
Malam harinya, terlihat Sinta sedang merias dirinya di depan cermin. Seulas senyum puas dengan riasan yang hampir sempurna menyulap wajahnya.
Bukan riasan yang tebal, namun cukup membuat rona wajah Sinta terlihat merona.
Seulas gores lipstik memperindah bentuk bibirnya yang kini berwarna Orange segar.
Merasa puas dengan warna lipstik yang di hasilkan, akhirnya Sinta menyudahi aktivitas bersolek yang sudah menyulap dirinya.
Dan untuk terakhir kalinya Sinta berdiri di hadapan cermin dengan memastikan kembali riasan juga pakaian yang ia kenakan.
Sinta menantap diri dan sejenak ia berharap dengan tampilan yang terlihat sederhana ini tidak membuat mas Rudy malu membawanya.
Sinta sedikit merapikan gerai rambutnya di bahu dengan berdoa semoga ia sudah melakukan hal yang sangat baik.
Disaat yang bersamaan ia juga merasa gugup, entah mengapa ia jadi gelisah mengingat jamuan malam ini juga akan di hadiri oleh rekan bisnis besar mas Rudy.
Salah satu tangan Sinta memegang dada yang ia rasa detak jantungnya berdebar kencang.
Sinta mencoba menenangkan diri berkali-kali dengan hela nafas tenang.
"Tenang Sinta, tenang.." ujar Sinta mengontrol dirinya sembari menghela nafas pelan dari mulutnya.
Di saat itu tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.
Ting..Tong..
Sinta merespon kaget dengan menoleh pada arah suara.
"Duh, itu pasti mas Rudy" seru Sinta yang seketika meninggalkan cermin yang sedari tadi ia pandang.
Ia berlari kecil untuk segera menuju daun pintu kamar.
Ting..Tong.. bunyi bel yang nyaring memanggil sang pemilik kamar untuk segera membukakan pintu pada sang tamu yang sepertinya tidak sabaran.
Beberapa detik kemudian Sinta pun mencapai pedal pintu dan membuka perlahan pintu kamarnya.
Dan seiring pintu terbuka, di saat itulah, sosok pria yang terlihat tampan dengan pakaian kasual nan santai berdiri didepan pintu kamarnya.
"Mas Rudy" seru Sinta menyapa pada sosok pria yang membuatnya terpesona.
Rudy pun tersenyum dan seketika ia terkesima melihat sosok Sinta yang begitu menawan.
Dan untuk sesaat Rudy terpaku dengan sosok gadis cantik di depannya ini.
Sinta sedikit merasa gelisah.
"Maaf ya mas, Sinta gak bawa gaun karena.."
"Cantik.." sela Rudy.
Sinta terpaku.
Lalu perlahan langkah Rudy masuk kedalam ruangan yang mengharuskan langkah Sinta mundur.
Rudy menyentuh helai rambut yang berada di pundak Sinta dengan wajah terpaku.
"Kamu, benar-benar cantik" puji Rudy apa adanya.
Mendengar ucapan itu, seketika Sinta meras tersipu malu.
Tatapan Rudy tak lepas sehingga membuat jantung Sinta kian berdegup kencang.
"Mas.." lirih Sinta membalas tatapan Rudy.
Rudy yang terpesona seolah tersihir dengan kecantikan Sinta yang terpancar dari wajah gadis perawan ini.
"Jawab mas?" tanya Rudy berbisik seiring jemarinya menyentuh garis wajah Sinta yang ia sentuh begitu lembut.
Sinta mengerjapkan gelisah.
"Apa Agung pernah melihat kau secantik ini??"
Kening Sinta berkerut kelas.
Hingga Rudy tersenyum menang di jarak yang begitu dekat dengan wajah sang kekasih yang rasa-rasanya ingin ia ***** saat itu juga.
"Kenapa jadi bawa-bawa mas Agung sih??" protes Sinta kesal dengan mulut manyun. Sehingga kesalnya Sinta seketika membangkitkan rasa kelaki-lakiannya yang ingin sekali membawa gadis itu keranjang yang terlihat sangat menanti untuk di panaskan malam ini juga.
Sinta mendorong tubuh Rudy. Dan Rudy pun terdorong satu langkah kebelakang. Ia terkekeh renyah.
Sungguh Sinta dapat membuatnya menjadi pria nakal.
Rudy kembali tersenyum senang melihat reaksi sang kekasih yang dapat di pastikan jika pertanyaannya tadi adalah hal yang sangat bodoh. Dan pasti Agung akan benar-benar menyesal telah meninggalkan gadis jamu ini.
Rudy kian gemas melihat tingkah ngambek Sinta yang membuatnya kian masuk kedalam kamar Sinta yang tercium aroma parfum yang begitu tenang.
Sinta berjalan menuju sisi tempat tidur sebelah kiri untuk mengambil sesuatu. Dan di saat itu pula Rudy mempercepat langkahnya untuk mendapatkan kembali gadisnya.
