Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Misi di mulai



Setelah kesepakatan di buat dengan sangat manis. Kini Sinta keluar dari ruang Direktur dan mengikuti langkah sekertaris tertampan di perusahaan itu.


Jimmy berjalan dengan langkah lebar sehingga membuat Sinta sedikit berlari kecil dibelakangnya.


Beberapa karyawan silih berganti memberi sapaan pada sosok yang sepertinya punya pengaruh misterius didalam perusahaan.


Namun Jimmy terlihat cuek saja dan berlalu dengan gaya coolnya.


Tak jarang para karyawan wanita seperti kesemsem pada sosok yang lewat bak angin syurga itu.


Langkah Jimmy kian tiba di tempat tujuan dan sebuah pintu besar ia dorong dengan mudah.


Dan beberapa wajah yang menyadari kehadirannya langsung berubah berbeda. Ada yang dari duduknya langsung berdiri kaget.


Langkah Jimmy terus berjalan lurus melewati 3 barisan peserta daftar dengan berjalan lurus menuju jajaran meja yang terlihat ada beberapa peserta tengah melakukan pendaftaran produk mereka.


"Pak Jimmy??" sambut seorang petugas panitia pendaftaran mitra Mahendra dengan wajah sungkan. "Ada apa kemari pak?? kenapa tidak telfon kami saja?"


Jimmy dengan santai meletakkan map di atas meja yang terlihat telah berada beberapa map milik peserta lain.


Dan Sinta tiba di sana saat semua mata peserta lain tertuju pada Jimmy yang memotong antrian.


"Perintah langsung.." ucap Jimmy dingin.


Seorang peserta wanita yang tengah berada diantara Sekertaris Jimmy dan petugas panitia dapat melihat jelas sebuah map produk yang ia baca jelas adalah sebuah jamu.


"Ah, hm.. ba-ik pak Jimmy" sahut sang petugas sungkan.


Tak lama, Jimmy langsung berbalik pada Sinta yang berdiri di belakangnya.


"Silahkan mbak Sinta.. tunggu disini, petugas akan mendata produk mbak dulu.." ujar Jimmy ramah.


Beberapa mata mulai melihat sinis


"Maaf mas, gak bisa gitu.. kalau mbak ini mau daftar ya ikutan antri dong..saya udah 1jam setengah baru bisa sampai meja daftar ini.." protes peserta wanita yang berada di antara Jimmy dan petugas panitia.


Jimmy menoleh pada wanita yang protes itu dengan wajah tenang namun dari delik tatapannya terlihat jika Jimmy tidak bisa.


"Semua peserta harus mengikuti peraturan yang ada dong, mau anak pejabat sekali pun yang namanya mendaftar ya kudu ngantri.." cibir peserta wanita itu kian judes.


Sinta mengigit gelisah.


"Duh.. jangan ada drama dong" bisik batin Sinta yang tak tenang karena kericuhan kecil itu mengusik perhatian peserta lain dan membuat menjadi perhatian yang lain.


"Panggil Brand Manajer!!" perintah Jimmy pada petugas panitia.


Petugas langsung bangun dari duduknya untuk memanggil sosok yang di perintahkan.


Peserta wanita itu terlihat kesal.


"Memang siapa? apa yang punya perusahaan ini?? kalau benar, sungguh gak ada attitude!!" timpal peserta wanita kian menyindir pedes karena Jimmy tetap berdiri di sana tanpa bergeminf.


Namun Sinta langsung menahan sikut bahu Jimmy.


"Udah pak Jimmy, biar Sinta antri aja.." ucap Sinta cepat. Lalu meraih map miliknya kembali dari meja.


"Ngantri mbak!!" celetuknya kasar.


Sinta tak menjawab apa pun, ia memilih untuk antri saja. Namun belum sempat ia berlalu pergi, Agung tiba di tempat keributan.


"Ada apa ini ?"


Jimmy nahan Sinta dan menarik map dengan langsung di berikan pada Brand Manajer, Agung.


"Bereskan ini, dan laporkan langsung dengan Direktur.." perintah Jimmy yang kemudian berlalu pergi meninggalkan permasalahan yang ia anggap selesai


Sinta mematung di tempatnya. Dan Agung membaca nota kuning yang tertempel di depan map sebagai perintah langsung dari Direktur Mahendra.


Raut wajahnya berubah dan menantap Sinta.


***


Diruang Direktur terlihat Rudy sedang membalas pesan milik sang adik yang akan makan siang bersama. Namun karena tidak bisa tidur dengan nyenyak dimalam hari, pada akhirnya tubuh Rudy merasa tidak enak.


Setelah mengetik pesan itu, tanpa sengaja ia melirik pada botol jamu Sinta yang di tinggalkan oleh sang pemilik.


Rudy berjalan untuk meraih botol jamu yang berada di meja tamu.


Ia meriah jamu dengan warna lebih pekat. Lalu membaca logo stiker sederhana yang terpasang pada botol minuman.


Dan ucapan Sinta pun kembali terbayang oleh Rudy.


"Bukankah sebuah pernikahan harus di rawat?? selain cinta, bukankah hubungan suami istri juga paling penting??" ujar Sinta yang masih bisa Rudy ingat jelas.


"Tapi mengapa saat merawat sebuah pernikahan itu, wanitalah yang harus di tuntut untuk bisa menjaganya agar selalu dapat menyenangkan pasangan.."


Sesaat Rudy merenungi ucapan Sinta.


"Bagaimana jika selama ini ternyata suami seperti aku yang tidak dapat menyenangkan istrinya?? apakah ada solusi untuk masalah ku??" tanya Rudy pada botol jamu Sinta yang tertulis jamu bugar.


Sesaat ia tenggelam dalam pikirannya lalu menghela nafas panjang sembari membuka tutup botol minuman itu.


Rudy bersiap untuk mencicipi jamu Sinta. Ia seolah bersiap jika saja rasa jamu ini akan pahit di mulutnya.


"Semoga tidak mengecewakan.." gumam Rudy. Lalu dengan cepat meneguk minuman jamu itu.


Namun saat jamu itu memenuhi rongga mulut dan langsung ia telan, hasilnya cukup mengejutkan.


"Wah.." serunya kaget. Lalu kembali meneguk minuman itu sampai habis.


"Wah.. rasanya cukup enak.." puji Rudy takjub.


Dan entah mengapa sebuah rencana tiba-tiba terlintas di benak Rudy untuk mitra kerja barunya itu.


Mr Jimmy Feng