja?" tukas Rudy dengan berkacak pinggang.


Sinta hanya bisa cengegesan.


"Ya, tadi tuh memang gak kebayang sih mas, bakal seseram ini"


Rudy menghela nafas.


"Sudahlah, mau seram atau enggak kita sudah di sini.." ujar Rudy sembari melihat kesekeliling kamar yang bergaya klasik jaman dahulu. "Mana di kasih kamar, mau ngapain coba?" celetuk Rudy yang tak habis pikir pada keanehan hari ini.


Rudy melihat sekitar kamar, ada satu tempat tidur usang yang berkelambu. Lemari tua tempat nenek mengambil selimut. Juga cermin yang kacanya cukup burem.


Lengkap sudah kehororan kamar itu. Namun Rudy tak boleh menampakkan rasa khawatir dan resahnya. Bagaimana pun ia harus menjaga Sinta.


Rudy berjalan hendak menuju sofa klasik. Sinta mengikuti langkah Rudy. Setelah memindahkan selimut, Rudy duduk. Walau sebenarnya ia enggan duduk di tempat yang mungkin saja debunya sudah tebal dan tak pernah di bersihkan.


"Duduk sini"


Sinta menurut, ia langsung duduk di samping Rudy. Rudy melihat tiap sisi kamar dengan lampu teplok jadul yang hanya di bakar dengan minyak tanah.


"Kenapa bisa hujan ya mas? padahal tadi cerah banget harinya"


"Entahlah, cuaca belakang ini tidak bisa di tebak"


Setelah mencoba nyaman dengan kamar remang dan bau apek itu. Tiba-tiba Sinta merasa mengantuk yang teramat sangat. Ia pun tanpa sadar menguap. Dengan kedua tangan mengusap untuk bisa hangat.


Rudy menoleh.


"Kamu kedinginan?"


Sinta mengangguk.


"Iya mas, gak tau kenapa kok jadi tambah dingin ya"


Rudy menghela nafas. Sembari mengusap pundak Sinta.


"Kamu kan tadi kehujanan, makanya jadi dingin..semoga kamu gak sakit karena kena hujan tadi"


Sinta mengangguk dengan menguap, entah dari mana datangnya rasa ngantuk yang luar biasa.


"Kamu ngantuk??"


Sinta mengangguk lagi.


"Iya mas, ngantuk banget"


"Ya sudah, sini kamu tidur di pangkuan mas" tawar Rudy.


"Udah gak papa, mas bakal berjaga, mas gak bakal ngantuk dengan kondisi begini" jelas Rudy meyakinkan Sinta.


Sinta kembali menguap. Dan perlahan Rudy menarik Sinta untuk tidur di pangkuannya. Sinta tak bisa menolak akhirnya merebakan kepalanya di atas pangkuan sang kekasih.


"Tidur.." perintah Rudy sembari mengusap pundak Sinta agar mengurangi rasa dingin.


Sinta tak menjawab, entah mengapa rasa ngantuk telah menguasai dirinya sedemikian berat hingga tanpa perlu waktu lama, kedua mata sinta pun terpejam dengan lelap.


"Sinta??" panggil Rudy.


Hening Sinta tak menyahut.


"Sinta??" panggil Rudy kembali dengan mencoba memelihat dengan gerak terbatas.


Dan Rudy yakin jika Sinta telah tertidur pulas. Rudy kembali menghela nafas.


Moment ini, seolah pernah ia alami dulu, ketika bersama Sinta tersesat di hutan. Bagaimana Sinta bisa tidur dengan mudah di pundaknya. Bahkan Rudy yang saat itu sakit karena kakinya keseleo malah terjaga dan tak bisa tidur sepulas Sinta.


Rudy menyeringai kecil. Ia mengusap dengan penuh sayang pada sang kekasih yang kini tertidur di pangkuannya.


"Dari cara anda menyayangi gadis ini, terlihat jelas jika anda adalah orang baik yang perlu di tolong"ucap seorang kakek.


Deg.. Rudy terlonjak kaget ketika melihat seorang kakek tua dengan dua belah matanya putih.


Rasa adrebalin Rudy yang waspada.


"Tenang" seru kakek itu dengan duduk dikursi yang Rudy ingat tak pernah ada sejak ia masuk tadi. "Saya hanya ingin berbincang sedikit"


Jantung Rudy ketar ketir.


"Saya buta dan tua, jadi anda jangan takut"


"Kakek siapa??" tanya Rudy menguatkan diri.


"Saya, saya adalah suami dari nenek renta tadi.."