Sinta tak peduli karena kesal. Namun di saat Sinta hendak meraih jam tangannya. Di saat itu pula Rudy memeluk tubuh Sinta dari belakang.
Grep..
Sinta sukses terkunci di dalam pelukan Rudy. Dua lengan Rudy melingkar sempurna mengunci tubuh sang kekasih. Sesaat aroma tubuh pria itu membuat jantung Sinta kian berdegup kencang.
"Maaf sayang.." bisik Rudy membujuk manja dan hal itu sukses membuat bulu roma Sinta meremang. Bagaimana tidak, hela nafas Rudy menyentuh telinganya yang sensitif dibalik rambut yang tergerai.
"Jika kamu tidak kesal, bisa-bisa mas yang tidak bisa mengendalikan diri.." ujar Rudy membelai lembut rambut dan tiba-tiba menjatuhkan satu kecupan di sisi kepala Sinta.
Untuk beberapa saat keduanya saling menghela nafas pelan dalam ritem yang hampir sama. Dapat Sinta rasakan jika pria ini benar-benar tengah menahan diri.
Sinta tak bisa berkutik. Mendengar ucapan mas Rudy sesaat membuatnya takut, takut jika ia juga tak bisa mengendalikan hal yang sama yang di inginkan oleh mas Rudy.
"Sepertinya benar, jika pria dan wanita berduaan, maka ada setan yang setia mengoda, dan sepertinya mas sedang di goda oleh setan" bisik Rudy.
Sinta terkekeh kecil. Rudy pun ikut terkekeh dengan ucapan konyol ya sendiri
Perlahan Rudy mererai pelukan dan membawa Sinta berbalik kehadapannya sehingga ia mendapatkan kembali wajah sang kekasih yang berubah senyum.
Rudy merapikan sedikit rambut Sinta dengan penuh sayang.
Sinta menantap wajah Rudy lekat. Ia terkagum pada pria yang begitu sempurna dimatanya.
Dan ketika tatapan Rudy kembali menantap kedua mata Sinta, keduanya tersenyum simpul.
"Mas akan tunggu saatnya, doakan agar mas kuat" ucap Rudy menantap Sinta.
Dan entah mengapa ucapan Rudy membuat Sinta tersanjung. Hingga tanpa pikir panjang kedua tangan Sinta meriah pundak Rudy sedetik kemudian ia memberikan satu ciuman dadakan pada pria yang begitu spesial dimatanya.
Sontak Rudy terkaget namun sedetik kemudian ia membalas ciuman sang kekasih yang tak akan ia lewatkan begitu saja.
Sinta merapatkan diri, dan dengan senantiasa Rudy merespon dengan membuat Sinta kian intim padanya.
Untuk beberapa detik ciuman itu begitu berkesan. Hingga perlahan Sinta menyudahi hal itu.
Cup.. kecup Sinta di akhir keromantisan yang berbahaya.
Kedua mata mereka saling bertemu dalam jarak yang dekat. Hingga saling melempar senyum penuh arti.
"Sepertinya setan sudah bertugas dengan benar.." olok Rudy.
Sinta tertawa kekeh mendengar candaan pria yang sedang menahan diri, lalu segera ia mererai pelukannya dari Rudy.
Rudy pun dengan rela melepaskan tubuh ramping.
"Tamunya ada berapa?" tanya Sinta mengalihkan pikiran mereka.
"Hm, tidak banyak, sekitar 10" jawab Rudy sembari mengalihkan pandangannya ke atas kasur yang sepertinya kecewa karena tak akan ada aktivitas panas di sana.
"10??" sahut Sinta kaget dengan berbalik badan menantap sang kekasih. " Kok, bisa banyak anget sih mas??"
"Ya, namanya juga tamu, tidak terprediksi.."
Wajah Sinta sedikit tertekuk gelisah.
Rudy menyadari hal itu dan ia pun tersenyum simpul. Ia meraih pundak sang kekasih dan menantap lurus mata gelisah wanitanya.
"Tenanglah, mas akan ada di sisi kamu.. dan senyum " ujar Rudy.
Sinta menghela nafas.
Rudy tersenyum. Lalu tak lama ia mengubah posisi yang berada di samping Sinta, dan dengan cepat meraih jemari sang kekasih untuk ia genggam penuh sayang.
"Anggaplah, ini sebagai latihan.."
"Latihan??" tanya Sinta bingung dengan menoleh pada sang kekasih.
Rudy mengangguk serius.
"Ya, latihan untuk jadi Nyonya Rudy yang akan menyambut tamu" seloroh Rudy dengan menarik langkah Sinta untuk mulai berjalan.
Mendengar hal itu, Sinta tersenyum kecil, lalu ia pun beranjak dengan mengandeng jemari sang kekasih yang nantikan akan menjadi suaminya.
Dan keduanya pun keluar dari kamar Sinta dengan langkah bahagia. Di sepanjang langkah keduanya menuju tempat yang di tuju, Sinta sedikit bercerita tentang perjalanannya tadi. Rudy mendengar dengan antusias tiap cerita sang kekasih.