
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menyenangkan, akhirnya sekitar pukul 5 sore. Mobil sedan Rudy kini berjalan menuju arah rumah Sinta.
Sinta santai menikmati jalan yang di lewati.
"Mas, Sinta sudah pikirkan, gimana kalau pembukaan produksi jamu dilakukan minggu depan?"
"Hm, mas setuju saja jika kamu sudah merasa siap" sahut Rudy menjawab positif.
"Siap gak siap sih, tapi jika terus menunggu kesiapan, Sinta rasa akan semakin lama proses belajar.. jadi Sinta ingin langsung bergerak untuk mengeluarkan produk jamu ke pasaran.."
Rudy menganggu setuju.
"Lagi pula, vitur jual lewat aplikasi sudah siap.. dan beberapa merespon dengan baik.."
"Kamu sudah mulai dari kapan?"
"Beberapa hari yang lalu sebelum kita pergi ke Resort"
"Awal yang cukup bagus.."
"Kalangan yang berkunjung dalam akun jamu juga bervariasi.. hampir 15% dan sepertinya mereka penasaran"
Rudy mendengar.
"Bagus.."
"Jadi kita bisa mulai menjual?"
"Lakukan saja.." sahut Rudy. "Kamu lebih tau tentang hal ini.."
"Kenapa begitu? Sinta berpikir mas akan ikut andil dalam urusan jamu.. "
"Kamu benar, tapi mas ingin kamu bisa mandiri.. dan sejauh ini masih menilai kamu mampu melalukan semua seperti apa yang sudah mas ajarkan pada kamu.."
Sinta menantap pada sosok yang begitu berbeda.
"Sekarang saatnya kamu harus bisa membuat keputusan yang tepat untuk usaha kamu ini.."
Sinta terpaku. Begitu besar rasa percaya Rudy pada dirinya. Bahkan pria ini mempunyai mendorongnya untuk berdiri di kakinya sendiri.
Mendengar ucapan Rudy, sekilas Sinta tersenyum kecil.
"Makasih ya mas.." ucap Sinta tiba-tiba.
Rudy sedikit menoleh pada sang kekasih.
"Kenapa?"
Namun Sinta tak menjawab ia malah tersenyum kecil untuk menyimpan satu perasaan kagum pada sang kekasih.
"Ah, sudah sampai" ucap Sinta riang mengalihkan pertanyaan Rudy.
Rudy pun kembali fokus dan benar, jika pagar rumah Sinta telah terlihat.
Dan tak beberapa lama, mobil sedan itu pun berhenti tepat di depan pagar itu.
Sinta berbenah untuk turun sembari merapikan tas di atas pangkuannya.
Klak.. pintu sebelah Rudy lebih dahulu terbuka dan pria itu turun dari tempat duduk ya.
Tak lama, Sinta juga melakukan hal yang sama. Dan terlihat di saat itu beberapa tetangga mengincar sosok yang turun dari mobil mewah itu.
Sinta dengan santai berjalan kebelakang mobil dan terlihat Rudy telah menurunkan tas koper miliknya dan satu plastik sedang buah tangan.
"Sini mas, biar Sinta bantu.."
"Gak papa.." tolak Rudy yang dengan mudah membawa barang milik sang kekasih. Sinta mengekor di belakang langkah Rudy yang berjalan menuju dalam pagar rumah Sinta.
"Assalamualaikum.." seru Sinta dengan terus masuk ke teras rumah.
Rumah Sinta terlihat sepi.
"Assalamualaikum..ibu" seru Sinta memanggil. Terlihat Rudy pun meletakkan barang Sinta di teras.
Tak lama terdengar suara sahutan khas ibu dari dalam.
"Wa'alaikumsalam.."
Terdengar suara kunci pintu rumah di putar dan detik berikutnya pintu pun terbuka.
Sosok wanita paruh baya terlihat dari balik pintu. Sinta mengembangkan senyum rindu pada ibu.
"Ibu?? Sinta sudah pulang.." ucap Sinta riang dengan meraih jemari ibu untuk memberi salam.
Ibu menatap dengan sendu pada sang putri yang terlihat ceria.
"Maaf ya bu, Sinta gak kabari pulang.." jelas Sinta apa adanya.