Kening Rudy tertaut dan pikirannya pun melintas pada ingat jika tadi kata nenek, sang kakek telah tidur karena kenyang.


Wajah kakek tua itu tersenyum. Sehingga membuat bulu kuduk Rudy meremang.


"Kakek mau apa?"


Kakek renta itu hanya diam namun kedua bola mata putihnya seolah menantap Rudy lekat dan dalam.


"Suatu kebetulan yang tak terduga saya bisa temu dengan anda.."


Rudy diam.


"Saya sudah tua, seharusnya saya tidak lagi melakukan hal ini.. tapi, karena sup hangat pemberian gadis ini saya tersentuh dan istri saya memohon dengan wajah bersedih.."


Rudy mencerna dengan bingung.


"Dan setelah saya lihat, ternyata memang benar.." ucap kakek tergantung.


Rudy bersikap waspada dengan segala kemungkinan hal buruk, bisa aja tua ini menjadi orang jahat yang tak terduga.


"Setengah tubuh anda sudah di penuhi ilmu hitam"


Deg.. Rudy terpaku.


"I-ilmu hitam?" ulang Rudy bingung. "Maksud kakek??"


"Dari mata batin yang saya lihat, ada ilmu hitam yang dikirim untuk merusak tubuh anda sejak lama"


Deg..


Rudy mendengar dengan tidak percaya. Bagaimana pun ia seorang modern yang tentu saja tidak percaya tentang magic, atau tahayul sihir apa lagi ilmu hitam.


Sang kakek sedikit terdiam tertunduk.


"Anda boleh tidak percaya, tapi.."


Jantung Rudy kian berdebar.


"Tanpa anda sadari ilmu itu kini kian merusak tubuh anda" ujar kakek.


Deg.. Rudy mematung.


"Sihir hitam itu sepertinya dituju untuk merusak rumah tangga anda, menahan keturunan anda dan membuat siapa pun wanita yang menjadi istri anda akan berakhir dengan perpisahan"


Rudy terhenyak. Sungguh ia tak pernah sekali pun bertemu dengan kakek renta ini, tapi bagaimana kakek tua ini mengetahui hal yang menjadi kenyataan hidupnya.


Untuk sesaat tubuh Rudy bergetar hebat. Mandul, bercerai dengan Alia dan di khianati oleh Bella. Yang ia pikir adalah takdirnya, ternyata punya misteri yang tak terduga.


"Ja-jadi saya sebenarnya tidak mandul?" tanya Rudy dengan perasaan ketar-ketir.


Kakek tak menjawab hanya anggukan kecil yang ia berikan.


Rudy syok. Jelas selama ini ia sudah pasrah dan menerima takdirnya jika dirinya adalah seorang pria mandul.


"Jadi selamat ini saya dipengaruhi ilmu hitam?" ulang Rudy yang masih tak bisa percaya.


Sang kakek hanya menantap dengan bola mata putihnya.


"Ini dendam yang cukup dalam dari seorang wanita" ujar kakek.


"Wanita?? siapa?" tanya Rudy penasaran.


Kakek tersenyum simpul.


"Saya tidak tau, tapi ini terkait dengan kedua orang tua anda"


Jegeeer.. suara petir di saat hujan sangat jelas membuat dunia Rudy runtuh.


Sesaat Rudy menyelami pikirannya sendiri dengan terus mencari siapa yang mempunyai dendam sekejam ini pada dirinya hingga menghancurkan seluruh hidupnya, bahkan membuatnya nyaris gila dan ingin bunuh diri.


Rasa was-was Rudy kini berubah menjadi rasa penasaran.


"Jadi kek, apa saya bisa sembuh dari ilmu hitam ini?" tanya Rudy yang langsung to the poin dan tanpa ragu.


Namun betapa kagetnya Rudy ketika melihat pada sosok kakek tadi malah telah hilang. Dan hanya meninggalkan kursi di sana.


Sontak Rudy mengidik takut. Ia langsung membangunkan Sinta.


"Sinta?? Sinta bangun!!"


Sinta mengerjap kaget.


"I-iya mas..ada apa??" Sinta bangun dengan terpaksa. "Ada apa mas?"


"Kamu jangan tidur, oke!!"


Sinta kaget.


"Tapi Sinta ngantuk mas!" rengek Sinta.


"Jangan please jangan!!" perintah Rudy yang seketika merasakan hawa dingin yang menusuk kuduknya.


"Kenapa sih mas?? kok takut gitu!!" Sinta bertanya kepada Rudy yang terlihat waspada seolah meojabt sesuatu yang tak biasa.


"Sial!!" rutu Rudy yang kesal tak terbilang.