Dan sekilas tatapan ibu menyadari akan sosok tamu yang sedari tadi berdiri di tepi teras rumah.
Sinta ikut menoleh dengan tatapan tajam pada sosok pria yang mengantar sang putri.
"Terima kasih sudah mengantar Sinta.." ucap ibu dingin.
Rudy terlihat kaku dengan sikap ibu.
"Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mengantar Sinta kembali kerumah.." sahut Rudy.
Namun tampaknya ucapan Rudy tidak ibu sukai.
"Ibu harap, ini terakhir kalinya.." kata ibu dengan tatapan dingin pada Rudy.
Deg..
"Ibu?" seru Sinta merespon kaget mendengar ucapan sang ibunda.
Rudy terpaku.
"Mas, maaf.." ujar Sinta merasa tak enak.
"Sinta masuk!!" perintah ibu.
"Ibu??" seru Sinta protes.
"Ibu harap kamu patuh!!" tegas ibu memerintah sang putri dengan tatapan yang tak biasa.
Sinta merasa enggan namun di saat itu ia tak bisa berbuat apa-apa.
Sekilas ia menoleh pada Rudy, dan Rudy hanya memberi isyarat agar Sinta mematuhi perintah ibunya.
Dengan berat Sinta masuk kedalam rumah.
Ibu merubah posisi agar dapat dengan jelas menantap tamu yang sepertinya tak bisa ia terima dirumah ini.
Setelah Sinta masuk. Atmosfer antar Rudy dan ibu pun berubah.
"Maaf jika saya tidak sopan, atau ada hal yang tidak berkenan di hati, saat saya bersama putri ibu.. tapi.."
"Tinggalkan Sinta.." pinta ibu to the poin.
Rudy terdiam.
"Sinta hanya gadis biasa, dan ia terlalu naif" jelas ibu berdalih.
Namun Rudy tak bisa terima.
"Tapi.."
"Saya yakin nak Rudy cukup mengerti ucapan saya.." potong ibu cepat. "Tolong tinggal Sinta, cukup sampai disini dan saya akan mengembalikan semua pemberian yang sudah anda berikan pada putri saya.. termasuk uang yang anda berikan untuk usaha Sinta" kata ibu sembari hendak meninggalkan sang tamu.
Rudy syok.
"Ibu.." Rudy menahan.
Ibu Sinta berhenti.
"Saya tidak tau ada kesalahan apa yang membuat ibu menyuruh saya untuk meninggalkan putri anda.."
Ibu mendengar.
"Tapi apa yang saya lakukan dan berikan pada Sinta adalah hal yang.."
"Saya hanya menjaga putri saya untuk tidak merasakan sakit yang sama seperti apa yang saya alami" cecar ibu menyikapi keteguhan Rudy.
Rudy mencerna.
"Status dan latar belakang yang cukup jauh, cukup untuk menyadari jika Sinta tidak bisa menerima tamu orang kaya seperti anda nak Rudy.." timpal ibu memperjelas.
Rudy menghela nafas tak percaya.
"Jika itu.."
"Tidak hanya itu, Saya menjaga putri saya untuk tidak di sia-siakan oleh pria seperti anda nak Rudy.. cukup untuk tidak membuat luka, dan tolong tinggal Sinta demi untuk kebaikan bersama.. carilah gadis yang lebih pantas berada di sisi nak Rudy"
Rudy dapat melihat jika sikap ibu Sinta sangat tegas dan teguh pendirian.
Sejenak Rudy berpikir di saat yang bersamaan. Rudy menghela nafas untuk bersikap tenang.
"Saya mengerti.." ucap Rudy pelan mencoba melunak.
Ibu Sinta tetap menatap dingin.
"Saya berterima kasih dengan rasa khawatir yang ibu berikan.." kata Rudy terlihat tenang.
Ibu merasa heran dengan respon Rudy.
"Jika rasa khawatir ibu begitu besar, maka saya tidak akan sungkan lagi.."
Kening ibu tertaut.
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan sopan santun saya.. Saya berniat untuk menikahi putri ibu, Sinta Ramanithia untuk menjadi istri saya.." ujar Rudy dengan nada percaya dirinya.